Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.
Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Embusan angin di pelataran tebing karang Lantai 16-A membawa aroma tanah basah bercampur belerang dingin yang menusuk hidung.
Di belakang mereka, jurang kabut putih menganga lebar tanpa suara. Suara gemuruh runtuhnya jembatan rantai telah memudar ditelan kedalaman palung, menyisakan keheningan mencekam yang hanya diselingi oleh suara napas memburu dari dua puluh prajurit pelopor yang terduduk di atas hamparan batu hitam.
“Kumpulkan seluruh kantung logistik di dekat ceruk tebing!” seru Vargas seraya menancapkan kapak tempurnya ke celah batu karang.
Sang veteran melepas helm bajanya yang penyok di bagian samping akibat benturan sayap monster tadi. Keringat dingin membasahi rambutnya yang mulai memutih, mengalir melewati bekas luka parut di pelipis kanannya.
“Danan, atur regu tombak untuk berjaga bergantian di mulut celah jalan setapak! Jangan biarkan ada yang melamun!” lanjut Vargas dengan nada tegas seorang komandan lapangan.
Para prajurit yang masih diliputi gemetar shock segera bangkit dan mulai menata perlengkapan yang tersisa. Ransel-ransel perbekalan kulit ditumpuk di dalam ceruk gua kecil yang terlindung dari terpaan angin badai samping.
Ren duduk di atas sebongkah batu obsidian pipih, membiarkan punggungnya bersandar pada dinding tebing yang dingin. Di pangkuannya, pedang perak pemberian Elise tergeletak dengan bilah yang masih ternoda sisa-sisa lendir hitam monster Aero-Wyrm.
Shizuka berlutut di samping Ren dengan baskom kayu kecil berisi air hangat yang baru diseduh menggunakan batu bara sihir. Jemarinya yang lembut dan cekatan mengoleskan salep herbal berwarna hijau tua ke pelipis dan leher Ren.
“Denyut nadi di lehermu berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, Ren,” ucap Shizuka seraya memeriksa kelopak mata Ren. Suara gadis tabib itu terdengar lirih namun sarat akan kekhawatiran yang mendalam. “Dan pembuluh darah di sudut matamu memerah karena tekanan saraf yang terlalu tinggi.”
Ren menggelengkan kepalanya pelan seraya menatap Shizuka. “Hanya sisa ketegangan sesaat, Shizuka. Salep penenangmu bekerja sangat cepat.”
“Ini bukan ketegangan biasa dan kau tahu itu,” bisik Shizuka seraya menekan lembut kain kasa di pelipis Ren. “Sejak di Lantai 10, setiap kali situasi berada di ujung maut, kau selalu bertindak seperti sudah melihat kematian itu terjadi di depan matamu. Beban apa pun yang sedang kau pikul di dalam kepalamu… tubuh Rank F milikmu memiliki batas ketahanan fisik yang nyata.”
Ren terdiam sejenak. Ia merasakan kehangatan ramuan Shizuka perlahan meredakan sensasi menusuk di balik tempurung kepalanya. Ren tidak bisa menjelaskan secara gamblang tentang mekanisme regresi mikro kepada Shizuka, namun kepedulian tulus sang tabib menjadi sauh penopang yang menjaga kewarasannya di tengah ratusan ingatan maut yang terus menumpuk.
“Aku berjanji akan lebih berhati-hati, Shizuka,” jawab Ren dengan nada jujur. “Selama kalian semua selamat, beban ini bukan masalah.”
Shizuka menghela napas panjang, lalu mengikatkan perban kain tipis di pelipis Ren sebelum beralih memeriksa prajurit lain yang mengalami luka gores di tangan mereka akibat serpihan kayu jembatan yang meledak.
Di sisi lain ceruk tebing, Elise melangkah mendekat seraya membawa sebuah peta kulit binatang kusam yang disita dari perbekalan ekspedisi lama.
Sang putri duduk di samping Ren di atas undakan batu, melebarkan peta tersebut di antara mereka. Rambut peraknya yang terikat rapi sedikit berantakan tertiup angin tebing, namun sorot matanya tetap jernih dan tajam.
“Pulau karang ini tidak tercatat dalam rute resmi ekspedisi kekaisaran,” kata Elise seraya menunjuk ke sebuah lingkaran kosong di sebelah barat laut gerbang Lantai 16. “Peta militer Batalion ke-7 hanya memetakan jalur jembatan lurus menuju Gerbang Kenaikan Lantai 17. Karena jembatan utama sudah hancur, kita terpaksa mengambil jalur memutar melintasi gugusan pulau melayang tak bertuan ini.”
Ren menatap kontur tebing di sekeliling mereka seraya menganalisis struktur geografis pulau karang tersebut.
“Berapa banyak pulau melayang yang menghubungkan titik ini ke gerbang berikutnya?” tanya Ren.
“Berdasarkan perkiraan aliran arus mana udara, ada sekitar empat hingga lima pulau karang terapung yang berjarak cukup dekat,” jawab Elise seraya mengetukkan jemarinya pada tongkat perak di sampingnya. “Masalah terbesarnya adalah kita tidak memiliki jembatan rantai lagi untuk menyeberang. Kita harus menemukan jembatan alam berupa akar pohon raksasa atau memanfaatkan relik pengait tebing jika ingin melompat antar-pulau.”
