Indonesia
NovelToon NovelToon
My Win Kill You

My Win Kill You

Status: tamat
Genre:Kumpulan Cerita Horror / TKP / Misteri / Tamat
Popularitas:28.5k
Nilai: 5
Nama Author: RizkaHs

Akhir akhir ini banyak terjadi pembunuhan mulai dari anak anak bahkan sampai dengan orang dewasa. Pembunuh melakukan aksi tak hanya pada malam hari bahkan di siang hari pun ia melakukan pembunuhan, artinya kota tersebut diancam oleh ketakutan bagaikan saat ini nyawa mereka diambang kematian.

Sampai saat ini polisi belum bisa menguak siapa dalang dibalik pembunuhan keji yang terjadi ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RizkaHs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cila sikuat

"Tumben tumbenan mana Cila belum di jemput lagi," Cila berdiri melihat sisi kanan, dan kirinya yang sudah sunyi.

"Aduh batre Cila juga mau habis, yaudah deh," Cila pun mematikan hp nya dirinya masih sabar menunggu supir yang akan menjemput Cila.

Cila melihat ada seekor anak kucing yang sangat lucu, Cila bermaksud menangkap buat ia pelihara. Namun karena anak kucing itu larinya kencang Cila terus mengikuti sampai jauh dari tempat sekolahnya.

"Bentar," Cila melihat pemandangan yang asing di matanya bahkan sebelumnya Cila tidak pernah ke tempat ini.

"Cila dimana ya?" dalam hati Cila bertanya tanya.

"Aduh tuhkan Cila tersesat deh kayaknya," Cila duduk di bangku Halte. Ia mau menyalakan ponselnya namun ponsel Cila sudah mati total.

Di dalam kebingungan Cila di halte, tiba tiba ada seseorang lelaki yang menghampirinya.

Ia bertubuh kekar mengenakan topeng, bercelana hitam, baju hitam, bahkan orang tersebut mengenakan pakaian serba hitam.

Cila memandangi orang tersebut dari atas hingga bawah.

"Paman, paman mau duduk," ujar Cila bangkit.

Berhubung bangku halte sempit jadi Cila harus ngalah karena ia masih muda.

"Tidak perlu kamu saja yang duduk, biar saya yang berdiri," cetusnya.

"Ih ga boleh gitu paman, Cilakan masih muda harusnya paman yang duduk, Cila ga masalah kok kalau berdiri, udah duduk aja paman," Cila kembali mempersilahkan orang asing itu buat duduk.

"Kamu tidak apa apa kalau berdiri seperti itu?" tanya orang itu sedikit tidak enak dengan Cila.

"Tidak kok paman, lagiankan paman tau tujuan paman mau pulang kemana sedangkan aku engga."

"Memangnya kenapa?" ia melirik Cila yang berdiri.

"Aku tersesat sampai kesini, aku juga tidak tahu jalan pulang," ujar Cila.

"Kalau kau mau kau bisa pulang ke rumahku, bagaimana?"

"Memangnya boleh? Nanti malah merepotin," Cila merasa tidak enak apalagi mereka baru ketemu.

"Bagaimana kau mau? Ini sudah mau malam beristirahatlah di rumahku dulu, kau tinggal dimana?"

"Aku tinggal di jalan Sreyon kota."

"Oh aku tau tempat itu, tetapi bus kesana sudah tidak adalagi."

"Ternyata dia orang situ, itukan tempatku membunuh," dalam hatinya.

"Eh itu ada bus," orang tadi menyetop bus tersebut mereka pun naik. Cila tidak sadar jika ia tertidur lelap di bahu orang yang baru ia kenal itu.

"Anak ini baik, sopan, apa aku harus menghabisinya juga," dalam hatinya menyapu kepala Cila.

***

Ketika sampai di tempat orang itu Cila hanya bisa diam melihat kota tersebut karena banyak bangunan yang habis kena terbakar, hanya Rumah orang tadi yang lumayan utuh meski ada juga hitam hitam mungkin karena asap kebakaran, Cila tidak berkata apa pun, orang itu mempersilahkan Cila masuk kedalam.

Rumah orang itu berantakan, banyak barang barang yang tidak berada di tempatnya, apa lagi lantainya begitu kotor penuh dengan abu, meski pun demikian Cila harus menghargai orang itu, Cila duduk dibawah membuka sepatunya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya lelaki itu.

"Aku melepas sepatuku, karena aku mau masuk ke dalam, sepatuku kotor mana mungkin aku mengenakannya," ujar Cila menaruh sepatunya dipinggir.

"Tidak apa apa, pakai saja lagian rumahku juga kotor berdebu," cetus orang itu berdiri di belakang Cila.

Setelah selesai, Cila mengikuti orang itu, banyak benda benda kuno yang sudah rusak, dan benda benda aneh di dalam rumah tersebut Cila hanya melihatnya saja ia bahkan tidak berani menyentuh benda benda itu, apalagi benda yang janggal ia hanya diam tanpa mengomentari, Cila di bawa ke ruang makan.

