“Di balik senyum indahnya, tersimpan luka yang tak pernah terlihat.”
mas aku bukan orang baik pergih saja:"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
wanita malam: kali ini kamu selamat
Aku duduk di samping tempat tidur, berbincang hangat bersama Kevin.
"Kemarin saat kamu berani melawan preman-preman itu... aku benar-benar ketakutan," ucapku dengan suara bergetar. "Aku pikir kamu bakal kenapa-napa. Aku tidak bisa hidup tanpamu, Kevin."
Kevin memelukku sangat erat, penuh ketegasan. "Aku sudah berjanji akan menjagamu, Alya. Aku akan selalu melindungimu, walau nyawaku harus aku pertaruhkan."
"Jangan bicara begitu, Kevin, itu tidak baik," tolakku pelan. "Kamu terluka begini semuanya karenaku."
"Sudah, jangan menyalahkan dirimu sendiri," hiburnya lembut. "Ini semua hanya kebetulan yang malang saja."
Aku membalas memeluknya dengan penuh perasaan. "Seandainya aku bisa membuat lukamu sembuh cepat..."
Kevin menatapku dengan senyum menggoda. "Caranya gimana?"
"Cukup kamu cium aku, pasti langsung sembuh," godanya lagi.
"Ih... sakit lho, masih aja modus!" protesku sambil tersenyum tipis.
Suasana hangat itu tiba-tiba terpecah saat pintu terbuka. Ibunya Kevin masuk dengan wajah cemas melihat anaknya terbaring lemah.
"Kevin... bagaimana keadaanmu, Nak?" tanyanya khawatir.
"Ma, ini cuma luka kecil kok. Aku tidak apa-apa, jangan dikhawatirkan," jawab Kevin tenang.
"Mama dapat kabar dari Jessica kalau kamu di rumah sakit... katanya kamu ditusuk oleh preman?" Mama tidak menyembunyikan kekhawatirannya.
Kevin mengeluh dalam hati: Jessica itu... Padahal aku sudah menyuruh orang mengurus semuanya supaya kejadian ini tidak tersebar luas...
"Sudah, Ma. Orang kepercayaanku yang mengurus semua ini, Dion yang menanganinya. Tidak perlu cemas," jelas Kevin.
Tiba-tiba pandangan Mama beralih tajam kepadaku, menatapku dengan sinis dan penuh kebencian.
"Semua gara-gara kamu ya! Anak saya terluka seperti ini karena kamu!" bentaknya tajam. "Kamu itu pembawa sial! Cepat tinggalkan anak saya! Kamu cuma bikin dia celaka!"
"Maaf, Tante... Bukan maksud saya..." jawabku terbata-bata menahan air mata.
"Sudah, Ma! Ini rumah sakit, jangan buat keributan di sini!" tegur Kevin tegas. "Alya tidak salah, ini cuma kecelakaan biasa."
"Kamu masih saja membelanya, Kevin?!" hardik ibunya tak terima.
"Mama hanya terlalu khawatir denganku," ucap Kevin berusaha menenangkan.
Akhirnya Ibunya Kevin pergi meninggalkan ruangan dengan perasaan yang masih memuncak.
Aku menunduk pilu. "Kevin... Mamamu benar. Aku memang pembawa sial. Kamu terluka begini gara-gara aku. Bahkan ibumu pun sudah membenciku..."
"Tidak begitu, Alya," potong Kevin lembut.
"Mama cuma marah sesaat karena panik," hiburnya.
"Tapi aku merasa bersalah sekali, Kevin..." isakku lirih.
"Tidak, kamu tidak salah sama sekali, Alya," tegasnya.
Aku hanya bisa menahan tangis sekuat tenaga, bersembunyi di dalam pelukan hangat Kevin yang menjadi satu-satunya tempat berlindungku.
Kevin tidak bisa tenang begitu saja. Di dalam benaknya, segala kejadian aneh dan kabar yang menyebar terlalu cepat terus berputar. Ia pun segera mengambil ponsel dan menghubungi Dion dengan nada serius dan tegas.
"Dion, tolong kamu cek rekaman CCTV di jalanan sekitar lokasi kejadian itu," perintahnya jelas. "Lalu retas juga catatan telepon para preman yang menangkap Alya dan menyerangku. Cari tahu siapa sebenarnya yang menyuruh mereka..."
Ia menekankan keinginannya dengan mantap. "Temukan segala bukti dan informasi yang tersembunyi di balik semua ini."
"Baik Tuan," jawab Dion sigap dan penuh tanggung jawab. "Saya akan segera mencari informasinya, dan akan langsung mengirim pesan pembaruan secepatnya."
Kevin mengangguk pelan, tatapannya tajam penuh tekad. "Baik, saya tunggu kabar darimu, Dion."
