Ivone Joelene Mathilde
putri tunggal seorang pengusaha yang menguasai beberapa bisnis di negara A yang mempunyai sifat tengil dan susah di atur.
Farresta Ganendra Daniswara
Seorang CEO muda yang terkenal dingin dan tak tersentuh harus mau menerima perjodohan yang di atur oleh sang mama dan papa.
"Ma, pa apa nggak salah kalian jodohin Farres sama seorang bocah seperti dia???"
"Maaaa, kak Farres mesummm banget, aku nggak mau...huaaaaa....!!!'
Apa yang akan terjadi jika dua orang yang mempunyai sifat bertolak belakang disatukan dalam ikatan pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sangkarachan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Rose panik saat tahu Gabriel membawanya ke apartemennya.
"Gabriel kenapa kamu bawa aku kemari? Aku mau pulang!" bentak Rose pada Gabriel.
Klik.....
Gabriel langsung mengunci pintu mobilnya saat tahu kalau Rose akan kabur darinya.
"Rose diam bisa nggak??" bentak Gabriel balik.
setelah sadar dengan apa yang dia lakukan Gabriel mengusap wajahnya kasar.
Dia mencoba meraih tangan Rose tapi ditepis begitu saja, tubuh Rose mulai gemetaran saat mendengar bentakan Gabriel kepadanya.
"Sweety sorry, aku sudah membuat mu takut!" ucap Gabriel meminta maaf pada Rose.
Gabriel langsung mengusap rambut Rose dengan lembut.
"Rose jangan takut padaku, aku tidak akan membentak mu lagi!" ucap Gabriel lirih.
Rose masih bergeming ditempatnya, dia memegang tali tas ya dengan erat untuk meredakan rasa takutnya pada Gabriel.
Entah sejak kejadian beberapa tahun yang lalu membuat Rose ketakutan jika dia bertemu Gabriel.
"Aku senang bisa bertemu denganmu lagi, dan aku baru tahu kalau kamu sahabat dari Ivone,"
Gabriel menghela nafasnya pelan dan menjatuhkan wajahnya di atas setir.
"Rose aku sudah lama mencari mu untuk meluruskan ke salah pahaman di antara kita, kamu tahu jauh dari mu aku sangat tersiksa!" ucap Gabriel lirih.
Rose yang semula menunduk dia menoleh ke arah Gabriel dan melihat bahu Gabriel gemetar.
Tentu saja Rose tahu jika Gabriel tengah menangis. Bolehkan dia bahagia jika ternyata Gabriel mencarinya. Tapi kesalahan Gabriel sangat fatal waktu itu.
"Aku di jebak Rose, dia memberiku obat perangsang dan membuat ku berhalusinasi kalau dia adalah kamu. Karena waktu itu kamu menolak ku saat aku melamar mu!" jelas Gabriel dengan masih menundukkan kepalanya.
"Dia mengaku pada ku kalau dia hamil anak mu Gabi!" sahut Rose lirih tanpa berani melihat Gabriel yang sudah mengangkat kepalanya untuk melihat Rose.
Gabriel menaikkan satu alisnya saat mendengar ucapan Rose.
"Tunggu sweety, bagaimana kamu tahu?" tanya Gabriel bingung.
"Dia mendatangiku sesaat sebelum aku pergi meninggalkan mu. Malam harinya dia mendatangi apartemen ku dan menunjukkan semua foto kalian berdua yang tengah tertidur tanpa busana. Bahkan dia juga bilang jika kalian sering melakukannya karena kamu merasa kecewa sama aku yang nggak pernah mau kamu sentuh Gab, dia juga bilang tengah hamil anak kamu!"
Rose mengingat semua kesakitan yang selama ini dia pendam sendiri. Rasa sakit yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Tanpa sadar air mata jatuh di pipi mulusnya dan membuat Gabriel langsung memeluk tubuh Rose yang mulai terisak.
"Apalagi yang dia katakan kepadamu? Pasti ada yang lain sampai kamu langsung pergi begitu saja!"
"Dia mengancam akan bunuh diri jika aku masih tetap bersamamu!" ucap Rose di sela tangisnya.
Gabriel melepaskan pelukannya pada Rose.
"Dan kamu percaya begitu saja? Astaga sweety!' ucap Gabriel dengan frustasi.
Dia mulai tahu semua akar masalahnya selama ini yang sudah membuatnya gila kerja dan tak kenal waktu.
Gabriel menarik tubuh Rose agar mau menghadapnya.
"Sweety dengarkan baik baik penjelasanku!"
"Dia menjebak ku dengan membuatku mabuk berat, dan juga dia menaruh obat perangsang di minuman ku yang aku nggak tahu seperti apa reaksinya,"
"Tapi dia gagal karena apa? Karena aku yang nggak pernah mabuk dan langsung di cekoki dengan dua hal terkutuk itu, kamu pikir sendiri apa yang terjadi kepadaku!"
