Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Laras yang Tidak Menembak
#
Garasi itu sunyi. Hanya mesin mobil yang berdengung rendah, dan napas Dimas yang tersendat di pelukan Wartini.
Alessia tidak berkata apa-apa. Laras pistolnya menempel tepat di tengah dada Bima, dan dari jarak sedekat itu Bima bisa melihat hal yang tidak pernah ia lihat di warung, di kapal, atau di ruang bawah tanah. Tangan perempuan itu bergetar. Bukan getar halus seperti tadi di pernikahan. Getar yang membuat ujung laras bergerak kecil ke kiri, ke kanan, seperti jarum kompas yang kehilangan utara.
"Alessia."
Itu pertama kalinya ia menyebut nama itu tanpa "Mbak". Bima sendiri kaget mendengarnya.
"Jangan panggil aku begitu."
"Itu namamu."
"Itu nama yang dipakai orang yang akan aku bunuh." Suaranya datar, tapi matanya basah dan ia tidak mengedip. "Ayahku bilang sebelum subuh."
"Ayahmu juga bilang dia sudah mati, selama dua belas tahun."
"Aku yang bilang itu."
"Dan kamu percaya sampai hari ini. Sekarang kamu percaya telepon dari nomor yang bahkan Rico nggak pernah lihat orangnya?"
Alessia tidak menjawab. Di belakang Bima, Wartini menggumamkan doa dengan suara nyaris hilang. Dimas menutup telinga dengan kedua tangan.
"Kalau mau tembak, tembak," kata Bima. Ia melangkah satu langkah, dan laras itu menempel di kausnya. "Tapi lihat dulu hal yang kamu lewatkan."
"Apa?"
"Dia tahu kamu menikah dengan saya. Dia tahu saya di samping kamu. Dia tahu kamu punya pistol di tangan. Dan dia nggak tanya satu pun soal kamu. Bahu kamu ditembak. Kamu berdarah. Dia nggak nanya."
Alessia berkedip.
Hanya sekali. Tapi Bima melihatnya, dan di detik itu ia tahu ia sudah menyentuh sesuatu yang benar.
"Ayahmu," lanjutnya pelan, "yang mana pun dari mereka, nggak ada yang tanya apa kamu baik-baik saja."
Ponsel di tangan kiri Alessia masih menyala. Suara di seberang berkata, "Alessia? Alessia, jangan ragu. Kamu tahu apa yang harus dilakukan," dan nadanya persis seperti orang yang membaca dari naskah.
Alessia menurunkan pistol. Pelan, sangat pelan. Lalu tanpa melepas matanya dari Bima, ia menekan tombol merah di ponsel.
"Itu bukan Ayah," katanya, dan suaranya pecah di kata terakhir. "Ayah tidak pernah memanggilku anakku. Dia memanggilku Lia."
---
Rico menunduk di setir, bahunya terguncang. "Saya... saya kira..."
"Kamu dibohongi," kata Marta dingin. "Seperti kita semua."
"Dia bicara pakai suara Pak Matteo. Persis. Batuknya, jedanya..."
"Rekaman." Alessia membuka laci dasbor dengan tangan kiri dan menemukan sebuah kotak kecil berisi pita-pita kaset. Pita itu berlabel tulisan tangan, tanggal-tanggal, dua belas tahun ke belakang. "Atau suara yang dilatih. Giovanni punya cukup waktu untuk keduanya."
"Jadi Hadi Ardhana..." Wartini menahan napas. "Yang di mobil tadi, yang Ibu lihat..."
"Mungkin juga bukan," kata Alessia. Ia menatap Wartini lama. "Ibu bilang kenal tulisan, kenal batuknya. Orang bisa menirukan keduanya."
"Tapi mukanya, Nak."
"Sebagian wajah tertutup bayangan dan kaca gelap."
Wartini tidak membantah. Ia hanya menutup mata, dan Bima melihat air mata turun pelan dari sudutnya. Harapan yang baru tumbuh sehari sudah kembali diragukan.
Bima menoleh ke Alessia. "Jadi yang mana? Ayahmu hidup, ayahku hidup, atau dua-duanya mati dan seseorang main sandiwara?"
"Aku tidak tahu."
"Mbak..." Ia menelan kata itu. "Alessia."
"Aku tidak tahu, Bima." Ia menyandarkan dahi ke pintu mobil sebentar, bahunya yang berdarah naik turun. "Pertama kali dalam hidupku aku tidak tahu."
Bima mengulurkan tangan. Ia menyentuh lengan atasnya yang sehat, ringan, hampir seperti ragu. Alessia tidak menepis. Ia hanya menutup mata, dan untuk beberapa detik tidak ada perintah, tidak ada kontrak, tidak ada gelar.
Lalu ponsel di tangannya bergetar lagi. Pesan teks, bukan panggilan.
*Bagus. Kamu tidak menembaknya. Itu berarti ujian pertama lulus.*
Alessia membaca, lalu membaca lagi, dan wajahnya perlahan mengeras.
"Ujian," katanya.
Pesan kedua masuk.
*Ujian kedua: lihat ke kursi belakang mobilmu. Yang duduk di sebelah Dimas bukan lagi pelayan Wartini.*
Bima menoleh serentak dengan Alessia.
Dimas duduk di tengah kursi belakang, selendang Wartini menutup separuh wajahnya. Di sampingnya, Wartini menunduk, selendang di bahu. Dan di kursi paling ujung, nyaris tidak terlihat di bayangan jendela, ada orang ketiga yang tidak ada tadi.
Rambut putih disanggul rendah. Tangan di pangkuan, memakai cincin perak tipis di jari manis.
Carla Vieri tersenyum, dan di tangan satunya yang selama ini tersembunyi di balik rok, ia memegang sebuah detonator kecil dengan ibu jari menekan tombol.
"Selamat malam, Cucuku," katanya. "Giovanni memasang bom di bawah mobil ini sebelum kalian turun. Dan aku yang memegang tombolnya."
Wartini membuka mata. Menatap mertua palsu itu, dan dalam suara yang sangat kecil, ia berkata, "Bu Carla... sejak kapan Ibu duduk di sini?"
"Sejak sebelum kalian menyalakan mesin, Wartini." Ibu jarinya tidak bergeser dari tombol. "Dan jangan ada yang keluar. Karena sekarang yang menentukan siapa yang hidup malam ini bukan Giovanni. Bukan Hadi. Bukan Matteo."
Ia menatap Bima.
"Tapi kamu, Nak. Dan satu pertanyaan yang belum pernah ada yang berani menanyakan padamu."
"Pertanyaan apa?"
Carla menarik napas dalam, seolah menanggung sesuatu yang sudah terlalu lama ia tahan.
"Apa kamu tahu," katanya pelan, "bahwa ayahmu tidak pernah mati karena sakit jantung? Dan bahwa kamu, Bima, ada di dalam mobil itu malam ia tiba."