Kehidupan Kinta seorang single parent yang memiliki dua orang anak. Setelah sekian lama ditinggal oleh suaminya dan menghidupi anak-anaknya seorang diri. Bertemu dengan Atta laki-laki petualang yang dicintainya dengan tulus namun ternyata dirinya hanya dipermainkan.
Bahkan tanpa berdosa lelaki itu mendekati sahabat dekat Kinta sendiri. Namun sakit hati terbalaskan karena ternyata Rani sudah memiliki seorang kekasih.
Dan Kinta pun dipertemukan dengan kawan lamanya yang menjodohkannya dengan Kakak laki-lakinya. Yang mencintainya dengan tulus.
Namun apalah daya Kinta begitu lama masih belum dapat melupakan Atta sepenuhnya.
Bahkan meskipun Kinta sudah menikah dengan Yusdi pun. Masih ada sisa-sisa perasaannya terhadap laki-laki petualang itu.
Dan akhirnya Atta muncul kembali di kehidupan Kinta dan ingin mendapatkan cintanya lagi.Bagaimana Kinta mempertahankan rumah tangganya bersama laki-laki yang selama ini telah mengobati lukanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delisa Sitari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 28 : Pertemuan Dengan Calon Ibu Mertua
Kinta dan Ibunya sedang sibuk memasak di dapur. Hari ini Kinta libur kerja. Yusdi berencana akan mendatangi rumah Kinta untuk bertemu dengan calon Ibu mertuanya.
Maka dari itu Bu Kasih menyarankan Kinta untuk masak makanan spesial untuk makan malam menyambut kehadiran perdana Yusdi di tengah-tengah keluarga mereka.
" Apa harus seperti ini Bu... " tanya Kinta pada Ibunya saat masakan mereka telah matang dan ditata rapi di meja makan.
" Iya lah Nduk. Harus ada kesan untuknya. Ya sambil sedikit belajar menyenangkan hati suami. Siapa tahu kamu lupa caranya... " Bu Kasih menggoda anak tersayangnya.
" Iihhh... Ibu... Masa begitu saja lupa... " sahut Kinta manja dengan wajahnya yang memerah.
Dalam hati Bu Kasih berkata rupanya putrinya ini benar-benar sedang jatuh cinta. Dia hanya bisa berdoa semoga kali ini Kinta mendapatkan seorang suami yang baik dan bertanggung jawab. Bisa membahagiakan anak dan cucu-cucunya.
Sementara Yusdi di rumahnya sudah siap dengan pakaian rapinya. Kemeja panjang warna biru dongker yang lengannya ia lipat sampai di bawah siku dan celana kain standart hitam menghiasi tubuh tegapnya.
Reva yang penasaran karena Kakaknya akan bertemu untuk pertama kalinya dengan calon mertua, mengintip kamar Yusdi yang pintunya sedikit terbuka. Dilihatnya Yusdi sedang berdiri di depan kaca sambil menyisir rambutnya.
" Sudah ganteng Mas... " ujar Reva yang langsung masuk ke kamar Yusdi tanpa permisi.
" Eh... Kamu Re... Bagaimana... Sudah pantaskah Mas bertemu sama calon mertua ? " tanya Yusdi dengan genitnya. Dia memutar-mutar tubuhnya seperti orang yang sedang berdansa. Membuat adiknya geli.
Baru kali ini Reva melihat Kakaknya seperti itu. Sepertinya tidak salah keputusannya untuk menjodohkan Yusdi dengan sahabatnya. Yusdi langsung saja menyukai Kinta dan sahabatnya itu juga meresponnya baik.
Setelah pertemuan Kakaknya dengan calon mertuanya, mereka akan segera melamarnya. Untuk apa menunggu lama lagi kalau keduanya sudah saling cocok.
" Klop sekali. Kakakku yang satu ini selalu tampak menawan. Bodoh Mbak Kinta kalau menolak duda keren ini... " jawab Reva dengan mengacungkan jempolnya dan mengerdipkan sebelah matanya.
Yusdi hanya mengangkat-angkat alisnya.
" Ya sudah... Mas mau berangkat dulu ya..." ujar Yusdi yang lalu mengambil ponsel dan dompetnya lalu memasukkannya ke dalam kantong celana.
" Hmmm... Iya Mas. Hati-hati..." pesan Reva.
