Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.
Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Bayangan yang Kembali
Udara di taman belakang yang tadinya sejuk kini terasa menyesakkan seolah semua oksigen di sekitar kami tersedot pergi bersamaan dengan munculnya sosok raksasa di balik kabut yang dipancarkan Sari. Tanah bergetar halus, dedaunan berguguran tanpa ditiup angin, dan cahaya matahari yang masih tersisa perlahan meredup seolah takut menyinari kehadiran makhluk itu. Erlan masih mencengkeram pergelangan tangannya erat, keringat dingin membasahi pelipisnya saat ia berjuang menahan rasa sakit dan kekuatan asing yang mencoba merajai kesadarannya. Namun ia tak sekalipun melepaskan tanganku, seolah genggaman itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya tetap menjadi dirinya sendiri.
Sari tersenyum lebar, matanya berkilat penuh kemenangan yang menyakitkan. "Kalian pikir kemenangan di dermaga itu nyata? Kalian pikir pengorbanan penjaga itu cukup untuk mengakhiri segalanya? Itu hanya gangguan kecil. Sekarang, sang penguasa sejati telah kembali untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya sejak ribuan tahun silam."
Perlahan kabut di belakang Sari menipis sedikit demi sedikit, memperlihatkan wujud yang membuat napasku tercekat. Sosok itu berdiri tegak bagaikan menara hitam, mengenakan jubah kuno yang sudah lusuh namun memancarkan wibawa yang tak tertandingi. Wajahnya kini terlihat samar—namun satu hal yang membuat darahku terasa membeku: separuh wajahnya persis seperti wajah leluhur yang pernah kami lihat dalam bayangan masa lalu, sementara separuh lainnya adalah wajah yang sangat kukenal... wajah yang mirip sekali dengan Erlan.
"Kau..." bisik Erlan parau, matanya membelalak tak percaya. "Kau adalah bagian dari diriku yang terpisah ribuan tahun lalu..."
Sosok itu tertawa rendah, suaranya bergema membelah udara. "Aku bukan sekadar bagianmu, keturunanku yang terbuang. Aku adalah akar dari segala kekuatan yang kau miliki. Dulu kita adalah satu, namun keserakahan dan rasa takut membuatmu membelah diri dan mengurungku di antara waktu. Kau berpikir kau bisa membuangku selamanya? Kau salah. Cinta yang kau banggakan itulah yang menjadi jembatan kembaliku. Dan gadis ini..." Ia menunjukku dengan jari telunjuk yang panjang dan bercahaya merah samar. "...dia adalah kunci yang tak sengaja kau putar dua kali, memecahkan segel yang kubuat sendiri untuk melindungimu dari kejahatan yang sebenarnya."
Kebenaran itu menghantam kami sekuat badai. Selama ini kami mengira musuh adalah entitas asing yang menginginkan kekuasaan, padahal musuh itu adalah bagian dari asal-usul Erlan sendiri—bagian yang terpisah karena kesalahan masa lalu, yang kini kembali untuk menyatukan kembali diri mereka dengan cara yang paling kejam: menghancurkan segala hal yang membuat Erlan berbeda darinya, termasuk kasih sayang yang ia miliki padaku.
"Kau tidak akan menyentuhnya!" seru Erlan, berusaha melangkah maju meski kakinya gemetar hebat. "Kita mungkin pernah menjadi satu, tapi aku bukan lagi kau. Aku telah memilih jalan yang berbeda. Dan aku akan melindunginya walau harus mengorbankan nyawaku sendiri."
Sosok itu menggeleng pelan, tatapannya penuh rasa kasihan yang menyakitkan. "Kau berani melawan hakikatmu sendiri? Kau pikir kau bisa menolak siapa dirimu sebenarnya? Tanda di tanganmu itu bukan tanda perbudakan, melainkan tanda persatuan yang tertunda. Dan saat aku menyatukan kita kembali... semua rasa sakit, semua kehilangan, dan semua pengkhianatan akan lenyap. Hanya kekuatan murni yang akan tersisa."
Tiba-tiba Sari melangkah maju, tangannya terulur ke arahku. "Serahkan saja padanya, Dian. Kau hanya akan menjadi penghalang. Tanpa kau, Erlan akan kembali menjadi penguasa sejati yang seharusnya ia miliki sejak awal. Dan kau... kau akan kembali menjadi apa yang seharusnya kau jadikan: abu yang tertiup angin."
Erlan hendak menahannya, namun seketika tubuhnya kaku. Tanda merah di pergelangan tangannya menyala terang benderang, dan mulutnya terbuka namun tak ada suara yang keluar. Matanya menatapku penuh keputusasaan, seolah ia sedang ditarik paksa menjauh dari kenyataan menuju kegelapan yang tak bisa ia hindari.
Dengan sisa kesadaran yang masih ada, Erlan menggerakkan bibirnya tanpa suara: "Pergi... cari bukti... jangan percaya apa pun yang terlihat..."
Namun sebelum aku sempat bergerak, sosok bayangan itu melambaikan tangannya pelan. Sebuah benteng tak kasat mata muncul di antara kami, memisahkan aku dari Erlan. Aku berteriak memanggil namanya, memukul-mukul dinding tak terlihat itu, namun tak ada yang berubah. Sari tersenyum puas, lalu berbalik menyertai sosok itu yang kini mulai melangkah mendekati Erlan yang tak berdaya.
"Simpan dia di tempat yang seharusnya," perintah sosok itu dingin. "Biarkan dia melihat dengan matanya sendiri bahwa cinta yang ia perjuangkan hanyalah ilusi yang akan hancur saat berhadapan dengan takdir yang sesungguhnya."
Mata Erlan berkaca-kaca, namun ia tak bisa berbuat apa-apa saat kedua tangannya perlahan terikat oleh cahaya hitam yang muncul entah dari mana. Ia terus menatapku, dan untuk sesaat aku melihat secercah pesan yang tersirat di tatapannya: Jangan menyerah... carilah kebenaran yang tersembunyi di tempat yang tak pernah kami sangka...
Saat mereka perlahan menghilang bersama kabut yang kembali menebal, aku jatuh berlutut di tanah yang lembap. Napasku tersengal-sengal, namun di tengah kepanikan yang meluap, satu hal yang Dimas tinggalkan kembali terngiang di benakku: "Kebenaran yang sesungguhnya baru saja dimulai."
Jika sosok itu adalah bagian dari Erlan yang terpisah, lalu apa yang sebenarnya terjadi ribuan tahun silam? Mengapa mereka harus berpisah? Dan di mana letak kesalahan yang membuat segalanya menjadi demikian kelam?
Tiba-tiba ponsel di saku rokku bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tak dikenal, namun isinya membuatku terpaku diam:
"Di bawah fondasi rumah tua di puncak bukit, tersimpan jawaban yang kau cari. Tapi berhati-hatilah... di sana bukan hanya rahasia masa lalu yang menanti. Melainkan juga sumpah yang tak boleh dilanggar oleh siapa pun yang masih bernapas."
Siapa yang mengirim pesan ini? Apakah ini jebakan lain? Atau ini satu-satunya petunjuk yang tersisa untuk menyelamatkan Erlan sebelum dirinya benar-benar hilang digantikan oleh bayangan masa lalunya sendiri?