Indonesia
NovelToon NovelToon
3 NASIB YANG SAMA

3 NASIB YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Balas Dendam
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Kal Ipah

tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri




#bl
#bxb

yang gak suka gak usah baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Helena, yang semula mengamuk seperti kesetanan, mulai mereda.

"Apa yang harus saya lakukan supaya perusahaan saya tidak bangkrut?" Helena mondar-mandir di dalam ruangan itu.

"Arghhhh, sialan! Ini gara-gara anak sialan itu! Iya, pasti gara-gara dia perusahaan saya bangkrut. Akan saya habisi kamu, Brian! Kamu sama saja seperti papamu itu, menyusahkan!" ucap Helena dengan mata penuh kebencian terhadap Brian.

"Pasti gara-gara kamu, Raja jadi melawan saya. Akan saya habisi kamu, Brian," ucap Helena lagi.

Helena kemudian menghubungi seseorang.

"Halo, Nyonya Helena. Ada apa menghubungi saya?"

"Kamu habisi seorang pemuda. Nanti saya akan kirim fotonya ke kamu," ucap Helena tanpa basa-basi.

"Baik, saya akan lakukan. Anda tunggu saja."

"Saya tunggu kabar dari kamu secepatnya," balas Helena.

"Terus, bagaimana bayarannya, Nyonya?"

"Soal bayaran kamu tenang saja. Saya akan membayar setengah dulu, tapi jika kamu berhasil menghabisi pemuda itu, akan saya bayar penuh," ucap Helena.

"Baik, Nyonya. Saya akan lakukan."

Sambungan telepon dimatikan oleh Helena.

Helena memegang ponselnya dengan erat. "Sebentar lagi kamu akan mati, Brian. Hahaha, hahaha!" tawa jahat Helena menggema.

"Sepertinya Nyonya sudah gila," ucap seorang pelayan.

"Benar. Apa kita langsung bilang ke nyonya Helena kalau kita mau berhenti bekerja "ucap maid

" Nanti dulu. Tunggu Nyonya Helena keluar, baru kita langsung pergi. Kalau kita pamit, yang ada bukannya pergi hidup-hidup, malah jadi mayat," ucap maid yang lebih muda.

"Kamu benar."

Di perusahaan CX Company, Caesar melihat semua yang dilakukan Helena dari CCTV yang dia retas. Caesar mengepalkan tangannya saat mendengar rencana Helena yang menyuruh seseorang untuk menghabisi Brian.

"Saya tidak akan biarkan kamu melukainya, Helena," ucap Caesar dingin.

"Sudah jam 12. Haa, saya lupa menjemput Brian." Caesar mengambil kunci mobilnya untuk menjemput Brian.

Para karyawan menunduk takut saat melihat Caesar keluar dengan wajah dinginnya.

Sekitar 15 menit, Caesar akhirnya sampai. Dia langsung turun dan masuk ke kafe milik Tian.

Clang!

Banyak pasang mata menoleh dan langsung terpana dengan ketampanan Caesar.

"Tuh, calon pacar jemput lo tuh, Brian," ucap Elvian.

"Dih, ogah ya! Elo aja tuh yang jadi pacar dia," ucap Brian.

"Elvian kan sudah ada Aa Maxime," ucap Revangga.

"Dan lo juga punya Michael." Seketika pipi Revangga langsung memerah.

"Salting nih, yeeeee!" goda Elvian.

"Ap-apaan sih!" jawab Revangga gugup sambil mencubit pelan tangan Elvian.

"Kenapa wajah kamu merah begitu, Revan?" tanya Tian yang baru datang.

"Kak Tian tahu, enggak? Seminggu yang lalu Michael datang mengungkapkan perasaannya ke Revangga, dan Kakak tahu? Revangga malah mengiyakan, loh!" ucap Elvian.

Tian menatar Revangga yang langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. "Benar yang dikatakan El?"

Revangga mengangguk.

"Kenapa kamu mau langsung iya? Bukannya kamu sama Michael baru bertemu sekali? Itupun karena dia menyelamatkan kamu," ucap Tian.

"Aku enggak tahu, Kak. Tiba-tiba saja mulut ini bilang iya. Lagian aku lihat Michael orangnya baik dan mau menolong aku yang enggak dia kenal," ucap Revangga.

"Maaf saya terlambat. Mau pulang sekarang?" ucap Caesar yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat mereka.

"Gue bisa pulang sendiri," ketus Brian.

"Tidak ada penolakan," ucap Caesar sambil menatap tajam Brian.