Yusdi mengacak-acak rambut Reva membuat Reva kesal. Yusdi pun mencari Ibu dan putrinya kemudian berpamitan dengan mereka. Mereka semua bahagia akan segera mendapatkan warga baru di keluarga mereka.
Apalagi Nanda, putri tunggal Yusdi dari istri sebelumnya. Ia sungguh merindukan belaian seorang Ibu yang lama tidak didapatkannya. Ibu kandungnya sudah tidak mau menjenguknya sejak kedua orang tuanya berpisah. Ia sangat kegirangan saat Ayahnya memberitahukannya akan memberinya Ibu baru yang cantik dan baik.
Dalam perjalanan menuju rumah Kinta hatinya begitu riang. Tidak lama lagi ia akan mempersunting wanita pujaannya. Dalam hati ia berjanji akan membahagiakan Kinta dan anak-anaknya. Mendengar banyak cerita dari Reva membuat iba hatinya merasakan kepedihan Kinta selama ini.
Yusdi sudah sangat yakin akan mendapatkan hati Kinta dan membuatnya jatuh cinta. Terbukti sekarang ia sudah akan dipertemukan dengan Ibu dan anaknya. Di fikirannya penuh bayangan-bayangan indah saat-saat dirinya dan Kinta bertemu dan menghabiskan waktu bersama.
" Sayang... Akulah lelakimu... Akulah lelaki yang kaucari... Akulah lelaki yang kaubutuhkan...Tunggu aku... " gumam Yusdi pelan.
Ciiitttt......
Yusdi mengerem mendadak motornya. Tanpa sadar Yusdi hampir saja menabrak mobil yang tiba-tiba muncul dari pertigaan jalan. Huftt ! Untung saja ia cepat menyadarinya. Kalau tidak... entah apa yang terjadi.
" Hati-hati Mas ! " seru pria setengah baya yang mengendarai mobil itu dengan wajah kesal membuka kaca mobilnya.
" Maaf Pak..." jawab Yusdi dengan menganggukkan kepalanya.
Yusdi membiarkan mobil itu berlalu lebih dulu. Lalu ia melanjutkan perjalanannya. Jantungnya masih berdetak kencang. Ia berhenti dan mampir sejenak ketika lewat di depan minimarket dan membeli sebotol air mineral.
Diteguknya minuman itu agar membuat hatinya sedikit tenang. Dibuangnya botol air mineral yang isinya tinggal seperempat di tong sampah yang ada di depan minimarket itu.
Lalu Yusdi melanjutkan perjalanannya. Ia mengosongkan fikirannya agar lebih fokus menyetir. Gagal nikah nanti kalau sampai terjadi apa-apa hanya karena berkendara sambil melamun.
Kurang dari setengah jam Yusdi sampai di kediaman Kinta. Karena suara motor Yusdi yang menggelegar, semua yang ada di dalam rumah bisa mendengar kedatangannya. Yusdi membuka pagar rumah itu. Menuntun motornya memasuki halaman. Dilihatnya Kinta sudah muncul di depan pintu dengan tersenyum manis. Kinta pun mendekat dan menutup kembali pintu pagar.
Yusdi membalas senyuman itu. Kini jantungnya kembali berdetak kencang. Tapi bukan karena hampir menabrak mobil tadi, melainkan melihat senyuman manis itu. Dan karena merasa grogi akan bertemu calon mertuanya.
Yusdi berjalan ke arah pintu setelah memarkir motornya. Diikuti oleh Kinta.
" Assalamualaikum..." ucap Yusdi.
" Wa alaikumsalam..." jawab Kinta. " Masuk Mas."
Yusdi pun masuk dan disambut Bu Kasih di ruang tamu.
" Ini Ibu Mas..." Kinta memperkenalkan Yusdi pada Ibunya.
" Bu... " sahut Yusdi yang lalu mencium tangan Bu Kasih dengan sopan.
Yusdi melirik ke arah sebuah kamar yang pintunya sedikit terbuka. Ada dua orang anak kecil yang sedang mengintip dari balik pintu. Dia pun tersenyum.
" Sini sayang... Ini pasti Dian sama Riyanti kan..." ujar Yusdi memanggil mereka yang mengintip dengan malu-malu.
Mereka persis seperti Kinta. Pemalu dengan orang yang baru kenal. Tapi akan sangat akrab sekali dan jahil bila sudah lama mengenal. Dengan malu-malu mereka menghampiri Yusdi, mencium tangannya bergantian.
