Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.
"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.
"Belum," jawab Sarah tenang.
Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.
"Lalu... apa kamu punya pacar?"
"Tidak," jawab Sarah lagi.
Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.
"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."
****
Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Sarah benar-benar terganggu dengan pemandangan di warung kopi tepi jalan sore itu. Bayangan Ardhana yang tertawa lepas dan memamerkan wajah tengilnya di depan perempuan cantik itu terus berputar-putar di kepalanya bagaikan kaset rusak. Akibatnya, konsentrasi Sarah saat mengajar di kelas sembilan tiga pagi ini benar-benar buyar dan terjun bebas.
Beruntung, kala itu murid-muridnya sedang fokus mengerjakan ulangan harian matematika terakhir, sehingga tidak ada yang menyadari kalau sedari tadi sang ibu guru hanya menatap kosong ke arah lembar absensi di atas meja. Pikiran Sarah melayang jauh, dipenuhi rasa kesal, cemburu, dan kecewa yang bercampur aduk menjadi satu.
“Bu… Bu Sarah?”
Sarah tersentak, langsung bangkit dari lamunan panjangnya saat sebuah suara remaja laki-laki memanggilnya dari arah barisan depan. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba menguasai dirinya kembali. Di depannya, Ali sudah berdiri sembari memegangi lembar kertas ulangannya.
“Eh… iya, ada apa, Ali?” tanya Sarah, berusaha membuat nada suaranya terdengar senormal mungkin.
“Ini, Bu. Saya sudah selesai mengerjakan ulangan hariannya. Mau mengumpulkan,” jawab Ali sembari menyodorkan kertas bergaris itu ke atas meja Sarah dengan sopan.
Sarah melirik jam dinding di atas papan tulis, lalu beralih menatap sisa murid di dalam kelas yang tampaknya juga sudah mulai meletakkan pulpen mereka. “Oh usah siap? Letak di sini, Li.”
Sarah mengetuk meja kayu itu sekali, lalu mengangkat suaranya agar terdengar oleh seluruh penjuru kelas. “Yang lain, karena waktunya juga sudah hampir habis, bagi yang sudah siap, silakan langsung dikumpulkan ke depan. Setelah itu, kalian boleh langsung keluar istirahat.”
Mendengar instruksi tersebut, riuh suara geseran kursi langsung memenuhi ruangan. Satu per satu murid kelas sembilan maju mengantre untuk mengumpulkan kertas ulangan mereka, lalu berhamburan keluar pintu dengan wajah-wajah lega.
Saat semua murid sudah selesai mengosongkan kelas dan waktu menunjukkan pergantian jam pelajaran, Sarah merapikan tumpukan kertas ulangan tersebut ke dalam map plastiknya. Dengan langkah kaki yang terasa berat, Sarah berjalan keluar dari ruang kelas.
Namun, baru beberapa langkah menyusuri koridor sekolah yang mulai ramai oleh anak-anak yang baru saja keluar dari kelas, ia langsung berpapasan dengan Tini yang lagi-lagi langsung menatap jeli ke arah wajah kusut Sarah. Tini seketika menghentikan langkahnya dan menghadang jalan Sarah sembari berkacak pinggang.
“Astaga, Sar! Baru juga jam pelajaran keempat selesai, tapi muka kamu udah kusut banget kayak baju belum disetrika seminggu,” tegur Tini langsung tanpa basa-basi.
Sarah hanya menghela napas panjang, malas berdebat. “Nggak ada apa-apa, Tin. Cuma agak pusing aja koreksi tugas anak-anak.”
Tini mendengus geli, melipat kedua tangannya di dada sembari menyipitkan mata penuh selidik. “Nggak ada apa-apa dengkulmu. Aku kira kamu itu lagi galau berat gara-gara lihat Pak Polisi ganteng kemarin sore nongkrong bareng cewek cantik di pinggir jalan.”
Deg!
Sarah seketika kaget setengah mati. Langkah kakinya mendadak terkunci di atas lantai koridor. Matanya membelalak sempurna menatap Tini, dan pertahanan wajah datarnya langsung runtuh dalam sekejap.
“Kok… kok kamu bisa tahu, Tin?!” tanya Sarah dengan suara yang sedikit meninggi karena panik, reflek mencengkram kuat map plastik di pelukannya.
Melihat respons spontan Sarah yang sangat emosional itu, Tini langsung tertawa kencang. Suara tawanya yang menggelegar sempat membuat beberapa murid yang lewat menoleh heran. Tini menepuk bahu Sarah dengan gemas, kembali meluncurkan aksi ejekan andalannya.
“Hahaha! Tuh, kan! Tebakanku seratus persen akurat! Kena kau, Sarah Aini!” ejek Tini puas sembari terus tertawa. “Aduh, Sar, makanya dari kemarin udah dibilang… ego itu nggak usah dipasang tinggi-tinggi amat jadi cewek! Jual mahalnya kelewatan, sih. Sekarang pas orangnya beneran mejeng sama cewek lain di depan umum, kamunya malah kelimpungan dan gagal fokus pas ngajar begini, kan?”
Wajah Sarah langsung memerah padam sampai ke ubun-ubun akibat ejekan telat sahabatnya itu. “Tini, stop! Nggak usah keras-keras omongannya! Lagian aku nggak galau ya, cuma… cuma aneh aja lihat dia secepat itu nyari gantinya!” bela Sarah ketus, mencoba menyelamatkan sisa-sisa gengsinya yang sudah tercecer di lantai.
Tini perlahan menghentikan tawanya, meski sisa-sisa senyuman jahil masih tercetak jelas di wajahnya. Ia mencondongkan badannya ke arah telinga Sarah, menurunkan volume suaranya menjadi bisikan yang misterius. “Terus… kamu tahu nggak sebenarnya cewek cantik yang kemarin sore sama Ardhana itu siapa?”
Sarah terdiam sejenak. Dada bagian kirinya mendadak terasa sedikit ngilu menantikan jawaban Tini. Dengan sisa-sisa keberaniannya, Sarah akhirnya menggelengkan kepalanya lemah. “Enggak. Memangnya siapa? Pacar barunya, kan?”
Tini tersenyum miring, menatap Sarah dengan pandangan mata yang sulit diartikan sebelum meluncurkan sebuah kalimat pendek yang langsung membuat dunia Sarah seolah berhenti berputar.
“Bukan pacar barunya, Sar. Cewek cantik yang kemarin sore ketawa-tawa manja sama Ardhana itu… dia itu anak tunggalnya Kasatlantas, atasannya langsung si Pak Polisi kamu itu.”
Yakin gak akan mikirin Ardhana lagi🤭🤣🤣
Panas....cemburu melanda😂
kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