18+
Lucia Jayanti, wanita cantik berumur 27 tahun, seorang ibu tunggal yang bekerja keras bertahan hidup bersama putri semata wayangnya.
Aldrich Mahendra, seorang Casanova, muda,tampan dan kaya. Dia tidak pernah mencintai wanita. Baginya, wanita hanyalah hiburan satu malam.
Tapi takdir mempertemukan mereka berdua, akankah Aldrich merubah pandangannya tentang wanita setelah bertemu Lucia?
Ikuti kisah mereka yuk...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggil aku Al!
"Al... eh, siapa Lo?"
Seorang wanita cantik, memakai hot pant dan t-shirt yang terlihat kekecilan di badannya sampai perut dan pusarnya nampak, berdiri di ambang pintu dan menatap Luci dengan sinis.
"Mau cari siapa ya?" Tanya Luci.
"Gue yang tanya, Lo siapa? kok ada di rumah pacar gue?" Ketusnya.
"Saya pembantu di sini. Mau nyari Tuan Aldrich ya, sebentar saya panggilkan." Luci mempersilahkan tamu tak di undang itu untuk masuk. Lalu meninggalkannya dan berjalan menuju lantai dua untuk memanggil Aldrich.
Sebenarnya Luci sangat kesal, dia memang tahu Aldrich adalah seorang play boy, tapi hatinya tetap tak suka.
"Dulu cewek berambut panjang sekarang cewek rambut pendek!" cebik Luci sambil mengetuk pintu kamar majikannya yang sekarang sudah berganti status jadi pacarnya.
"Tuan."
"Masuk aja."
Luci membuka pintu dengan perlahan lalu berjalan masuk.
Tapi saat masuk di dalam kamar majikannya, dia tak mendapati majikannya itu di manapun.
"Lho? tadi ada suaranya. Di mana dia?" Luci celingukan.
"Sudah jadi, bubur nya?" Tiba-tiba Aldrich keluar dari kamar mandi yang ada di dalam kamarnya hanya dengan selembar handuk yang melingkar di pinggangnya.
Luci terkejut dan dengan spontan menutup matanya. Setiap melihat kotak tahu itu, jantungnya pasti berpacu lebih cepat dari biasanya
"Kenapa?" Aldrich terkekeh melihat Luci yang salah tingkah.
"A-ada pacar Tuan di depan." Luci buru-buru membalik badannya agar tak terus terhanyut pemandangan indah yang di sodorkan Aldrich.
"Pacar? siapa? pacarku kan kamu."
Mendengar ucapan Aldrich barusan berhasil membuat wajah Luci memerah dan jantungnya salto tak terkendali. Luci bahkan sampai merasa takut kalau jantungnya sampai meloncat keluar.
"Ehem! Sa-saya nggak tahu. Dia bilang dia pacar Tuan."
Aldrich menarik Luci dan mendorongnya ke arah dinding dan mengurungnya dengan kedua tangannya. "Panggil aku, Al. Aku nggak suka di panggil 'tuan' terus!"
"Ta-tapi..."
"Panggil aku Al, atau ku cium sekarang juga." Bisik Aldrich sabil mendekatkan bibirnya ke arah Luci.
"Al, Aldrich." Balas Luci cepat, lalu dengan segara berlari keluar dari kamar.
"Stttht... gemas!" desis Aldrich sambil terkekeh dan memandang kepergian Luci.
.
"Oh, lo Jess, gue kira siapa." Aldrich menemui tamu yang di bicarakan Luci setelah memakai kaos polo favoritnya dan celana selutut yang biasa dia gunakan di rumah.
"Al, honey, gimana kamu sudah sehat?" Jessica yang melihat kedatangan Aldrich, langsung berlari mendekat dan memeluknya erat.
Luci yang saat itu datang membawa minum hanya mengerucutkan bibirnya sambil melirik sinis kearah Aldrich.
Aldrich berusaha melepaskan pelukan Jessica, tapi mustahil. Jessica menempel erat seperti di beri lem alteco.
"Kamu mau di pijat, yuk ku pijat."
"Nggak perlu, thanks." Aldrich masih berusaha melepaskan pelukan si Jessica.
"Kamu kenapa sih Al? kok sekarang cuek banget sama aku. Biasanya kamu paling senang kalau aku pi-"
Aldrich buru-buru menutup mulut Jessica, lalu pandangannya beredar mencari keberadaan Luci.
"Lo jangan ngomong macem-macem di sini!" Bentak Aldrich dengan lirih.
"Kenapa sih Al, kamu sudah dapet cewek yang bisa puasin kamu ya? sampai nggak mau sama aku lagi?"
Aldrich salah tingkah karena Luci kembali muncul dengan wajah yang lebih di tekuk dari pada tadi.
"Gue... gue sekarang sudah punya pacar Jess."