Kinta dan Bu Kasih senang ternyata Yusdi sangat tanggap tanpa menunggu Kinta yang harus memperkenalkannya terlebih dulu pada anak-anaknya.
" Silahkan duduk Nak Yusdi..." Bu Kasih mempersilahkan Yusdi untuk duduk.
" Iya Bu. Terima kasih..." jawab Yusdi. Ia pun duduk di sofa dengan nyaman. Diikuti Bu Kasih dan Dian serta Riyanti.
Kinta menuju dapur untuk membuatkan teh untuk Yusdi dan Ibunya. Tak lama Kinta datang dengan dua cangkir teh hangat. Kemudian meletakkannya di meja.
" Anak-anak kalau mau minum ambil di kulkas ya... " ujar Kinta pada Dian dan Riyanti.
" Iya Bu... " jawab mereka berdua bersamaan.
" Kompak sekali ya... " sahut Yusdi memuji anak-anak Kinta.
" Iya dong om..." ujar Riyanti centil.
" Loh kok Om... Panggil Ayah ya... " kata Yusdi.
Dian dan Riyanti saling berpandangan. Lalu mereka melihat ke arah Nenek, lalu Ibunya. Mereka pun mengangguk tanda mengiyakan ucapan Yusdi pada para krucil itu.
" Ayah... " ucap Riyanti yang lalu menutup bibirnya dengan jemarinya dengan sedikit tersipu.
Kinta, Yusdi dan Bu Kasih tertawa kecil mendengarnya dan melihat ekspresi putri kecil itu.
Sampai lupa Yusdi akan maksdunya untuk membicarakan masalah keseriusannya dengan Kinta pada calon mertuanya.
" Sebentar lagi saya dan keluarga ingin berkunjung ke sini untuk melamar anak Ibu. Tapi saya ingin meminta restu terlebih dahulu pada Ibu. Apakah Ibu bersedia menerima saya sebagai menantu..." ungkap Yusdi akhirnya.
" Inshaa Allah Nak... Kalau anak Ibu ini memang bersedia menjadi pendampingmu... Ibu pasti setuju saja. Asal Nak Yusdi berjanji akan menjaga anak dan cucu Ibu ini dengan baik. Menyayangi dan menerima mereka dengan tulus. Dan satu lagi... Membahagiakan mereka dengan kejujuran dan kesetiaan." jelas Bu Kasih. Lalu ia membelai rambut kedua cucu yang duduk di sebelahnya.
Kinta hanya mendengarkan percakapan antara calon mantu dan mertua itu dengan seksama. Sambil sesekali melirik ke arah Yusdi yang dilihatnya tampak menawan dengan pakaian rapinya. Terlihat lebih berwibawa. Karena selama ini Yusdi selalu tampil dengan baju yang simple dan santai. Ya karena Yusdi bukan orang kantoran. Ia punya usaha mebel sendiri yang tak mengharuskannya berpakaian rapi. Ia punya beberapa karyawan yang harus tunduk padanya sebagai bos. Meskipun terbilang masih usaha yang sederhana, tapi ia yakin suatu saat akan bisa berkembang lebih besar.
" Yusdi janji Bu... Yusdi akan melaksanakan semua permintaan Ibu. Saya pasti bisa membahagiakan dan menjaga anak dan cucu Ibu dengan baik. Jika saya melanggar... Ibu bisa melakukan apa saja terhadap saya. " jawab Yusdi meyakinkan calon mertuanya. Bahkan dia berlutut di hadapan Bu Kasih sambil menggenggam tangannya. Sungguh sikap yang tidak disangka-sangka oleh Kinta dan Ibunya.
" Ya sudah... Ibu merestui kalian... Kapan kamu dan keluarga akan datang ke rumah ini ? Sudah duduk lagi... " ujar Bu Kasih menyuruh Yusdi kembali pada posisinya di sofa.
" Alhamdulillah... Secepatnya Bu... Secepatnya... Nanti saya akan beri kabar pada Kinta dan Ibu. Terima kasih Bu... " ucap Yusdi kegirangan. Akhirnya...wanita di hadapannya ini akan benar-benar jadi miliknya. Dengan bonus dua orang krucil yang lucu-lucu ini.
