Riyanti (28 tahun) adalah seorang wanita yang sudah menikah, karena kesulitan ekonomi dia nekat menjalin hubungan dengan pria tajir tampan yang tidak lain adalah pria yang dia anggap adik sendiri.
Awalnya hubungan mereka biasa saja namun lama kelamaan menjadi luar biasa. .
Suatu hari hubungan gelapnya bersama pria itupun tercium oleh suaminya.
Yuk simak kisahnya...!!
ini hanyalah karangan Author semata, jika ada kesamaan mungkin ini secara kebetulan saja..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anariana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada yang aneh
Bercerai bukan berarti kita gagal, tapi terkadang terjadi hal hal yang memang diluar kendali kita, aku tidak ingin terus menyalahkan diri sendiri. Alih alih terjebak dalam rasa bersalah, aku menjadikan ini sebagai pelajaran dan juga pengalaman.
Dan yang dapat aku simpulkan adalah. masa iddah bukanlah akhir dari segalanya, justru ini adalah waktu yang diberikan agar kita bisa memulihkan diri dan menata ulang hidup dengan lebih baik.
Satu bulan telah berlalu dan yang tersisa dua bulan lagi.
Aku menghirup napas sebanyak banyaknya dan menghembusnya dengan kasar.
Saat ini, aku duduk di dalam mobil yang terparkir dipinggir jalan, langit malam tampak gelap, dengan kaca jendela yang terbuka, menampakkan suasana diluar yang tampak ramai, toko toko atau warung dipinggir jalan sedang ramai pengunjung saat malam hari.
Pintu disamping kemudi terbuka, Rais masuk dan menyodorkan minuman isotonik ke arahku. “makasih!” sahutku. Dibalas senyum oleh Rais.
Mobil melaju setelah mesin menyala beberapa detik. Suara deru kendaraan memecah keheningan malam. Puluhan mobil melaju di jalan raya. Gelap malam terbias dari kerlip cahaya dari lampu jalan.
Sepulang dari rumah sakit, membesuk orang tua Mia, yang tiba tiba saja tekan darah tinggi.
Aku merasa sedikit lapar, dan Rais kembali memarkir mobilnya di depan restoran. Kami masuk dan memesan meja paling pojok dekat dengan jendela.
Tak butuh waktu lama pesanan datang diantar pelayan. Aku yang memang lapar tak banyak bicara, langsung saja makan lahap, Rais juga tak banyak kata ia hanya sesekali basa basi.
Satu jam berlalu, dikediaman Rais.
Aku duduk di ruang tamu, sambil menunggu Rais selesai membersihkan diri. Begitu terdengar langkah kaki menuruni tangga, aku menoleh. Rais sudah rapi dengan balutan kaos dan celana training. Melangkah sambil menyeka rambutnya yang basah.
Rais, duduk di sofa hanya beberapa inci dan posisi membelakangi ku, dengan rambut yang masih setengah basah. Langsung saja aku mengambil alih handuk kecil dan menyeka rambutnya. “sebaiknya kalau malam gak usah keramas deh, atau lebih bagus lagi gak usah mandi sekalian, mandinya pas sore sebelum magrib,” nasihat ku.
Rais tertawa kecil, dan sedikit mengangguk. “baik Bu! Tidak akan terulang lagi,” sahutnya.
Aku mendesis seperti ular, aku lebih tua darinya, bagaimana mungkin dia memanggilku seperti itu. Aku menggerutu sambil menyeka rambutnya, sudah seperti istri yang mengomeli suaminya.
Aku melirik jam di pergelangan tangan. Dua puluh menit lagi, Ifan pulang. Batinku.
“malam ini cepat tidur yah! Jangan keluyuran, aku pulang dulu”. Sahutku kemudian beranjak.
“kenapa tidak menginap saja dengan Ifan?” ujar Rais terlihat enggan membiarkanku pulang.
Aku hanya bisa menghela napas. Nginap lagi, kenapa tidak sekalian tidak mengatakan untuk tinggal bersama, padahal aku menginap dirumah bisa dihitung jari, mengapa ia masih tidak puas.
Tidak mendapat respon dariku, Rais melanjutkan ucapannya. “aku telpon Anton yah sekarang!” sambil mengeluarkan ponsel dari saku.
“Rais, tidak perlu! Lain kali saja yah” aku kembali melirik jam. “lagian Anton sudah dirumah jam segini tugasnya sudah selesai, lupa yah?”
Rais, mengerutkan alis melirik ke arahku. “masa sih!”
Aku tersenyum kecil menanggapi, kalau tidak salah, aku sudah pernah mengatakan sebelumnya.
Berjalan beriringan dengan Rais, alih alih pulang sendiri, malah ditemani Rais pulang ke kontrakan. Malam yang sunyi, hanya terdengar desiran angin. Gemerlap lampu jalan memecah keheningan malam.
Rais berjalan santai dengan tangan disaku, Aku memperhatikannya sambil tersenyum penuh arti.
