Reno Alvarez (25 tahun) punya visual secakep Yeonjun TXT, tapi statusnya tragis: PEngangguran JAkarta BARat yang hobinya cuma rebahan.
Nasib Reno mendadak korslet setelah nekat membuang golok warisan kakeknya ke tong sampah. Bukannya hilang, golok penuh daki itu malah auto-summon balik ke bawah bantalnya.
Reno resmi terkena kutukan Mbah Golok Sakti! Jiwanya mulai disedot paksa masuk ke berbagai dimensi absurd setiap kali tidur. Mulai dari dikejar zombie modal kolor Doraemon, operasi tenggorokan singa di Afrika, sampai debut dadakan jadi member TXT gara-gara Yeonjun asli lagi diare di toilet!
Setiap misi emang dapet cuan, tapi kalau Reno harus pindah dimensi terus nyawa bisa jadi taruhannya. Mampukah sang beban negara ini bertahan?
Warning: Jangan baca sambil minum, rawan nyembur! 🤣🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Mimpi Sialan dan Misteri Hilangnya Kolor Doraemon
DORR! DORR!
Dua butir peluru tajam melesat cepat membelah udara. Pandangan mata Reno seketika menggelap total. Dunia di sekitarnya seolah runtuh menjadi puing-puing kosmik.
BRUKK!
"Aduuuh! Shh... aaakh... jahanam bener, ambeien gue berasa mendadak pindah ke leher!"
Reno meringis kesakitan sambil posisinya melakukan gerakan kayang darurat di lantai. Kedua tangannya refleks memegangi bagian tulang ekornya yang baru saja melakukan aksi high-five alias benturan keras dengan ubin lantai kamar.
Ia mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali, lalu menatap lurus ke arah langit-langit kamar tidur yang cat putihnya sudah mengelupas parah hingga membentuk pola mirip peta buta benua Afrika.
"Hah... Huh... Ternyata cuma mimpi buruk sialan. Syukur deh, kepala gue yang mahal ini nggak jadi berubah bentuk mirip buah melon pecah," gumamnya megap-megap sambil mengelap sisa keringat dingin yang mengucur sederas air terjun Grojogan Sewu di pelipisnya.
Namun, tepat saat dirinya hendak bangkit berdiri, Reno mendadak merasakan sebuah sensasi 'semilir' angin malam yang sangat tidak wajar di tubuh bagian bawahnya. Dingin, sejuk, sekaligus mencekam. Rasanya persis seperti ada semburan AC alami berkekuatan tinggi yang langsung mengenai area "pusaka" berharga milik keluarganya.
Reno perlahan-lahan menundukkan pandangan kepalanya ke bawah. Detik itu juga, kedua matanya nyaris saja keluar melompat dari soketnya.
"KOLOR GUE MANA SEKARANG?! SIAPA MANUSIA BIADAB YANG BERANI NYURI KAIN SURGA GUE?!" jerit Reno histeris setengah mati.
Celana kolor biru cerah dengan motif Doraemon—sebuah seragam tempur andalan sepanjang masa yang karet pinggangnya sudah melar sampai ke lutut—kini telah lenyap bak ditelan bumi.
Reno benar-benar dalam kondisi bugil total, polos sepolos-polosnya seperti sesosok bayi yang baru lahir ke dunia. Namun tentu saja, ini adalah versi yang jauh lebih panjang, bongsor, dan dipenuhi bulu-bulu lebat.
Dengan tingkat dedikasi tinggi setingkat detektif Conan yang sedang memecahkan kasus pembunuhan berantai, Reno langsung melakukan aksi penggeledahan kolosal di dalam kamarnya.
Kain selimut kasur dilempar sembarangan ke udara, bantal guling ditendang kuat-kuat ke pojokan dinding, bahkan ia sampai rela mengambil posisi tiarap pasrah di atas lantai kamarnya yang berdebu tebal demi mengintip ke dalam kolong ranjang kayu.
Sialnya, isi di dalam kolong itu cuma ada sarang laba-laba raksasa dan sesosok bangkai cicak yang sudah mati kering.
"Apa jangan-jangan... makhluk zombie kantoran di dalam mimpi tadi beneran ada di dunia nyata, terus dia ternyata punya fetish aneh sama kolor kartun gue?!"
Reno seketika bergidik ngeri sebadan-badan. Di dalam kepalanya yang mulai konslet, ia membayangkan ada sesosok mayat hidup berdarah-darah yang sedang berlari riang di jalan raya sambil memakai kolor Doraemon miliknya sebagai bando di kepala.
"Wahai anak muda yang gemar rebahan, selamat... kamu dinyatakan lulus ujian tahap pertama untuk masuk ke dalam lubang buaya."
"SIAPA LO, HAH?! KELUAR GAK DARI KAMAR GUE?! GUE TABOK JUGA LO PAKE SAPU!"
Reno berteriak lantang ke arah sudut ruangan sambil bersiap mengambil posisi melompat ke atas lemari pakaian.
