Indonesia
NovelToon NovelToon
Diary Zia

Diary Zia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pengkhianatan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Emma Alhabsyi

Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.

Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.

Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DZ~28

Sinta didera kecemasan hebat mengenai apa yang akan terjadi setelah pertemuan Zia dan Salsa. Ia hanya terduduk membisu di selasar luar kamar, sengaja terjaga demi menunggu kepulangan Zia.

Di hadapannya, selembar sajadah telah tergelar sebagai alas untuk muthola'ah kitab. Secangkir kopi pekat milik penjaga malam sengaja ia minta demi menghalau kantuk, ditemani beberapa bungkus camilan yang menjadi saksi bisu kesunyian malamnya.

Sinta hanya ingin memastikan satu hal Zia pulang dalam keadaan baik-baik saja.

"Ya Allah, semoga setelah ini semua menjadi lebih baik," bisik Sinta lirih, jemarinya perlahan membalik halaman kitab yang sudah lama menemaninya.

Sementara itu, Zia dan Salsa telah tiba di sudut koridor pesantren yang sepi tempat yang kini bersiap menjadi saksi bisu keretakan sebuah hubungan. Dengan isi dada yang bergemuruh dan tidak karuan, Zia mencoba memahat mental baja. Ia bersiap agar tidak tumbang oleh kenyataan apa pun yang akan dibongkar malam ini secara gamblang oleh sahabatnya sendiri.

Keduanya duduk bersandingan. Di atas mereka, langit bertabur bintang mengitari rembulan yang membulat sempurna, menumpahkan cahaya ke bumi. Hembusan angin malam dari celah pepohonan membuat suasana terasa kian dingin mencekam.

Salsa memutus keheningan terlebih dahulu. Ia menatap lurus ke depan.

"Zi... aku mau jelasin sesuatu. Sesuatu yang mungkin udah bikin kamu hancur beberapa hari ini," ucap Salsa, suaranya agak bergetar.

Zia tertegun, pandangannya terpaku pada bayangan pohon. "Silakan, Mbak."

Mereka tidak saling berhadapan. Keduanya memilih memandang hamparan malam, menghindari kontak mata yang mungkin bisa meruntuhkan pertahanan masing-masing.

Dengan dada yang semakin sesak, Zia mencoba mengatur napas. Ia masih berharap ada penjelasan yang logis, atau setidaknya, secuil rasa bersalah yang tulus dari Salsa.

"Maaf, Zi. Sebenarnya..." Salsa menggantung kalimatnya, sengaja memberi jeda yang menyiksa.

Zia menahan napas, menjaga hatinya yang sudah di ambang ledakan. Namun, alih-alih penawar yang didapat, kalimat Salsa berikutnya justru menjadi belati.

"Mas Charis itu... udah lama suka sama aku, Zi. Dari dulu sebelum dia dijodohin sama kamu," lanjut Salsa telak.

"Tapi waktu itu aku tolak. Kamu tahu sendiri kan, dia bukan seleraku. Aku nggak suka cowok kaku dan dingin kayak dia."

Zia mendengarkan tanpa menyela. Ia mengepalkan jemarinya di atas pangkuan, membiarkan Salsa menumpahkan seluruh ceritanya terlebih dahulu.

"Terus waktu aku tahu dia dijodohin sama kamu, aku biasa aja karena aku emang nggak ada rasa. Tapi ternyata... maaf banget, Zi." Salsa melambatkan bicaranya, sengaja menekankan setiap kata.

"Kenapa, Mbak?" tanya Zia, suaranya hampir habis.

"Dia awalnya nolak keras perjodohan itu, Zi. Tapi akhirnya dia mau karena dia tahu kamu itu sahabat aku. Dia bilang ke aku... dengan menikahi kamu, dia bakal punya alasan buat tetap dekat dan sering ketemu sama aku. Maaf ya, Zi, kalau ini kedengaran menyakitkan."

Deg!

Dada Zia serasa dihantam godam besar. Hancur berkeping-keping bahkan sebelum seluruh cerita selesai diuraikan. Ia mendongakkan kepala, menatap langit malam demi menahan air matanya agar tidak tumpah saat itu juga. "Ya Allah, sakit sekali... Kuatkan hamba, Ya Allah," jerit Zia dalam hati. Air matanya tertahan di pelupuk, menggenang laksana telaga yang siap meluap.

Salsa menghela napas, lalu melanjutkan dengan nada penuh keyakinan, "Dia sering banget ngasih perhatian yang menurutku berlebihan, Zi. Kamu ingat waktu luka aku diobatin? Terus waktu dia tiba-tiba bantuin aku nyapu halaman? Bahkan waktu aku sakit, dia sengaja beliin martabak buat aku. Sampai yang terakhir... waktu dia nitip jajan buat kamu. Dia bilang dia ingat jajan kesukaan kamu, padahal yang sebenarnya ia ingat adalah kesukaan aku karena dulu dia emang sering beliin aku martabak keju. Maaf ya, aku nggak bisa ceritain semuanya, nggak tega."

