"Mulai hari ini, silakan ambil kembali anak laki-laki kebanggaanmu, Ibu. Karena suamiku... selamanya memang hanya milik keluarganya!"
Dulu, rumah tanggaku bersama Mas Bayu begitu harmonis. Dia suami yang manis dan selalu menyerahkan seluruh gajinya padaku. Tapi semua hancur saat kami mengalah untuk pindah dan tinggal satu atap dengan Ibu Mertua serta adik ipar.
Neraka dimulai ketika suami dari adik iparku menganggur. Alih-alih menegur menantunya yang malas, Ibu Mertua justru terus mengamuk dan memanipulasi keadaan. Kena guilt trip dan air mata sang ibu, Mas Bayu tega merebut hak keuanganku. Seluruh gajinya resmi diserahkan ke rekening ibunya demi membiayai ipar parasit.
Saat nafkah anakku dipangkas habis dan suamiku lebih memilih melihatku menangis demi senyum ibunya, aku sadar pernikahan ini sudah mati.
Nggak akan ada lagi tangisan mengemis. Aku akan angkat kaki membawa putriku, mengembalikan Mas Bayu pada keluarganya, dan membuktikan betapa hancurnya hidup mereka tanpa diriku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA
Bayu membanting setir ke kiri, menepikan mobil sedan hitamnya di pelataran parkir sebuah minimarket yang tidak jauh dari jalan raya. Tenggorokannya terasa kering, bukan karena haus fisik, melainkan karena amarah yang terus membakar dadanya sepanjang perjalanan. Ia butuh sesuatu yang dingin entah itu minuman atau sekadar udara yang bisa menenangkan saraf-sarafnya yang menegang.
Pintu mobil dibuka kasar. Bayu melangkah keluar dengan rahang mengeras. Namun, langkahnya terhenti tepat di depan pintu kaca otomatis minimarket. Matanya menangkap sesuatu yang membuat sekujur tubuhnya kaku seperti tersengat listrik.
Di sebuah bangku kayu di samping pintu minimarket, sosok itu sedang duduk. Maya.
Ia mengenakan gamis berwarna sage green yang lembut dengan hijab senada yang membingkai wajahnya dengan apik. Ada aura yang berbeda dari Maya yang diingat Bayu Maya yang dulu selalu tampak lesu, berantakan, dan tertekan. Maya yang sekarang terlihat... tenang. Bercahaya. Bahkan dari jarak sejauh ini, Bayu bisa melihat senyum tipis yang tersungging di bibirnya saat ia menyuapkan es krim ke mulut Naya.
Naya tampak begitu ceria, kaki kecilnya yang mengenakan sandal baru berayun-ayun riang. Anak itu sibuk belepotan cokelat di bibirnya.
Bayu mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa cemburu buta, harga diri yang terluka, dan obsesi yang selama ini dipendamnya meledak seketika. "Berani-beraninya..." desisnya. "Aku yang menanggung beban hancurnya rumah tangga, sementara dia duduk di sini dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa?"
Matanya menyipit saat memperhatikan gerak-gerik Maya. Wanita itu sesekali menoleh ke arah kaca pintu minimarket, seperti sedang mengawasi bayangannya sendiri, atau mungkin sedang menunggu seseorang. Itu adalah tatapan waspada, tatapan seorang wanita yang sedang berusaha menata hidup baru. Bagi Bayu, tatapan itu adalah penghinaan.
Tanpa memikirkan tempat, tanpa peduli pada orang-orang di sekitar, Bayu melangkah lebar-lebar menuju arah mereka. Setiap langkahnya adalah dentuman kemarahan.
"MAYA!"
Suara itu menggelegar, memecah ketenangan sore itu. Itu bukan sekadar panggilan itu adalah bentakan yang membawa serta aura intimidasi yang menakutkan.
Naya yang sedang asyik menikmati es krimnya langsung tersentak. Anak itu memekik kaget, tubuh mungilnya gemetar hebat sebelum akhirnya ia menghambur ke pelukan Maya, membenamkan wajahnya di dada ibunya.
"Mimo... Pipo kenapa jahat? Kenapa teriak-teriak?" isak Naya ketakutan, tangannya meremas gamis Maya dengan erat.
Maya terlonjak kaget. Wajahnya yang tadi tenang seketika memucat. Ia menoleh dan mendapati Bayu sudah berdiri tepat di hadapannya dengan napas yang memburu dan mata yang menyala liar.
"Mas Bayu?" suara Maya bergetar. Ia segera memeluk Naya, berusaha menutupi anaknya dari tatapan mengerikan sang ayah.