Sementara itu, di kamar pribadinya, Jessica sedang dalam keadaan panik dan marah yang luar biasa.
"Sialan... semuanya tidak berguna sama sekali!" teriaknya dengan suara meradang, lalu semua barang di sekelilingnya—piring, gelas, dan benda-benda lain terlempar ke dinding, membuat kamar seperti kapal yang pecah parah.
Air mata menyembur dari matanya yang kemerahan marah. "Kevin... aku sangat mencintaimu... kenapa kamu tidak pernah melihat aku?"
Ia merangkul bantal dengan kejam, seolah itu tubuh Kevin. "Semuanya cara yang bisa kulakukan untuk mendapatkanmu... tapi yang kau pilih justru dia—Alya!"
Kemudian, suara Jessica berubah menjadi serakah dan kejam, sambil tersenyum ganas di tengah kamar yang berantakan. "Padahal dulu... aku bisa menyingkirkan orang di sebelah mu dengan sangat mudah... sampai dia pergi... meninggalkan dunia ini..."
Ia tertawa keras dan menyakitkan, mata yang bingung terisi kebencian. "Kenapa wanita-wanita itu susah banget untuk dihilangkan ya? Hah?!"
Tiba-tiba pintu terbuka, ayahnya masuk ke dalam kamar yang berantakan itu.
"Jessica... apa yang kamu lakukan ini? Itu tidak baik," tegur ayahnya tenang namun tegas. "Papa sudah tahu apa yang kamu lakukan selama ini..."
Jessica yang sedang emosi langsung luruh tangisnya, ia memeluk ayahnya. "Papa... hiks... aku cinta sekali sama Kevin, Pa! Kenapa... kenapa Kevin tidak pernah melihat aku?!"
Ayahnya mengelus punggungnya lembut, menenangkan badai di hatinya. "Sabar ya, sayang... Papa sedang berusaha. Papa akan cari jalan supaya kamu bisa bersamanya."
Jessica mendongak tak percaya dengan mata berbinar penuh harap. "Benarkah, Pa?"
"Iya," jawab ayahnya mantap. "Kamu hanya perlu bersabar."
Ia lalu memperingatkan pelan. "Tapi jangan lakukan hal-hal nekat dan berbahaya seperti itu lagi ya."
"Baik, Papa... aku mengerti," jawab Jessica tertunduk tenang.
Jessica tersenyum lebar, rasa bahagia menyelimuti hatinya. Sejak kecil memang begitulah hidupnya—selalu dimanja luar biasa. Sebagai satu-satunya anak perempuan di keluarga Baskara, segala sesuatu yang ia inginkan pasti tercapai, bahkan jika harus didapatkan dengan cara yang tidak benar sekalipun.
Ayahnya pun tahu betul sifat dan perbuatan putrinya yang melampaui batas, namun kasih sayangnya buta. Ia begitu memanjakan dan tergila-gila pada satu-satunya anak itu, sehingga menutup mata terhadap segala kesalahan dan kelicikan yang dilakukan Jessica.
Jessica menatap tajam ke luar jendela, senyum licik mengembang di bibirnya. Di dalam hati, ia bersumpah dengan penuh keyakinan gelap.
"Kevin, kamu akan menjadi milikku... Tidak boleh ada siapa pun yang memilikimu selain aku. Dunia ini hanya milik kita berdua, dan Alya harus menyingkir selamanya."
Dengan dukungan ayahnya yang buta akan kesalahan, ia merasa seolah-olah tidak ada yang bisa menghentikan langkahnya. Segala cara, licik sekalipun, sah baginya asalkan tujuannya tercapai.
Jessica menyeringai penuh keangkuhan, rencananya mulai tersusun rapi di kepala.
"Lihat saja nanti... kita akan mainkan permainan ini," bisiknya dingin penuh ancaman. Matanya menyala tajam membayangkan sosok Alya. "Alya... mari kita lihat seberapa kuat kamu bertahan di sana... seberapa kokoh posisimu untuk menghadangku."
Baginya, Alya hanyalah bidak catur yang harus dikalahkan, dan ia adalah penguasa yang menentukan jalan ceritanya.
Jessica merasa dirinya penguasa mutlak di dalam permainan ini.
"Semuanya ini berada di bawah kendaliku," ucapnya angkuh dengan tatapan tajam. Baginya Alya hanyalah debu kecil yang tak berarti. "Kamu hanyalah hal yang kecil dan remeh..."
Ia tertawa sinis, merasa menang sesaat karena Alya lolos kali ini.
"Oke... kali ini kamu selamat dulu. Mari kita lihat apa yang terjadi selanjutnya," tambahnya diiringi tawa yang dingin dan merinding.