Ellena Jung. Seorang gadis cantik yang terlahir ditengah keluarga kaya raya, dia merupakan bungsu dari tiga bersaudara.
Demi membuktikan diri pada sang ayah jika dia bukanlah gadis manja yang bisanya hanya menghabiskan uangnya saja. Ellena memutuskan untuk angkat kaki dari rumah dan meninggalkan semua kemewahan yang selama ini dia miliki. Hidup sendiri diluar sana sebagai seorang dokter yang selalu diremehkan kemampuannya.
Di rumah sakit tempatnya bekerja. Ellena dipertemukan kembali Dengan seorang laki-laki yang berasal dari masa lalunya. Akankah cinta diantar mereka kembali bersemi dan menuntaskan kisah cinta yang belum usai, atau justru malah sebaliknya?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Kembalinya Ingatan Kevin
Ellena baru selesai memeriksa pasiennya saat melihat Sean berlarian dengan mimik wajah paniknya. Penasaran apa yang membuat Sean sebalik itu, Ellena pun bergegas menghampirinya.
Sean seperti mendapatkan oasis di gurun pasir ketika melihat Ellena. Sean berlari menghampiri Gadis itu yang berjalan menghampirinya. "Ell, bagaimana keadaan Kevin? Apa dia baik-baik saja?"
Ellena memikirkan matanya mendengar pertanyaan Sean. "Memangnya apa yang terjadi pada Kevin?" Bukannya menjawab pertanyaan Sean, Ellena malah balik bertanya karena dia memang tidak tahu apa-apa.
"Apa kau tidak tau jika Kevin terluka dan dirawat di rumah sakit ini? Edward yang membawanya dan dia juga yang menghubungiku." Jawab Sean memberi penjelasan.
Kedua mata Ellena sontak membulat sempurna. "A..Apa, Kevin terluka dan berada di rumah sakit ini? Ta..Tapi kenapa aku tidak tau? Dan kenapa kakak juga tidak memberitahuku?" Ellena menjadi sedikit linglung.
"Kita temukan Edward terlebih dulu. Karena hanya dia yang tau bagaimana keadaan Kevin sekarang." Ellena mengangguk.
Dengan perasaan bercampur aduk. Ellena dan Sean pergi mencari Edward. Tempat pertama yang mereka datangi adalah ruang UGD. Namun mereka tak menemukan Edward di sana. Akhirnya mereka memutuskan untuk berpencar. Ellena juga meminta bantuan pada Sania untuk menemukan kakaknya tersebut.
Ellena pergi ke lantai dua, namun dia tak menemukan Edward juga. Ponselnya dia hubungi tidak aktif, dan satu-satunya tempat yang tersisa adalah ruang o-perasi. Kemungkinan besar Edward ada di sana, Ellena pun bergegas menuju ruang o-perasi.
Dan benar saja. Dia menemukan sang kakak duduk di kursi panjang depan ruang o-perasi. Kemeja yang dia pakai berlumur darah, dan dia yakin itu adalah darah Kevin.
"Kakak!!" Seru Ellena dan membuat perhatian Edward teralihkan.
"Ellena," seru Edward lalu menghampiri sang adik.
Ellena menatap sang kakak penuh tanya. "Apa yang terjadi padanya, Kak? Kenapa dia bisa terluka?" Kedua mata Ellena tampak berkaca-kaca.
Edward menggeleng. "Kakak sendiri juga tidak tau, Ell. Ketika kakak menemukannya, Kevin sudah terluka dan hampir pingsan."
"Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padanya, Kak? Bagaimana jika Kevin sampai tidak se-lamat? Dia terluka parah dan kehilangan banyak da-rah. Aku sudah pernah kehilangan dia satu kali dan tidak ingin kehilangan lagi." Tangis Ellena semakin keras.
Edward menarik bahu Ellena dan membawa sang adik ke pelukannya, meyakinkan pada Ellena jika semua akan baik-baik saja."Jangan berpikir yang tidak-tidak, Kevin adalah pria yang kuat. Pasti dia bisa melewati semuanya, kau harus yakin itu."
Sean datang beberapa saat kemudian. Dia menghampiri kakak beradik itu. "Ed, bagaimana keadaan Kevin? Dia baik-baik saja bukan?"
Edward menggeleng. "Aku sendiri tidak tau karena operasinya belum selesai. Dia tertembak di perut dan lengan kirinya."
Tubuh Ellena lemas seketika. Hampir saja dia hilang keseimbangan. Gadis itu jatuh terduduk di kursi yang ada dibelakangnya. Ketakutannya menjadi kenyataan, pantas saja sejak pagi dia merasa cemas dan gelisah. Dan inilah jawabannya.
Dalam hatinya Ellena hanya bisa berdoa semoga tak ada hal buruk yang menimpa Kevin. Dia tak mau kehilangannya, sudah cukup satu kali saja dia kehilangan cintanya dan Ellena tak ingin kehilangan untuk kedua kalinya.
-
-
Kelopak mata itu perlahan-lahan terbuka. Memperlihatkan sepasang mutiara hitam yang dingin. Sebelah tangannya mencengkram kepalanya yang serasa ingin pecah.
Rasa sakit juga dia rasakan dari bagian perut dan lengan kirinya. Lelaki itu menyapukan pandangannya, dan dia berada di ruangan serba putih dengan aroma obat-obatan yang khas dan menyengat.
Satu persatu memori masa lalu yang pernah dia lupakan memenuhi kepalanya. Perlahan tapi pasti, semua kenangan yang pernah dia lupakan bisa dia ingat kembali. Termasuk semua hal tentang seseorang yang paling spesial di hidupnya, Ellena.
"Kevin, kau sudah sadar?"
Seruan itu mengalihkan perhatiannya. Sontak Kevin menoleh dan mendapati Ellena berjalan menghampirinya. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Kevin menarik lengan Ellena setibanya dia di depannya lalu membawanya ke pelukannya. Kevin mendekap tubuh itu dengan erat.
"Ellena, aku sudah mengingat semuanya. Siapa aku, masa laluku dan semua hal tentang dirimu."
Kedua mata Ellena membulat sempurna. Air matanya tumpah begitu saja. Ellena bahagia mendengar jika ingatan Kevin telah pulih kembali dan dia mengingat semuanya. Kemudian gadis itu melepaskan pelukannya dan menatap Kevin yang juga menatapnya.
"Sungguh?" Kevin mengangguk. "Kau tidak sedang membohongiku bukan?"
Kevin menggeleng. "21 Desember adalah tanggal jadian kita. Dan di tanggal 21 Desember kita bertunangan. Kau menyukai stroberi dan membenci melon, kau menyukai wortel tapi kau membenci mentimun. Kau menyukai anggur tapi kau membenci semangka. Ketika sedang sedih atau gelisah kau pasti langsung menggigit bibirmu."
"Dan masih banyak lagi hal yang aku ketahui tentang dirimu. Seperti kau yang seorang sleeping beauty. Kau membenci musim dingin namun menyukai musim semi. Kau membenci musim panas tetapi menyukai musim gugur."
Ellena semakin tak kuasa menahan air matanya. Gadis itu kemudian berhambur ke pelukan Kevin dan memeluk lelaki ini dengan erat. Sungguh tak bisa digambarkan lagi dengan kata-kata bagaimana bahagianya dia saat ini. Ingatan Kevin akhirnya kembali.
-
-
Bersambung.