Indonesia
NovelToon NovelToon
My Ice CEO Is A Tante

My Ice CEO Is A Tante

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Miko J

Hidup Gavin Wijaya berubah total dalam semalam. Mantan "sultan" Jakarta yang terbiasa hidup mewah harus meninggalkan kehidupan glamor dan menjadi buruh migran (TKI) di Taiwan. Dari pesta dan kemewahan, kini yang tersisa hanyalah kerja keras di sebuah pabrik.
Di sisi lain, Tiffany Chen adalah CEO muda jenius yang dikenal dingin dan perfeksionis. Baginya hidup hanya tentang bisnis, angka, dan kesuksesan. Namun sebuah tekanan dari sang ayah memaksanya mencari jalan keluar yang tidak pernah dia bayangkan.
Sebuah pertemuan tak terduga membuat Gavin masuk ke dunia Tiffany. Dengan sebuah rahasia dan kontrak pernikahan, seorang mantan sultan yang kini menjadi TKI mendadak berubah menjadi "suami penyamaran" seorang CEO Taiwan.
Ketika pria santai dan usil harus hidup bersama wanita dingin yang lebih mirip robot pekerja, kehidupan mereka mulai berubah. Akankah pernikahan kontrak ini tetap menjadi sekadar kesepakatan, atau berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miko J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Runtuhnya Topeng Sang CEO

Suara riuh tepuk tangan kembali menggema saat pembawa acara di atas panggung akhirnya resmi menutup rangkaian acara Chen Corp Appreciation Dinner malam itu.

"Terima kasih atas kehadiran Bapak dan Ibu sekalian. Selamat malam, dan sampai jumpa di kesuksesan kita berikutnya!"

Dengan ditutupnya acara oleh MC, para tamu undangan dan staf dari berbagai divisi mulai berbenah. Satu per satu dari mereka melangkah menghampiri meja utama untuk berpamitan secara formal kepada Tiffany.

Namun, saat Tiffany sudah bersiap untuk berdiri, langkahnya kembali tertahan.

Beberapa direktur senior dengan wajah yang sudah setengah memerah akibat pengaruh alkohol berjalan mendekat sambil membawa gelas mereka yang kembali terisi penuh.

"Nona Chen, sebelum kita benar-benar mengakhiri malam yang luar biasa ini, izinkan kami mengajak Anda bersulang sekali lagi. Ini benar-benar pencapaian yang bersejarah bagi perusahaan kita!" ujar salah satu direktur senior dengan nada bicara yang mulai terdengar terlalu bersemangat.

Gavin yang berdiri di samping Tiffany langsung menegang. Matanya melirik tajam ke arah gelas wine yang kembali disodorkan di hadapan Tiffany.

Gila, ini orang-orang apa tidak lihat kalau bosnya sudah minum cukup banyak dari tadi? batin Gavin mulai khawatir.

Gavin mencoba memberikan kode dengan menyenggol pelan siku Tiffany, berharap wanita itu akan menolak dengan alasan kesehatan atau hari yang sudah terlalu larut. Namun, di luar dugaan Gavin, Tiffany justru tetap menunjukkan dedikasi profesionalnya yang luar biasa.

Meskipun Gavin bisa melihat ada jeda satu detik sebelum Tiffany merespons—tanda bahwa kesadarannya mulai terpengaruh oleh alkohol—CEO dingin itu tetap menegakkan punggungnya dengan anggun. Ia memasang senyum formal yang tampak sangat sempurna tanpa celah di wajahnya.

"Tentu. Terima kasih atas kerja keras Anda semua," jawab Tiffany. Suaranya terdengar sangat stabil dan tenang, sangat kontras dengan kondisinya yang sebenarnya.

Tring!

Bunyi dentingan gelas kaca terdengar, dan Tiffany kembali meneguk cairan merah itu hingga habis.

Gavin hanya bisa menelan ludah. Matanya sempat mengikuti gelas yang perlahan diturunkan Tiffany sebelum kembali menatap wajah wanita itu. Ia benar-benar tidak habis pikir melihat ketahanan fisik dan mental Tiffany yang seolah terbuat dari baja.

Para direktur senior akhirnya berpamitan setelah memberikan salam terakhir. Beberapa di antara mereka berjalan dengan langkah yang tidak lagi serapi saat datang, sementara Tiffany tetap berdiri tegak di tempatnya.

