Indonesia
NovelToon NovelToon
GADISKU SEORANG BAR-BAR

GADISKU SEORANG BAR-BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Romantis / Komedi
Popularitas:901
Nilai: 5
Nama Author: Icita

GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paspor Palsu dan Warisan Tukang Jahit Bermerek Triliun Dolar

Dua belas jam penerbangan melintasi Benua Asia hingga Eropa seharusnya menjadi momen melepas lelah di kursi first class. Namun, bagi Gala, perjalanan udara dengan paspor palsu bertuliskan nama “Bambang Supriadi—Ahli Konservasi Satwa Liar” itu tak ubahnya siksaan batin.

Di dalam kabin jet pribadi milik jaringan Sersan Broto yang sedang terbang melintasi pegunungan Alpen menuju Zurich, Gala duduk terkapar lesu di sofa kulit. Di tangannya, selembar roti croissant dingin berharga 15 Franc Swiss (sekitar dua ratus ribu rupiah) ia tatap dengan rasa ketidakpercayaan yang mendalam.

“Nja… masa roti kering bentuk tanduk banteng begini harganya setara dengan lima belas porsi mi ayam bakso di gang rumah kita?” keluh Gala sambil menggigit roti itu dengan enggan. “Uang lima miliar dolar di Cayman kemarin aja belum sempat gue pegang wujud fisiknya, sekarang gue udah harus tekor bayar air mineral seharga cicilan kompor listrik!”

Senja, yang sedang membersihkan laras pistol kedap suaranya di depan Gala, hanya menggelengkan kepala. “Simpan keluhanmu, Gal. Kita ini sedang masuk ke wilayah kekuasaan The Board of Directors. Kalau identitasmu terbongkar sebelum kita sampai ke brankas rahasia Swiss, roti dua ratus ribu itu bakal jadi makanan terakhirmu.”

Di sudut kabin, Pak Joko yang tangannya terikat borgol plastik di kursi penumpang, tampak sedang asyik menikmati teh chamomile sambil mengusap sarung tenunnya yang kini berlapis mantel bulu buatan.

“Makanya, Gala… jadi orang itu jangan kampungan,” celetuk Pak Joko tanpa rasa bersalah. “Dunia elit antariksa itu memang mahal. Dulu waktu saya masih aktif menjabat Grand Master, sarapan pagi saya itu kaviarnya diimpor langsung pakai jet tempur dari Laut Kaspia.”

Siska melangkah mendatangi mereka dengan tablet taktis yang menampilkan dokumen arsip hitam-putih bertahun 1978. Agen elit itu meletakkan tablet tersebut tepat di tengah meja.

“Fokus,” desis Siska dingin. “Saya baru saja berhasil mendekripsi dokumen warisan kakek Anda, Gala. Nama aslinya adalah Mbah Tejo Prasetyo. Menurut arsip Interpol yang disembunyikan, beliau bukan sekadar tukang jahit pakaian dinas di Bantul.”

Gala menyipitkan mata, menatap foto hitam-putih Mbah Tejo—seorang pria tua berpeci dengan kumis melengkung yang sedang memegang meteran kain dan mesin jahit Singer manual.

“Terus kakek gue aslinya siapa, Sis? Agen rahasia CIA? Pengusaha tekstil galaksi?” tanya Gala penasaran.

Sersan Broto, yang sejak tadi berdiri memandang hamparan salju Alpen di balik jendela pesawat sambil menghembuskan asap kreteknya, mendadak berbalik badan.

“Kakekmu adalah perancang busana bespoke utama untuk para elit global, diktator, hingga pemimpin konsorsium rahasia dunia selama empat dekade, Gal,” jelas Sersan Broto dengan suara berat. “Setiap jas mewah yang beliau jahit untuk para pemimpin dunia itu… disisipi benang serat mikroskopis berbasis kuantum yang mencatat seluruh rekaman pembicaraan rahasia, kunci brankas, dan kode aset milik The Board of Directors!”

Gala, Senja, dan Vanya tersentak kaget secara bersamaan.

“Maksud bapak…” Senja membelalakkan mata, “…seluruh kekayaan lima puluh triliun dolar milik konspirasi global itu disembunyikan di balik bantalan bahu jas-jas tua buatan Mbah Tejo?!”

“Tepat sekali,” sahut Vanya sambil memeriksa majalah mode kuno. “Bantalan bahu jas buatan Mbah Tejo terkenal paling tegap dan rapi di seluruh Eropa pada zamannya. Ternyata isinya adalah mikro-chip enkripsi termahal di muka bumi!”

