Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.
Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.
Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ghumaisya Aditya
Pagi sudah menyapa. Hawa dingin berkabut di sekitar bukit membuat tulang-tulang terasa ngilu. Aku keluar dari tenda sambil mengeratkan jaket tebal. Kak Revan sedari subuh sudah tidak ada, mungkin dia sudah berkeliling untuk mengecek kondisi kesehatan para warga.
Aku mulai melangkah keluar. Pemandangan dari sini sangat indah, sejuk, dan menyegarkan mata dengan hamparan hijau, halaman luar yang dikelilingi oleh perbukitan.
Aroma masakan sudah tercium. Para warga pengungsi sangat kompak sekali. Semangat mereka tidak luntur walau dalam kondisi genting seperti ini.
“Hu... hu... hu... Bapak...” Terdengar rintihan suara tangis.
Aku mencari sumber suara tersebut. Ternyata di balik pohon besar, ada anak laki-laki yang kemarin menawarkan abangnya untukku. Dia menangis sambil bertekuk lutut. Pipinya terlihat basah oleh air mata. Anak kecil ini seperti sedang menarik diri dari teman-teman yang lainnya.
Aku melangkah pelan mendekat.
“Kenapa...?” Aku belum tahu namanya.
“Bu Guru...” serunya. Anak laki-laki ini cepat menyusut air matanya.
“Kenapa nangis? Itu sudah ditunggu teman-temannya untuk main.” Aku mengusap pundaknya pelan.
“Bu Guru tahu, semalam adikku sudah lahir. Tapi Bapak belum juga ditemukan di reruntuhan tanah longsor....”
Deg...
Hatiku terasa begitu perih. Ternyata anak laki-laki ini adalah putra dari Bu Riska. Dan ayahnya belum juga ditemukan sejak empat hari yang lalu. Aku teringat dengan perjuangan Bu Riska semalam, melahirkan sang buah hati tanpa didampingi oleh seorang suami.
Betapa sedihnya Bu Riska. Allah menghadirkan orang baru untuknya, tapi dia juga masih kehilangan orang tercintanya.
“Kamu namanya siapa?” tanyaku sambil mengusap-usap bahunya.
“Namaku Adit, Bu Guru...”
Adit, nama yang sama dengan nama panjang Kak Revan.
“Nama yang bagus. Bu Guru suka sekali. Adit, sudah lihat wajah adiknya?”
Adit menggeleng pelan. Sebuah kesedihan yang begitu dalam sangat terlihat pada wajahnya. Aku bisa merasakannya. Kehilangan seseorang yang sangat kita sayangi merupakan ujian yang sangat berat.
“Adit nggak berani, Bu Guru. Adit sedih sekali. Jika lihat wajah adik, Adit akan teringat dengan Bapak. Bapak yang selama ini menantikan adik lahir ke dunia, tapi Bapak....”
“Syut....”
Aku mendekap erat Adit ke dalam pelukan, membiarkan anak laki-laki yang berusia sekitar tujuh tahun itu menangis tersedu-sedu.
“Adit... Bu Guru antar, ya. Pasti Mama Riska juga ingin lihat Adit, melihat adik Adit yang baru lahir. Dia sangat cantik sekali.”
Akhirnya Adit mengangguk. Senyum samar terukir pada wajahnya. Kemudian, dia sendiri yang menuntunku untuk masuk ke dalam tenda.
“Adit... Nak, Mama tunggu dari semalam...” Bu Riska langsung menyambut kedatangan Adit yang baru sampai di ambang pintu tenda.
Aku baru sadar Kak Revan juga ada di sana, sedang mengganti cairan infus Bu Riska.
Aku berjalan mendekat. Kak Revan menoleh sekilas ke arahku, kemudian pria itu melanjutkan kegiatannya dengan tenang.
“Adit nangis, ya, Bu Guru?”
Aku mengangguk sambil tersenyum ke arah Bu Riska. “Adit terharu, Bu. Adik yang ditunggu-tunggu juga akhirnya lahir...”
Seketika Bu Riska berkaca-kaca sambil mengusap-usap puncak kepala Adit. Aku paham apa yang sedang dirasakan Bu Riska. Walau hatinya sedang merasa sesak dan perih, dia tetap berusaha memberikan ketenangan untuk putranya.
Bu Riska dan Adit sama-sama berpelukan sambil menangis.
“Relakan Bapak, ya, Nak. Kalau Bapak memang sudah tidak bisa bersama kita lagi.”
Seketika air mataku juga ikut turun, namun cepat aku usap dan mengalihkan pandangan pada bayi mungil yang lucu, yang sedang bergerak-gerak kecil.
Aku menyentuh lembut tubuh kecil yang masih terlihat merah itu.
“Bu Riska meminta kamu untuk memberi nama putrinya.”
“Hem?” Aku menoleh pada Kak Revan yang berada di sampingku.