Ditatapnya Kinta yang sedari tadi hanya diam dan kadang menundukkan wajahnya. Kinta pun membalas tatapan itu dengan senyum bahagianya. Mereka berdua saling menatap begitu lama. Saling terpesona.... Apalagi Yusdi melihat tampilan Kinta saat ini mengenakan rok hitam selutut dan blues merah maroon yang membuat Kinta tampak lebih feminin. Rambutnya dibiarkan terurai dengan sedikit polesan make up natural yang menambah kecantikannya.
" Kalau begitu ayo kita makan malam dulu..." kata-kata Bu Kasih memutus tatapan Yusdi dan Kinta. Sebenarnya beliau paham akan sikap putri dan calon mantunya yang sedang kasmaran itu. Tapi sampai kapan mereka akan saling menatap seperti itu. Makanan yang ada di meja makan sudah menanti mereka.
Dua sejoli itu saling gugup.
" Oh iya Bu. Mas ato kita makan dulu. Aku dan Ibu tadi sudah masak spesial untukmu. " ajak Kinta yang beranjak berdiri dari duduknya.
" Emmm... Iya..." sahut Yusdi singkat. " Ayo anak-anak..." ajaknya pada Dian dan Riyanti seraya menggandeng mereka. Dengan senang anak-anak itu menurutinya.
Mereka berlima makan malam bersama dengan nikmat. Sesekali Yusdi memuji masakan Kinta dan Ibunya. Masakan mereka memang enak dan siapa yang memakannya pasti akan ketagihan. Kinta memang memiliki bakat memasak dari Ibunya sejak remaja.
Setelah makan malam bersama dan berbincang sejenak, Yusdi pun berpamitan untuk pulang. Bu Kasih mengajak cucu-cucunya masuk ke dalam kamar dan segera beristirahat. Sementara Kinta mengantar Yusdi sampai ke depan pintu.
" Mas pulang dulu ya... Love you... " ucapan Yusdi melambungkan hati Kinta. Dia merasa terbang namun sedikit malu mendengarnya. Tatapan Yusdi begitu menghanyutkan.
Dengan tersipu Kinta membalas ucapan itu. " Iya Mas... Hati-hati... Love you too... "
Mereka berdua saling menatap. Yusdi menelusuri tatapannya pada seluruh wajah Kinta. Alisnya, bola mata, manik bulu matanya, hidungnya, bibirnya...dan.... taggg... Bibir tipis itu menggodanya.
Ia memajukan wajahnya lebih dekat dengan wajah Kinta. Kinta pun hanya terdiam serasa terhipnotis dan siap menerima apa yang akan dilakukan Yusdi. Dipejamkan matanya... Dan... Cupp... Yusdi mendaratkan kecupan lembut di kening Kinta.
Kinta membuka matanya. Ternyata perkiraannya salah. Yang ia fikirkan Yusdi akan mencium bibirnya. Tapi laki-laki itu bisa menahan hasratnya. Dan...
Cuppp...
Akhirnya kecupan itu mendarat di bibir Kinta. Namun hanya sebentar. Kinta membelalakkan matanya karena terkejut. Jantungnya berdetak kencang, seolah akan ada yang meledak di dalamnya. Meskipun cuma beberapa detik, ciuman lembut itu mampu meluluh lantakkan hatinya.
Yusdi pun tersenyum. " Assalamualaikum... " ucapnya.
" Wa... Wa alaikumsalam... " jawab Kinta terbata. Ia masih gugup dan salah tingkah. Ia sudah pernah melakukan hal yang lebih dari ini dengan orang lain. Tapi entah kenapa dengan Yusdi... perasaannya berbeda.
Yusdi pun berlalu dari hadapan Kinta dan segera mengambil motornya. Kinta membukakan pintu pagar. Setelah menyalakan motornya dia pergi dan melambaikan tangannya yang disambut pula oleh Kinta.
Kinta menatap punggung laki-laki itu dengan perasaan gelisah seolah seorang istri yang akan ditinggal suaminya kerja keluar kota. Kinta... Kinta. Kau sudah bisa mencintai pria itu rupanya.
mampir juga ya ke CSku
Like ku udah melayang tuh
Ditunggu feedback nya ya 😁
salam "ANGKASA: Salam penghuni bumi"
baca juga cerita ku Choice Of Love ❤
sebenarnya sy berharap kinta menemukan jodoh lain selain yusdi yg menurutku tdk tegas dan sering salah langkah..tp bukan berarti kembali dg atta
-AKU BUKAN LESBIAN.