Indonesia
NovelToon NovelToon
Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Action / Nikah Kontrak
Popularitas:949
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 28: Malam Ayahmu Pulang

Tidak ada yang bernapas.

Carla duduk di kursi belakang dengan punggung tegak, ibu jarinya menekan tombol detonator seperti menahan pintu agar tidak terbuka. Lampu garasi memantul di cincin peraknya. Di sampingnya, Dimas gemetar tanpa suara, dan Wartini memeluk bahu anak bungsunya dengan wajah yang sudah kehilangan seluruh warna.

"Saya ada di mobil itu?" Suara Bima keluar lebih kecil dari yang ia inginkan. "Saya nggak pernah ada di mobil. Bapak pulang sendirian."

"Kamu delapan belas tahun waktu itu." Carla tidak berkedip. "Bukan anak kecil yang tidur di sofaku dengan demam. Kamu sudah bisa memegang setir."

"Delapan belas." Bima tertawa pendek, kering. "Saya nggak ingat apa pun dari umur delapan belas selain main bola dan ngiris daging."

"Itu yang mereka inginkan kamu ingat."

Alessia tidak menurunkan pistol sepenuhnya. Ujungnya mengarah ke lantai, tapi jarinya masih di pelatuk. Ia menatap neneknya dengan mata yang Bima kenal, mata yang menghitung. Bedanya, kali ini hitungannya tidak keluar.

"Nek," katanya. "Lepaskan tombolnya."

"Kalau kulepas, kamu menembakku."

"Kalau Nenek tekan, kita semua mati."

"Tidak." Carla memiringkan kepala. "Hanya aku yang tahu kabel mana yang sungguhan. Bomnya dua. Satu di bawah mobil. Satu di sini." Ia menepuk dadanya sendiri dengan tangan yang bebas, dan di balik blusnya terlihat kotak kecil terikat ke tubuh. "Aku sudah tua, Alessia. Aku tidak takut mati. Aku hanya takut mati sebelum bicara."

Marta bergerak setengah langkah. Alessia mengangkat dua jari tanpa menoleh, dan Marta berhenti.

"Bicara," kata Alessia.

---

Carla menatap Bima. Bukan seperti perempuan tua menatap bocah penjual sate. Seperti orang yang menatap utang lama.

"Empat belas Maret, dua belas tahun lalu," katanya. "Hadi Ardhana datang ke rumahku sebelum tengah malam. Basah kuyup, padahal tidak hujan. Kamu di belakangnya."

Wartini mengeluarkan bunyi kecil dari tenggorokan.

"Dia membawa buku resep, dan dia membawamu karena tidak ada orang lain yang bisa ia percaya menjaga buku itu. Kamu berdarah di pelipis. Kamu bilang kamu jatuh dari motor." Carla mengangkat bahu sedikit. "Itu bohong. Kamu sedang menyetir mobil yang mengangkut tubuh Matteo Vieri dari jalan tol."

Alessia menegang seluruh tubuh. "Apa?"

"Matteo tidak mati di mobil itu, Cucuku. Mobilnya memang terbakar. Tapi tubuhnya sudah keluar sebelum api menyala. Hadi yang menariknya, dengan bantuan anak laki-lakinya yang baru delapan belas tahun."

"Bohong."

"Kamu lihat mobilnya terbakar dari seberang jalan. Kamu tidak lihat siapa yang berlari ke dalam api." Suara Carla tidak naik, tapi setiap kata jatuh seperti batu. "Itu kamu, Bima. Dengan kaus yang sudah terbakar separuh."

Bima memegang kap mobil untuk menahan lututnya. Ada sesuatu di bagian belakang kepalanya yang bergerak, seperti pintu yang selama ini hanya dicat agar terlihat seperti dinding. Bau bensin. Panas di punggung. Seseorang berteriak dengan suara yang ia kenal dari warung, *Tarik, Bim, tarik, jangan lepas!*

Lalu gelap.

