Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.
Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.
Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.
Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?
Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 — Keputusan yang Memecah Suku
Sesampainya di suku, pertengkaran itu semakin memanas.
"Kamu tidak bisa mengusirnya begitu saja, Kepala Suku!" teriak Luka.
Dua pemburu paruh baya baru saja membaringkan jasad Paman Dirga di atas kain kulit binatang.
Suasana duka bercampur amarah meledak di tengah lapangan. Warga menangis, sementara para pemburu senior menatap Luka dan Ayla dengan mata yang menyala-nyala.
"Jaga mulutmu, Luka!" bentak Paman Bimo. Ia lalu menunjuk jasad Dirga. "Dirga mati karena ulah kalian! Dua pemuda kita cacat! Apa kamu masih punya muka untuk membela wanita asing ini?"
"Ini musibah di hutan, Paman Bimo!" balas Luka, ia berdiri memasang badan di depan Ayla yang gemetaran. "Ayla tidak pernah menyuruh beruang itu menyerang! Dia cuma ingin membantu suku membuka lahan!"
"Cukup, Luka!" tegur Tetua Gordon, melangkah keluar dari pintu balai bersama para sesepuh suku lainnya. "Kami sudah berunding. Keputusan para tetua sudah bulat."
Tetua Gordon mengarahkan pandangannya pada Ayla yang wajahnya sudah pucat pasi tanpa warna.
"Ayla," kata Tetua Gordon keras, suaranya menggema di hadapan seluruh warga. "Kedatanganmu membawa kegaduhan dan kematian bagi Suku Serigala. Kehadiranmu merusak aturan kelangsungan hidup yang sudah dijaga leluhur. Mulai hari ini, kamu resmi diusir dari tanah pemukiman kami!"
Ayla menutupi wajahnya dengan kedua tangan, terisak pelan. "Maafkan aku... aku tidak bermaksud membuat orang m*ti... maafkan aku..."
"Jangan menangis, Ayla," bisik Luka lembut, ia mengelap air mata di pipi gadis itu. Pemuda itu lalu membalikkan badan menghadap Tetua Gordon dan Aron dengan tatapan penuh pembangkangan. "Kalau kalian mengusir Ayla, berarti kalian juga harus mengusirku!"
Suara bisik-bisik kaget seketika menjalar di antara warga suku.
Aron yang sedang membantu mengikat kain bebat baru di lengan Yana menghentikan gerakannya.
Ia mendongak, menatap Luka dengan mata tajam penuh amarah yang tertahan.
"Apa katamu?" tanya Aron rendah dan berbahaya.
"Aku tidak akan membiarkan Ayla pergi sendirian di tengah musim dingin!" seru Luka lantang tanpa ragu sedikit pun. "Kalian semua picik dan berhati dingin! Suku ini tidak punya masa depan kalau terus dipimpin oleh orang-orang kaku seperti kalian!"
"Luka! Kamu gila?!" bentak Paman Bimo terperanjat. "Kamu itu pemanah utama suku! Keluarga dan tanahmu ada di sini!"
"Tanah yang penuh kebencian ini bukan tempatku lagi!" pangkas Luka keras. Ia melirik ke arah teman-temannya. "Jaka! Rian! Dan kalian semua yang ingin perubahan, apa kalian mau terus tunduk pada aturan tua yang mematikan ini?"
Tiga pemuda pemburu yang tadi ikut memotong kayu di Lembah Timur melangkah maju. Meski dua di antaranya terluka, mata mereka memancarkan dorongan emosi yang sama dengan Luka.
"Kami ikut Luka!" seru salah satu pemuda bernama Budi. "Ayla benar soal teknologi dan lahan baru. Suku ini cuma takut pada perubahan!"
Tetua Gordon mengelus dadanya yang naik turun menahan amarah. "Kalian anak-anak muda buta! Kalian menukar keselamatan suku demi janji manis yang belum terbukti!"
"Kami tidak butuh ketakutan kalian!" balas Luka sengit.
Yana yang duduk di bangku kayu perlahan berdiri.
Lengan kirinya terbebat kain tebal berdaging merah, tetapi wajahnya tetap tenang tanpa ekspresi panik. Ia menatap Luka lurus-lurus.
"Kamu yakin dengan pilihanmu, Luka?" tanya Yana pendek.