"Oh, jadi di sini tempat persembunyianmu?" Bayu tertawa sinis, tawa yang terdengar sangat kering. "Aku cari kamu ke rumah orang tuamu, ke mana-mana, seperti orang gila! Sementara kamu? Kamu bisa-bisanya duduk santai di sini, makan enak, berpakaian rapi, seolah-olah kamu bukan istri yang kabur dari rumah!"
"Mas, tolong..." Maya mencoba merendahkan suaranya, berusaha agar tidak menarik perhatian lebih banyak lagi. "Jangan teriak-teriak, Mas. Ada Naya. Lihat, dia takut."
"PEDULI APA AKU?!" bentak Bayu lagi, suaranya kini memancing beberapa orang yang keluar dari minimarket untuk berhenti dan menonton. "Kamu itu istri yang kabur! Kamu tahu tidak apa hukumannya buat istri yang tidak tahu diri?"
Suasana di depan minimarket mendadak riuh oleh bisik-bisik orang. Mereka menatap Bayu dengan tatapan tidak suka, namun Bayu sudah kehilangan kewarasannya. Baginya, Maya adalah objek, miliknya yang sedang membangkang, dan dia harus memberikan pelajaran di depan umum agar Maya tahu siapa yang berkuasa.
"Ayo pulang sekarang!" Bayu maju selangkah, tangannya yang besar terulur hendak menarik lengan Maya.
Maya mundur, memeluk Naya semakin erat. "Tidak, Mas. Aku tidak akan pulang. Kita selesaikan lewat pengadilan saja."
"PENGADILAN? Kamu pikir aku butuh persetujuan pengadilan untuk membawamu pulang?!"
Saat Bayu hendak melayangkan tangannya untuk menarik paksa Maya, tiba-tiba pintu minimarket terbuka dengan hentakan keras dari dalam.
Seorang pria keluar dengan langkah yang sangat tegas. Wajahnya yang biasanya tenang, kini terlihat sangat marah. Ibra. Matanya menatap tajam ke arah Bayu, lalu dengan gerakan yang begitu cepat dan presisi, ia menyambar Naya dari gendongan Maya, memindahkannya ke dalam pelukannya untuk menjauhkan anak itu dari jangkauan Bayu.
Bayu tertegun sejenak melihat Ibra. Rasa terkejut bercampur murka semakin membuncah di dadanya. "Oh, jadi ini laki-lakinya? Jadi ini alasan kamu berani kabur, Maya? Kamu selingkuh dengan bajingan ini?!"
Ibra tidak menjawab tuduhan murahan itu. Ia menatap Bayu dengan tatapan dingin yang merendahkan, seolah sedang melihat hama yang harus disingkirkan. Ia memposisikan dirinya di depan Maya, menjadikan tubuhnya tameng bagi wanita itu.
Naya, yang berada dalam gendongan Ibra, masih terisak. Anak kecil itu menunjuk ke arah Bayu dengan jari gemetarnya, suaranya parau karena tangis.
"Om Ibra... Pipo jahat sama Mimo..."
Kata-kata itu bagaikan bensin yang disiramkan ke api amarah Bayu. Ia merasa dipermalukan di depan umum, dipermalukan di depan laki-laki yang ia anggap sebagai saingannya, dan dipermalukan oleh anaknya sendiri.
Bayu menunjuk wajah Ibra dengan tangan yang gemetar. "Kamu... kamu yang sudah mencuci otak istri saya? Kamu pikir kamu siapa, hah? Jangan ikut campur urusan rumah tangga orang kalau tidak mau berakhir di rumah sakit!"
Ibra tetap tenang, namun otot rahangnya mengetat. "Urusan rumah tangga? Bayu, kamu bahkan tidak tahu bagaimana caranya memperlakukan seorang manusia, apalagi seorang istri. Lihat dirimu. Kamu membuat anakmu sendiri ketakutan."
"DIAM!" teriak Bayu, kali ini ia sudah kehilangan kendali sepenuhnya. Ia melompat maju, hendak menghantam Ibra.
Orang-orang di sekitar minimarket mulai panik. Beberapa pria lain mulai mendekat, bersiap melerai. Maya menjerit tertahan, air matanya tumpah melihat situasi yang semakin kacau. Ia tidak menyangka Bayu akan senekat ini di tempat umum.
Bayu yang sudah gelap mata kini tidak lagi melihat Ibra sebagai lawan yang harus diajak bicara, melainkan musuh yang harus dihancurkan. Ibra, dengan Naya di satu lengannya, bersiap menangkis serangan yang akan datang.
Detik-detik itu terasa begitu lambat. Ketegangan di pelataran minimarket mencapai puncaknya. Semua mata tertuju pada mereka seorang suami yang dikuasai ego, seorang pria yang berusaha melindungi, dan seorang wanita yang terjepit di antara badai dendam masa lalu.