Wanita dewasa umumnya memiliki mimpi yang berotasi di zona nyaman saja, menikah, punya anak dan sukses diusia muda, tetapi tidak dengan Findya Hannah Azzura, wanita yang tumbuh dari keluarga dengan ekonomi menengah kebawah itu memiliki ambisi yang sangat besar, sejak umurnya 9 tahun ia sudah berani menempel icon-icon negara timur tengah di ingatannya. Baca selengkapnya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fathonah larakesi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
*Skandal Yang Mulai Mencuat di Permukaan
Findya cukup stres melewati hari-harinya semenjak ia mendapat skandal dengan dokter Barra, padahal skandal itu tak benar benar skandal melainkan hanya asumsi liar saja dari beberapa pasien yang sudah berani menyimpulkan hal tersebut, sakit hati, marah, jengkel dan menyesal adalah empat hal yang mulai membayang-bayangi pikiran Findya sejak kejadian naas itu terjadi, tapi mau bagaimana lagi kayu sudah menjadi abu, Findya hanya bisa terus melanjutkan hidup meski ia tahu ada risiko yang harus dihadapi yaitu berperang dengan dirinya sendiri bahkan dengan lingkungannya jika kabar negatif ini mulai muncul dipermukaan.
Pagi ini ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan muka yang lesuh seperti tak ada gairah hidup sama sekali, ruangan demi ruangan sudah dilewati namun saat ia berbelok menuju ruangannya tak sengaja ia melihat beberapa Perawat yang berasal dari Afrika dan Filipina yang tengah duduk diruang tunggu seraya membincangkan sesuatu dengan suara agak berbisik, namun perasaan Findya mendadak tak enak ketika beberapa dari mereka sempat menatap kearahnya, seketika itu juga Findya langsung menundukkan pandangan sembari mengayunkan langkah lebih cepat lagi menuju ruang dinasnya, sementara didalam ruangan sudah ada dokter Sana yang menunggunya, bersama pasien yang sudah berbaring di dental chair yang juga tampak sudah tak sabar untuk segera ditindaki.
“Dok? Nersnya belum datang juga yah?”
“Belum bu, bentar lagi yah?!” Sahut dr. Sana menenangkan, sembari beberapa kali dr. Sana melempar tatapan tak sabar kearah pintu berharap Findya segera muncul dihadapannya, sesuai firasat dr. Sana, Findya akhirnya muncul dengan langkah tergopoh-gopoh.
“Find? Kenapa baru dateng?!” Tanya dr. Sana penasaran, karena tidak biasanya Findya datang terlambat seperti ini.
“Maaf dok saya telat bangun” sahut Findya pelan sembari buru-buru menaruh tasnya kedalam loker, dokter Sana hanya bisa memkalumi, setelah itu keduanya langsung bersiap-siap untuk memulai tindakan.
Decitan jam dinding yang ada diruangan terus mengiringi aktivitas perdentalan dr. Sana dan Findya, hinga akhirnya pasien terakhir sudah selesai diberikan tindakan, dr. Sana mulai melepas gown dan sarung tangan lalu bergegas mencuci tangan, sementara Findya segera merapihkan semua instrumen dan material yang masih berhampuran diatas meja dental chair mapun diatas troli, dari arah wasthafel dr. Sana yang masih mencuci tangannya, tanpa disadari oleh Findya ternyata sang dokter terus menatap kearahnya seolah ada sesuatu yang tengah mengganjal dikepala dan ingin segera ia utarakan saat itu juga.
“Gimana kabar kamu Find?” dr. Sana masih berdiri didepan washtafel seraya mengeringkan telapak tangan dengan potongan tisu gulung, pertanyaan basa-basi itu ternyata mampu dibaca oleh Findya, dengan pergerakan tubuh yang tampak lelah, Findya segera menegapkan tubuhnya lalu menyahut dengan sopan.
“Saya alhamdulillah sehat dok!”
“Alhamdulillah…” dr. Sana belum berhenti, dengan ragu-ragu ia kembali memanggil Findya.
“Find?!”
“Iya dok?”
“Kabar yang beredar tentang kamu dan dr. Bara itu bener?!”
“Jleeb….”
Findya kaget bukan kepalang, matanya seketika membulat tak percaya, ia bahkan terdiam cukup lama untuk menelaah lagi apa maksud dari pertanyaan dr. Sana barusan, batinnya sedikit menyangkal bagaimana bisa berita skandal itu menyebar dengan cepat? Itu tidak mungkin.
“Hah? Ka…kabar apa dok?!” Findya tampil berpura-pura, seraya menyuguhkan senyuman kecil yang tak natural, namun diseberang sana dr. Sana kembali memperjelas pertanyaannya.
“Maaf ya Find, katanya kamu berpelukan sama dokter Bara didalam lift?”
“Itu bener?!” Tenggorokan Findya seketika tercekat, ia tak bisa mengeluarkan sepatah kata lagi, dadanya perlahan terasa perih, perih yang hebat itu kemudian menjalar ke kepala dan juga kelopak mata, rasanya Findya tak kuat lagi harus berhadapan dengan dr. Sana lama-lama, bahkan air mata yang mengumpul dikelopak sudah tak sabar ingin tumpah, dengan suara yang bergetar Findya langsung berpamitan.
“Bentar yah dok, saya mau ke toilet dulu!” dr. Sana yang menyadari kalau omongan Findya barusan hanyalah alibi semata, sontak ia melangkah cepat lalu dengan sigap meraih lengan Findya sembari membawa Findya kedalam pelukannya.
