Indonesia
NovelToon NovelToon
Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.

Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.

Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehangatan dibalik Kabin Kayu

"Dadah, Bu Guru Alya. Dadah, Pak Dokter...."

"Semoga kalian tidak melupakan kami semua."

"Datang kembali setelah semuanya selesai. Kita akan melihat betapa indahnya Desa Mekar Ranum tanpa adanya duka."

Lambaian tangan anak-anak dan para warga membuat air mataku kembali menetes.

Satu minggu sudah pengabdian kami selesai. Saatnya aku dan Kak Revan kembali pada kesibukan masing-masing di kota. Semua kenangan manis bersama anak-anak, para warga, dan Kak Revan akan menjadi sebuah kenangan yang tidak akan pernah aku lupakan.

Hangatnya sapaan, tawa para warga, juga senyum manis Kak Revan yang sering ia berikan saat kami duduk berdua, di sela-sela kesibukan mengurus kondisi kesehatan warga.

Juga kenangan yang sangat manis, saat lelahnya pria ini membuatnya bersandar nyaman pada bahuku. Aku jadi tahu sisi lemahnya seorang Revan Aditya.

"Pak Dokter dan Bu Guru terlihat sangat cocok sekali..."

"Kembali datang lagi, ya. Kami akan selalu menantikan kedatangan kalian."

Semua warga berkumpul di depan tenda untuk melepas kepergian kami. Hatiku semakin sesak kala Ghumaisya ikut melepas kepulangan aku dan Kak Revan. Bayi itu sudah bisa membuka matanya.

Aku balas melambaikan tangan dengan air mata yang semakin berderai di pipi. Kak Revan di sebelahku sudah menggenggam erat tanganku. Aku tahu, pria ini juga terlihat sedih penuh haru. Terlihat dari bola matanya yang memerah dan berkaca-kaca.

Aku sudah menaiki motor custom hitam milik Kak Revan, kembali melambaikan tangan pada para warga. Rasanya berat sekali untuk meninggalkan tempat ini.

Kak Revan mulai mengendarai motor, dan aku mulai memegang erat sisi kemejanya. Senyum manis dan lambaian sebelah tangan masih aku berikan kepada mereka.

"Kita akan merindukan Pak Dokter dan Bu Guru..."

Motor mulai melaju pelan. Perlahan, lapangan luas yang dipenuhi tenda darurat itu menghilang dari pandanganku. Aku benar-benar akan meninggalkan kenangan yang sangat manis di sana.

Kak Revan mulai menarik gas motor, menambah kecepatan hingga aku memeluk tubuhnya sambil bersandar nyaman pada punggungnya. Masih dengan isak tangis dan air mata yang berderai.

Sampai...

'Tuk.'

Kak Revan mengetuk kaca helm yang aku pakai.

"Tutup kacanya, ganjel di bahuku."

"Ish, kaget...." Aku berdecak pelan. Kak Revan membuyarkan semua kenangan manis yang masih aku bayangkan.

Aku mengedarkan pandangan. Sepanjang jalan terlihat sangat indah dengan perkebunan teh yang berjajar rapi. Warna hijaunya sangat menyegarkan mata. Serta udaranya sejuk hingga hawa dingin itu terasa menusuk saat dihirup.

Jalan semakin terlihat gelap. Sore akan berganti malam. Tapi kami setengah perjalanan pun belum sampai. Membayangkan jalan terjal yang akan kami lewati dalam keadaan gelap membuatku bergidik ngeri. Jangan sampai Kak Revan nekat untuk lewat sana.

"Kak, jangan bilang akan lewat sana lagi...." Aku sedikit mengeraskan suara karena hembusan angin cukup kencang.

"Emangnya kenapa? Penakut."

"Kak... please, deh. Udah mau malam, masa mau gelap-gelapan lewat sana." Aku berdecak kesal, tetap memeluknya karena udara dingin sekaligus mencari kehangatan dari tubuh Kak Revan. Ya, izin, ya....

"Itu titik serunya."

Aku hanya bisa berdecak pasrah, memejamkan mata karena kepala ini mulai terasa pening. Mungkin terlalu banyak menangis....

"Jangan tidur!!!" serunya kencang.

Membuat mataku kembali terbuka lebar. Tidak berniat untuk tertidur, tetapi saat aku memejamkan mata, kesadaranku mulai menurun.

"Gak terlalu ngantuk, tapi... kelopak matanya terasa berat."

Sampai pada akhirnya Kak Revan menghentikan deru motornya. Aku menegakkan tubuh, melepas pelukan, dan ternyata kami berhenti di depan kabin kayu yang berjejer di bawah bukit. Mungkin ini adalah destinasi wisata karena banyak juga orang yang sedang bersantai di sana.