Rose mencerna semua penjelasan Gabriel dan kemudian ada sesuatu yang membuat perutnya tergelitik.
"Kamu ketiduran?" tebak Rose.
Gabriel langsung menganggukkan kepalanya, dan tersenyum tipis.
Gabriel meraih dagu Rose dan mengangkat wajahnya agar Rose mau menatapnya.
"Dulu mungkin aku masih egois yang tak pernah mencari tahu dulu semua permasalah nya. Papa dan mama sudah menghukum ku karena melepaskan mu, dan mungkin karena dulu usia ku masih sangat muda jadi aku merasa jika kamu juga bersalah saat itu karena tidak mau mendengarkan penjelasan ku. Tapi semakin kesini aku semakin tahu jika sebuah hubungan harus dilandasi dengan rasa percaya. Sedangkan kita belum ada rasa itu dulu, terutama aku yang selalu bilang yang penting kamu cinta dan sayang sama aku sudah!"
Gabriel menjeda ucapannya dan masih menatap Rose yang juga masih betah mendengarkannya. Ketakutan Rose menguar begitu saja karena yang ada sekarang hanya perasaan rindu yang tak terbendung.
"Mama memberi ku nasihat, dan setelah mendengar kan semua nasihat mama aku membiarkan mu pergi sejauh mungkin karena aku yakin jika nanti kamu memang milikku kita akan dipertemukan kembali,"
Gabriel mengakhiri penjelasannya dengan senyum tipis yang terbit di bibirnya.
"Dan terbukti kita bertemu lagi sekarang!"
"Aku tidak ingin melanjutkan hubungan kita yang dulu,"
ucapan Gabriel membuat senyum di wajah Rose luntur dan terlihat kekecewaan disana.
"Tapi aku ingin kita memulai hubungan yang baru mulai hari ini!" ucap Gabriel sambil tersenyum manis.
Cup....
Rose memberanikan diri mencium Gabriel terlebih dahulu. Dan membuat Gabriel mengerjapkan matanya. Tapi saat Rose ingin mengakhiri ciuman itu Gabriel menahan tengkuk Rose dan melanjutkan ciuman mereka.
Gabriel yang memang sudah lama bisa bertemu dengan Rose tentu saja tak akan menyia nyiakan saat ini. Gabriel membawa Rose ke dalam apartemen nya setelah ciuman mereka berhenti.
"Terimakasih untuk semuanya Gabi, aku juga tak menyangka jika aku masih bisa bertemu denganmu lagi,"
Cup...
Gabriel melanjutkan apa yang sempat tertunda tadi. Dan berakhirlah mereka di kamar milik Gabriel untuk menyalurkan semua perasaan kangen mereka. Entah berapa kali malam itu mereka melakukannya.
Sementara itu di rumah Farres....
Farres sedang menatap dingin istri tengilnya itu. Dia bahkan melihat memar di kedua tangan milik istrinya.
"Kak Farres maaf tadi aku kan nggak sengaja dan lagi aku juga nggak apa apa," ucap Ivone lirih seperti anak kecil yang tengah ketakutan di marahi ibunya.
"Aku nggak kasih ijin kamu buat buka usaha kalau kejadiannya kayak tadi!"
Suara dingin Farres membuat Ivone mendongakkan kepalanya melihat sang suami yang masih menatapnya datar.
"Duh cari cara ini buat ngrayu si kulkas empat pintu," gumam Ivone dalam hati.
Tapi kemudian dia menemukan ide, sesaat dia tersenyum tapi sesaat dia bergidik ngeri.
Farres hanya memperhatikan tingkah istrinya saat ini. Dia hanya ingin tahu bagaimana sang istri bisa merayunya. Dan melihat ekspresi sang istri dia tahu apa yang Ivone pikirkan.
"Aku tunggu kemampuan mu sayang!" ucap Farres dalam hati sambil tersenyum samar.
Dan tepat ternyata dugaan Farres benar, Ivone menciumnya terlebih dahulu, bahkan memulainya terlebih dahulu.
Tentu saja Farres bahagia karena ini yang dia tunggu.
"Nakal hmmm?" tanya Farres memancing sang istri karena Ivone terus berusaha menggoda Farres.
"Kalau kakak nggak mau ya udah aku tidur aja!" gerutu Ivone dengan berbalik badan menuju ranjangnya.
Tapi dugaan Ivone salah karena ternyata Farres langsung menyerang nya entah sampai kapan Farres akan menghentikannya.
"Sialan, bangunin macam tidur mah kalau ini!" gerutu Ivone dalam hati.
Dan entah berapa kali mereka melakukannya, Ivone sampai tertidur terlebih dahulu saat Farres baru mendapatkan yang terkahir kalinya.
Farres tersenyum puas melihat hasil karyanya pada tubuh sang istri.
Tak lama dia juga ikut berbaring dengan memeluk sang istri yang sudah lebih dulu memasuki alam mimpinya.
To be continued.....
Lanjut dong min
Kok pelit bangget si