Tiba didepan kontrakan, aku mengeluarkan kunci dari bawah pot. Begitu pintu terbuka, kakiku melangkah dengan bantuan cahaya ponsel Rais. Jariku menelan saklar lampu lalu meletakkan tas. Kemudian suara Rais terdengar di sampingku. “apakah kamu sudah terbiasa dengan lampu padam saat pertama kali masuk rumah? Bagaimana jika seandainya ada seseorang yang berniat jahat didalam yang sedang menunggumu untuk melancarkan aksinya,” jelas Rais.
Menoleh melirik kursi ruang tamu, Rais sudah duduk disana dengan santainya.
Aku melipat tangan di depan dada, dan menghela napas panjang. “itu hanya pikiranmu saja, jangan berpikir berlebihan, lagipula didalam sini tidak ada sesuatu yang berharga,” jawabku.
Rais berdecak, sekilas. kemudian berpaling pada pintu yang diketuk dari luar. Aku melangkah membuka pintu.
Ceklek..
“mama..!” sahut Ifan, mencium punggung tanganku.
“sudah pulang yah!” ujarku, menutup pintu.
Ifan melangkah akan ke kamar, tapi sebelum itu, ia melihat Rais yang sedang tersenyum kearahnya.
“eh, ada om juga ternyata,” sahutnya, mendekat dan duduk di samping Rais. Reflek tangan Rais mengelus kepalanya. “om baru saja datang” jawab Rais, sembari tersenyum hangat.
Aku duduk di kursi, sambil menyimak percakapan keduanya.
“Hari Minggu, bagusnya kita jalan jalan kemana?” tanya Rais.
sejenak Ifan terlihat berpikir. “ tidak tau om, menurut om bagusnya kemana?” malah bertanya balik.
“Bagaimana dengan puncak?” dibalas gelengan oleh Ifan.
“kebun binatang?”
Ifan tidak menjawab.
“nonton?”
Ifan kembali menggeleng.
Rais sepertinya kehabisan ide, akhirnya ia menyudahi pembahasan sampai disitu.
Lama menunggu hingga aku beberapa kali mengintip jam dan berpikir, mengapa Rais belum juga berpamitan akan pulang.
Aku menunggu hingga nyaris tertidur, baru setelah itu, samar samar suara Rais terdengar. “baiklah, kembali ke kamar! Om pulang dulu,” ujar Rais.
Begitu Rais beranjak, akupun ikut berdiri dengan linglung berjalan kearah pintu dan membukanya. Rais mengerutkan alis menoleh ke arahku dan berkata. “sepertinya kamu begitu mengharapkan aku pergi, yah?”
“eh!” aku menggaruk kening yang tidak gatal, dan berpikir. Apakah terlihat jelas. Sekilas wajah Rais berubah masam.
“bukan begitu! Apakah kamu akan kembali? Ini sudah larut malam” tanyaku, sangat berbeda dengan reaksiku beberapa menit lalu. Lebih baik begini kan.
“apakah itu berarti kamu ingin agar aku tetap tinggal?” tanya Rais, tersenyum lembut sambil mengangguk ringan. “baiklah, aku akan ke kamar Ifan” berbalik dan meninggalkanku yang menatapnya tak percaya.
Aku kembali menutup pintu yang setengah terbuka, berdecak dan berjalan ke kamar Ifan. Di dalam kamar Ifan, Rais menarik selimut akan tidur, disamping Ifan yang sudah terlelap. Sebelum kepalanya menyentuh bantal, Rais kembali bangun dan melangkah menekan saklar lampu, diam diam aku menertawakannya, kan, setelah terdengar bunyi benturan dua kali. entah kakinya menabrak apa setelah lampunya padam.
Aku berbalik dan masuk kedalam kamarku persis di sebelah kamar Ifan. Setelah tubuhku menyentuh kasur, sedikit rasa dingin dan perasaan nyaman menghampiri, selang beberapa detik, aku diserang rasa kantuk hebat, oleh sesuatu yang menyengat, dan perlahan mataku pun redup.
Di sisa kesadaran ku, aku merasa aneh, seperti ada seseorang sedang memutar pintu kamarku dengan hati hati. Bersamaan dengan itu, aku terlelap setelah beberapa detik.
Bersambung.
ngeles, semua orang berhak dapat kesempatan berubah, nyata di novel bukan ini jelas kau seakan membela semua kelakuan rais dan riya
aku tanya dimana nilai positif dan pelajaran dalam novelmu ini
*ini pelajaran yang kau maksud, istri boleh selingkuh dengan saudara sauminya sendiri dan ketika suami punya wanita lain juga boleh berkoar2 tersakiti dan berpisah dan hidup dengan selingkuhannya
*pebinor bebas mengzinahi istri saudaranya, bebas menghancurkan rumah tangga saudaranya, dan akhir dia bebas begitu saja dan malah dianggap seolah lelaki sejati bak pahlawan
ini yang kau banggakan dalam novel mu
miris pola pikirmu
mudahan2 ini bukan kisahmu
dan jangan kau bawa2 agama islam jika novelmu bawa membela kemaksianatan