"Kau mau makan apa?" tanya beliau mengambil piring.

"Apapun yang ada disini, aku akan memakannya."

"Menarik," ujar orang itu pelan.

"Makanlah," ia hanya menawarkan nasi dingin, dan sayur setengah masak bisa dibilang sayur itu masih keras.

"Kau mau memakannya?" ia menarik bangku duduk di depan Cila.

"Ia, kenapa tidak. Paman sudah memberi yang terbaik buat aku, selesai makan biar aku beresin ya paman," Cila memakan apa yang telah orang itu berikan sebagai bentuk penghargaan, meskipun dirasa Cila itu sama sekali tidak enak.

"Mau nambah lagi?"

"Sepertinya tidak paman, aku sudah kenyang aku makannya sedikit," Cila tersenyum.

"Oh ia, kalau boleh tahu siapa namamu?"

"Namaku, Cila Saverus," ujarnya.

Mendengar akhiran nama Cila, ia tersenyum lalu berkata. "Ternyata kau keturun Saverus ya, pantas saja."

"Ia paman, oh ia paman aku boleh numpang ngecas ponselku?"

"Silahkan saja," orang itu memberikan petunjuk dimana Cila harus mencasnya, setelah ponsel Cila menyala ia meng kabarin ayahnya bahwa Cila berkata kalau dia nginap tempat temannya, saat itu sebelum Cila memberitahu orang tua Cila, abang, dan kakaknya sempat panik. Kepanikan mereka kini sudah hilang perlahan karena Cila baik baik saja.

Mata Cila tersorot pada sebuah koran yang berada di dekat telepon rumah, ia mengambil beberapa koran selain korban pembunuhan baru barusan ini, ada juga berita tentang pembunuh yang memutilasi dengan mengambil kepala korban, dan selain itu bahkan ada koran yang juga memberitakan ke 6 temannya yang hilang.

Cila membawa koran tersebut menunjukkan ke orang yang masih duduk di ruang makan.

"Maaf paman, aku mengambil koran milikmu aku mau membacanya," ujar Cila meletakkan koran ke atas meja.

"Hanya itu saja? Masih banyak koran di meja itu mengapa yang kau ambil hanya itu?"

"Aku lebih tertarik berita ini," ujar Cila mulai membaca koran yang pertama yaitu pembunuh mengambil kepala korban.

"Dia mengambil, dan memotong kepala korban apa tujuannya? Paman aku rasa dia seorang psikopat deh, padahal dia sudah memberi tanda centang di dekat korban, berita pembunuhan kedua korban ditusuk sebanyak 20, 27, 29, jumlah bilangannya selalu di angka 20, ini kemungkinan dia benar benar puas mendengar jeritan korban," Cila hanya berbicara sampai situ sedangkan orang itu memperhatikan Cila.

"Berita ketiga kenapa?" tanya orang itu.

"Kalau ini, aku tidak tahu sampai sekarang mereka tidak ketemu, mereka berenam merupakan teman sekelas denganku."

"Oh ya, lantas Cila bagaimana jika kau yang akan menjadi korban pembunuhan itu berikutnya?" tanya nya, ia berfikir Cila bakalan takut, di saat seperti itulah orang itu akan menunjukkan dirinya.

"Hmm, Cila ga akan tinggal diam, Cila bisa melindungi diri Cila sendiri, Cila juga ga takut kalau harus jadi korban baik pembunuh pertama, maupun pembunuh kedua, Cila bakalan lawan mereka, Cila lebih takut kalau kalau omongan Cila yang akan membunuh orang, bunuhan pisau tidak sakit paman, yang lebih sakit itu adalah bunuhan dari mulut sendiri," tegas Cila, orang tersebut tidak menyangka Cila akan menjawab diluar apa yang ia pikirkan, dirinya mengundur niat untuk membunuh Cila.

1
Ni Luh Septi
merinding bgt
Affifah Hutabarat
Anak anak durhaka.
Rizka Hs: mau gimana lagi yee
total 1 replies
Noona Kim
pestanya Agak laeennnn ini
Rizka Hs: tidak bisa buat ditiru🥲🙏
total 1 replies
Noona Kim
"masak apa Mak?" "biasa daging manusia di bakar" huhu
Noona Kim: kaya sosis indomrt kak huhu
total 2 replies
Noona Kim
yaampun padahal kalo mau kan ada yang jual poster organ tubuhhhh.. btw mampir ya kak di karya kuu
senja ku
aku mampir thor, jgn luoa mampir di cerita ku ya
Rizka Hs
Mampir dong dicerita saya huhu

luppyu:3
Affifah Hutabarat
Semangat nulisnya, aku mampir.
earthhzv
ak mampir yah, janlup mampir karyaku juga kalau senggang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!