Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.
Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**
Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.
Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**
Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**
"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."
Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:
*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29: Kalung Emas Pertama
Tiga hari menjadi pacar Sebastian terasa lebih sulit daripada tiga bulan bekerja untuknya.
Di depan keluarga, Lia harus tetap memanggil “Ko Sebas” dan menunduk seperti biasa. Di ruang makan, Sebastian tidak boleh terlalu lama menatapnya. Saat tangan mereka hampir bersentuhan ketika memindahkan piring, keduanya harus berpura-pura tidak merasakan apa-apa.
Hanya pesan singkat yang menjadi tempat aman.
Sudah makan?
Sudah, Sebas.
Foto piring.
Kamu tidak percaya pacar sendiri?
Percaya. Tetap kirim.
Lia sering tersenyum sendiri melihat layar. Fenny sampai bertanya mengapa wajahnya seperti orang menemukan uang di saku baju lama.
Menyimpan hubungan ternyata membutuhkan lebih banyak disiplin daripada yang mereka bayangkan. Sebastian hampir memanggil Lia untuk duduk di sampingnya saat sarapan. Lia sekali waktu menjawab “iya, Sebas” di pesan suara ketika Popo berada di balik pintu. Mereka sepakat tidak mengirim kalimat mesra saat salah satu sedang bersama keluarga dan memakai tiga ketukan di meja jika ingin memastikan yang lain baik-baik saja.
Sebastian tidak mengubah beban kerja Lia atau memberinya perlakuan khusus yang bisa merugikan pekerja lain. Jika ingin bertemu, ia menunggu jam istirahat Lia dan bertanya lebih dulu. Lia menghargai usaha itu, walau kadang rasanya menyiksa harus melewati pacarnya tanpa boleh tersenyum.
Pada malam ketiga, Sebastian mengirim pesan agar Lia datang ke ruang baca setelah semua orang tidur. Pintu dibiarkan terbuka. Di atas meja ada sebuah kotak kayu kecil dengan kunci kuningan.
“Apa ini?” tanya Lia.
“Buka.”
Sebastian menyerahkan satu kunci kecil. Di dalam kotak terdapat sebungkus biskuit, permen jahe, dua sachet susu, beberapa lembar uang milik Lia yang pernah ia titipkan untuk membeli kebutuhan, dan sebuah kotak perhiasan berwarna hijau tua.
Lia langsung menutup tutup kayu.
“Sebas.”
“Yang mana dulu?”
“Semuanya.”
“Kotak ini akan disimpan di lemari baca. Kuncinya hanya kamu pegang. Kalau kamu lapar dan dapur ramai, ambil makanan tanpa perlu meminta. Uang itu milikmu, saya cuma memindahkan dari amplop lama yang hampir robek.”
Lia memeriksa lembarannya. Jumlahnya sama dengan catatan tabungannya, tidak bertambah satu rupiah pun.
“Kenapa dikunci?”
“Bukan untuk menyembunyikan dari orang. Supaya tidak ada yang mengambil makanan atau uangmu tanpa izin.”
“Sebas punya kunci cadangan?”
“Tidak.”
Lia terkejut. “Kalau saya hilangkan?”
“Kita panggil tukang kunci di depanmu. Saya tidak butuh akses ke uang atau barang pribadimu.”
Sebastian menunjukkan bagian bawah kotak. Tidak ada lubang rahasia atau kunci kedua. Nama Lia tertulis kecil pada kartu kepemilikan yang bisa diselipkan di dalam, bukan pada bagian luar yang mengundang pertanyaan.
“Saya pernah lihat amplop tabunganmu hampir terbuka saat kamar diperiksa,” katanya. “Saya tidak mau kejadian seperti kalung Vanessa membuat barangmu disentuh semua orang lagi.”
Lia mengusap permukaan kayu. Kotak itu bukan tempat Sebastian menyimpan dirinya, melainkan tempat Lia bisa menyimpan sesuatu dari dunia.
“Saya bisa simpan di kamar.”
“Bisa. Ini hanya pilihan kedua.”
Sebastian mendorong kotak perhiasan kepadanya.
“Kalau ini?”
“Hadiah.”
“Saya baru mengembalikan gaun mahal.”
“Karena kamu tidak menerima perasaan Rudy. Kamu menerima perasaan saya.”
“Bukan berarti saya menerima semua barang.”
“Buka dulu, lalu putuskan.”
Lia menghela napas dan mengangkat tutupnya.
Sebuah kalung emas tipis terbaring di atas beludru. Liontinnya kecil, berbentuk tetes air dengan ukiran daun sederhana. Tidak mencolok, tetapi jelas bukan barang murah.
“Saya tidak bisa menerima.”
“Kenapa?”
“Terlalu mahal.”
“Saya membelinya dari uang pribadi, bukan uang keluarga.”
