Pernikahan memang idealnya lahir dari persiapan, cinta, dan harapan yang matang. Tapi hidup kadang berjalan di luar rencana bahkan lewat jalan yang tak pernah kita bayangkan sama sekali.
Ketika pernikahan terjadi secara mendadak karena sebuah insiden, rasa bahagia dan sakral itu bercampur dengan kaget, takut, bahkan kebingungan.
Apakah pernikahan dadakan bisa membawa kebahagiaan??
Apakah pernikahan tanpa cinta dan saling mengenal lakan berjalan mudah?
yuk ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AA 28
Arka masih tidak percaya dengan pengakuan sang istri.Rasanya seperti mimpi perasaanya bisa terbalas tanpa ada drama bertepuk sebelah tangan.Apalagi ini pertama kali untuk keduanya.
"Kamu benar kan cinta sama aku?" Tanya Arka untuk kesekian kalinya.
"Kakaa...Aya ngantuk, kaka dari tadi nanya gitu terus." Rajuknya "Apa kaka punya gangguan telinga?" Tanya Alya dengan mata yang tertutup.
Arka terdiam, matanya memperhatikan wajah Alyana yang polos.
"Jir bisa-bisa nya gue di bilang gangguan telinga sama bini gue sendiri. Untung gue cinta, kalau kagak udah gue unboxing dari tadi."
Tak lama keduanya langsung terlelap tanpa terganggu satu sama lain.
Pagi menjelang, Alyana dan Arka sudah bersiap dengan pakaian santainya.Keduanya memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar pondok.
Alyana dan Arka turun ke bawah, di ruang keluarga sudah ada Umma Zura dan Abi Ilham yang sedang duduk sambil membaca kitab.
"Assalamu'alaikum Umi, Baba..."
"Wa'alaikumsalam"
Umma Zura memperhatikan keduanya."Wah..sudah rapi-rapi gini, mau pada kemana?"
"Aya sama Ka Arka mau jalan-jalan santai sekitaran pondok Umi." Jawab Alya "Ka Arka katanya mau tau daerah sini."
Abi Ilham dan Umma Zura mengangguk. "Ya Sudah, hati-hati.Jangan lupa mampir ke angkringan, cobain menu-menu special di sana. "
Arka mengangguk sopan. "Iya,Umi.Arka juga penasaran dengan angkringan milik Umi." Ucapnya "Kalau gitu, kami pamit Mi, Ba."
Begitu keluar pintu pondok, Arka langsung merentangkan tangannya.Ia menghirup dalam udara pagi pedesaan yang terasa begitu segar.
"Segar banget Ya."
Alyana mengangguk. "Selain banyak pohon-pohon besar, disini juga gak terlalu banyak kendaraan lalu lalang Ka.Makanya udaranya masih segar."
Arka menoleh pada sang istri. "Kamu betah disini?"
Alyana mengangguk sambil tersenyum. "Tentu." Jawabnya. "Butuh perjuangan buat tinggal disini"
"Maksudnya? "
"Aku harus ngerayu Ayah dulu buat di izinkan tinggal disini," Alyana menjeda ucapannya sejenak "Ayah itu protektif banget sama aku, pokoknya always 24jam aku di jaga ketat sama Ayah makanya butuh perjuangan buat meyakinkan ayah untuk kasih izin aku tinggal disini."
"Kamu nyaman sama over protektif nya Ayah Al?"
"Nyaman" Jawab Alya singkat dan tegas.
"Kenapa?"
"Ayah itu protektif tapi juga manjain aku, apa yang aku minta dan mau selalu di penuhi selama itu tidak membahayakan. Aku juga di jaga ketat tapi dengan cara ayah sendiri yang bikin aku ngerasa fine fine aja. Ya, walaupun teman-teman aku sering bilang katanya gak mau jadi kaya aku karena gak bebas bergaul. Tapi buat Aya, semuanya biasa-biasa aja."
"Aku sama sekali gak kehilangan masa-masa remaja ku karena Ayah sama Ibun selalu ada dan selalu bisa menempatkan diri kalau sama aku. Ibun dan Ayah bisa jadi teman dan sahabat kalau aku lagi butuh itu."
Arka mengangguk bangga mendengarnya.Ternyata bukan hanya Ayah Altheza yang selalu berusaha dekat dengan nya, Ayah mertuanya pun bersikap sama dengan anaknya.
"Kaka tau tidak, waktu di kota.Kalau di kota, aku kalau mau jalan-jalan ke mall terus kebetulan ibun gak bisa karena harus masuk dinas, nah... ayah yang akan gantiin nemenin aku.Kita bisa jalan-jalan sampai sore, sampai pernah ada yang liat terus motret aku katanya aku pacaran sama anak kuliahan." Ucap Alyana.
Ingatannya kembali melayang pada kejadian tiga tahun lalu saat dirinya masih berstatus anak SMP di kota tempat ayah dan ibun nya tinggal.
Dulu saat dirinya pergi jalan-jalan dengan sang ayah, ada salah satu temannya yang memotret nya dan menyebarkan pada grup sekolah jika dirinya pacaran dengan anak kuliahan hanya karena penampilan ayahnya yang seperti anak muda.
