Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.
Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba-tisa Sakit
"Lho, ada apa dengan Mbak Naresta?" tanya Bu Ratih saat kebetulan melewati depan toko Naresta.
Langkahnya langsung berhenti ketika melihat Naresta sedang dituntun Elvan menuju mobil dengan wajah meringis menahan sakit.
Aya yang berada di belakang mereka langsung menjawab.
"Perut Mbak Naresta tiba-tiba sakit dan kencang, Bu."
"Lho! Kok bisa?"
Bu Ratih segera mendekat.
"Naresta, kamu kenapa?"
"Perut saya tiba-tiba kencang sekali, Bu," jawab Naresta sambil memegangi perutnya.
Bu Ratih langsung terlihat khawatir.
"Sudah, jangan banyak bicara. Cepat dibawa periksa."
Elvan terus memegang tubuh istrinya dengan wajah panik.
"S-sayang, p-pelan."
"Iya, Mas."
Bu Ratih baru saja hendak membantu ketika pandangannya menangkap seorang wanita yang masih berdiri di dalam toko.
Ia mengernyit.
"Itu siapa?"
Aya langsung melirik ke belakang.
"Ibunya Mbak Naresta."
Bu Ratih terkejut.
"Ibunya?"
"Iya."
Tatapan Bu Ratih kembali mengarah kepada Naresta.
"Terus kenapa sampai begini?"
Aya langsung mengembuskan napas kesal.
"Tadi ibunya datang minta uang lima belas juta."
"Apa?"
Bu Ratih membulatkan matanya.
"Mbak Naresta nggak mau kasih. Terus mereka bertengkar."
Wajah Bu Ratih seketika berubah kesal.
"Ya Allah, orang hamil tujuh bulan malah diajak bertengkar."
Naresta langsung memegang lengan Bu Ratih.
"Sudah, Bu. Saya nggak mau membahasnya lagi."
Bu Ratih menatap wajah Naresta yang terlihat pucat.
"Iya, iya. Sekarang kamu periksa dulu."
"Aww..."
Naresta kembali meringis.
Elvan langsung semakin panik.
"S-sayang!"
"Mas... sakit lagi."
Elvan langsung menoleh ke arah mobil.
"C-cepat."
Dicky segera membuka pintu mobil lebih lebar.
"Ayo, Mbak. Pelan-pelan."
Elvan membantu Naresta masuk ke dalam mobil.
Namun, saat dirinya hendak ikut masuk, Bu Ratih menahan pintu sebentar.
"Elvan."
Elvan menoleh dengan wajah cemas.
"I-iya, B-bu?"
"Tenang. Jangan sampai kamu ikut panik terus, nanti Naresta malah tambah takut."
Elvan menganggukkan kepalanya cepat.
"I-iya."
Bu Ratih kemudian menatap Aya.
"Kamu ikut mereka."
"Lho, terus toko?"
"Biar saya di sini."
Aya langsung menggeleng.
"Nggak usah, Bu. Ada Mas Dicky sama yang lainnya."
Dicky langsung menyahut.
"Iya, Bu. Biar kami yang jaga."
Bu Ratih mengangguk.
"Kalau begitu, saya ikut."
Aya menatapnya.
"Ibu ikut ke klinik?"
"Iya. Naresta sedang hamil tujuh bulan. Saya nggak tenang kalau nggak tahu keadaannya."
Naresta yang mendengar dari dalam mobil langsung menatap Bu Ratih.
"Bu, nggak usah repot."
"Diam kamu."
Bu Ratih langsung masuk ke dalam mobil.
"Sudah kesakitan masih mikirin orang lain."
Naresta hanya bisa terdiam.
Aya kemudian ikut masuk.
Sebelum pintu ditutup, Bu Ratih kembali menoleh ke arah toko.
Tatapannya bertemu dengan ibu Naresta yang masih berdiri di sana.
"Bu."
Ibu Naresta menatapnya.
"Anak Ibu sedang hamil tujuh bulan."