Namun, Gavin mulai menyadari ada sesuatu yang berbeda.

Tiffany tidak langsung bergerak.

Begitu para direktur itu akhirnya berpamitan pergi dan ruangan mulai sepi, Tiffany mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat.

"Ayo pulang," bisik Tiffany pendek kepada Gavin.

Gavin segera sigap menemani di sampingnya.

Saat mereka berjalan melintasi lobi hotel menuju pintu keluar, Tiffany masih berusaha keras mempertahankan postur tubuhnya yang tegak dan langkah kakinya yang anggun. Di mata para staf hotel yang membungkuk hormat di sepanjang koridor, Nona Chen masihlah sosok CEO yang berwibawa dan tidak tersentuh.

Namun, hanya Gavin yang tahu kebenaran yang sesungguhnya.

Gavin bisa merasakan genggaman tangan Tiffany di lengannya kini terasa jauh lebih erat, seolah-olah wanita itu sedang menjadikan lengan tegap Gavin sebagai satu-satunya tumpuan agar tubuhnya tidak limbung ke samping.

Setiap kali kaki Tiffany yang mengenakan sepatu hak tinggi itu melangkah, Gavin diam-diam ikut menyeimbangkan tubuhnya, memastikan wanita itu tetap aman tanpa menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka.

Sesekali langkah Tiffany melambat sepersekian detik. Setiap kali itu pula, Gavin otomatis menyesuaikan langkahnya.

Ia bahkan sempat melirik ke sekeliling untuk memastikan tidak ada staf atau tamu hotel yang memperhatikan terlalu lama.

Di depan orang lain, Tiffany tetaplah Nona Chen yang sempurna.

Setidaknya sampai mereka keluar dari jangkauan pandangan publik.

Begitu mereka sampai di depan lobi, mobil hitam milik perusahaan sudah menunggu dengan pintu belakang yang telah dibukakan oleh sopir pribadi mereka.

Gavin dengan hati-hati membimbing Tiffany masuk terlebih dahulu, sebelum akhirnya ia ikut menyusul duduk di sampingnya.

Brak.

Pintu mobil mewah itu tertutup rapat, mengisolasi mereka dari keramaian hotel dan menyisakan keheningan malam yang tenang di dalam kabin kendaraan.

Sopir mulai menjalankan mobil, melaju perlahan membelah jalanan kota yang mulai sepi.

Dan di sinilah, di dalam mobil, semuanya berubah.

Begitu merasa dirinya sudah terbebas dari pandangan publik dan tuntutan profesionalisme pekerjaan, topeng "CEO Es" yang dipakai Tiffany seharian runtuh seketika tanpa sisa.

Tiffany melepaskan kacamata tebal yang selalu bertengger di hidungnya, lalu meletakkannya begitu saja di atas kursi tengah dengan gerakan sembarangan—sesuatu yang sangat tidak mencerminkan sifat rapinya yang biasa.

Setelah itu, ia menjatuhkan kepalanya ke sandaran kursi dengan helaan napas yang terdengar sangat lelah, bahkan seperti rintihan kecil yang manja.

Gavin menoleh.

Matanya langsung melebar melihat pemandangan di sampingnya.

Kedua pipi Tiffany yang biasanya putih pucat kini sudah merona merah padam karena pengaruh alkohol. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini sedikit berantakan, beberapa helainya menempel di pelipis yang tampak berkeringat dingin.

Yang paling membuat Gavin membeku adalah tatapan mata Tiffany.

Saat wanita itu perlahan membuka matanya dan menatap Gavin, matanya terlihat sangat sayu dan basah. Seluruh kilat dingin serta ketegasan yang biasanya mampu mengintimidasi Gavin seolah menghilang entah ke mana.

"Gavin..." panggil Tiffany dengan nada suara yang sangat lembut, terdengar sedikit serak.

"Eh? Iya?" jawab Gavin.

"Kepalaku... pusing sekali..." keluh Tiffany pelan.

Tanpa diduga, tubuhnya perlahan condong ke samping hingga akhirnya kepalanya mendarat dengan pasrah di atas bahu Gavin.

Gavin langsung diam.