“Atau mencari kapal layang udara peninggalan penjelajah liar,” celetuk Vargas yang baru saja selesai memeriksa barisan penjaga dan bergabung dengan mereka seraya menyalakan pipa herbalnya yang mengepulkan asap tipis beraroma mint.
“Kapal layang udara?” tanya Ren seraya menoleh ke arah sang veteran tameng.
Vargas menghembuskan asap putih ke udara dingin seraya mengangguk pelan. “Sekitar sepuluh tahun lalu, sebelum keluarga bangsawan memonopoli ekspedisi Menara Abyss dengan pasukan tumbal heimin, ada kelompok-kelompok penjelajah bebas yang membangun kapal layang kayu bertenaga kristal angin di lantai-lantai samudra awan ini. Beberapa dari mereka membelot dari kekaisaran dan mendirikan pos persembunyian di pulau-pulau melayang terpencil agar tidak dijadikan budak garis depan.”
“Para pembelot menara…” gumam Elise dengan nada penuh pertimbangan. “Dalam catatan resmi bangsawan, mereka dicap sebagai buronan pengkhianat yang telah dieksekusi mati.”
“Bangsawan selalu mencap siapa pun yang menolak dijadikan umpan mati sebagai pengkhianat, Elise,” kata Vargas seraya menghembuskan asap pipanya. “Tapi di lantai atas seperti ini, orang-orang liar itulah yang paling paham cara bertahan hidup melawan monster ketinggian tanpa mengandalkan pasukan tumbal ratusan nyawa.”
Tepat saat mereka sedang berdiskusi, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah celah batu setapak di lereng atas pulau karang.
Riku berlari turun menuruni undakan batu terjal dengan napas terengah-engah. Busur kayunya dipegang erat di dada, dan wajah bocah pemanah itu memancarkan campuran antara rasa terkejut dan kewaspadaan tinggi.
“Ren! Paman Vargas! Kalian harus melihat ini!” bisik Riku dengan nada tertahan seraya memberi isyarat tangan agar mereka mendekat.
Ren langsung berdiri dan menyambar pedangnya, disusul oleh Vargas dan Elise yang bersiaga penuh.
“Ada apa, Riku? Kau melihat kawanan monster pemangsa lain?” tanya Ren seraya melangkah cepat mengikuti bocah itu menaiki jalur setapak tebing.
“Bukan monster, Ren,” jawab Riku seraya menuntun mereka melewati celah sempit di antara dua pilar batu obsidian raksasa. “Ada sesuatu di balik dinding tebing sebelah barat.”
Mereka berempat menyelinap melalui celah batu sempit yang hanya muat dilewati satu orang dewasa. Begitu keluar dari celah tersebut, pemandangan di balik lereng pulau karang terbuka di hadapan mereka.
Di sebuah ceruk gua alami yang terlindung rapat dari terpaan angin dan pandangan udara bebas, tampak sisa-sisa sebuah perkemahan manusia yang tersembunyi.
Ada tungku perapian batu yang abunya masih terasa hangat ketika Ren menyentuhnya dengan ujung sarung tangan kulitnya. Di sudut gua, beberapa peti kayu kokoh berlapis pelat tembaga tersusun rapi di bawah terpal kulit binatang anti-air.
Namun, yang paling menarik perhatian Ren adalah sehelai kain bendera hitam kusam yang tertancap di tiang kayu perapian.
Pada kain bendera tersebut, tergambar lambang seekor burung gagak bersayap satu yang mencengkeram pedang patah—simbol kuno kelompok penjelajah mandiri yang telah lama dihapus dari catatan sejarah kekaisaran.
Kain bendera itu tidak berdebu tebal. Ada bekas tumpahan minyak senjata segar di atas meja batu di sampingnya, dan beberapa helai rumput kering penanda jejak kaki masih tampak tertekan baru beberapa jam yang lalu.
“Abu perapian ini masih menyisakan bara panas di lapisan bawahnya,” bisik Ren seraya memeriksa jejak kaki di tanah berpasir gua. “Perkemahan ini baru saja ditinggalkan sebelum jembatan rantai runtuh tadi.”
Elise memeriksa sebuah goresan simbol berbentuk anak panah melingkar yang diukir di dinding batu dekat pintu keluar belakang gua.
“Ini sandi pelarian penjelajah tebing,” kata Elise seraya menyentuh ukiran tersebut. “Sandi ini mengarah ke lorong celah bawah tanah yang tembus ke sisi tebing seberang pulau.”
“Artinya ada manusia lain yang masih hidup dan beroperasi di pulau melayang ini selain kita,” gumam Vargas seraya mengelus janggut kasarnya dengan tatapan waspada.
Ren menatap lorong celah gelap di hadapan mereka seraya mempertajam pendengarannya. Di kejauhan lorong batu yang berliku itu, sayup-sayup terdengar suara denting logam beradu dengan batu yang ritmis—seperti suara palu pandai besi yang sedang menempa baja di kedalaman perut tebing.
“Kita tidak sendirian di sini,” ucap Ren seraya memberi isyarat kepada Vargas dan Elise untuk menyiapkan senjata. “Ayo periksa ke dalam, tapi jangan lepaskan kewaspadaan kalian sedikit pun.”