"Saya..." Ia menelan ludah. "Saya ingat tangan. Tangan ayah saya, di bahu saya."

"Itu bukan ingatan. Itu sisa." Carla menarik napas panjang. "Giovanni menghapus ingatan kalian berdua. Kamu delapan belas, Alessia tujuh belas. Satu kejadian, dua anak, dan seseorang yang tahu cara membuat kepala melupakan."

"Bagaimana?" tanya Alessia, hampir tak terdengar.

"Dokter keluarga yang dibayar dua belas tahun untuk menyuntik kalian dengan sesuatu setiap kali kalian terlalu dekat dengan kebenaran. Kamu menyebutnya vitamin. Ingat?" Carla menatap cucunya. "Tiga tahun yang hilang itu bukan tiga tahun. Itu setiap musim panas sejak ayahmu mati. Kamu dikurung di ruang bawah tanah itu, dan setiap kali kamu mulai ingat, kamu dibawa pergi lagi."

Alessia mundur selangkah. Punggungnya membentur dinding garasi. Pistol di tangannya turun sampai ujungnya menyentuh lantai, dan Bima melihat bahunya yang berdarah mulai gemetar tanpa kendali.

Ia bergerak tanpa berpikir. Bima meraih lengannya, dan kali ini Alessia tidak berkata *aku bisa sendiri*. Ia hanya bersandar, berat, seperti beban yang akhirnya diizinkan jatuh.

"Hitung napasmu," bisik Bima. "Satu. Dua."

"Berhenti memberiku perintah."

"Tiga."

"Bima..."

"Empat. Lima."

Napas Alessia pelan-pelan mengikuti hitungan itu, dan dari balik kaca mobil, Carla menyaksikan dengan wajah yang tidak bisa dijelaskan. Bukan puas. Lebih seperti orang melihat sesuatu yang sudah ia duga akan terjadi, dan tidak tahu apakah itu menenangkan atau menyakitkan.

---

"Kenapa Nenek baru bilang sekarang?" tanya Alessia. Suaranya serak tapi tertata lagi. "Dua belas tahun."

"Karena aku pengecut." Carla mengatakannya tanpa membela diri. "Giovanni memegang sesuatu atasku. Bukan uang. Bukan nyawa." Matanya melirik Dimas, hanya sepersekian detik. "Seorang anak."

Wartini membeku. Dimas mengangkat wajah, menatap Carla, lalu ibunya, dan dari wajahnya Bima melihat ia mulai mengerti sesuatu yang tidak seharusnya ia mengerti di umur tujuh belas.

"Maksud Nenek?" tanya Dimas. Suaranya pecah.

"Dimas bukan anak Hadi Ardhana," kata Carla pelan.

Wartini menjerit. Bukan menjerit panjang, hanya satu bunyi pendek yang robek, seperti kain ditarik paksa. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan.

"Jangan," pintanya. "Bu Carla, jangan..."

"Wartini, dia sudah berhak."

"Itu rahasia kami berdua!"

"Itu rahasia yang dipakai Giovanni dua belas tahun untuk mengendalikan kita bertiga." Carla akhirnya melepaskan tatapannya dari Dimas. "Hadi tahu. Dia menyayangi anak itu seperti darah dagingnya sendiri. Tapi ayah kandung Dimas..."

Ia berhenti, dan untuk pertama kalinya ibu jarinya bergeser sedikit dari tombol.

"...adalah Matteo Vieri."

Garasi menjadi sunyi sekali.

Alessia tidak bergerak. Bima merasakan lengannya, yang tadi bersandar padanya, mengeras seperti kayu. Dimas menatap Alessia. Alessia menatap Dimas. Dua pasang mata yang berbeda, dan untuk pertama kali Bima melihat sesuatu yang selama ini ia lewatkan. Garis alis yang sama. Cara mengatupkan rahang yang sama.

