Lanjutan dari novel "Nikah Paksa Jadi Cinta"
Yang belum baca musim pertama bisa baca dulu ya, hehe...
.
.
Karena sebuah perjodohan yang diatur oleh orang tuanya membuat Diandra harus kabur dari rumah.
Diandra tak ingin dikekang. Ia ingin bebas menjalani hidupnya sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Hingga suatu hari ia bertemu dengan Kevin Andrea Geraldy. Seorang pria yang ia ketahui adalah mantan dari sahabatnya sendiri. Hidupnya berubah dan benih cinta antara keduanya mulai tumbuh.
Namun, disisi lain Diandra tidak ingin menyakiti sahabatnya sendiri. Apa yang akan Diandra lakukan?
Simak yuk ceritanya🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iLmaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27
"Sini sayang, duduklah di sini," ucap Jiana lalu menarik Diandra untuk duduk di sampingnya. Sedangkan Ayudia dan Kevin duduk berhadapan dengan mereka. Diandra merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Orang tuanya sudah salah paham terhadapnya. Bahkan sampai mengundang Kevin dan Ibunya untuk makan malam di rumahnya.
Diandra menatap Kevin dengan tajam. Ia berisyarat agar menjelaskannya pada orang tuanya maupun Ibunya sendiri. Namun Kevin justru menikmati situasi ini dan hanya tersenyum melihat Diandra yang menahan rasa kesalnya.
"Kenapa hanya diam saja? Apa kalian akan saling menatap seperti itu hingga makan malam ini selesai?" ucap Ayudia. Diandra langsung menundukkan wajahnya. Ia begitu malu. Sedangkan Kevin memalingkan wajahnya dan menahan tawanya. Jiana dan Raka hanya menggelengkan kepalanya. Mereka menganggap jika selama ini Diandra menolak keras perjodohannya dengan Rizal karena sudah ada Kevin dalam hatinya.
"Sudah, jangan digoda terus.. Apa kamu tidak lihat bagaimana meronanya pipi putriku ini?" sahut Raka dan itu membuat Diandra semakin malu.
"Papa..." ucap Diandra dan memanyunkan bibirnya. Ia menatap Ayahnya dengan kesal. Dan itu justru membuat ketiga orang tua itu tertawa.
Diandra pasrah. Ia mulai memakan makanannya dengan pelan. Ia tak berani menatap siapapun. Termasuk Kevin yang kini berhadapan langsung dengannya.
Ayudia menatap Kevin sejenak. Ia menggenggam tangan putranya itu dan mengembangkan senyumnya.
*
"Kalian berbicaralah secara pribadi. Kami tidak akan mengganggu kalian," ucap Raka saat mereka selesai makan malam. Diandra tak bisa banyak membantah malam ini. Ia terpaksa mengiyakan apa yang Ayahnya ucapkan padanya.
Diandra membawa Kevin menuju teras rumahnya. Ia duduk di kursi ayunan yang ada di taman halaman tersebut. Diandra menatap ke sembarang arah. Lalu Kevin menyusulnya dan duduk di sampingnya.
"Maaf, gara-gara aku mereka jadi salah paham pada kita." Kevin paham apa yang dicemaskan Diandra. Diandra melirik Kevin sekilas. Lalu mengalihkan pandangannya lagi ke arah depan.
"Aku bingung menjelaskan ini pada orang tuaku. Sepertinya mereka sangat mendukung hubungan kita," kata Diandra sambil meremas kedua tangannya yang ia letakkan di atas pahanya.
"Aku juga tidak keberatan dengan hubungan ini," ucap Kevin dengan nada pelan. Diandra sontak menatap Kevin sambil membelalakkan matanya.
"Hah? Apa kau bilang?" tanya Diandra.
"Iya, aku tidak keberatan sama sekali." Kevin menjawabnya dengan santai. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi ayunan tersebut.
"A-aku tidak bisa. Bagaimana dengan Naya jika mengetahui kita dekat seperti ini? Pasti dia bakal sedih." Diandra menghembuskan napasnya dengan kasar sembari mengalihkan pandangannya. Wajah Kevin terlihat tidak suka. Ia tidak ingin membicarakan Kanaya atau siapapun.
"Berarti sebenarnya kamu tidak keberatan kan kalau misalnya kita dekat?" Kevin mendekatkan dirinya. Ia menatap Diandra penuh makna. Hingga membuat Diandra salah tingkah dibuatnya.
"Bu-bukan begitu!" Diandra mendorong Kevin agar menjauh darinya. Ia memundurkan dirinya hingga ke tepi kursi ayunan tersebut. Lagi-lagi pipinya merona. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Kevin tersenyum tipis. Ia kembali mendekati Diandra dengan perlahan. Membuat Diandra semakin salah tingkah.
