Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.
Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Kidung Burangrang
Bagaga Alam, Danang Wesi dan Ni Kirana kaget pria tua itu mengenal gelar Pandeka Pedang Suling Kumala.
Bagaga Alam kembali bertanya dengan lebih hormat. Tentu saja setelah menyerahkan setengah ayam hutan bakar bagian dada yang tersisa.
"Ki, bolehkah aku yang rendah ini mengenal siapa adanya Aki ?"
"Ha ha ha haa haaa... Pandeka Pedang Suling Kumala. Engkau sungguh seorang pendekar muda yang luar biasa. Pendekar mana di dunia ini yang tidak pernah mendengar nama besar Anda.
Sejak engkau menghancurkan sekte Iblis Darah di pusatnya di negeri Atap Dunia. Nama besarmu menyebar ke seantero dunia.
Hmm aku adalah sahabat dari Datuk Aluih Tapa. Orang orang rimba persilatan memanggilku dengan Kiyai Tapa Burangrang."
"Ahh ternyata Kiyai Tapa Burangrang yang terhormat. Terimalah sembah hormat ku Kiyai Tapa Burangrang." Ucap Bagaga Alam sambil memperbaiki posisi duduknya dan merapatkan kedua tangannya di depan wajah.
Danang Wesi dan Ni Kirana tanpa sadar membuka mulutnya. Dia tidak mengira akan bertemu dengan salah satu dari lima sesepuh Java Dwipa.
Siapa yang tidak kenal dengan Kiyai Tapa Burangrang. Dia adalah kuncen nya tanah Sunda. Salah satu dari orang paling berkuasa di Java Dwipa. Lima orang itu adalah Maharesi Parwita di wilayah timur Java Dwipa. Mpu Tantra Rejanata di wilayah tengah Java Dwipa. Kiyai Tapa Burangrang, di wilayah barat Java Dwipa. Nyi Blorong di wilayah selatan Java Dwipa. Yang terakhir adalah Ki Sanca Manuk di wilayah Utara Java Dwipa.
Danang Wesi dan Ni Kirana tentu saja mengenal nama nama lima tokoh terbesar di Java Dwipa. Kiyai Tapa Burangrang adalah seorang yang paling tidak rapi. Dia merupakan pendekar besar sekali gus seorang seniman musik.
"Pandeka Pedang Suling Kumala, maukah engkau mengeluarkan Pedang Suling Kumala milik mu ?"
"Mohon maaf Kiyai, Pedang Suling Kumala ku tinggalkan bersama istri ku yang sedang hamil di Swarna Dwipa."
"Aaahhh... Sayang sekali malam ini akan menjadi sunyi. Padahal aku sangat ingin mendengar nyanyian suling mu."
Mendengar ucapan Kiyai Tapa Burangrang, Ni Kirana langsung ikut nimbrung.
"Maaf Kiyai Tapa, kalau hanya mau mendengar nyanyian suling. Kang mas Bagaga, masih memiliki sebuah suling perak yang sangat bagus."
Kiyai Tapa Burangrang terkejut...
"Ah benarkah ? Eh siapa nama mu Nona ?" Kiyai Tapa Burangrang melihat kepada Ni Kirana dan juga Danang Wesi.
"Aku Ni Kirana, dan ini kakang ku Danang Wesi Kiyai. Kami putra dan putri Ki Ageng." Ucap Ni Kirana mengenalkan dirinya dan kakaknya Danang Wesi. Ni Kirana dan Danang Wesi sama sama menjura dalam kepada Kiyai Tapa Burangrang.
"Ahhh kalau begitu engkau adalah cucu murid Maharesi Parwita si Petapa usil itu ? Hua ha ha haa haaa...
Sungguh tidak mengira bisa bertemu murid si Petapa usil dari anakan Semeru disini..." Danang Wesi dan Ni Kirana saling bertukar pandang.
Mereka berdua tidak pernah mengira Kiyai Tapa Burangrang menyebut kakek guru mereka Maharesi Parwita sebagai seorang Petapa usil.
"Ha ha ha ha haa... Jangan kalian tersinggung. Nanti jika bertemu kakek guru kalian. Sampaikan salam jitak dari Kidung Burangrang, ha ha haa..."
Kiyai Tapa Burangrang tertawa ngakak dan keras. Tapi kemudian dia terdiam dan menatap Bagaga dengan serius.
"Hem... Pandeka Pedang Suling Kumala. Apakah engkau ada membawa arak manis tiochu dari daratan Tionggoan ?"
Bagaga Alam tersenyum dan mengambil satu kati kecil arak tiochu dan tiga kendi kecil dari ruang hampa. Dia menyerahkan satu kati arak manis tiochu pada Kiyai Tapa Burangrang dan masing masing satu kendi untuk Danang Wesi dan Ni Kirana.
"Naaaah ini baru setengah sempurna." Kiyai Tapa Burangrang mengeluarkan sebuah kecapi juga dari ruang hampa dan berkata.
"Ayo Pandeka Pedang Suling Kumala, keluarkan Suling perak mu, dan mari memainkan satu kidung bersama." Ucap Kiyai Tapa Burangrang dengan wajah berseri dan suka cita.
Bagaga Alam mengeluarkan Suling Perak miliknya. Sambil tersenyum dia berkata.