Ia menundukkan pandangan sebentar, memastikan Tiffany benar-benar dalam keadaan baik. Namun, melihat wanita itu justru semakin bersandar dengan mata terpejam, Gavin hanya mengembuskan napas pelan.

Ia tidak berani banyak bergerak karena khawatir membuat Tiffany semakin tidak nyaman.

Mobil hitam itu akhirnya berhenti dengan mulus di area parkir khusus penthouse.

Dengan penuh kehati-hatian, Gavin membimbing Tiffany keluar dari mobil, memapah tubuh wanita itu yang kini terasa semakin berat karena kesadarannya kian menipis.

Begitu pintu penthouse terbuka, mereka langsung disambut oleh Pelayan Zhang yang rupanya masih menunggu sampai larut malam.

Melihat kondisi Tiffany yang tampak sangat rapuh, wajah Pelayan Zhang langsung dipenuhi rasa khawatir.

"Astaga, Tuan Muda... Apa yang terjadi dengan Nona?" tanya Pelayan Zhang dengan wajah penuh kekhawatiran.

Gavin mengembuskan napas pelan sambil tetap menopang tubuh Tiffany.

"Tidak apa-apa. Istriku hanya mabuk."

"Mari saya bantu."

Gavin menggeleng pelan.

"Tidak usah. Aku bisa mengurusnya sendiri."

Pelayan Zhang mengangguk hormat.

"Baik, Tuan Muda. Kalau begitu saya permisi."

Pelayan Zhang akhirnya mundur dan meninggalkan keduanya. Gavin kembali memusatkan perhatian pada Tiffany yang kini hampir sepenuhnya menggantungkan berat tubuhnya kepadanya.

Melihat Tiffany sudah tak lagi mampu melangkah, Gavin perlahan membungkuk. Satu tangannya menyelip di bawah lutut wanita itu, sementara tangan lainnya merangkul punggungnya dengan lembut.

Dalam satu gerakan, ia mengangkat Tiffany ke dalam pelukannya.

Tiffany tidak memberi perlawanan sedikit pun. Dengan mata yang hampir terpejam, ia hanya menyandarkan kepalanya di dada Gavin. Rambutnya yang lembut menyentuh dagu pria itu, sementara aroma parfum yang samar bercampur dengan wangi anggur memenuhi udara di antara mereka.

Gavin menunduk sekilas, memastikan Tiffany tetap nyaman, lalu melangkah perlahan menuju kamar.

Di dalam dekapan hangat Gavin, kesadaran Tiffany sebenarnya sudah berada di ambang batas. Namun, dalam pandangannya yang samar-samar dan berputar, ia masih bisa melihat wajah Gavin yang tampak begitu dekat.

Sudut bibir Tiffany perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman kecil.

Gavin sendiri tidak menyadarinya.

Ia hanya terus berjalan menuju kamar dengan langkah hati-hati, sesekali memastikan posisi tubuh Tiffany tetap nyaman dalam pelukannya.

Gavin melangkah pelan memasuki kamar. Dengan gerakan lembut, ia menurunkan tubuh wanita itu di atas kasur empuk, lalu menarik selimut sebatas dada untuk menghalau udara dingin dari pendingin ruangan.

Saat Gavin hendak memundurkan tubuhnya dan berbalik untuk mengambilkan segelas air hangat di dapur, baru saja ia mengambil satu langkah menjauh, pergelangan tangannya mendadak dicengkeram dengan erat.

Gavin tersentak.

Ia menoleh dan mendapati Tiffany rupanya belum sepenuhnya terpejam.

Dengan sisa-sisa kesadaran yang kacau dan wajah yang ditekuk kesal khas orang mabuk, Tiffany menatap Gavin lekat-lekat.

"Hei, Gavin... Kenapa kamu itu menyebalkan sekali, ya?" racau Tiffany dengan nada suara yang tidak keruan dan terseret-seret akibat pengaruh alkohol.

Gavin mengerjapkan matanya, terpaku di tempatnya berdiri.

"Eh?"

"Kamu itu... selalu saja memanggil aku Tante, Tante..." Tiffany mengerucutkan bibirnya, seolah sedang meluapkan kekesalan yang sudah dipendamnya sangat lama. "Kamu tahu gak, Gavin Wijaya? Aku itu belum tua, tau! Aku itu masih muda!"

