Indonesia
NovelToon NovelToon
Ibu Susuan Sang Mafia

Ibu Susuan Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Action
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Suhada Bintan

Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.

Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.

Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Fajar baru saja menyingsing, memancarkan semburat cahaya abu-abu yang di atas permukaan sungai. Hujan badai semalam telah mereda, menyisakan gerimis tipis di permukaan tanah yang basah.

Di tepi sungai yang berlumpur, belasan pria berdiri berjaga dengan wajah tegang. Mereka adalah anak buah Dikta. Di dekat mereka, beberapa petugas Tim SAR yang kelelahan baru saja menambatkan perahu karet setelah menyisir area hilir selama berjam-jam tanpa hasil.

Marco melangkah terburu-buru mendekati mobil sport hitam tempat bosnya duduk termenung sejak semalam. Marco mengetuk kaca mobil perlahan. Saat kaca mobil menurun, penampilan Dikta sudah tak beraturan. Matanya layu, seolah sebagian hidupnya sudah hilang.

"Bagaimana, Marco? Ada tanda-tanda?" tanya Dikta.

Marco menunduk, tidak berani menatap langsung mata bosnya. "Maaf, Pak. Tim selam tidak bisa turun karena air sangat keruh. Perahu karet sudah menyisir hingga radius lima kilometer ke arah hilir. Tapi..." Marco terdiam sejenak, lalu merogoh kantong plastik transparan dari balik jaketnya. "Anak-anak hanya menemukan ini tersangkut di ranting pohon dekat pusaran air hilir."

Dikta merebut plastik itu dengan kasar. Di dalamnya terdapat sepotong kain berwarna abu-abu tua yang sudah robek dan basah kuyup oleh air sungai yang kotor. Jantung Dikta serasa dihantam palu besar. Itu adalah potongan jilbab yang dikenakan Arini sebelum kejadian.

Dikta menggenggam plastik itu erat-erat. "Hanya ini yang tersisa dari dia?"

"Iya, Pak. Kepala Tim SAR bilang, dengan kondisi robekan kain itu, kemungkinan besar tubuh korban..." Marco tidak berani melanjutkan kalimatnya melihat tatapan Dikta yang mendadak menajam bagai pisau. "Mereka menyatakan peluang hidupnya sudah tidak ada. Bu Arini diperkirakan sudah meninggal karena kehabisan napas atau benturan."

Dikta memejamkan matanya dengan rapat sambil mencengkram potongan jilbab itu dengan kuat. Di dunia hitam, dia terbiasa melenyapkan musuh tanpa berkedip. Namun hari ini, melihat sepotong kain dari seorang wanita lemah yang tak berdosa, Dikta merasakan rongga dadanya kosong dan hampa.

"Harusnya dia aman setelah aku memenjarakan Bagas," bisik Dikta, suaranya bergetar menahan emosi. "Aku sudah menyingkirkan suami bajingannya itu ke balik jeruji besi agar dia bisa hidup tenang dan menyusui Arkan. Tapi kenapa akhirnya malah seperti ini, Marco?"

Marco menghela napas pendek, menatap bosnya dengan iba. "Pak, Anda sudah melakukan hal yang benar dengan memenjarakan Bagas. Pria itu memang pantas membusuk di penjara karena telah tega memanfaatkan istrinya sendiri demi uang. Tapi...bagi Bu Arini, ia merasa berhutang pada Anda. Dia merasa tidak bisa membalas kebaikan Anda. Apalagi.. saat dia mengetahui jika tubuhnya tidak bisa mengeluarkan ASI untuk Den Arkan, mentalnya langsung drop. Dia frustrasi karena merasa tidak berguna bagi Anda yang sudah menyelamatkannya."

Dikta menatap Marco dengan tatapan dingin, "Pencarian tetap dilanjutkan, Marco. Kerahkan tim tambahan," perintah Dikta, lalu menatap aliran sungai itu dari kejauhan, "Aku tidak akan membiarkan wanita yang mengorbankan dirinya demi menolong anakku, hilang begitu saja tanpa kejelasan."

Dari kejauhan, Dokter Gunawan berjalan mendekati mobil Dikta dengan payung hitam besar. Sejak mendengar hilangnya Arini, sang Dokter merasa prihatin atas musibah yang menimpa Dikta saat ini.

"Pak Dikta, bagaimana perkembangannya?"

Dikta menunjukkan plastik berisi potongan jilbab itu tanpa sepatah kata pun. Dokter Gunawan tertegun, lalu menunduk sedih. "Bukankah ini jilbab yang Bu Arini gunakan semalam?" Raut Dokter Gunawan terlihat sedih. Ia sangat mengenal Dikta. Pria itu kalau sudah mencintai seseorang, dia akan rela melakukan apa saja, meskipun nyawanya menjadi taruhan.