“Jadi bener yah? Ya Allah…” tutur dr. Sana sangat prihatin akan kondisi Findya.
“Kalo saling suka kenapa gak langsung nikah aja Find?!” Lanjutnya lagi yang masih menganggap benar berita skandal tersebut, sembari terus memeluk dan mengusap-usap pundak Findya, sementara Findya yang hatinya memang sudah rapuh kemudian mendapatkan perlakuan hangat dari dr. Sana layaknya seorang ibu, saat itu juga Findya langsung meluapkan tangisannya dengan nafas yang sesenggukan seraya berusaha menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
“Gak dok, itu sama sekali gak bener, hiiks…hiiks”
“Kami hanya difitnah dok, hiiks…hiiks”
“Ow yah? Kenapa bisa Find?“ dr. Sana cukup kaget saat mendapatkan klarifikasi dari Findya, karena simpulan yang ia petik dari berita yang sudah beredar ialah narasinya dibentuk seolah-olah dr. Bara dan Findya memiliki hubungan khusus yang sengaja dirahasiakan keduanya dari orang-orang sekitar termasuk isteri dan juga keluarga besar dari dr. Barra.
Sang dokter yang masih penasaran dengan cerita yang sebenarnya, ia kemudian membawa Findya ke kursi lalu keduanya duduk berhadap-hadapan, tak lupa dr. Sana juga memberikan sebotol air mineral untuk Findya, setelah perasaannya agak membaik Findya lantas meneguk air tersebut dan mulai bercerita tentang kronologi yang sebenarnya dari kejadian yang sudah dibungkus dengan kata skandal tersebut, diseberangnya dr. Sana mendengarkan dengan baik, Findya terus bercerita meski dengan linangan air mata yang terus tumpah dari kelopak, sesekali ia tampak menyapu pipi dengan sehelai tisu lalu fokus menceritakan tragedi naas tersebut, sampai cerita itu selesai.
“Saya percaya sama kamu Findya, sangat percaya!” dr. Sana tersenyum kecil kearah Findya, lalu mengusap-usap telapak tangan Perawatnya itu sembari memberi penguatan dan meyakinkan Findya kalau ia ada disisinya.
“Sebenarnya saya juga tidak terlalu kenal dengan dr. Bara, tapi saya yakin dia pria yang baik, dan dia itu orang Saudi asli loh Find, gak mungkin dia ngelakuin hal itu ditempat umum, apalagi dengan perempuan yang bukan mahramnya?!” Findya mengangguk kencang dengan nafas yang masih sesenggukan.
Berita terkait skandal itu ternyata sudah menyebar rata disemua ruangan bak hembusan angin ribut yang menerobos kencang lalu memecah keheningan, seisi rumah sakit dibuat heboh atas mencuatnya berita negatif tersebut, pokoknya pecah telor hari ini nama dr. Bara dan Findya menjadi topik utama yang paing dibahas, beberapa staff, Dokter dan para Perawat yang belum pernah melihat Findya lantas dibuat bertanya-tanya sekaligus penasaran dengan sosok Findya ini, bahkan Ovi dan Lifia juga cukup tercengang saat mengetahui skandal itu yang bahkan mereka dengar dari mulut orang lain.
“Ya ampun Lif, ini beneran aku gak mimpi Lif?!” Ovi menganga tak percaya.
“Kayaknya bener deh kak, soalnya beberapa hari ini tiap malem tuh aku selalu denger Findya kek nangis gitu”
*****
Usai jam dinas, Findya langsung buru-buru keluar dari ruangan, karena ia sudah mendapatkan pesan whatsapp dari dr. Amirah yang sudah menunggunya di area parkiran, Findya melangkah dengan pelupuk mata yang mengamati aktivitas orang-orang sekitar, kecemasan dan ketakutan itu mulai membabi buta dipikirannya, sesuai dugaan, beberapa staff maupun Perawat yang ada diruangan loby tersebut mulai menerka atau bahkan ada yang mengenali Findya, mereka kini mulai menatap fokus kearah Findya.
Bahaya Findya benar-benar semakin ketakutan, hidupnya bak buronan Polisi yang terus diintai disegala arah, tak mau mentalnya semakin rusak Findya kemudian berlari kencang agar tubuhnya cepat menghilang dari tatapan orang-orang yang tengah mengintainya itu, tak beberapa lama ia yang sudah sampai diparkiran segera menghampiri mobil Amirah.
“Mau kemana lagi dok?” Tanya Findya seraya masuk kedalam mobil.
“Hum, gak usah panggil dokter yah?! Panggil Amirah aja” Amirah menegur dengan nada yang sopan, seraya menyuguhkan senyuman kecil pada Findya, pikirnya, sebentar lagi Findya akan resmi menjadi madunya, dan Amirah menyambut baik akan hal itu, tentu Amirah tak mau ada jarak apapun entah itu usia atau status sosial yang menghalangi keduanya, apalagi sekarang ia tengah berusaha untuk bisa lebih akrab lagi dengan Findya, pun sebaliknya Findya langsung memberikan anggukan kepala sembari membalas dengan senyuman juga.
“Lupa ya? Kemaren kan kita udah janjian kalo hari ini kita akan konsultasi ke dokter kecantikan” lanjut Amirah, Findya hanya pasrah dan mengikut saja kemana Amirah akan membawanya.
sukss dan lanjutkn
semngt skss lnjutkn teruss
semngt skss lnjutkn