“Oh iya, Bu Guru... boleh tolong berikan nama untuk putri ini?”
“Apa, Kak...? Aku belum bisa berpikir. Aku masih terbawa perasaan sedih...” Aku menunduk di hadapan Kak Revan, mengusap air mata yang kembali turun. Sampai terasa tepukan pelan di bahuku.
“Alya masih terbawa perasaan, Bu...”
Aku menarik napas pelan, kembali menghadap pada Bu Riska.
“Aku salut sekali sama Ibu. Bu Riska begitu sangat kuat. Aku bisa belajar tentang keikhlasan yang begitu dalam dari Ibu.”
“Untuk nama... bolehkah aku memberikan nama panjangku untuk putri Ibu?”
“Boleh sekali, Bu Guru. Apa pun itu, saya harap nama yang diberikan oleh Bu Guru memiliki makna yang baik.”
Aku mengangguk.
“Namanya Ghumaisya, sosok perempuan yang dikenal dalam kisah Islam karena keteguhan dan kesabarannya.”
Bu Riska tampak kembali mengusap air matanya. Lalu, dia melirik ke arah Kak Revan.
“Gabungan dari nama Pak Dokter dan Bu Guru Alya boleh? Karena Pak Dokter juga berperan besar dalam kelahiran Ghumaisya.”
Aku melirik ke arah Kak Revan. Tanpa terlihat keberatan, Kak Revan mengangguk. Dengan senyum tipis yang terukir di wajahnya, guratan wajah tampan dan manis itu semakin terlihat berwibawa.
“Aditya, Ghumaisya Aditya...” Suara bariton itu terdengar lirih dan lembut.
Saat Kak Revan menyebut nama gabungan kami, hati ini kembali berdesir hangat.
“Bagus sekali... jadi maknanya apa jika seperti itu?”
“Perempuan yang tabah dan menjadi cahaya atau harapan,” jawabku pelan, sambil menahan sesak yang menyelimuti dada.
“Terima kasih, Pak Dokter dan Bu Guru. Seperti kedatangan kalian yang bagaikan pelita bagi kami. Saya ucapkan banyak terima kasih. Semoga hubungan kalian terus berjalan dengan baik dan cepat diberi momongan.”
“Terima kasih banyak, Bu Guru Alya dan Pak Dokter Revan. Adit juga sangat senang...”
Entah mengapa, dalam hati ini aku mengaminkan apa yang diucapkan oleh Bu Riska. Tapi entah apa yang sedang dipikirkan oleh Kak Revan sekarang.
🌸🌸🌸
Aku dan Kak Revan berjalan bersisian, menikmati udara segar dengan pemandangan yang sangat indah walau berselimut kabut.
“Aku betah di sini, Kak. Bisa menghilangkan sedikit penat...”
“Aku juga...” jawab Kak Revan singkat, sorot matanya tertuju pada perbukitan di ujung sana.
“Walaupun berjauhan dengan Aira?”
“Heem, mungkin Aira benar. Hubungan kita sepertinya harus berhenti sejenak dulu.”
“Sampai kepastian itu datang...” sanggahku, membuat Kak Revan mengerutkan alisnya. Kemudian, Kak Revan menarik tanganku untuk duduk di kursi bawah pohon.
“Mungkin, sudahlah, Alya. Aku ingin menikmati udara segar pagi ini tanpa melihat air matamu yang turun lagi.”
Aku hanya terkekeh. Setelah belajar tentang keikhlasan yang begitu banyak dari para warga di sini, hatiku makin terasa ringan dan ikhlas akan sebuah takdir.
“Kenapa ketawa?” Kak Revan menaikkan sebelah alisnya.
Aku menggeleng pelan.
“Kejadian malam itu, jujur saja, membuatku sakit hati, Kak. Tapi ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu. Tapi kamu jangan tersinggung, ya...”
“Apa?” Kak Revan tidak menoleh ke arahku.
“Apa Kak Revan sudah pernah melakukan hal itu sebelum bersamaku? Kenapa Kak Revan begitu sangat terlatih seperti orang yang sudah berpengalaman?”
Sontak, Kak Revan melebarkan kedua bola matanya. Sorot matanya tajam menatapku.
Satu tangannya terangkat dan...
Tuing...
Dia mendaratkan sentilan pelan pada keningku.
“Aku tidak sebejat itu. Tolong hilangkan prasangka burukmu padaku, Alya.”
Aku hanya bisa mengusap dahi sambil memangku dagu, menunggu kalimat apa lagi yang akan keluar dari mulut pria di sebelahku.
“Kamu tahu, aku seorang dokter. Materi soal itu sudah aku pelajari dengan matang.”
“Ya, maaf. Aku hanya takut saja.”
“Kak Revan... bagaimana kalau...?”
Bersambung...
Jangan lupa like, komen, dan subscribe, ya, readers 🤩
Bantu semangati author....