"Dokter, apakah aku salah?" tanya Dikta tiba-tiba, matanya menatap pada pria yang berdiri di hadapannya. "Aku memenjarakan suaminya yang jahat. Aku memberinya fasilitas terbaik di rumah sakit. Mengapa dia melakukan ini padaku?"

Dokter Gunawan menghela napas panjang. "Pak Dikta, orang seperti Bu Arini itu memang gampang curiga. Waktu Anda memakai kekuasaan buat menjebloskan Bagas di penjara, Bu Arini emang merasa lega, tapi dia juga jadi takut sama Anda. Apalagi, waktu dia tahu jika tubuhnya tak bisa memproduksi ASI, dan Den Arkan terpaksa minum ASI dari orang lain, dia langsung stres. Dia merasa gagal jadi ibu dan ngerasa dirinya tidak berguna lagi. Makanya dia nekat lompat."

Dikta mengepalkan tangannya di atas kemudi dengan kuat. Penjelasan Dokter Gunawan membuat ia menyesal. Kekuasaan yang dimilikinya sekarang ini sama sekali tidak berguna untuk wanita seperti Arini.

"Kami rasa Bu Arini sudah meninggal, Pak Dikta," lanjut Dokter Gunawan dengan suara lirih. "Melihat kondisi arus sungai yang meluap sejak semalam, kemungkinan kecil dia tidak bisa bertahan. Saran saya, Anda harus mengikhlaskan apa yang terjadi, dan fokus pada putra Anda!"

Dikta tak menjawab. Ia hanya memandangi aliran sungai dengan tatapan kosong. Kata-kata Dokter Gunawan terus berdengung di kepalanya, menghantam kesadarannya berulang kali. Mengikhlaskan? Bagaimana mungkin dia bisa mengikhlaskan wanita yang telah membawa kehangatan baru di hidupnya yang kelam?

"Pergi, Dokter. Tinggalkan aku sendiri," lirihnya.

Dokter Gunawan menghela napas panjang, lalu meninggalkan Dikta yang terpaku mendengar ucapannya tadi.

Tiba-tiba saja, ponsel Dikta bergetar hebat. Ia menyambar ponsel itu, lalu menempelkan pada telinganya. "Halo," suara Dikta terdengar serak.

"Pak Dikta..." Suara Suster di seberang telepon terdengar panik dan cemas. Di latar belakang, terdengar suara tangisan bayi yang sangat melengking. "Den Arkan, Pak... sejak subuh tadi tidak mau meminum ASI donor yang kita sediakan. Dia terus menangis sampai suaranya habis. Wajahnya sudah memerah, dan suhu tubuhnya mulai naik."

Jantung Dikta berdegup kencang. Arkan, putranya, satu-satunya orang yang ia miliki sekarang, justru tak berdaya di rumah sakit. Bayi mungil itu memperlihatkan kehangatan dari orang yang mengasuhnya selama ini.

"Lakukan apa saja, Suster! Panggil dokter anak terbaik!" bentak Dikta.

"Sudah, Pak. Dokter anak sudah memeriksa, tapi Den Arkan menolak botol susu apa pun. Beliau seperti... mencari keberadaan orang yang mengasuhnya selama ini. Ikatan batin mereka terlalu kuat, Pak. Jika terus begini, Den Arkan bisa dehidrasi lagi."

Dikta mematikan sambungan telepon secara sepihak. Dia memukul setir mobil dengan keras hingga klakson berbunyi nyaring. Belasan anak buahnya di luar langsung menoleh dengan kearahnya.

"Marco! Ikut aku sekarang," perintah Dikta cepat. "Dan kau..." Dikta menunjuk kepala Tim SAR yang sedang duduk beristirahat di atas batang pohon tumbang.

Kepala Tim SAR itu segera berdiri dan memberi hormat. "Ya, Pak?"

"Aku tidak peduli seberapa keruh air sungai ini. Aku tidak peduli jika kalian harus menyelam sampai ke dasar laut sekalipun. Cari Arini! Hidup atau mati. Jika dalam waktu tiga hari kalian tidak menemukan tubuhnya, aku sendiri yang akan meratakan seluruh kawasan hilir ini!" ancam Dikta dengan mata memerah.

"Baik, Pak. Kami akan mengerahkan penyelam lokal yang lebih memahami arus bawah sungai setelah matahari sedikit tinggi," jawab Kepala Tim SAR dengan gugup. Ia sadar bahwa pria di hadapannya bukan orang sembarangan yang bisa diajak bernegosiasi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!