Bagi Aris dan ibunya, Tita adalah istri sempurna: kaya, penurut, dan sabar. Saat Tita divonis tak bisa memberi keturunan, mereka berlagak menerima dengan lapang dada. Padahal di belakangnya, Aris diam-diam menikah siri demi mendapatkan anak sambil terus menikmati kemewahan dari uang Tita.
Mereka pikir Tita bodoh. Padahal, Tita sudah tahu segalanya.
Tanpa air mata atau labrakan emosional, Tita tersenyum dingin. Ia mulai memutus aliran dana, merebut asetnya, dan menjebak bisnis Aris ke jurang utang.
"Kalian pikir bisa hidup mewah di atas penderitaanku? Mari kita lihat seberapa lama kalian bertahan tanpa sepeser pun uangku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SKENARIO KEHANCURAN UNTUK SUAMIKU
Pagi-pagi sekali, sinar matahari hangat mulai menerobos masuk melalui celah gorden kamar. Suasana perumahan mewah di kawasan Bukit Timah terasa begitu tenang dan menyegarkan. Udara bersih tanpa polusi membuat paru-paruku terasa sangat lega sebuah sensasi yang jarang sekali kudapatkan saat terbangun di Jakarta.
Setelah membasuh muka dan mengenakan pakaian olahraga kasual berupa kaus katun dan celana training, aku melangkah keluar kamar. Niatku awal hendak menghampiri kamar Valerie untuk mengajarinya jalan-jalan atau sekadar menghirup udara segar bersama.
Namun, begitu aku mengetuk pintu kamarnya dan melongok ke dalam, gadis itu masih meringkuk hangat di balik selimut tebalnya.
"Val, bangun yuk... lari pagi di sekitar kompleks," ajakku pelan sembari mengguncang bahunya sedikit.
Valerie hanya bergumam tidak jelas, memeluk bantal gulingnya makin erat tanpa membuka mata. "Aduh, Tita sayang... masih pagi banget ini. Aku mau melanjutin tidur cantikku dulu ya. Nanti siang kan kita ada acara fitting sama salon. Kamu jalan sama Ko Felix aja tuh, dia udah siap dari tadi di bawah!"
Aku menggelengkan kepala terkekeh melihat tingkah calon pengantin yang satu ini. Karena tidak mau mengganggu waktu istirahatnya, aku pun berjalan turun menuju lantai satu.
Benar saja apa yang dikatakan Valerie. Di teras depan, Ko Felix sudah berdiri menungguku. Pria itu tampil sangat segar dengan pakaian olahraga warna abu-abu gelap dan sepatu running. Penampilannya yang kasual ini membuat aura kaku yang biasanya melekat padanya sedikit melunak, digantikan oleh pesona maskulin yang begitu menawan.
"Valerie tidak ikut?" tanya Ko Felix saat melihatku turun sendirian.
"Enggak, Ko. Valerie memilih melanjutkan tidur cantiknya," jawabku terkekeh kecil.
Ko Felix mengulas senyum tipis di bibirnya, menggelengkan kepala pasrah. "Sudah kubuga. Ya sudah, kalau begitu kita lari berdua saja. Jalur perumahan di sini sangat aman dan rindang."
Kami pun mulai melangkah keluar menyusuri jalanan kompleks perumahan yang lebar dan sepi. Di kanan dan kiri jalan, rumah-rumah megah berdiri anggun di balik pepohonan rindang dan taman-taman yang terawat asri. Angin pagi berembus lembut, menemani ritme langkah kaki kami yang bergerak santai.
Ekor mataku sesekali melirik pergelangan tangan kiriku. Di sana, gelang emas putih berliontin bunga melati bertahtakan berlian mungil itu melingkar cantik, memantulkan kilau lembut di bawah paparan sinar matahari pagi.
Melihat gelang itu, ingatan tentang kejadian semalam kembali berputar di benakku. Sebenarnya, semalam aku ingin menanyakan lebih detail perihal maksud pemberian gelang ini atau yang sempat kupikirkan semalam sebagai hadiah berharga yang terlalu berlebihan. Namun, setelah memasangkan gelang itu di tanganku, Ko Felix langsung menyuruhku beristirahat dan pamit kembali ke kamarnya, meninggalkan aku dengan sejuta pertanyaan yang menumpuk di dada.
Mumpung pagi ini kami hanya berjalan berdua tanpa gangguan Valerie atau Kak Olan, aku keberanian diri untuk membuka suara.
Aku perlahan memelankan laju lariku menjadi jalan santai. Ko Felix yang menyadari hal itu ikut menyelaraskan langkahnya, berjalan tepat di sampingku.
"Ko Felix..." panggilku pelan.
Ko Felix menoleh, menatapku dengan raut wajah tenangnya yang ramah. "Iya, Tita? Kamu lelah?"
"Enggak kok, Ko," jawabku cepat sembari menggeleng. Aku menghentikan langkahku sejenak, memandangi gelang melati di pergelangan tanganku, lalu menatap matanya secara langsung. "Soal gelang ini, Ko... Sebenarnya semalam Tita mau tanya lebih banyak, tapi Ko Felix keburu pamit ke kamar."
Ko Felix terdiam sejenak. Ia merapikan posisi berdirinya, menatapku penuh perhatian. "Pertanyaan apa, Tita?"
