Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Kedua Di Atas Luka

Cinta Kedua Di Atas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:41.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.

Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.

Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.

Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28

Kabar bahwa Serina akhirnya menerima Jovan sebagai calon suaminya ternyata belum berhenti sampai di telinga Darren dan Tuan Marcell.

Ada satu orang lagi yang harus diberi tahu. Yakni Leo.

Sore itu, Jovan menemui sahabat sekaligus asistennya di garasi pribadi kediamannya. Leo sedang memeriksa beberapa perlengkapan balap ketika suara langkah Jovan membuatnya menoleh.

"Lo mau ke mana?" tanya Leo.

Jovan bersandar pada mobil sport merahnya sambil tersenyum.

"Gue mau kasih kabar."

Leo langsung menghentikan kegiatannya. "Kabar apa?"

Jovan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Gue sama Serina bakal menikah."

Leo terdiam. Tangannya yang memegang kain lap bahkan berhenti di udara.

"Ha?"

Jovan tertawa kecil.

"Lo nggak salah dengar."

"Serius?"

"Iya."

Leo berjalan mendekat. "Serina benar-benar menerima lo?"

"Dia menerima lamaranku."

Leo mengusap wajahnya. "Astaga..."

Ia berjalan mondar-mandir di depan Jovan.

"Gue masih ingat beberapa waktu lalu lo bahkan bilang lo cuma mau melindungi dia dan Farel."

"Memang."

"Terus sekarang lo mau menikah?"

Jovan mengangguk. "Karena gue sadar... gue nggak cuma ingin melindungi mereka."

Leo berhenti. Jovan menatap ke arah halaman.

"Gue ingin tetap berada di sisi mereka."

Leo memperhatikan wajah sahabatnya.Ada sesuatu yang berbeda dari Jovan. Tidak ada kesombongan.

Tidak ada sikap urakan seperti dulu. Yang terlihat hanya ketulusan seorang pria yang sudah menemukan sesuatu yang ingin dipertahankannya.

"Lo benar-benar serius, ya?"

"Serius."

Leo menghela napas. "Kalau begitu, selamat, Bro."

Jovan tersenyum. "Terima kasih."

Namun sebelum percakapan mereka berlanjut, Tuan Marcell datang menghampiri.

"Jovan."

Jovan menoleh.

"Iya, Dad?"

"Daddy ingin kamu mengajak Serina dan Farel ke mansion malam ini."

Jovan mengernyit. "Ke mansion?"

"Iya." Tuan Marcell tersenyum tipis. "Daddy ingin makan malam bersama mereka."

Jovan tampak sedikit terkejut. "Serius?"

"Serius." Tuan Marcell kemudian menambahkan,

" Daddy ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian."

Jovan mengangguk. "Baik, Dad."

Beberapa menit kemudian, Jovan menghubungi Serina. Panggilan itu diangkat setelah beberapa dering.

"Halo, Jovan?"

"Serina, malam ini kamu ada acara?" Serina yang sedang melipat pakaian Farel langsung berhenti.

"Sepertinya tidak. Kenapa?"

"Daddy mengundang kamu dan Farel makan malam di mansion."

Suasana tiba-tiba hening. Serina menatap pakaian di tangannya.

"Mansion?"

"Iya."

"Jovan..." Nada suara Serina berubah. "Aku takut."

Jovan langsung memahami kekhawatirannya. "Takut apa?"

"Aku belum pernah bertemu keluarga besarmu dalam suasana seperti itu." Serina menelan ludah. "Aku takut mereka tidak menerima aku."

"Serina." Suara Jovan terdengar lembut.

"Kamu nggak perlu takut."

"Tapi..."

"Daddy sudah tahu dan menyetujui rencana pernikahan kita."

Serina terdiam.

"Dan Farel juga diundang."

Jovan tersenyum meskipun Serina tidak bisa melihatnya. "Anggap saja ini makan malam biasa."

"Bagaimana mungkin makan malam di mansion keluarga Narendra disebut biasa?"

Jovan tertawa. "Kalau begitu anggap aku yang menemani kamu."

Serina terdiam beberapa saat. "Jovan..."

"Hm?"

"Kalau aku tidak nyaman, kita pulang."

"Setuju."

"Dan kalau Farel ingin pulang?"

"Kita pulang."

"Dan kalau keluargamu..."

Jovan langsung memotong lembut. "Serina, aku ada di sana."

Kalimat sederhana itu membuat hati Serina sedikit lebih tenang.