"Gak beres kalau lanjut perjalanan...." desis Kak Revan.

Aku hanya bisa diam sambil mengernyitkan dahi. Berusaha melepas cakupan helm yang macet.

Kak Revan turun, juga diikuti oleh aku.

Kemudian seorang pria paruh baya, mungkin penjaga kabin di sini, menghampiri kami.

"Satu kamar aja, Pak? Cocok untuk bulan madu di sini. Hawanya dingin, sangat mendukung untuk bercocok tanam."

"Satu kamar saja, Pak. Sekalian saja, ya, Pak. Memang cocok."

Ah, malas sekali. Obrolan dua pria itu penuh dengan makna tersirat. Aku pura-pura tidak paham saja, padahal aku sudah mafhum betul dengan pembelajaran reproduksi dalam mata pelajaran Biologi dulu.

"Nih, Pak, kuncinya. Selamat buat, ehem..."

"Ayo, katanya ngantuk."

Aku melangkah pelan mengikuti Kak Revan, dengan helm yang masih terpasang di kepala karena cakupan pengamannya macet.

Suasana kabinnya terasa hangat. Aroma cat kayu masih tercium jelas. Lampu teplok berpencar dengan cahaya kuning, mendukung suasana yang lebih hangat. Kabinnya tidak terlalu luas. Hanya terisi satu ranjang dengan lemari kecil di sampingnya, satu toilet, dan dapur kecil yang berada di samping.

Aku ingin segera beristirahat dan merebahkan tubuh. Tertidur di balik selimut tebal akan terasa sangat nyaman jika setelah membersihkan tubuh yang sudah terasa lengket.

"Handuknya ada satu. Aku dulu yang mandi."

Aku meraih handuk bersih yang tergantung pada kastop. Meraihnya sedikit kesusahan karena tinggi badan yang tidak mendukung.

Pada akhirnya Kak Revan yang membantu, tapi...

Set...

"Yang kecil mengalah, aku dulu. Mau mandi gimana helm aja belum dilepas."

Kak Revan merebut handuk yang berada di tanganku dengan mudah.

"Kak... tolong, cakupan nya gak bisa dibuka kecekik..."

Akhirnya Kak Revan membantu untuk melepas cakupan helmku, dan aku bisa merebut handuk itu kembali dengan mudah. Kak Revan mudah sekali dikibuli ternyata... Pantas saja... hubungan dengan Aira.

"Heh...."

Kak Revan mencengkeram bahuku. Mata kami saling bertatapan tajam. Aku mulai mundur perlahan, hingga pada akhirnya.

Dug.

Aku terjengkang tepat pada ranjang kayu. Tubuh kami sama-sama terhempas di atas kasur, dengan posisi tubuh yang sangat membuat kami canggung, dengan posisi Kak Revan tepat menindihku.

Sampai pada akhirnya tatapan tajam itu berubah sendu perlahan, sarat akan makna yang tidak terucap dengan mulut.

Gerakan jakun yang naik turun, hingga perlahan aku menganggukkan kepala.

Berada dalam rasa bimbang, antara takut akan sebuah dosa karena menolak ajakan suami dan teringat akan rasa sakit jika Kak Revan memang hanya menginginkan ini karena hasrat semata seorang pria normal. Bukan seorang pria yang benar-benar mencintaiku.

Kak Revan mulai mendaratkan kecupan pada kening hingga pada akhirnya sesapan kuat pada bibir.

Cengkeraman kuat pada tangan, sampai terasa benda keras yang mulai menelusup masuk, rasa perih masih terasa. Mulai dari pelan, hingga pada akhirnya aku harus mencengkeram kuat seprai.

Sampai aku merasa pada titik yang benar-benar ingin meledak, inti tubuh yang terasa penuh.

Untuk pertama kalinya, aku mengenal sebuah rasa yang orang sering sebut dengan kenikmatan hubungan suami dan istri.

Bersambung..

1
Arabella07
lanjut
Lembayung Bercerita: baik..ditunggu ya kak
total 1 replies
Ria Leilyhani
lanjutkan thor 😁
Ria Leilyhani: oke, makasih ya 😊
total 2 replies
Rian Moontero
mampiiirr
Lembayung Bercerita: makasih kak..
total 1 replies
Ria Leilyhani
cari yg lain aja Alya, ga usah ngarepin Revan lg, bikin nyesek. thor, Zara temennya Alya Zara Ayleen bukan?
Lembayung Bercerita: betul kak, kisah cinta ayleen dan Ar gak bisa paling gak bisa di lupain😍
total 3 replies
Ria Leilyhani
nyesek banget jadi Alya 😭 lanjut thor
Lembayung Bercerita: sama kak uthor juga sesak banget nulis nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!