Indonesia
NovelToon NovelToon
Gairah Cinta Terlarang

Gairah Cinta Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nopani Dwi Ari

"Sekali saja kita melangkah melewati batas ini, Arden... semuanya tidak akan pernah sama lagi."

Alyssa tidak pernah menyangka pernikahannya akan menyeretnya ke dalam pusaran dosa yang terlarang. Sebagai istri yang berbakti, ia selalu menekan keinginan pribadinya demi menjaga kehormatan keluarga besar suaminya.

Namun, benteng pertahanan itu runtuh saat Arden—adik iparnya—kembali dari luar negeri.

Arden bukan lagi remaja tanggung yang dulu ia kenal. Pria itu telah menjelma menjadi sosok dewasa yang penuh pesona, perhatian, dan diam-diam menawarkan kehangatan yang tak pernah Alyssa dapatkan dari suaminya sendiri.

Di sisi lain, Arden tersiksa. Semakin ia mencoba menjauh, semakin ia mendambakan Alyssa—wanita yang seharusnya haram untuk ia sentuh.

Kini, keduanya terjebak dalam tarik ulur perasaan yang menyiksa. Antara kesetiaan pada keluarga, atau menyerah pada godaan gairah yang candu.

Saat batas suci itu akhirnya dilanggar, siapkah mereka membayar harga yang teramat mahal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.28

Ketika Adrian dan Hanum baru saja keluar dari restoran, tiba-tiba dua pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam memotong jalan mereka.

"Tuan Adrian, Nyonya Maya menunggu Anda di Jakarta. Mari ikut kami sekarang," ucap salah satu pria tegap itu dingin namun tegas.

Sebelum Adrian sempat protes atau melangkah mundur, kedua pria itu sudah mencengkeram kedua lengan Adrian dengan sangat kuat dan memaksanya jalan menuju mobil van hitam yang sudah bersiap di tepi jalan.

"Eh! Apa-apaan ini?! Mas Adrian! Mas!" jerit Hanum histeris, mencoba menahan lengan Adrian.

Salah satu anak buah Lucas berbalik, menatap Hanum dengan tatapan dingin dari balik kacamata hitamnya.

"Nona tidak masuk dalam daftar pimpinan kami. Silakan menikmati sisa liburan Anda di Seoul."

Brak!

Pintu mobil van tertutup rapat, lalu melaju kencang meninggalkan area tersebut.

Hanum berdiri terpaku di trotoar jalanan Gangnam yang dingin. Kantong belanjaan di tangannya mendadak terasa amat berat dan terkejut. Ponsel Adrian tak bisa dihubungi, uang di kartunya pas-pasan, dan ia ditinggal sendirian di negara orang tanpa tahu harus minta bantuan pada siapa.

"Sialan! Siapa mereka sebenarnya?" maki Hanum. Ia sama sekali tidak mendengar ucapan para pria itu tentang nama Maya. Sementara Adrian, pria itu tak sempat melawan sedikit pun. Begitu cengkeraman di lengannya mengeras, sebuah suntikan penenang segera menyuntik tepat di lehernya. Adrian terkulai lemas dalam sekejap.

Hanum, yang panik namun tak bisa berbuat apa-apa, memutuskan kembali ke hotel. Ia akan memikirkannya nanti. Namun, setibanya di kamar, Hanum mematung. Barang-barang Adrian sudah raib, hanya menyisakan koper miliknya sendiri yang tergeletak mengenaskan di sudut ruangan.

"Astaga, apa-apaan ini? Jangan-jangan... ini suruhan Om Bagas," gumam Hanum dengan napas memburu, mulai diselimuti rasa takut.

Di Jakarta, suasana di kediaman Narendra tak kalah panas. Arden melangkah terburu-buru menuju pintu keluar dengan pakaian yang sudah rapi.

"Mau ke mana kamu?" tanya Maya dingin, matanya mengamati tajam gerak-gerik Arden.

"Bukan urusan Mama," balas Arden ketus.

"Arden, berhenti!"

Arden berbalik, wajahnya merah padam. "Apa lagi sih, Ma? Aku mau ke tempat Alyssa! Aku mau bawa dia pulang dan mengakui semuanya!"

"Tidak. Mama tidak mengizinkanmu."

"Kenapa?! Aku mau Alyssa, Ma!" seru Arden.

Maya menarik napas panjang, lalu berkata dengan nada yang membuat bulu kuduk berdiri. "Karena, Mama akan meminta Papamu untuk melamar ke keluarga Raharja."