"Mulutmu bilang tidak, tapi hatimu bilang mau. Kau sungguh menarik, Diandra," bisik Kevin di dekat telinga Diandra. Ia mengembangkan senyumnya dan berdiri setelah mengucapkan kalimat tersebut.
Diandra semakin salah tingkah. Ia mencoba menetralkan gejolak dalam hatinya. Ini pertama kalinya baginya. Kevin melangkah lebih dulu untuk kembali ke dalam rumah Diandra.
"Kenapa sih aku selalu gugup jika di depannya?" gumam Diandra yang menatap kepergian Kevin. Selang beberapa detik, ia menyusul masuk ke dalam rumah.
***
Tiga hari semenjak pertemuan malam itu, Diandra tak bisa fokus pada pekerjaannya. Ia sering melamun dan itu membuat pekerjaannya berantakan. Padahal Jean berulang kali menegur Diandra. Namun itu tidak berhasil juga.
"Ayolah Diandra. Untuk apa kamu terus memikirkan malam itu?" kata Diandra dalam hatinya. Ia mengatur napasnya sejenak dan berusaha fokus pada pekerjaannya.
"Jean, jika Papaku memanggilku jawab saja aku tidak ingin diganggu sampai jam istirahat siang nanti. Apa kau mengerti?" ucap Diandra yang menatap Jean sekilas.
"Saya mengerti nona," jawab Jean.
*
Kanaya hari ini izin tidak bekerja. Setelah matang-matang meyakinkan hatinya, kini ia memutuskan untuk kembali pada Kevin. Ia sadar bahwa selama ini belum bisa melupakan Kevin sepenuhnya. Keegoisannya waktu itu semata karena masih kesal pada Kevin yang telah menyelingkuhinya.
Kanaya sedang bersiap memilih baju yang cocok untuk ia kenakan. Pagi tadi ia menghubungi Kevin untuk bertemu dengannya secara pribadi. Tentu saja Kevin tidak menolaknya, karena ia juga penasaran apa yang akan Kanaya lakukan kali ini.
Hampir satu jam lamanya Kanaya memilih baju yang pas untuk ia kenakan. Ia ingin tampil cantik di depan Kevin. Ia harus tampil maksimal di hadapan Kevin.
"Baiklah, aku rasa pakai ini saja," ucap Kanaya sambil memutar tubuhnya yang sedang berada di depan cerminnya.
Setelah selesai, Kanaya menghubungi Kevin kembali untuk memastikan jika Kevin bersedia bertemu dengannya. Ia tersenyum lebar ketika Kevin mengiyakannya dan kini dalam perjalanan ke tempat biasa mereka bertemu.
"Tunggu aku Vin. Hari ini aku akan memberikan kepastian untukmu. Kita bisa bersama seperti dulu lagi," gumam Kanaya. Ia melangkah keluar dari apartemennya.
*
Kini mereka sudah sampai di kafe tersebut. Kevin penasaran dengan apa yang akan Kanaya katakan padanya nanti. Itu sebabnya, ia rela menemui Kanaya dan membatalkan janjinya dengan kliennya hari ini.
"Nay, apa yang membuatmu begitu senang hari ini?" tanya Kevin yang melihat dengan jelas bahwa Kanaya saat ini sedang bahagia. Ia tersenyum melihat Kanaya senang.
"Vin, aku tahu aku banyak salah padamu." Kanaya mulai berbicara. Kevin hanya mengernyitkan dahinya. Ia terus menatap Kanaya untuk menyimak apa yang akan disampaikan oleh mantan kekasihnya itu.
"Aku sudah berpikir, dan aku sudah memutuskan juga," ucap Kanaya terhenti sejenak. Kevin menyipitkan matanya. Ia berpikir keras mengapa Kanaya berucap demikian. Kanaya menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan. Tangannya terlihat bergetar namun ia berusaha untuk tetap tenang.
"Aku mau kita balikan lagi seperti dulu. Aku sudah memaafkanmu Vin." Akhirnya Kanaya mengatakannya juga. Namun ia masih gugup dengan jawaban Kevin nantinya.
Kevin tertegun dengan apa yang diucapkan Kanaya hari ini. Sebenarnya sudah lama Kevin menyerah untuk mengejar Kanaya lagi. Ia tahu ia banyak bersalah pada Kanaya dulu. Namun ia tak menyangka jika ada hari di mana Kanaya mengucapkan hal itu.
"Vin?" panggil Kanaya yang sudah gugup mendengar jawaban Kevin. Rasa percaya dirinya perlahan memudar. Kini hanya tersisa ketakutan dalam dirinya.
Kevin berdiri dan berjalan mendekati jendela. Ia bingung dengan situasi ini. Mau bagaimanapun juga Kanaya pernah singgah dalam hatinya. Posisi ini membuatnya dilema.
"Nay, aku..."