Suara berat dari pria tua misterius itu kembali bergema memenuhi ruangan. Suara gaib yang sama yang terus menerus muncul sejak ia mencoba membuang golok warisan penuh daki milik kakeknya ke tempat yang bahkan tidak terjangkau oleh aplikasi Google Maps.
Namun, tetap saja tidak ada jawaban balasan dari makhluk tak kasat mata tersebut. Suasana kamar tidur Reno kembali berubah menjadi sunyi senyap, menyisakan sosok Reno yang berdiri menggigil kedinginan dengan kondisi "burung" peliharaannya yang mulai terancam terkena penyakit hipotermia akut.
Dengan gerakan refleks yang secepat kilat, ia langsung menyambar selembar kemeja acak dan sebuah kolor cadangan dari dalam lemari pakaian. Saking paniknya tingkat nasional, Reno bahkan sampai memakai celana kolor cadangannya dalam posisi terbalik—bagian jahitan obras di luar, sedangkan gaya estetika di dalam.
Setelah berbusana secara ajaib, ia segera berlari cepat menuju ke arah meja sudut, tempat di mana kotak kayu persegi panjang wadah golok warisan itu disimpan.
Krieet...
Tutup kotak kayu dibuka secara perlahan. Kosong melompong tanpa ada tanda-tanda kehidupan. Isinya bersih mengkilap, persis kayak penampakan piring milik orang kelaparan yang baru selesai makan malam.
Padahal baru kemarin, itu golok tua punya tingkat loyalitas tanpa batas yang bikin geleng-geleng kepala.
Dibuang ke sungai Sukabumi, balik lagi ke saku. Dibuang ke hutan belantara, balik lagi ke tas. Bahkan sempat dijual paksa ke tukang loak besi tua, satu jam kemudian sudah nangkring manis kembali di atas bantal tidur. Sekarang, tepat di saat Reno sedang butuh-butuhnya benda itu untuk jaga diri dari teror hantu, itu golok sakti malah memilih untuk resign tanpa memberikan surat peringatan terlebih dahulu.
Waktu menunjukkan pukul 04:00 subuh. Reno langsung melesat keluar rumah menuju ke halaman depan pagar. Target operasi tunggalnya pagi ini cuma satu: Tong Sampah Hijau.
Krasak... krusuk... krasak...
Beberapa orang masyarakat komplek yang kebetulan lewat untuk pergi ke masjid mungkin bakal mengira kalau Reno adalah sesosok gembel elit berwajah artis Korea yang sedang berburu harta karun berupa sertifikat tanah di antara tumpukan kulit pisang busuk dan popok bayi bekas.
Namun, Reno sudah tidak peduli lagi dengan urusan imej mahal. Ia terus mengaduk-aduk isi tong sampah dengan tingkat fokus dan konsentrasi tinggi, mirip seorang koki bintang Michelin yang sedang meracik bumbu masakan rahasia.
"GAK ADA ANJIR! TUH GOLOK JANGAN-JANGAN LAGI IKUTAN OPEN BO DI LUARAN SANA!"
BUGHH!
Karena sudah emosi jiwa mencapai tingkat maksimal, Reno menendang kuat-kuat tong sampah plastik itu hingga terjungkal ke aspal. Isinya berserakan di mana-mana, tetapi si golok sakti tetap saja tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali.
Reno akhirnya kembali melangkah masuk ke dalam kamarnya dengan napas yang tersengal-sengal, ditambah bonus bau 'parfum' aroma sampah menyengat yang menempel di sekujur tubuhnya.
"Gini amat ya nasib hidup gue. Udah berstatus pengangguran abadi, diteror sama hantu botak jawara, kolor kesayangan hilang dicuri zombie mimpi, sekarang golok warisan gue malah ikutan aksi ghosting!" keluhnya merana.
Tepat pada detik saat ia ingin membanting pintu kamar dengan kesal, suara Adzan subuh mendadak berkumandang dengan sangat merdu dari corong masjid komplek.
Suara sakral itu seolah-olah menjadi sebuah soundtrack hidayah yang mendadak sengaja diturunkan dari langit khusus untuk dirinya. Reno seketika terdiam mematung.
Di dalam hatinya, ia merasa mungkin ini adalah sebuah teguran keras dari alam semesta karena selama ini ia jauh lebih sering menyapa hantu di dalam mimpi buruk, daripada menyapa Tuhan di atas hamparan sajadah.
Ia segera melakukan ritual mandi besar (terutama untuk menghilangkan bau busuk sampah yang telanjur menempel di pori-pori kulitnya), lalu menggelar sajadah dan melaksanakan salat Subuh dengan tingkat kekhusyukan yang luar biasa tinggi sepanjang sejarah hidupnya.
Untaian doa yang dipanjatkannya panjang sekali. Inti dari doanya cuma satu kalimat: Ya Tuhan, tolong jauhkan hamba dari gangguan pria tentara Korea yang hobi menembak kepala orang, dan jauhkan hamba dari sebilah golok posesif yang hobinya main petak umpet.