Bukannya marah, justru Alya begitu bangga karena dirinya tak perlu mencari perhatian laki-laki lain seperti teman-temannya yang sudah mulai pacaran dan jalan bareng ke mall.
Alya cukup mengajak ayah atau ibun nya hingga dirinya bisa merasakan senangnya jalan di mall dengan bebas tanpa adanya beban dan tentunya tidak akan menimbulkan fitnah atau melanggar aturan agama.
"Oh, ya.Terus gimana? "
"Ya gak gimana-gimana.Aku biarin aja,guru-guru juga pas lihat foto itu cuma pada ketawa.Mereka juga tau lah siapa Ayah,tapi yang marah justru ibun."
"Loh, kenapa?"
Alyana tertawa kecil mengingatnya. "Karena sejak itu banyak teman-teman aku yang pada heboh minta di kenalin katanya ayah ganteng banget,sumpah deh ka kalau liat foto itu pasti kaka juga gak akan nyangka kalau itu Ayah."
"Tapi gak sampai ibun dan ayah bertengkar kan?" Tanya Arka dengan tawa kecil.
"Gak.Ayah langsung kasih rayuan maut."
Setelah itu tawa keduanya pecah, Arka tidak menyangka jika kedua mertuanya begitu asyik.Ia juga bangga karena Ayah Al dan Ibun Alisya punya cara sendiri mendidik dan menjaga Alyana.
"Kalau sama Baba gimana? Jujur, aku agak segan sama Baba."
Alyana diam sejenak. "Aku juga bingung kalau sama Baba." Ujarnya, kemudian Alyana menjedanya terlihat seperti sedang berpikir. "Aku juga gak ngerti kenapa orang-orang pada segan sama Baba.Tapi kalau menurut aku sih, Baba itu persis kaya Ayah.Cuma kalau Baba gak bisa di ajak jalan ke mall kaya Ayah, tapi kalau sikap nya sama aku gak jauh beda sama Ayah."
Arka mengangguk.Keduanya terus berjalan menyusuri jalanan desa yang mulai ramai para warga yang akan berangkat ke kebun. Beberapa warga nampak menyapa Alyana dengan begitu ramah.
"Assalamu'alaikum Ning Alya." Sapa seorang wanita paruhbaya yang menenteng sebuah karung.
"Wa'alaikum Bu." jawab keduanya
"Wah, Ning Alya mau kemana nih pagi-pagi gini?"
"Cuma jalan-jalan sekitar sini sama Bu." jawab Alyana ramah.
Wanita paruhbaya itu mengangguk sambil tersenyum."Euleuh...ini teh suami Ning Alya tea?" Tanya nya kembali, matanya menoleh pada Arka.
Alyana mengangguk, senyumnya tak pernah hilang dari wajahnya.
"MasyaAllah meni kasep pisan Ning.Gus Kasep saha atuh namanya?"
Arka tersenyum, ia mengerti dengan ucapan wanita tersebut. "Saya Arka bu,suaminya Alyana."
"Aduh Ning, meni cocok pisan atuh.Ning Alya cantik, Gus Arka juga kasep ah pokoknya mah kalian teh pasangan yang sangat cocok.Selamat atuh ya Ning, Mudah-mudahan pernikahannya sakinah, mawaddah, warahmah." Ucapnya dengan tulus.
"Aamiin."
"Terimakasih Bu." Jawab Arka penuh ketulusan.
"Kalau gitu sok atuh, bisi mau jalan-jalan lagi. Saya permisi Ning, Gus. Assalamu'alaikum."
Keduanya mengangguk sambil tersenyum. "Wa'alaikumsalam".
Setelah itu keduanya langsung kembali berjalan pelan. " Emang bener gitu kalau aku ganteng?" Tanya Arka pura-pura tak percaya.
"Mm..gak juga." Jawab Alya dengan wajah polos.
Arkana melotot, ia kemudian mencolek pinggang Alyana. "Ah, masa sih.Yakin nih aku gak ganteng." Goda nya.
"Iya."
"Tapi kok bisa sampe cinta sama aku?"
Pipi Alyana berubah merona."Ih, kakaa..." Rajuknya dengan bibir cemberut membuat Arka tertawa.
"Ya kamu juga kenapa gak mau mengakui kalau aku itu ganteng."
"Gak kok, biasa aja."
"Yakin nih biasa-biasa aja?Tapi hebat kan
bisa bikin kamu jatuh cinta." Goda nya kembali.
"Kaka..." Panggil Alyana dengan wajah yang semakin merah.
Arka mengusap pelan kepala Alyana. "Apa sayang?" Tanya nya dengan suara lembut, membuat jantung Alyana berpacu begitu cepat.
Kata sayang yang keluar dari mulut Arka membuat dirinya terbang melayang.Tidak menyangka Arka begitu romantis dan begitu menyenangkan."Ternyata nikah muda gak se menyeramkan yang aku bayang kan."
...🌻🌻🌻...