"Gelang ini kan sangat indah dan... pasti sangat mahal, Ko," ucapku jujur, berusaha menata kalimat agar tidak salah ucap. "Tita mau tanya, sebenarnya pemberian ini dalam rangka apa? Rasa-rasanya... perlakuan Ko Felix dan hadiah seluar biasa ini terlalu berlebihan kalau hanya sekadar ucapan selamat datang."
Mendengar pertanyaanku, Ko Felix tidak langsung menjawab. Pria itu menyunggingkan senyuman tipis yang sangat hangat senyuman yang selalu berhasil melelehkan rasa canggung di antara kami. Ia mengajakku berjalan menuju sebuah bangku taman di bawah pohon rindang tak jauh dari tempat kami berdiri.
Setelah kami berdua duduk, Ko Felix memalingkan tubuhnya menghadapku.
"Tita," buka Ko Felix dengan suara beratnya yang bernada dalam dan menenangkan. "Anggap saja itu hadiah penyambutan untuk kehidupan barumu yang sekarang. Tapi selain itu... ada alasan lain."
Aku mengedipkan mata, menunggu kelanjutan kalimatnya dengan detak jantung yang makin maraton.
"Selama beberapa tahun belakangan ini, sejak kamu menikah... aku tidak pernah lagi punya kesempatan untuk memberikan apa pun padamu. Bahkan sekadar mengucapkan selamat ulang tahun atau memberi kado kecil pun tidak bisa aku lakukan," terang Ko Felix tulus. Ada guratan penyesalan tipis di matanya saat mengingat masa-masa di mana ia harus menjaga jarak demi menghormati statusku dulu.
Aku tertegun. Mengingat kembali masa-masa ketika aku masih terikat dalam pernikahan kaku bersama Aris, aku memang terisolasi dari banyak hal.
Jangankan menerima kado dari pria lain, bertegur sapa secara wajar saja bisa menjadi sumber masalah besar di mata keluarga mantan mertuaku.
Ko Felix menarik napas panjang, menatap tepat ke dalam manik mataku dengan kejujuran yang terpancar telanjang.
"Tapi sekarang... situasinya sudah berbeda, Tita," lanjut Ko Felix pelan namun sarat akan kepastian. "Statusmu sudah kembali sendiri. Kamu sudah bebas dari segala belenggu dan tuntutan masa lalu. Jadi... aku rasa, seharusnya kamu tidak keberatan lagi untuk menerima pemberian dariku, bukan?"
Kalimat itu meluncur begitu tenang, namun dampaknya bagaikan getaran hebat yang menghantam dadaku. Pertanyaan implisit yang dilontarkan Ko Felix bukan sekadar tentang persetujuan menerima gelang, melainkan sebuah sinyal halus bahwa kini ia tidak akan lagi menahan diri untuk menunjukkan perhatiannya padaku.
Aku menunduk menatap gelang melati di tanganku, meraba ukiran mungilnya dengan jemariku yang sedikit gemetar. Rasa haru yang membuncah membuat tenggorokanku terasa menyempit. Selama bertahun-tahun aku terbiasa diberi tanpa pernah dihargai, dinilai hanya dari materi yang bisa kupersembahkan untuk orang lain. Namun di hadapan Ko Felix, aku diperlakukan begitu berharga tanpa syarat apa pun.
"Tita?" panggil Ko Felix lembut, memastikan responsku karena aku sempat hening cukup lama. "Apakah kamu keberatan?"
Aku mengangkat wajahku, menatap mata hitam pekat milik Ko Felix yang dipenuhi rasa cemas tipis khawatir jika tindakannya justru membebaniku. Aku menyunggingkan senyuman paling tulus dan hangat yang kumiliki, menggelengkan kepala perlahan.
"Tentu saja Tita tidak keberatan, Ko Felix," jawabku dengan suara bergetar menahan haru. "Tita cuma... merasa sangat tersanjung dan tidak terbiasa diperhatikan sedalam ini. Terima kasih banyak ya, Ko. Tita akan menjaga gelang ini baik-baik."
Mendengar jawabanku, ketegangan di wajah Ko Felix menguap seketika. Sudut-sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman lebar yang sangat menawan pemandangan langka yang sanggup membuat debar di dadaku berantakan tak beraturan.
"Terima kasih kembali, Tita," bisik Ko Felix hangat. "Melihatmu mau menerimanya tanpa beban... itu sudah membuatku sangat bahagia."
Matahari pagi di atas perumahan Bukit Timah kian meninggi, memancarkan sinar keemasan yang menembus sela-sela dedaunan pohon. Di atas bangku taman yang tenang ini, di samping pria yang selalu menjagaku dalam diam selama bertahun-tahun, aku menyadari bahwa langkahku ke masa depan tak lagi terasa menakutkan. Hari baru telah dimulai, dan kisah manisku bersama Ko Felix baru saja membuka lembaran pertamanya.
boleh laa bonchap ny kak ,,
aku sll merasa dapat kejutan tamat 😥
ko udh tmat aja....krain msh puanjanggg crtanya....tp msih ada bonchap kn kk???
untng d sbelah ga ada orang....🤭🤭🤭
pepet trs ko,jgn smp d tkung cwok lain lg....😁😁😁