"Dia adikku," kata Alessia, hampir tak bersuara.

"Adik tirimu, secara hukum tidak ada." Carla menunduk. "Matteo dan Wartini, tiga belas bulan sebelum Hadi menikahinya. Hadi tahu. Hadi menikahinya karena Matteo meminta. Karena kalau Giovanni tahu anak itu ada, dia akan jadi penerus Vieri yang sah, dan Giovanni akan membunuhnya dalam kandungan."

Wartini terisak tanpa suara, kepalanya bersandar ke bahu Dimas yang kaku.

"Ibu..." Dimas menatapnya. "Bapak bukan bapakku?"

"Hadi yang mengajarimu naik sepeda."

"Itu bukan jawaban."

"Hadi yang bangun jam empat tiap pagi untuk bikin bumbu sate supaya kamu bisa jajan." Wartini meraih wajah anaknya dengan dua tangan. "Itu jawabannya. Itu satu-satunya jawaban yang Ibu punya."

Bima berdiri mematung. Seluruh hidupnya baru saja ditarik dari bawah kakinya, tapi anehnya yang paling menyakitkan bukan kebohongan itu. Yang paling menyakitkan adalah wajah Dimas, yang menoleh pelan ke arahnya dengan mata mencari. Meminta Bima untuk tetap kakaknya.

Bima melangkah, membuka pintu mobil, dan menarik adiknya ke pelukan tanpa bicara. Dimas menangis di bahunya seperti saat berumur enam tahun.

"Kamu adikku," bisik Bima ke rambutnya. "Nggak ada surat yang bisa ubah itu. Nggak ada kontrak. Nggak ada darah. Kamu adikku."

Di belakang mereka, Alessia berdiri diam dengan pistol di tangan. Bima tidak melihatnya, tapi Marta melihat. Marta melihat perempuan yang selama ini dikenal tanpa air mata itu menahan tangis dengan gigi, dan memalingkan wajah agar tidak ada yang tahu.

---

"Cukup," kata Carla. Ia menegakkan duduk, dan nada lamanya kembali, dingin dan penuh perhitungan. "Aku bicara bukan untuk menyiksa kalian. Aku bicara karena waktunya habis."

"Habis kenapa?" tanya Alessia.

"Karena subuh dua jam lagi, dan Giovanni sudah menyiapkan acara." Carla mengangkat detonator sedikit. "Rapat besar seluruh keluarga di aula utama. Semua kepala cabang, semua pejabat pelabuhan. Dia akan menunjukkan sesuatu."

"Apa?"

"Tubuh Matteo Vieri."

Alessia mengerjap. "Ayah sudah..."

"Belum." Carla menggeleng pelan. "Dia hidup. Dua belas tahun di ruangan yang sama dengan ruang bawah tanahmu, tapi lebih dalam. Dijaga, dirawat, dijaga agar tetap hidup. Giovanni butuh dia sebagai kunci."

"Kunci apa?"

"Buku resep Hadi punya tiga belas halaman untuk yang hilang. Halaman empat belas ke atas untuk yang bisa diselamatkan." Carla menatap Bima. "Tapi Giovanni tidak pernah bisa membuka yang terakhir. Halaman yang Hadi sembunyikan, yang hanya bisa dibaca oleh dua orang bersamaan."

"Dua orang?"

"Anak Matteo. Dan anak Hadi."

Bima melepaskan Dimas perlahan. "Saya dan Alessia."

"Itu kenapa kalian dinikahkan, Nak. Bukan hanya pasal satu. Itu kunci." Carla menyeka sesuatu di sudut matanya dengan punggung tangan. "Giovanni tidak merencanakan pernikahan ini. Aku yang membuatnya terjadi. Aku menuntun kalian ke sana, Alessia, karena hanya itu cara membuat kalian berdiri bersama di ruangan yang sama dengan buku itu."

"Nenek menjebak kami."