"Elo tuh sebenarnya mau apa, sih? Gue enggak mau ya lo paksa-paksa!" ucap Brian.

"Ikut saya, atau saya hancurkan kafe ini," ancam Caesar.

"Elo ngancurin kafe ini, gue hajar lo sampai mampus!" ucap Brian meradang.

"Kamu tidak akan bisa, Brian," ucap Caesar dengan senyum miringnya.

Srek!

Caesar tiba-tiba menggendong Brian secara paksa.

"Arghhhh, sialan! Lo ngagetin, bangsat! Turunin gue, sialan!" teriak Brian marah.

Plak!

Caesar menampar pantat Brian, membuat pemuda itu terdiam karena malu dilihat banyak orang.

"Diam, atau saya tampar lagi pantat kamu," ucap Caesar.

(Malu banget, sial!) ucap Brian dalam hati.

Bruk!

Caesar mendudukkan Brian di kursi mobil dengan kasar.

"Shhhh, bisa pelan enggak, bangsat? Sakit nih pinggang gue!" kesal Brian.

"Sekali lagi bilang seperti itu, saya cium kamu," ancam Caesar.

"Bangsat—"

Cup!

"Hemmm, mmmpp, bang... mmm..."

Caesar mencium bibir Brian dengan kasar.

Puk! Puk!

Caesar melepaskan ciumannya saat Brian menepuk dadanya karena kehabisan napas.

"Ha... ha... ha... bang... hemmm, mpphm!"

Caesar terus mencium Brian secara kasar, hingga akhirnya karena kehabisan napas,

"Ha... ha... ha... bang... hemmm, mpphm!"

Caesar terus mencium Brian secara kasar, hingga akhirnya karena kehabisan napas, Brian pingsan.

"Mine," bisik Caesar. Dia menghidupkan mobilnya untuk menuju ke apartemen miliknya, bukan ke mansion milik Benedict.

Di kafe, hanya tinggal Tian, Revangga, dan Elvian yang masih bekerja. Saat ingin melayani pelanggan, Tian tanpa sengaja melihat seorang anak kecil yang menangis di pinggir jalan.

Tian yang tidak tega melihat anak kecil itu—yang sepertinya sendirian, apalagi banyak mobil dan motor yang berlalu-lalang—memutuskan untuk menghampirinya.

"Revan, kamu bisa antar minuman ini ke meja nomor 3, ya? Kakak mau ke depan dulu," ucap Tian.

"Iya, Kak," Revangga mengambil nampan di tangan Tian.

Tian keluar dari kafe dan mendekati anak tersebut. "Dek, kenapa bisa di sini?" Tian mencari seseorang yang mungkin berada di sekitar sana, tetapi tidak menemukan siapa pun. "Adek sendiri? Di mana orang tua Adek, hm?" tanya Tian.

Anak kecil itu hanya menggeleng.

"Ikut Kakak, ya? Jangan takut, Kakak orang baik, kok. Mau, ya?"

Anak kecil itu mengangguk. Tian memegang tangan anak kecil itu dan membawanya ke dalam kafe.

Cling!

"Adek duduk di sini dulu, ya. Kakak buatkan minuman dulu." Anak kecil itu kembali mengangguk.

Elvian dan Revangga yang melihat seorang anak kecil sedang duduk langsung menghampirinya.

"Adek sendiri? Di mana orang tuanya?" tanya Elvian dengan lembut.

Tian datang membawa segelas jus jeruk. "Ayo diminum, Dek."

Anak kecil itu meminumnya dengan sekali tegukan.

"Sepertinya dia benar-benar kehausan," ucap Tian.

"Nih bocah siapa, Kak?" tanya Elvian.

"Kakak enggak tahu. Kakak tadi enggak sengaja lihat anak ini duduk di pinggir jalan. Karena takut terjadi apa-apa, Kakak bawa ke sini," ucap Tian.

"Orang tuanya kemana?" tanya Revangga.

Tian mengangkat bahunya tanda tidak tahu.

"nama adek siapa, dan di mana rumah adek ?" tanya Tian dengan mengelus rambut hitam anak kecil itu.

"aku rendra kak, Daddy ku namanya Daddy Smith" Ucap rendra

"Smith pernah dengar nama itu tapi lupa pernah dengar di Mana kalian ada yang tau ?" bertanya ke revangga dan Elvian

Tapi dua pemuda itu hanya geleng-geleng kepala karena tidak tau Smith.

1
fakhri
Lanjutkan, semangat berkarya 😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!