Bu Ratih menatapnya serius.
"Uang bisa dicari. Tapi jangan sampai karena memaksakan keinginan, Ibu malah membuat sesuatu terjadi kepada anak dan cucu Ibu sendiri."
Wanita itu langsung terdiam.
Bu Ratih tidak mengatakan apa pun lagi.
Pintu mobil ditutup.
Tak lama kemudian, mobil mulai meninggalkan toko menuju klinik.
Elvan terus menggenggam tangan Naresta sepanjang perjalanan.
"S-sayang, a-aku d-di s-sini."
Naresta mengangguk sambil mencoba mengatur napasnya.
"Iya, Mas."
Tangannya tetap berada di atas perut.
Dalam hati, hanya satu hal yang ia inginkan saat itu.
Anaknya baik-baik saja.
"Aya, buku pinknya kamu bawa?" tanya Bu Ratih yang tiba-tiba teringat sesuatu.
Aya langsung membulatkan matanya.
"Astaga, Bu! Kita nggak ada bawa apa-apa karena panik tadi."
Bu Ratih langsung menepuk dahinya.
"Ya Allah, Aya."
"Saya tadi cuma mikirin cepat bawa Mbak Naresta ke klinik, Bu."
Naresta yang masih bersandar sambil memegangi perutnya membuka mata.
"Bukunya... ada di kamar, Mbak."
Aya langsung menoleh.
"Di mana tepatnya, Mbak?"
"Di laci meja samping tempat tidur."
Aya terlihat bingung.
"Terus gimana, Bu? Kita balik?"
"Jangan!" sahut Bu Ratih cepat. "Naresta dibawa ke klinik dulu."
Elvan yang sejak tadi menggenggam tangan istrinya langsung mengangguk.
"I-iya, k-klinik d-dulu."
Aya segera mengambil ponselnya.
"Saya telepon Mas Dicky saja."
Bu Ratih mengangguk.
"Nah, suruh Dicky cari bukunya. Sekalian minta bawakan tas Naresta kalau bisa."
Aya langsung menelepon Dicky.
Tak lama kemudian, panggilannya tersambung.
"Halo, Mas Dicky?"
"Iya, Mbak. Gimana keadaan Mbak Naresta?"
"Belum sampai klinik. Mas, tolong ambil buku pink Mbak Naresta di kamar."
"Di mana?"
"Katanya di laci meja samping tempat tidur."
"Oke."
"Sekalian bawakan tas kecil Mbak Naresta, ya. Tadi kami panik sampai nggak bawa apa-apa."
"Iya. Nanti saya antar."
"Mas Dicky, jangan lupa dompet sama ponselnya Mbak Naresta kalau ada."
Naresta langsung menyahut pelan.
"Ponselku... di kasir."
Aya kembali berbicara melalui telepon.
"Mas, ponsel Mbak Naresta ada di kasir."
"Iya, nanti saya bawakan semua."
"Terima kasih, Mas."
Aya menutup panggilan lalu mengembuskan napas lega.
"Sudah, Mbak. Mas Dicky nanti menyusul."
Naresta mengangguk pelan.
"Terima kasih, Mbak."
Aya langsung menatapnya.
"Nggak usah mikirin itu dulu. Mbak fokus sama perutnya."
Tiba-tiba Naresta kembali meringis.
"Aduh..."
Elvan langsung menegang.
"S-sayang!"
Naresta mencengkeram tangan suaminya.
"Kencang lagi, Mas."
Bu Ratih langsung melihat ke depan.
"Mas, cepat sedikit, ya. Sebentar lagi sampai klinik, kan?"
"Iya, Bu. Sudah dekat," jawab pengemudi.
Elvan terlihat semakin cemas.
Naresta justru menggenggam tangannya lebih erat.
"Mas, lihat aku."
Elvan menatap istrinya.
"Jangan panik."
"T-tapi S-sayang s-sakit."
"Iya, aku tahu."
Naresta mencoba menarik napas perlahan.
