HELENA KANAYA ATMAJAYA gadis enam belas tahun yang masih duduk di bangku sekolah, sejak kecil Helena sudah di jodohkan dengan anak teman mendiang Ibunya, yang bernama RAVELO TRIAN ADITAMA yang sama sama masih duduk di bangku sekolah, kebetulan Helena dan Velo masih satu sekolah namun beda kelas.
Dari dulu Helena memang sudah menyukai Velo, dan saat tahu kalau keduanya di jodohkan Helena semakin menempel pada Velo, membuat Velo terkadang merasa risih sendiri.
Helena sebenarnya gadis yang baik, hanya saja dia memiliki sifat posesive pada sesuatu yang memang sudah jelas jelas miliknya termasuk pada Velo. Helena tahu kalau Velo dekat dengan gadis satu kelasnya yang bernama HANA LARASATI, jadi Helena selalu berusaha menjauhkan Hana dan Velo.
Dan sikap Helena yang seperti itu, membuat semua murid di sekolahnya mengecap Helena sebagai gadis Antagonist, awalnya Helena tidak terima dirinya di anggap Antagonist, namun pada akhirnya Helan benar benar memerankan sosok Antagonist yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Di depan kamar rawat VIP yang ada di rumah sakit besar pusat kota, terlihat Antonio duduk sendiran di kursi dengan kepala tertunduk, pria matang itu sama sekali tidak berani masuk ke dalam untuk bertemu Nonanya yang baru sadarkan diri.
Beberapa saat tadi ketika Antonio tiba di rumah sakit, dia baru tahu kalau korban yang tertabrak itu Mira ibu Hana, yang mengakibatkan kecelakaan beruntun itu terjadi, Antonio juga tidak sengaja mendengar seorang saksi yang mengatakan kalau saat itu Mira menyebrang jalan dengan tidak fokus karna panik mencari anaknya.
Antonio mengelapkan tangannya sampai sampai kukunya menancap di kulitnya.
''Ini salahku, aku yang menyebabkan Nona dan Tuan kecelakaan'' gumamnya dengan menggertakkan giginya, men
Ya Antonio sadar kalau semua yang menimpa Nonanya, itu berawal dari dirinya yang menculik Hana, andai dirinya tidak menculik Hana, pasti Mira tidak akan tertabrak mobil, dan kecelakaan beruntun itu tidak akan terjadi.
Ceklek
Antonio tidak bernai mengakat kepalanya, saat ada orang yang keluar dari kamar rawat Nonanya, orang itu berjalan menghampirinya dan berdiri tepat di depan Antonio, dari sepatunya Antonio sudah tahu kalau orang itu Velo.
''Om, Helen sudah siuman, dia mencari Om Anton'' tukas Velo.
Sontak Antonio langsung berdiri, lalu dia melangkah ke arah pintu kamar rawat Helen dan membukanya dengan perlahan.
Ceklek
Antonio merasakan hatinya teriris, saat melihat gadis cantik yang selama ini diam diam di sukainya, berbaring lemah di atas brangkar dengan kepala dan kakinya di balut perban.
''Om'' panggil Helen lirih.
Antonio tidak mendengar panggilan Helen, namun dia bisa menangkap dari gerak bibirnya, lalu dia berjalan mendekat ke samping brangkar Helen, dengan menahan sekuat tenaga agar tangisnya tidak pecah.
''Om, Helen sudah gak punya Papa lagi'' lirih Helen dengan meneteskan ari matanya.
Antonio merasakan jantungnya seperti di remas, saat melihat Nonanya menangis, dirinya lah yang menjadi penyebab semua ini.
Brukk
Helen, Velo dan kedua orang tua Velo kaget, saat melihat Antonio tiba tiba berlutut.
''Nona, ini semua salah saya, saya yang sudah menyebabkan kecelakaan beruntun itu terjadi'' ucap Antonio dengan kepala tertunduk.
Sontak semua orang yang ada di dalam kamar rawat itu kaget termasuk Helen, saat mendengar pengakuan Antonio.
Dan Velo langsung menarik kerah baju Antonio, dan mencengkramnya.
''Maksud om Anton apa?. Om sengaja ingin membunuh Om William?'' tanya Velo marah.
Antonio menggelengkan kepalanya. ''Bukan, bukan seperti itu'' lirihnya.
''Lalu apa, ha?!'' sentak Velo yang sudah tersulut emosi.
Lalu Antonio menceritakan prihal dirinya yang menculik Hana, dan Antonio juga mengatakan kalau korban yang di tabrak di awal itu Mira Ibu Hana, jadi Antonio menyimpulkan kalau semua kejadian ini berawal dari dirinya yang menculik Hana, Antonio juga mengatakan yang sebenarnya tujuan dirinya menculik Hana.
Velo dan kedua orang tuanya yang mendengar pengakuan Antonio, sudah tidak tahu harus berkata apa lagi, mereka bisa memahami dengan tindakan Antonio, pasti rasa sayang pria itu pada Helen sangat besar, bagaimana tidak Antonio di tugaskan untuk menjadi pengawal Helen sejak Helen usia tiga tahun, bisa di bilang Antonio adalah sosok Ayah kedua untuk Helen.
Sedangkan Helen gadis itu hanya terisak menatap langit langit kamar rumah sakit.