"Apa? siapa? Leony atau siapa?" Pekik Jessica.
"Dia," Aldrich menunjuk Luci dengan bola matanya.
Jessica menoleh ke arah Luci dan memekik, lalu tertawa terbahak-bahak.
"Dia Al? pembantu kamu? kamu sudah gila ya? hahaha... Lihat saja bajunya, persis nenek-nenek! sejak kapan selera cewek kamu jadi aneh begitu? hahaha.. pembantu? gila kamu, hahahaha.."
Aldrich membekap mulut Jessica sambil menyeretnya keluar dari rumah.
"Silahkan tertawa sepuas lo, tapi di luar, jangan di dalam rumah!" Setelah itu Aldrich membanting pintu rumahnya dengan keras lalu menguncinya agar Jessica tak bisa menerobos masuk.
"Al! Al! Aldrich Mahendra! buka pintunya!" Jessica berteriak-teriak marah sambil menggedor-gedor pintu rumah Aldrich.
"Jangan di buka! biarkan saja!" Perintah Aldrich sewaktu dia melihat Luci akan membuka pintu.
"Tega sekali dengan pacar sendiri." Decih Luci.
"Hey! dia bukan pacar ku ya! ingat itu." Aldrich melotot ke arah Luci.
Luci tak menjawab, dia hanya memanyunkan bibirnya.
"Kamu cemburu ya?" Aldrich mendekati Luci sambil tersenyum senang.
Luci tak menjawab, dia mengambil gelas yang sudah kosong karena tadi isinya sudah di habiskan Jessica, kemudian membawanya ke dapur.
"Jujurlah sayang," Aldrich mengejar Luci dan meraih pinggang ramping Luci.
"Om. Kenapa? lagi main kereta-kereta-an sama Mama ya?" Tiba-tiba Vin-vin muncul sambil masih mengucek matanya. Dia baru saja bangun tidur.
Luci dengan cepat melepaskan pegangan tangan Aldrich di pinggangnya lalu mendekati putri cantiknya, "Vin-vin sayang sudah bangun?" lalu menggendongnya.
"Mama bikin bubur ayam, makan yuk."
"Asiiikkk.. Vin-vin mau." Vin-vin melonjak girang.
"Tapi," Aldrich merebut Vin-vin dari gendongan Luci, "Vin-vin cuci muka dulu ya." Lalu membawa Vin-vin ke arah kamar mandi dan menurunkannya di depan pintunya.
"Om tunggu di meja makan ya, nanti kita makan sama-sama."
"Siap Om bos!" Ucap Vin-vin sambil mengangkat tangannya seperti saat melakukan upacara bendera, lalu dia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh muka bangun tidurnya.
Aldrich tergelak, lalu berjalan mendekati Luci.
"Setelah makan, gantilah baju. Aku ingin ajak kalian jalan-jalan." Lalu mengecup bibir Luci dengan singkat dan buru-buru duduk, takut Vin-vin memergokinya lagi.
Mendapatkan ciuman singkat itu, Luci terperangah, mulutnya bahkan masih melongo tak percaya.
Saat akan protes, Vin-vin keluar dari kamar mandi dan menghambur untuk duduk di dekat Aldrich.
"Setelah makan, Vin-vin mandi. Lalu kita bertiga jalan-jalan ya? mau nggak?" ajak Aldrich.
"Mau Om, mau! kita mau ke mana?"
"Terserah Vin-vin, mau ke tine zome juga boleh, nanti Vin-vin bisa mandi bola."
"Mandi bola?" Mata Vin-vin membulat, dia terlihat sangat senang.
"Tapi, janji dulu. Harus di habiskan makanannya."
"Siap, bos!" Vin-vin langsung melahap bubur ayam buatan Mama-nya tanpa banyak bicara lagi. Dia sudah tidak sabar untuk pergi bermain ke tempat yang Aldrich sebutkan tadi, karena selama ini Luci belum pernah mengajaknya bermain mandi bola. Dia sangat bersemangat karena penasaran.
Luci mendesah sambil memandang Aldrich yang terus tersenyum memperhatikan Vin-vin.
Dia cemas dengan sikap Aldrich yang sangat memanjakan Vin-vin. Luci takut jika Vin-vin terluka hatinya karena terlalu menyukai Aldrich karena Luci sendiri tidak yakin apakah Aldrich akan tetap menyukainya? sampai kapankah Aldrich memiliki perasaan suka ini?
Dan saat Aldrich bosan lalu menjauh, bagaimana Luci akan menghibur Vin-vin nantinya?
yang suka sama devian itu loh?
key atau apalah itu jadi itu tho
kirain apa gua juga bingung jadi Devi pas denger cerita keluarga vivin
ya kali aku bacanya di mulai dari 3-1-2 Kanan aneh baca endingnya dulu🤣🤣🤣🤣🤣🤣