Arden terbelalak. "Enggak! Aku enggak mau! Aku maunya Alyssa!"

Tanpa membuang waktu, Maya memberi isyarat. Dari balik bayang-bayang ruangan, beberapa pengawal—yang entah sejak kapan sudah bersiaga di rumah itu—langsung bergerak.

"Tahan dia!" perintah Maya.

Arden memberontak hebat. Ia mencoba melayangkan pukulan pada pengawal tersebut, namun pertahanan Arden goyah. Sebuah pukulan telak mendarat di perutnya, membuatnya tersungkur menahan nyeri.

"Mama..." rintih Arden, menatap ibunya dengan kecewa.

Maya memalingkan wajahnya, membiarkan para pengawal menyeret paksa Arden menuju kamarnya. Ia harus tega. Demi masa depan yang ia rancang sendiri, ia harus mematikan perasaan putranya.

Tak terasa, perjalanan panjang dari Korea Selatan menuju Jakarta akhirnya usai tepat pukul satu malam. Mobil yang membawa Adrian kini melaju tenang membelah jalanan ibu kota yang lengang.

Sesuai instruksi, mereka bergerak langsung menuju kediaman Narendra. Di sana, Maya sudah menunggu dengan gelisah. Ibu dua anak itu bahkan tak sanggup memejamkan mata walau hanya sekejap.

Geliat gelisah Maya membuat Bagas yang terlelap di sampingnya perlahan terbangun. Pria itu memperbaiki posisinya, duduk bersandar di kepala ranjang seraya menatap sang istri hangat.

"Ada apa, Sayang? Apa yang membuat pikiranmu terganggu?" tanya Bagas lembut.

"Enggak apa-apa, Mas. Kamu tidur lagi saja... maaf ya, aku malah mengganggu tidurmu," jawab Maya halus, mencoba mengulas senyum.

"Jangan begitu. Kita, kan, sudah berjanji untuk tidak menyembunyikan apa pun satu sama lain."

Maya seketika menunduk, tak sanggup membalas tatapan tulus Bagas. Dada sesak oleh penyesalan yang membuncah.

"Maafkan aku, Mas... Karena masa laluku yang buruk, anak-anak kita..." Kalimat Maya terputus. Tenggorokannya menyempit, tertahan oleh sesenggukan tangis.

"Kenapa? Jangan bicara seperti itu," balas Bagas menenangkan.

Namun, bukannya tenang, Maya justru menggeleng pelan. Ia meluncur turun dari tempat tidur lalu berlutut di lantai di hadapan Bagas, membuat suaminya terkejut bukan main.

"Sayang, bangun! Jangan begini!" Bagas panik dan berusaha memegang bahu Maya untuk membantunya berdiri.

Namun, Maya menolak. Ia justru makin merendahkan tubuhnya, bersujud dan menempelkan keningnya di atas jemari kaki Bagas.

"Maya! Dengarkan aku, ada apa sebenarnya? Ceritakan padaku!" desak Bagas, suaranya bergetar cemas.

Maya yang sudah terisak hebat mencoba mengatur napasnya yang patah-patah. Dengan tangan gemetar, ia menyerahkan amplop berisi bukti-bukti yang selama ini ia sembunyikan.

"Arden... dia menyukai Alyssa, Mas. Dan Adrian... ternyata dia sudah menikah siri dengan Hanum, mantan kekasihnya dulu. Mereka tidak pernah benar-benar putus..." bisik Maya serak.

Bagas terpaku. Pengakuan itu menghantam dadanya seperti godam berat. Anak bungsunya menyukai kakak iparnya sendiri, sementara anak sulungnya tega menduakan istri yang sah demi wanita masa lalu.

"Maafkan aku, Mas..." Isak Maya makin pecah. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Kalau saja dulu aku tidak berselingkuh... mungkin anak-anak kita tidak akan hancur seperti ini. Apa ini kualat dari dosaku dulu, Mas? Atau... dosa dari Ayahku?"

Bagas meremas foto-foto di tangannya hingga remuk. Kilas balik masa lalu yang kelam mendadak melintas di benaknya—tentang pengkhianatan dan dinamika pahit keluarga mereka dulu. Namun, Bagas sadar, ia pun tak sepenuhnya suci dalam dinamika itu.