''Nona, jika anda ingin menjebloskan saya ke penjara, saya siap'' ucap Antonio kembali berlutut di samping brangkar Helen, namun pria itu sama sekali tidak berani menatap Nonanya.
''Hiks,,, kalau om masuk penjara, Helen sama siapa?, Helen sudah tidak punya siapa siapa lagi'' lirih Helen dengan terisak.
Mendengar perkataan Helen, seketika Antonio tidak bisa membendung air matanya yang sejak tadi ia tahan, dia menangis tersedu sedu.
''Hiks,, Hiks,, Maafkan saya Nona'' ucao Antonio dengan bahunya yang naik turun karna terisak.
Esok pagi hari saat jasad William di bawa pulang, kediaman Atmajaya ternyata sudah di penuhi oleh para pelayat, untuk memberikan penghormatan terakhirnya pada William, dan kebanyakan dari mereka adalah karyawan Atmajaya Group, dan ada juga rekan rekan bisnis William, serta beberapa teman teman sekolah William, saat ini untuk sementara Adrian dan Diana yang menjadi tuan rumah, karna Helen masih belum bisa pulang.
Exel,Rania dan Maxim mereka juga sudah ada di kediaman Atmajaya, mereka menyalakan dupa untuk memberi penghormatan terkahir pada William di depan peti matinya, Rania yang datang pertama kalinya di kediaman Atmajaya sebenarnya merasa terkagum kagum, karna ternyata kediaman Atmajaya jauh lebih besar da mewah dari kediaman Aditama, tapi Rania menahan perasaan kagum itu, karna saat ini adalah hari duka untuk Helen.
''Dimana Helen?'' tanya Rania lirih.
''Masih di rawat di rumah sakit, katanya dia langsung ke pemakaman '' jawab Exel.
Rania mengangguk.
Jam sembilan jenazah William baru di bawa ke pemakaman elite yang ada di pusat kota, William akan di makamkan di samping makam istrinya, dan benar saja Helen sudah ada di pemakaman, di duduk di kursi roda dengan tangan yang masih di pasang infus, dan di sisinya ada Antonio, Velo dan juga seorang pria berpakaian dokter, yang menangani Helen bersama asistennya.
Gerimis jatuh tipis di atas nisan hitam itu. Suara pendeta membaca doa terdengar sayup-sayup, seperti datang dari tempat yang sangat jauh. Helen duduk di kursi roda dengan kaku, menatap tanah merah yang perlahan menutup peti mati Papanya, Orang-orang berseragam hitam berbisik memberikan ucapan duka, tetapi Helen diam saja, karna fokusnya hanya pada peti mati Papanya yang perlahan tidak terlihat lagi, karna sudah tertutup tanah dengan sempurna, saat ini Helen benar benar kehilangan kompas terbaik dalam hidupnya.
Setelah upacara pemakaman usai, para pelayat perlahan satu persatu meninggalkan area makam, hingga di makam itu tinggal Helen, Antonio, Velo dan kedua orang tuanya, sedangkan Exel, Rania dan Maxim sudah pulang, lebih tepatnya mereka kembali ke sekolah.
Helen menatap batu nisan Papanya dan Mamanya yang berdampingan, dan perlahan dia terisak kembali, Velo yang berdiri di sampingnya mengusap bahu Helen untuk menyemangatinya.
"Pa, bagaimana Helen kedepannya, Helen sendirian, Helen sudah gak punya siapa siapa lagi" batin Helen.
''Hel, ayo kita kembali ke rumah sakit, kamu masih dalam penanganan dokter, jadi gak boleh lama lama di luar'' ajak Velo dengan lembut.
Helen mengangguk.
Lalu Velo langsung membalikan kursi roda Helen, dan mendorongnya meninggalkan makam William.
Di dalam mobil rolls royce, Antonio yang sedang mengemudi sesekali melirik Nonanya yang duduk di jok belakang bersama Velo dan asisten dokter, sedangkan dokter yang menangani Helen duduk di jok depan, Antonio merasa cemburu saat melihat Nonanya bersandar di bahu Velo, namun dia sadar kalau dirinya bukan siapa siapa.
Setiba di rumah sakit Helen langsung kembali di bawa ke kamar rawat VIP.
''Dok, bagaimana dengan kaki Nona Helen?, apa masih bisa di sembuhkan?'' tanya Antonio
Semalam fikiran Antonio terlalu penuh dengan masalah penyebab kecelakaan yang di alami Nonanya, sampai dia lupa menanyakan kondisi kaki Nonanya.
Dokter pria itu tersenyum. ''Pak Anton tenang saja, kaki Nona Helen hanya mengalami patah tulang, cukup dengan penanganan medis yang cepat dan tepat, mungkin hanya butuh waktu dua atau tiga bulan untuk pemulihan agar Nona Helen bisa berjalan kembali'' jelas dokter itu.
Antonio seketika bernafas lega.
''Syukurlah, kalau begitu'' gumamnya.
plinplan
Hellen dan om Anton
pasti kuat menghadapi cobaan
ulet bulu
stiap orang ganteng kamu suka
apalagi jika tau om Anton lebih tajir
punya dua perusahaan
kirain kamu sudah melahirkan
karna di p rks 🤔🤔
cintamu diterimah💪💪