Luka menoleh pada Yana, ia menyunggingkan senyum sinis yang penuh rasa muak. "Tentu saja aku yakin. Menikah dengan wanita dingin sepertimu cuma akan membuat hidupku mati rasa. Ayla punya perasaan dan mimpi, tidak seperti kamu yang cuma tahu soal aturan dan darah!"
Aron melangkah maju tiga langkah, ia berdiri tepat di antara Yana dan Luka.
Suasana di lapangan mendadak kaku, begitu dingin hingga deru angin utara terdengar dengan jelas berembus di sela-sela pepohonan.
"Luka," ucap Aron dengan suara berat. "Hari ini, di hadapan jasad Paman Dirga, para tetua, dan seluruh warga Suku Serigala... aku. Sebagai ayah Yana dan sebagai ketua suku. Membatalkan pertunanganmu dengan putriku, Yana. Kamu bukan lagi calon menantuku, dan kamu juga bukan lagi bagian dari suku ini!"
Aron merogoh kantong mantelnya, mengeluarkan batu berukir simbol pertunangan yang dulu diberikan oleh keluarga Luka. Ia lalu melemparkan batu itu ke tanah tepat di depan Luka.
"Ambil ikatanmu dan pergi dari tanah kami!"
Melihat hal tersebut, Luka tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun. Ia justru melangkah maju, menendang batu berukir itu hingga terlempar ke semak-semak penuh salju.
"Aku memang tidak pernah menginginkan ikatan konyol itu lagi!" jawab Luka lantang.
Ayla memegang erat lengan mantel Luka. "Luka... apa kamu yakin? Di Luar sana sangat dingin..."
"Jangan takut, Ayla. Aku akan melindungimu," sahut Luka mantap. Ia menoleh pada para pengikutnya. "Ayo kemasi senjata dan barang-barang kita! Kita tinggalkan tempat ini!"
Empat pemuda pemburu beserta dua wanita muda yang terpengaruh oleh Ayla bergegas menuju tenda mereka. Dalam waktu kurang dari satu jam, kelompok kecil itu sudah berkumpul kembali di depan gerbang utama pemukiman membawa ransel kulit dan busur panah.
Seluruh warga suku berdiri berjejer di sepanjang jalan, menatap kepergian mereka dengan campuran rasa marah, kecewa, dan duka.
Tidak ada satu orang pun yang melepaskan keberangkatan mereka dengan salam hangat.
Luka memimpin di depan bersama Ayla.
Sebelum melintasi pintu gerbang kayu yang terbuka lebar, Luka sempat menoleh ke belakang, menatap Yana yang berdiri di samping ayahnya.
Yana hanya menatap kelompok itu pergi dengan tatapan datar, tanpa dendam maupun rasa kasihan. Ia tahu betul, di luar sana, di tengah Hutan Hitam saat musim dingin, kebodohan yang dibungkus ego adalah hukuman mati yang lambat.
Brak!
Pintu gerbang kayu pemukiman ditutup rapat dan dikunci dengan palang kayu tebal oleh para penjaga.
Hening seketika menguasai lapangan suku. Namun, keheningan itu tidak bertahan lama. Paman Bimo berjalan mendekati Aron dengan wajah yang tampak cemas, dia memandangi deretan pemburu yang tersisa di lapangan.
"Aron... ini ..." bisik Paman Bimo, suaranya gemetar menyadari kondisi suku mereka saat ini. "Dirga tewas. Lalu Luka dan lima pemuda pemburu terkuat kita baru saja pergi membawa senjata mereka..."
Paman Bimo menelan ludah ganjal, matanya menyapu lapangan yang kini terasa lengang.
"Kita kehilangan hampir sepertiga dari total kekuatan pemburu utama suku." Kata Paman Bimo dengan nada panik.
Beberapa ibu-ibu suku mulai berbisik-bisik ketakutan. Warga baru menyadari dampak mengerikan dari perpecahan ini. Suku Serigala kini berada dalam kondisi paling lemah dan paling rentan sepanjang sejarah mereka di musim dingin.
Tepat saat kepanikan mulai menjalar di antara warga, seorang penjaga menara barat berlari turun dari tangga kayu dengan wajah pucat pasi dan napas terengah-engah.
"Kepala Suku! Paman Bimo!" teriak penjaga itu panik, menunjuk ke arah batas Hutan Hitam di luar gerbang. "Di jalur utara! Ada kawanan serigala es dan jejak kelompok asing mendekati wilayah kita!"