Gala memegangi kepalanya yang mendadak pusing tujuh keliling. “Buset dah… Kakek gue waktu hidup sederhana banget, tiap mudik cuma bawa oleh-oleh bakpia sama keripik belut! Ternyata beliau menyimpan rahasia keuangan dunia di balik benang jelujur?!”

Satu jam kemudian, jet pribadi mereka mendarat mulus di pangkalan udara privat di Zurich. Untuk menghindari pelacak sinyal satelit musuh, mereka melanjutkan perjalanan menggunakan Glacier Express—kereta mewah berdinding kaca yang melintasi jalur pegunungan es menuju lembah tersembunyi di Interlaken, tempat brankas utama Mbah Tejo berada.

Suasana di dalam gerbong kelas satu sangat mewah dan tenang. Salju putih tebal melapisi pemandangan pinus di luar jendela kaca raksasa.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Saat kereta memasuki terowongan gelap sepanjang lima kilometer di perut gunung salju, seluruh lampu di dalam gerbong mendadak padam total. Suara sistem pengereman darurat menjerit nyaring!

CITTTT—BRAG!

Kereta mewah berkecepatan tinggi itu terhenti seketika di tengah kegelapan terowongan es.

“Sinyal dipotong! Pertahanan pasif kita jebol!” teriak Siska sambil mencabut senjatanya di dalam kegelapan.

Senja secara refleks menarik Gala ke balik bangku penumpang, sementara Vanya dan Sersan Broto langsung memasang posisi tempur mengapit Pak Joko yang ketakutan setengah mati hingga sarungnya terbelit di leg shield kursi.

Lampu darurat berwarna merah darah mendadak menyala remang-remang. Dari dua pintu ujung gerbong, melangkah masuk delapan pria bertubuh tinggi besar dengan setelan jas tuxedo hitam yang sangat rapi—lengkap dengan dasi kupu-kupu, sarung tangan putih, dan senapan mesin ringan berperedam suara.

Di belakang barisan eksekutor berbusana mewah itu, melangkah keluar seorang wanita berambut pirang dengan gaun malam perak yang berkilauan. Mata hijaunya menatap tajam ke arah Gala.

Baroness Karlotta. Anggota eksekutif dari The Board of Directors.

“Selamat malam, Tuan Gala Prasetya,” sapa Baroness Karlotta dengan aksen Jerman yang sangat kental dan elegan, sambil memegang tongkat berjalan berkepala pualam. “Kami dari divisi penagihan aset keluarga. Kami datang untuk mengambil kembali pedal mesin jahit Singer emas milik kakek Anda.”

Gala merangkak sedikit dari balik bangku, membelalakkan mata. “Pedal mesin jahit?! Mbak Karlotta yang cantik… pedal mesin jahit tua itu kan udah dijual kakek gue ke tukang lobak di Sleman tahun 2005 lalu!”

Baroness Karlotta tersenyum dingin. “Jangan berbohong, Tuan Gala. Pedal mesin jahit itu adalah satu-satunya alat dekripsi fisik untuk membuka brankas lima puluh triliun dolar di bank rahasia Swiss. Dan menurut kalkulasi kami… alat itu saat ini ada di dalam keranjang sayur motor Honda Revo Anda yang ikut kami angkut ke gerombang kargo belakang kereta ini.”

Gala, Senja, dan Siska mendadak saling berpandangan dengan tatapan tak percaya.

“Tunggu… jadi benda besi tua berkarat yang dari kemarin dipakai Gala buat ganjel standar miring motor Revo-nya…” bisik Senja dengan suara bergetar, “…itu adalah kunci lima puluh triliun dolar?!”

Gala menepuk jidatnya sendiri dengan keras. “KAMPRACH! Gue pikir itu ganjelan ganjil bekas mesin parut kelapa!”

KLIK!

Baroness Karlotta mengisyaratkan anak buahnya untuk mengokang senjata. “Serahkan kunci itu, atau kereta ini akan menjadi kuburan massal kalian di dalam terowongan es.”

Sersan Broto terkekeh pelan di balik kegelapan, lalu perlahan-lahan menyalakan rokok kreteknya, memancarkan titik api merah di tengah remang-remang cahaya darurat.

“Nona Karlotta…” desis Sersan Broto santai, “…kamu lupa satu hal. Memburu menantu saya di jalanan itu sulit, tapi mengganggu motor Revo-nya di dalam gerbong kargo… adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu.”

BOOM!

Pintu gerbong kargo belakang mendadak didobrak dari luar, dan suara deru mesin motor yang sangat dikenal menggema kencang menembus lorong kereta!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!