“Itu bukan masalahnya.” Lia menyentuh liontin tanpa mengangkat. “Saya takut hadiah berubah menjadi utang.”
Sebastian diam sejenak. “Kalau kita putus besok, kalung itu tetap milikmu. Kamu tidak berutang apa pun. Kalau masih tidak nyaman, saya simpan sampai kamu siap.”
“Kalau keluarga melihat dan bertanya?”
“Kamu tidak wajib memakainya.”
“Kalau mereka tahu dari toko?”
“Saya beli di toko yang tidak punya hubungan bisnis dengan Wijaya. Data pembelian hanya untuk garansi.”
Lia menatap Sebastian, setengah geli, setengah terharu. “Sebas menyiapkan hadiah seperti menyiapkan kontrak proyek.”
“Karena pacar saya suka bukti.”
“Pacar Sebas belajar begitu dari siapa?”
“Dari saya, sayangnya.”
“Kenapa harus kalung?”
“Karena saya melihat lehermu kosong sejak gaun ungu itu.”
“Sebas memperhatikan terlalu banyak.”
“Tugas pacar.”
Lia tertawa kecil. Ketegangan berkurang, tetapi ia masih ragu.
Sebastian mengambil nota pembelian dari saku dan meletakkannya di meja. Nama toko, kadar emas, berat, harga, serta kebijakan penukaran tercetak jelas.
“Kamu bisa menukarnya dengan uang kapan pun. Tidak ada nama saya di liontin, tidak ada syarat.”
Lia melihat nota itu. Sebastian benar-benar memikirkan cara agar hadiah tidak menjadi rantai.
“Boleh saya simpan, tapi tidak dipakai di depan keluarga?”
“Boleh.”
“Kalau saya mau jual untuk modal suatu hari nanti?”
Sorot mata Sebastian berubah bangga. “Jual.”
“Tidak marah?”
“Saya mungkin sedih sedikit. Tapi kegunaannya milikmu.”
Lia akhirnya mengangkat kalung itu. “Bantu pasang.”
Sebastian berdiri di belakangnya. Lia mengangkat rambut, memperlihatkan tengkuk. Jari lelaki itu menyentuh kulitnya saat mengaitkan pengunci.
Sentuhan singkat tersebut menyalakan panas di sepanjang punggung Lia.
Aroma manis baru saja mulai keluar setelah makan malam. Sebastian berhenti terlalu lama di belakangnya, napas hangat menyentuh tengkuk.
“Sudah?” tanya Lia.
“Sudah.”
Namun, kedua tangannya belum turun.
Liontin kecil terletak tepat di atas tulang selangka Lia. Sebastian memutar tubuhnya pelan untuk melihat dari depan.
“Cocok,” katanya.
“Karena kalungnya bagus?”
“Karena kamu yang pakai.”
Kalimat yang sama seperti gaun membuat pipi Lia panas. Sebastian mengangkat liontin dengan ujung jari, lalu menunduk dan mencium logam itu, bukan kulitnya.
Napas Lia tercekat.
“Sebas.”
“Pintu terbuka,” katanya, seolah mengingatkan dirinya sendiri.
“Justru itu.”
Sebastian melepaskan liontin dan mundur. Kendalinya terlihat dari cara ia memasukkan kedua tangan ke saku.
“Kita juga perlu memperbarui perjanjian makan,” katanya.
“Apa lagi?”
“Dulu kamu hanya boleh makan kenyang di depan saya karena takut rahasiamu terbuka. Sekarang kamu harus makan cukup setiap hari, di mana pun aman. Tidak perlu menunggu saya.”
“Kalau aroma keluar?”
“Gunakan ruang baca, kamar, atau tempat terbuka yang tidak ramai. Beri tahu saya kalau butuh alasan menutup pintu, tapi kamu tidak perlu izin untuk makan.”
Perubahan kecil itu penting. Sebastian mengembalikan kendali atas tubuh Lia kepadanya.
Lia menggenggam kunci kotak. “Saya setuju.”
“Ada denda kalau melanggar.”
“Apa?”
“Saya yang menyuapi satu mangkuk penuh.”
“Itu bukan denda untuk Sebas.”
“Benar.”
Lia memukul lengannya pelan. Sebastian menangkap tangannya, mencium buku jarinya, lalu segera melepas saat suara langkah terdengar dari lantai bawah.
Lia menyembunyikan kalung di balik kerah.
Sebelum pergi, ia menoleh. “Terima kasih, Sebas.”
Kunci kecil tergenggam di satu tangan. Liontin emas menyentuh kulit di bawah blusnya.
Keduanya terasa bukan seperti harga yang dipasang pada dirinya, melainkan bukti bahwa untuk pertama kalinya, sesuatu diberikan tanpa menuntut kepemilikan kembali.