Dan kini, kehancuran itu berulang pada anak-anak mereka. Arden mencintai Alyssa karena melihat wanita itu diabaikan dan disia-siakan oleh Adrian.

"Sudah, Sayang... jangan menangis. Ini bukan salahmu sepenuhnya," bisik Bagas serak. Ia merengkuh tubuh gemetar istrinya ke dalam dekapan hangat yang erat.

"Kenapa harus kita, Mas?" lirih Maya di dada Bagas, tangannya meremas kemeja suaminya penuh keputusasaan. "Kenapa waktu Ayah yang berselingkuh, aku yang harus menanggung akibatnya? Kenapa bukan anak-anak Ayah yang lain? Kenapa harus aku...?"

Bagas tak mampu menjawab pertanyaan pilu itu. Ia hanya bisa terus mengusap punggung Maya yang terguncang, membisikkan kata-kata penenang, dan membimbing istrinya kembali ke peraduan karena jarum jam sudah menunjuk ke angka satu dini hari.

Maya akhirnya menurut. Namun, sebelum membaringkan tubuhnya yang lemas, dengan jemari gemetar ia mengetik pesan singkat untuk Lucas. Memintanya membawa Adrian ke rumah besok pagi saja.

Bersambung ....

1
🌸 Bening
/Facepalm//Facepalm/
jumirah slavina
semangat sArdennnnn
jumirah slavina
males banget deh sm Mama Maya ini...
klo seumur Aku cakar Kamu Ma...
jumirah slavina
hhuueekkkzzzz....
Kak Ariiiii...
pelastik mana pelastikkkk...
Aku mo muntahhhhh.....
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
jumirah slavina
kejar donk...
bukan tidak adil.,
dia shock juga atas kejadian bertubi²...
so' berjuang Kamu...
jumirah slavina: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
jumirah slavina
salahe Kamu gak menerima sArden dengan baik., saat bikin'y Kamu mau² aja., kasian sArden juga donk Al... dia juga pengen kali meladeni kehamilan Kamu
jumirah slavina: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 4 replies
jumirah slavina
ambil Al., awas lo ya masih bilang gak butuh..

🤣
jumirah slavina: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
jumirah slavina
ko' gitu... Bu Tani... biar lh secara diam² dulu krn Alis gak mau ketemu., Bu Tani jan ikut²n misahin donk..

hhuuaaaaaaaaaa...
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
jumirah slavina
biarkan Alis menenangkan diri., Kamu pantau aja dr Mama'y., dan Kamu harus jujur sm Mama'y klo itu Anak'mu., lakukan sekarang mumpung Mama d'luar beli bubur., ajak ngobrol dr hati ke hati
AriNovani: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
jumirah slavina
E G O I S !!! suruh tanggung jawab s' sArden bukan malah membuat masalah baru dengan menikah kn dia dengan orang lain...
AriNovani: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
jumirah slavina
wwooii Anton... seret pulang istri durjana'mu ini...
jumirah slavina: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 6 replies
jumirah slavina
terimakasih Bu..

keren Ibu'y., saat ini tidak tepat mencecar Alis apalagi memarahi'y., Alis butuh dukungan yang besar saat ini...
jumirah slavina
ngomong donk sArden., gentleman., akui...
AriNovani: Bentar Kak Jum mau keluar rumah dulu /Chuckle/
total 1 replies
jumirah slavina
muak Aku sama Kamuuuuuuuu., ganti nama Kamu wwooii., malu sm nama., Indah... padahal Kamu gak ada Indah²y sm sekali
jumirah slavina: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

bikin baru
total 2 replies
jumirah slavina
jangan dengerin s' Maya itu., lakukan yang hati'mu mau biar tenang jiwa raga'mu...
jumirah slavina: Aku pengen jambak bibir s' Han Kak

🤭🤣
total 2 replies
jumirah slavina
makan tuh istri licik'mu., dasar Suami durjana.,
jumirah slavina
gak usah sok panik., itu hasil dari perkataan'mu., dasar playing victim
AriNovani: /Joyful//Joyful/
total 3 replies
jumirah slavina
sudah tau sama² selingkuh masih d'suruh sama²., aneh s' Mama
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 5 replies
jumirah slavina
SALAH.,
mana sih Suami'y.,
wwooii Suami Indah yang gak Indah.,
bawa pulang noh istri durjana'mu itu
jumirah slavina: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 6 replies
jumirah slavina
semoga s' Indah yang tak Indah ini ke gigit lidah'y sendiri 🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!