Mendengar itu, ganti ingatan Zia yang terlempar pada cerita Sinta tempo hari. Sinta pernah menceritakan pertemuan Charis dengannya, namun versi yang keluar dari mulut Salsa malam ini jauh berbeda dan berkali-kali lipat lebih menyakitkan. Zia merasa dikhianati dari dua arah. Apakah Sinta sengaja menyembunyikan kebenaran ini karena takut dirinya hancur, atau justru Mas Charis yang telah membohongi Sinta? "Sinta... kenapa kamu nggak jujur dari awal sama aku?" batin Zia, dan kali ini pertahanannya runtuh. Setetes air mata lolos membasahi pipinya.

"Kamu takut aku hancur? Tapi denger langsung dari Mbak Salsa kayak gini... rasanya jauh lebih membunuh, Sin. Kamu tega."

Salsa menoleh sedikit, menatap Zia yang kini menunduk dalam-dalam. "Maaf ya, Zi. Intinya, dia nerima perjodohan ini cuma jadiin kamu jembatan supaya bisa terus mantau aku. Biar ada peluang buat deket lagi sama aku."

"Ya Allah... kali ini benar-benar sakit. Hamba tidak kuat..." Zia meremas ujung jilbabnya sekuat tenaga.

Di tengah puing-puing hatinya yang telah retak, Zia memaksa suaranya keluar. Alih-alih marah, ia justru memilih mengalah pada keadaan, menganggap dirinya yang terlalu bodoh karena menaruh harapan pada lelaki yang belum selesai dengan masa lalunya. "Maafkan aku, Mbak Sal..." ucap Zia tersendat, tangannya gemetar menyeka air mata yang telanjur membanjiri pipi hingga membasahi kerudungnya.

"Aku yang salah. Aku yang terlalu cepat menyimpulkan sesuatu... Aku yang salah karena terlalu banyak berharap."

Mendengar respons Zia, seulas senyum tipis yang sulit diartikan terbit di wajah Salsa. Ia langsung menggeser duduknya dan merengkuh pundak Zia. "Iya, Zia, aku udah maafin kok. Jadi, tolong ya jangan diemin aku lagi. Aku cuma punya kamu di sini, kamu tahu sendiri kan anak-anak lain kayak gimana ke aku," pinta Salsa, kini menatap Zia lekat-lekat sembari mengulurkan tangan mengajak bersalaman.

Zia menyambut tangan itu dengan sisa tenaga yang ia miliki. Salsa menariknya ke dalam pelukan hangat yang terasa begitu palsu bagi Zia. Di dalam dekapan sahabatnya itu, batin Zia menjerit sejadi-jadinya. "Ya Allah... sakit sekali."

Salsa melepaskan pelukan, lalu berdiri sambil menepuk-nepuk roknya yang terkena debu. Ia menyodorkan tangan untuk membantu Zia bangkit. "Ya udah, semua udah jelas, kan? Ayo balik ke kamar, udah hampir larut malam nih."

Zia mendongak, memaksakan sebuah senyuman di tengah matanya yang sembap. Ia menggeleng pelan. "Mbak Salsa duluan aja. Aku masih mau di sini sebentar."

"Oh, ya sudah kalau gitu. Jangan kemalaman ya, angin malam nggak bagus buat kesehatan kamu. Aku duluan, Zi."

Salsa menepuk pundak Zia sekali lagi sebagai tanda pamit, lalu berbalik dan berjalan santai meninggalkan koridor.

Begitu bayangan Salsa hilang di tikungan, pertahanan Zia runtuh sepenuhnya. Ia mendekap dadanya yang terasa sesak dan meledakkan seluruh tangis isak yang sedari tadi ia tahan sendiri. Tubuhnya terguncang hebat di bawah temaram rembulan. Di dalam tangisnya, rasa kecewa yang amat besar terarah pada Sinta. "Kamu tega, Sin..." bisik Zia di sela isaknya, suaranya tercekat di tenggorokan.

"Kenapa kamu harus bohong? Kenapa ceritanya beda? Kalau kamu takut aku sakit hati, kenapa ujung-ujungnya aku harus tahu dengan cara sehancur ini? Kenapa, Sin?!" Zia menjerit tanpa suara, membiarkan air matanya luruh deras, membasahi kain jilbabnya yang kini telah basah kuyup oleh air mata keputusasaan.

1
ken darsihk
Aq mampir
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca
Emma Alhabsyi
ih boleh banget kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!