"Tapi Mas harus tenang supaya aku juga bisa tenang."
Elvan mengangguk meskipun matanya mulai berkaca-kaca.
"I-iya."
Bu Ratih dan Aya saling berpandangan.
Keduanya sama-sama berharap mereka segera tiba dan keadaan Naresta serta bayinya baik-baik saja.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka tiba di klinik tempat Naresta biasanya melakukan kontrol kehamilan.
Begitu mobil berhenti di depan pintu masuk, Elvan langsung turun lebih dahulu.
"S-sayang, p-pelan."
"Iya, Mas."
Bu Ratih dan Aya ikut turun. Aya segera menghampiri petugas yang berada di dekat pintu.
"Mbak, tolong! Ibu hamil tujuh bulan, perutnya sakit dan kencang."
Petugas tersebut langsung berdiri.
"Baik, tunggu sebentar."
Tak lama, seorang perawat datang membawa kursi roda.
"Ibu Naresta?"
"Iya," jawab Naresta pelan.
"Mari, Bu. Duduk dulu."
Elvan membantu istrinya duduk di kursi roda dengan sangat hati-hati.
"Aww..."
"S-sayang!"
Naresta langsung menggenggam tangan Elvan.
"Aku nggak apa-apa, Mas."
Perawat segera mendorong kursi roda Naresta masuk.
"Keluhannya sejak kapan, Bu?"
"Baru tadi. Awalnya cuma terasa sedikit kencang, terus tiba-tiba sakit."
"Usia kandungannya berapa?"
"Tujuh bulan."
Perawat mengangguk sambil terus mendorong kursi roda menuju ruang pemeriksaan.
"Ada keluar darah atau cairan dari jalan lahir?"
"Nggak ada."
"Gerakan bayinya masih terasa?"
Naresta terdiam sejenak sambil memperhatikan perutnya.
"Masih. Tadi sebelum berangkat masih terasa."
"Baik. Nanti kita periksa dulu, ya."
Elvan terus berjalan di samping kursi roda sambil menggenggam tangan istrinya.
Aya dan Bu Ratih mengikuti dari belakang.
Sesampainya di depan ruang pemeriksaan, perawat menghentikan kursi roda.
"Pendamping satu orang saja yang masuk dulu."
Elvan langsung terlihat panik.
"A-aku."
Naresta menoleh kepadanya.
"Iya, Mas. Mas ikut aku."
Bu Ratih mengangguk.
"Kamu temani Naresta. Saya sama Aya tunggu di luar."
Elvan mengangguk cepat.
Perawat kemudian membawa Naresta masuk bersama Elvan.
Aya berdiri di depan pintu dengan wajah masih cemas.
"Bu..."
"Hm?"
"Semoga nggak ada apa-apa."
Bu Ratih mengembuskan napas panjang.
"Aamiin."
Ia kemudian duduk di kursi tunggu.
"Makanya saya kesal. Naresta sudah berkali-kali diminta jangan banyak pikiran, malah ada saja orang yang datang membawa masalah."
Aya ikut duduk di sampingnya.
"Dan kali ini ibu kandungnya sendiri."
Bu Ratih menggeleng pelan.
"Sudah. Kita tunggu hasil pemeriksaannya dulu."
Sementara itu, di dalam ruang pemeriksaan, Naresta mulai dibantu berbaring di atas ranjang.
Dokter yang biasa menangani kehamilannya segera mendekat.
"Ibu Naresta, coba tenang dulu, ya."
Naresta mengangguk.
"Iya, Dok."
Dokter memperhatikan wajah Naresta yang terlihat tegang.
"Sekarang kita periksa kondisi Ibu dan bayinya dulu."
Elvan berdiri di sisi ranjang sambil menggenggam tangan istrinya erat.
Naresta menoleh kepadanya.
"Mas."
"I-iya?"
"Jangan takut."
Elvan mengangguk kecil.
Namun, dari wajahnya terlihat jelas bahwa dialah orang yang paling takut di ruangan itu.