Jovan kemudian berkata, "Percaya sama aku."

Serina menghela napas panjang. "Baiklah."

Senyum Jovan langsung muncul. "Jadi kamu mau?"

"Iya."

"Terima kasih."

Menjelang malam, sebuah mobil berhenti di depan rumah kontrakan Serina.

Jovan turun. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dengan celana panjang hitam. Tidak berlebihan, tetapi tetap terlihat rapi dan elegan.

Ia mengetuk pintu. Tidak lama kemudian, pintu terbuka.Dan Jovan...terdiam.

Serina berdiri di hadapannya.Wanita itu mengenakan dress sederhana berwarna lembut dengan potongan yang anggun. Rambutnya ditata sederhana, sementara wajahnya hanya dipoles tipis.

Tidak ada perhiasan mewah, tidak ada gaun mahal dan tidak ada sesuatu yang berlebihan.

Namun justru kesederhanaan itu membuat Jovan sulit mengalihkan pandangannya.

Serina mengerutkan keningnya.

"Kenapa?"

Jovan masih diam.

"Jovan?"

"Oh..."

Jovan tersadar.

"Kamu..." Ia tersenyum. "Kelihatan cantik."

Serina langsung salah tingkah. "Jangan bercanda."

"Aku serius." Jovan kemudian melihat seseorang yang berdiri di belakang Serina, yakni Farel.

Bocah itu mengenakan kemeja kecil dengan celana panjang yang membuatnya terlihat sangat menggemaskan.

Farel langsung berlari. "Om Jovan!"

Jovan berjongkok dan membuka kedua tangannya.

"Jagoan Om!"

Farel langsung memeluknya. Jovan mengangkat tubuh kecil itu. "Wah, ganteng banget."

"Farel mau ke rumah Om Jovan!"

Jovan tertawa.

"Rumah Om Jovan?"

"Mansion!"

Jovan terkekeh.

"Iya. Mansion."

Serina keluar sambil membawa tas kecilnya. "Sudah siap?"

"Sudah."

Jovan membuka pintu mobil untuk Serina. Setelah Serina masuk, ia kembali membantu Farel.

Sepanjang perjalanan, Farel terus bertanya tentang mansion.

"Besarnya kayak istana?"

"Kurang lebih."

"Ada kolam renang?"

"Ada."

"Robot?"

Jovan tertawa.

"Kalau robot nggak ada."

Farel langsung cemberut.

"Nanti Om belikan."

Serina menatap keduanya melalui kaca spion.

Untuk sesaat, hatinya terasa hangat.

Mansion Narendra terlihat megah ketika mobil Jovan memasuki halaman. Lampu-lampu taman menyala terang. Farel sampai membuka mulut karena kagum.

"Wah..."

Jovan tersenyum. "Selamat datang."

Serina menarik napas panjang.Jovan menyadarinya.

Ia menoleh. "Tenang, Serina...."

Serina mengangguk. Begitu mereka masuk ke dalam mansion, Tuan Marcell sudah menunggu. Wajah pria itu langsung berubah hangat ketika melihat Farel.

"Farel?"

Farel bersembunyi sebentar di balik tubuhnya Jovan.

Jovan tersenyum.

"Farel, ini Kakek Marcell."

Farel mengintip. "Halo, Kek."

Tuan Marcell tertawa. "Halo, Farel." Ia kemudian mengulurkan tangannya. "Mau salaman?"

Farel perlahan maju dan menjabat tangan Tuan Marcell.Tuan Marcell tersenyum lebar. "Anak pintar."

Serina membungkukkan kepalanya sopan. "Selamat malam, Tuan."

"Jangan terlalu formal."

Tuan Marcell tersenyum. "Kamu bisa memanggil saya Daddy, kalau memang nanti Jovan menjadi suamimu."

Serina sedikit terkejut. "Baik..."

Dari belakang, Marcella muncul. Ia mengenakan pakaian elegan dengan perhiasan yang berkilauan.

"Selamat datang." Senyumnya terlihat ramah.

Namun tatapan matanya bergerak dari ujung kepala sampai kaki Serina.

Dress sederhana.

Tas kecil.

Sepatu sederhana.

Kemudian pandangannya beralih kepada Farel.

Marcella tersenyum.

"Ini Farel?"

"Iya," jawab Jovan.

Marcella berjongkok di depan Farel. "Lucu sekali."