"Mari Kiyai Tapa, aku akan mengiringi nyanyian mu." Ucap Bagaga Alam. Dia segera bersiap untuk memainkan Suling Perak mengiringi kidung yang dimainkan lewat kecapi.
Malam itu menjadi lebih syahdu ketika Kiyai Tapa Burangrang mulai menyanyikan kidung hati merindu lewat petikan kecapi. Bagaga Alam mengikuti nada nada kecapi. Suling Perak mengeluarkan nada mendayu dayu. Sesekali terdengar suara rintihan dan sedu sedan lewat tiupan suling.
Usai memainkan lagu sendu dua orang itu melanjutkan dengan menyenandungkan kidung yang berirama gagah dan gembira.
Suara dentingan kecapi terdengar dinamis, diikuti dengan suara suling yang menyentak nyentak. Tanpa sadar Danang Wesi dan Ni Kirana ikut bernyanyi sambil bertepuk tangan. Itu adalah kidung perjuangan yang terkenal di Java Dwipa.
Malam terus merangkak menuju puncaknya. Rombongan pedagang babelok sudah tertidur nyenyak di sudah lain pondok singgah. Danang Wesi dan Ni Kirana juga akhirnya tertidur lelap.
Kiyai Tapa Burangrang dan Bagaga Alam ngobrol dengan tenang.
"Kalau engkau tidak malu. Aku menurunkan Irama Kidung Burangrang kepada mu Pandeka Pedang Suling Kumala. Aku pikir sangat bagus sekali bila kidung itu dimainkan lewat suling."
Pandeka Pedang Suling Kumala buru buru memberikan sembah dan berkata. "Aku sangat senang sekali Kiyai Tapa."
Baru saja Bagaga Alam selesai bicara. Sebuah titik sinar keemasan masuk melalui titik antara dua alis mata Bagaga Alam. Sebuah petunjuk tentang nada nada segera muncul dalam pemikiran Bagaga Alam.
Bagaga Alam terkejut. Ternyata nada nada itu adalah Irama Kidung Burangrang. Kidung agung yang tidak kalah dengan irama Kematian.
Bedanya jurus Irama Kematian menyerang dengan ganas lawan lawannya. Sedangkan Kidung Burangrang merupakan serangan bathin yang lembut namun sangat ganas. Nada nada Kidung Burangrang akan melelapkan lawan dengan lembut. Mereka tidak akan pernah bangun lagi jika sudah tertidur.
"Kiyai Tapa, ini..."
"Ha ha haa... Pandeka Pedang Suling Kumala. Aku merasa Kidung Burangrang lebih sesuai dengan karakter mu. Kekuatan bathin mu yang sangat tinggi, maka Kidung Burangrang akan menjadi jurus yang sangat kuat lewat suling pusaka mu. Tidak ada salahnya jika aku memberi nama baru untuk mu dengan Pendekar Suling Perak." Ucap Kiyai Tapa Burangrang sambil tersenyum. Bagaga Alam tersenyum, dalam hati dia memuji Ni Kirana yang telah memberi gelar Pendekar Suling Perak pada dirinya.
Menjelang pagi. Kiyai Tapa Burangrang berpamitan untuk melanjutkan perjalanan nya menuju gunung Burangrang. Namun sebelum pergi Kiyai Tapa Burangrang berkata.
"Nanti setelah tugas yang diberikan oleh Maharesi Parwita si Petapa usil itu sudah selesai. Aku menunggu mu di puncak Burangrang."
"Baik Kiyai, saya akan datang untuk sowan dengan Kiyai." Ucap Bagaga Alam dengan penuh hormat.
"Baiklah, sampai jumpa di puncak Burangrang Pendekar Suling Perak."
Matahari pagi mulai muncul dari ufuk Timur. Ni Kirana terbangun. Dia segera duduk dan melihat Bagaga Alam masih larut dalam meditasi yang dalam.
Ni Kirana berfikir hendak mencari sumber air. Namun dia segera menemukan satu bejana tembikar berisikan air bersih dekat dirinya. Dia tersenyum manis kearah Bagaga Alam, lalu membawa bejana tembikar itu keluar.
Gadis itu langsung berkumur membersihkan mulut dan wajah cantiknya. Dalam hatinya ada musim bunga berkembang dengan indahnya. Terimakasih Kang mas Bagaga. Aku rela meski hanya jadi orang kedua disisi mu.
"Yayi Kirana, sisakan sedikit untuk ku air di bejana itu." Suara Danang Wesi menarik kembali Ni Kirana dari lamunannya.
Gadis itu kembali dan menyeduh kopi kental untuk Bagaga Alam dan Danang Wesi. Untuk dirinya juga secangkir kopi, namun tidak begitu kental.
"Kang mas, kemana Kiyai Tapa Burangrang ?" Ni Kirana bertanya sambil menyorongkan kopi ke depan Bagaga Alam.
"Kiyai Tapa Burangrang telah pergi semalam. Namun dia memberi ku gelar yang sama dengan yang telah kamu berikan. Mungkin kedepan aku akan menggunakan nama Pendekar Suling Perak.
Bagaimana menurutmu ?"
"Sangat setuju Kang mas."
Mereka kemudian sarapan dengan kue kering yang cukup banyak di bawa oleh Ni Kirana dalam kantung penyimpanan khusus yang disimpan di kantong penyimpanan utamanya.
Usai sarapan mereka melanjutkan perjalanan mereka.
\=\=\=\=\=***\=®