Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Hari demi hari berganti. Waktu tak terasa berjalan cepat, justru sebaliknya, setiap hari terasa panjang.
Di kantor, Reynand nyaris tak mengenal istirahat. Ia tiba sebelum matahari benar-benar naik, dan pulang saat jalanan sudah sepi. Banyak penolakan. Banyak keraguan. Nama Wijaya Group terlalu besar, dan kepergiannya meninggalkan lubang yang tak bisa ditutup dalam sekejap.
Ada hari-hari di mana wajah Reynand tampak lebih lelah dari sebelumnya. Saat sendirian di ruangannya, ia menatap jendela yang memantulkan bayangannya, sejenak bertanya apakah ia mampu menopang semuanya sendirian. Namun setiap kali Anindya muncul, menaruh segelas kopi hangat di meja tanpa banyak bicara, kekuatan itu kembali tumbuh.
"Jangan paksa dirimu terlalu keras," bisiknya suatu sore.
Reynand tersenyum tipis, menyentuh punggung tangan wanita itu.
"Aku tidak sendirian, kan?"
Minggu pertama paling berat. Beberapa proyek terhenti. Rapat berlangsung tegang. Ada kekhawatiran di wajah para direktur. Namun Reynand tidak menyembunyikan kesulitan. Ia menjelaskan keadaan apa adanya. Tidak menjanjikan keuntungan besar, melainkan kejujuran dan ketekunan.
Perlahan, baru minggu ketiga, tanda-tanda kecil mulai muncul.
Satu kenalan lama ayahnya menyetujui kerja sama skala kecil. Kemudian perusahaan menengah yang selama ini menghormati integritas Reynand Group menyusul. Bukan besar, belum cukup untuk menggantikan sepenuhnya, tapi nyata. Setiap langkah maju didapat dengan pertemuan, penjelasan, dan kesabaran yang tak kenal lelah.
-
-
-
Di ruang tamu utama mansion yang megah namun dingin, Gisella duduk tegak di sofa empuk, wajahnya terlihat tak tenang. Di hadapannya, Lidya duduk, menatap putrinya dengan pandangan yang sulit dibaca.
"Kamu lihat sendiri, Gisella..." ucap Lidya dengan nada tak puas. "Reynand sama sekali tidak gentar. Malah makin bersikeras. Ancaman papamu seolah tak berarti apa-apa baginya."
Gisella mencengkeram kain gaunnya erat, kuku menancap pelan.
"Dia benar-benar berani melawan..." gumamnya, suaranya bergetar antara marah dan tak percaya. "Padahal selama ini keluarga Wijaya yang menopang perusahaan itu. Tanpa keluarga Wijaya, dia bukan siapa-siapa."
Lidya menghela napas panjang, menatap putrinya.
"Reynand bukan orang yang mudah dihancurkan dengan ancaman, Gisella. Kamu tahu itu sejak dulu. Dia tidak akan mundur hanya karena kita menarik dukungan."
"Lalu apa yang harus kulakukan, Ma?" tanya Gisella menatapnya, matanya memancarkan kecemasan yang tersembunyi. "Kalau dia benar-benar berhasil bangkit kembali... dan perceraian itu terjadi... aku yang akan kehilangan segalanya."
Belum sempat Lidya menjawab, pintu ruangan terbuka perlahan. Seorang pelayan masuk dengan langkah hati-hati, tangan kanannya menyodorkan amplop cokelat yang masih tersegel rapi.
"Mohon maaf mengganggu, Nyonya..." ucap pelayan itu sopan namun canggung. "Ini baru saja dikirim kurir khusus. Tujuannya untuk Nyonya Gisella."
Gisella menoleh, alisnya berkerut bingung.
"Untukku?"
"Benar, Nyonya." Pelayan melangkah mendekat dan menyerahkan surat itu. "Pengirimnya tertulis dari kantor pengacara."
Suasana di ruangan itu seketika berubah hening. Marissa mendekat, tatapannya tertuju pada amplop itu. Lidya duduk lebih tegak, menatap putrinya.
Gisella menerima surat itu dengan tangan yang perlahan mulai gemetar. Ia menatap segelnya, napasnya tertahan.
"Dari pengacara..." bisiknya pelan.
Ia merobek bagian penutup dengan jari yang kaku, mengeluarkan selembar berkas yang tercetak rapi. Matanya menyapu baris demi baris tulisan itu, dan seketika wajahnya pucat pasi.
Marissa menyadari perubahan itu, mendekat lebih cepat.
"Apa isinya, Gisella?"
"Dia berani! Dia benar-benar berani melakukannya!"
Gisella berteriak seketika, tangannya menyapu vas bunga di meja hingga jatuh berantakan di lantai.
Ia berdiri gemetar, wajahnya memerah menahan amarah yang meluap-luap.
"Tanpa tanda tanganku?! Tanpa persetujuanku?!" suaranya meninggi, pecah di ujung kalimat. "Dia kira aku siapa?! Dia kira aku akan diam saja membiarkan dia pergi begitu saja. Demi wanita rendahan itu?!"
Gisella terus berjalan mondar-mandir, napasnya memburu.
"Aku tidak akan membiarkannya! Aku akan pergi ke sana sekarang! Aku akan berhadapan langsung dengannya dan dengan wanita itu! Aku akan pastikan semua orang tahu siapa yang sebenarnya merusak rumah tanggaku!"
Ia hendak melangkah keluar, namun suara Lidya terdengar tegas dan tenang, memotong kegaduhan itu.
"Gisella, berhenti."
Nada itu tidak tinggi, namun cukup kuat membuat langkah gadis itu terhenti. Gisella menoleh, napasnya masih memburu, matanya berkaca-kaca antara marah dan sakit hati.
Lidya berdiri, melangkah mendekat, lalu meletakkan kedua tangannya di bahu putrinya untuk menahan agar Gisella tidak pergi.
"Tenangkan dirimu dulu," ucapnya pelan namun tegas. "Berteriak dan berlari ke sana dengan amarah seperti ini tidak akan menyelesaikan apa-apa."
"Ma..." rengek Gisella, suaranya melembut. "Aku tidak mau cerai dari Reynand, Ma... Aku mencintainya."
Lidya menghela napas berat.
"Mama tahu. Mama mengerti perasaanmu. Tapi surat itu sudah sampai ke pengadilan. Kita bisa apa?"
Gisella menunduk, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya.
Lidya mengusap punggung tangan putrinya pelan, lalu menatapnya tajam namun lembut.
"Kecuali kamu bisa mengandung anak Reynand. Maka perceraian itu tidak akan pernah bisa terjadi. Mama sudah pernah bilang begitu kan."
Gisella mengangkat wajahnya, matanya membelalak.
"Ma..."
"Gisella..." potong Lidya rendah. "Selama tiga tahun ini, kalian tidak mungkin belum pernah melakukan hubungan suami istri, kan?"
Gisella terdiam, bibirnya bergetar. Wajahnya memerah, bukan lagi karena marah, melainkan karena ketakutan yang menyelimuti hatinya. Tiga tahun dia menikah dengan Reynand, menjadi istrinya di hadapan semua orang, tapi yang tidur di sampingnya, yang memeluknya di kegelapan malam, bukanlah Reynand. Itu Gavin.
"Ma... kami..." suaranya tercekat, tak sanggup melanjutkan.
-
-
-
Bersambung...