Farel hanya tersenyum malu.Namun ketika berdiri kembali, tatapan Marcella kepada Serina berubah sesaat. Ada sesuatu yang merendahkan di dalamnya. Sesuatu yang hanya terlihat oleh Jovan karena ia berdiri cukup dekat.

Jovan langsung meraih tangan Serina. Tidak menggenggam terlalu erat.Hanya memberi isyarat bahwa ia ada di sampingnya.Serina menoleh.

Tatapan mereka bertemu. Jovan tersenyum.

Dan Serina sedikit lebih tenang.

"Sudah lama kita menunggu kalian," ujar Tuan Marcell.

Jovan mengangguk.

"Maaf terlambat."

"Tidak apa-apa."

Tuan Marcell kemudian menatap Serina.

"Malam ini bukan untuk membicarakan hal-hal yang membuat kamu tidak nyaman."

Serina mengangguk.

"Kami hanya ingin mengenalmu lebih dekat."

Sementara itu...

Di tempat lain, di kantor kepolisian.Darren masih duduk di balik meja kerjanya.Tumpukan berkas berada di hadapannya.Jam sudah menunjukkan malam. Seorang anggota masuk.

"Pak, apa Bapak tidak pulang?"

Darren tetap membaca berkas.

"Masih ada pekerjaan."

"Ini sudah malam, Pak."

"Masih ada beberapa laporan yang harus saya selesaikan."

Anggota itu mengangguk lalu keluar.

Darren menyandarkan tubuhnya. Sebenarnya pekerjaan bukan satu-satunya alasan ia masih berada di kantor. Ia tahu malam ini Jovan membawa Serina dan Farel ke mansion. Ia tahu keluarganya akan makan malam bersama wanita yang selama ini diam-diam masih ia cintai.

Dan untuk pertama kalinya...Darren memilih tidak pulang. Bukan karena ia membenci Jovan. Bukan karena ia tidak bahagia atas keputusan adiknya.

Justru karena ia tahu dirinya sendiri. Ia takut ketika melihat Serina duduk di meja makan keluarga Narendra sebagai calon istrinya Jovan.

Takut bahwa wajahnya akan mengkhianati perasaan yang selama ini ia sembunyikan. Darren memejamkan matanya sejenak.

"Selamat bahagia, Serina..." Bisiknya lirih.

Kemudian ia kembali membuka berkas di hadapannya. Malam itu, Darren memilih pekerjaannya sebagai tempat bersembunyi dari perasaan sendiri.

Sementara di Mansion Narendra...

sebuah keluarga sedang duduk bersama untuk pertama kalinya. Dan tanpa disadari Serina...

malam itu akan menjadi awal dari babak baru dalam hidupnya.

Bersambung...

1
vania larasati
lanjut kak
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Semoga itu jodohnya Daren 👍
Nar Sih
jodoh mu sdh otw ya daren
Nar Sih
seperti nya ini awal kisah cinta daren
Sri Angga
semoga menjadi jodoh mu y pak polisi Daren
Lucy
ini jodohnya Daren🤣🤣biar dia GK trlalu memikirkan Serina lagi👍👍👍
Oma Gavin
jodoh Darren ini
vania larasati
lanjutt kak
vania larasati
lanjut kak
Nar Sih
ahir nya kbnr terungkap ,semoga gk ada mslh lgi yg sulit dlm rmh tangga jovan serina
Nar Sih
ahir nya ketangkap oleh ank sendiri🤣
Nadja 🎀
waah sebentar lagi terbongkar misteri knp ibunya jovan died? alasannya...
Lucy
mampus kau Marcella ketakutan juga kan,KLO Daren dah bertindak jgn kau berharap akan lolos ttp mendekam di jeruji besi😃😃😃
Lucy
Daren terus semngat bantu Jovan jgn sampai ibumu dan Jenifer berhasil menghancurkan Jovan 👍
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
main lo kalian kurang bersih say... 😏
Oma Gavin
ngga perlu berputar putar masalah marcella dan jovan segera aja dibongkar Darren kamu jgn ngulur" waktu keburu marcella kabor dia sudah feeling kamu yg selidiki otomatis dia akan cari aman sendiri tanpa peduli sama jenifer
vania larasati
lanjut kak
Nar Sih
tunggu bntr lgi kedok kejhtn mu terbongkar oleh putra mu sendiri ,marcela🤣🤣
Nar Sih
semagat dareen💪usut tuntas kasus adik mu walau tersangka nya mungkin ibu mu sendiri
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!