Gavin hampir saja menyemburkan tawa mendengarnya, namun ia menahannya erat-erat karena cengkeraman tangan Tiffany justru semakin mengencang.

Wajah Gavin bahkan sempat berubah kaku. Ia tidak menyangka wanita yang biasanya begitu tenang dan sulit ditebak ternyata menyimpan kekesalan sebesar itu hanya karena satu panggilan.

"Dan kamu itu... selalu aja menyebalkan. Selalu berbuat ulah, menghambur-hamburkan uangku hanya untuk membeli barang-barang aneh yang tidak berguna..." Tiffany menjeda kalimatnya sejenak.

Tatapan matanya yang sayu mendadak melembut, menatap lurus ke dalam manik mata Gavin.

"...tapi, kenapa aku bisa merasa sedikit nyaman saat bersamamu? Dasar kamu... menyebalkan..."

Gavin yang tadinya hampir tertawa langsung terdiam.

Kalimat terakhir Tiffany terasa berbeda.

Tidak ada nada kesal yang sama seperti sebelumnya. Hanya ada kelembutan samar yang membuat Gavin untuk sesaat kehilangan kata-kata.

Namun, sebelum Gavin sempat mencerna maksud ucapan tersebut, cengkeraman di pergelangan tangannya perlahan mengendur.

Kedua kelopak mata Tiffany akhirnya terpejam rapat, disusul suara napasnya yang mulai teratur.

Wanita itu benar-benar telah tertidur pulas.

Gavin berdiri beberapa saat di sisi ranjang.

Kalimat-kalimat Tiffany barusan terus terngiang di kepalanya. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.

Tatapannya beralih pada wajah Tiffany yang sedang tertidur lelap.

Tanpa ekspresi dingin dan tatapan tajamnya, wanita itu tampak jauh lebih lembut dan menggemaskan.

Ternyata... wanita sedingin es seperti Tiffany bisa bertingkah menggemaskan juga kalau sedang mabuk, gumam Gavin dalam hati.

Gavin lalu menarik selimut Tiffany sedikit lebih rapi hingga menutupi bahunya.

Setelah memastikan wanita itu tidur dengan nyaman, ia berbalik dan berjalan keluar menuju dapur untuk mengambil segelas air hangat, berjaga-jaga jika Tiffany terbangun nanti.

Di tengah langkahnya, pikiran Gavin kembali melayang pada ocehan Tiffany barusan.

Jangan-jangan... selama ini umur Tante tidak setua yang kubayangkan?

Pertanyaan itu sempat terngiang di benak Gavin malam ini, sebelum akhirnya ia melupakannya begitu saja.

1
lily
menarik
white star ⭐: trimakasih kak 5 bintangnya
total 1 replies
Mommy Cantik💋
SEMANGAT TERUS KAKAKKK🌹🌹🌹😍
Mommy Cantik💋
Bagusss Teruskan Thorr Good Jobb ❤❤🌹🌹🌹
Mommy Cantik💋
😍😍🌹🌹🌹 Bagus Banget Ceritanya.. Lanjut Thorrr
Mommy Cantik💋: Sama sama kakak.. 🌹🌹🌹😄
total 2 replies
helena
ada batas teritorial nya🤣
helena
tante🤣
helena
kursi panas/Doge/
helena
jari jemari tim kevin /Proud/
Zed Analytical Number Nine
ngga bener nih, si Gavin
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
Lasa Hardianti
WKWKWK Gavin langsung semangat banget pas dengar kartu kredit tanpa limit🤣 Lanjut baca dulu ah, penasaran rumah tangga kontraknya bakal seseru apa🤣😍
white star ⭐: "Terima kasih kak, dah mampir 😆"
total 1 replies
Lasa Hardianti
Premisnya unik Kak. dari awal udah bikin penasaran gimana Gavin bisa berubah jadi TKI di Taiwan. Semangat update😁
Cilia
Lanjutin terus kak! Kepo sama kelanjutan cerita Gavinnn
white star ⭐: trimakasih kak, jadi semakin semangat buat nulis kelanjutan cerita ini
total 1 replies
helena
lanjut thorr💪
helena
😇
yugi chan 👧
lanjuuttt ....
white star ⭐: siap kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!