"Aku menyelamatkan kalian." Ia menunduk. "Kebetulan keduanya sama."

Alessia menatapnya lama. Lalu perlahan, tanpa izin siapa pun, ia mengangkat pistol dan menaruhnya di atas kap mobil. Bima mengerti. Bukan menyerah. Ia memberi neneknya satu hal yang belum pernah ia berikan pada siapa pun malam itu. Kepercayaan, setipis benang.

"Lepaskan tombolnya," katanya. "Dan aku ikut rencanamu."

Carla menatap detonator di tangannya. Lalu, perlahan, ibu jarinya terangkat.

Tombol itu naik kembali. Tidak ada ledakan.

Garasi kembali bernapas. Rico memukul setir dengan telapak tangan dan menangis tanpa suara. Marta mengembuskan napas panjang. Wartini terkulai ke jok.

Tapi Bima memperhatikan hal lain. Ketika Carla menurunkan tangannya, jari-jarinya gemetar bukan seperti orang lega. Gemetar seperti orang yang baru saja berbohong dan sedang menghitung berapa lama kebohongan itu bisa bertahan.

"Nek," kata Bima pelan. "Satu pertanyaan."

"Tanya."

"Kenapa Om Gio mau menghapus ingatan kami berdua, kalau yang dia butuhkan justru kami berdua membuka halaman terakhir?"

Wajah Carla tidak berubah. Tapi Bima melihat pupilnya melebar, hanya sedikit, satu detik.

"Karena dia belum tahu," katanya. "Dua belas tahun lalu, dia menganggap kalian hanya anak-anak."

"Bukan itu jawabannya."

"Bima..."

"Kalau Om Gio butuh kami hidup dan ingat, dia nggak akan menghapus apa pun." Bima menatap lurus. "Orang yang menghapus ingatan kami bukan orang yang butuh buku itu terbuka. Orang itu justru ingin buku itu tertutup selamanya."

Suasana berubah. Alessia menoleh pelan ke arah Bima, lalu ke arah Carla.

"Ada dua orang di rumah ini," lanjut Bima. "Satu yang mau halaman itu dibuka. Satu yang mau halaman itu dikubur. Dan Nenek nggak pernah bilang yang mana Nenek."

Carla tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, senyum paling tipis dan paling sedih yang pernah Bima lihat. Lalu tangannya yang tadi memegang detonator terbuka, dan benda itu jatuh ke jok.

Kosong. Tidak ada kabel. Tidak ada bahan peledak. Hanya cangkang plastik dengan tombol palsu.

"Kamu cerdas, Nak," katanya lembut. "Persis seperti ayahmu."

Dari atas, dari lantai garasi di atas kepala mereka, terdengar suara keras sekali. Bukan ledakan. Suara ratusan sepatu menghentak lantai marmer bersamaan, seperti pasukan yang baru diberi aba-aba.

Marta menatap langit-langit, wajahnya memucat. "Itu bukan rapat subuh. Itu mereka sudah masuk."

Carla menatap Alessia untuk terakhir kali, dan di matanya akhirnya Bima melihat apa yang ia sembunyikan sejak awal. Bukan penyesalan. Bukan niat baik. Rasa takut yang murni.

"Maaf, Cucuku," katanya. "Giovanni lebih cepat dari rencanaku. Dan aku sudah tidak bisa memilih lagi di pihak mana aku berdiri."

Ia meraih sesuatu di sisi jok. Bukan senjata. Sebuah radio kecil, dan ia menekan tombolnya sambil menatap Bima lurus-lurus.

"Semua unit, sasaran ada di garasi bawah. Kedua-duanya. Hidup-hidup."

Pintu baja garasi bergetar oleh hantaman dari luar. Sekali. Dua kali. Dan dari celah engselnya yang mulai melengkung, terdengar suara Om Gio yang ramah, seperti pria yang mengetuk pintu tetangga membawa sarapan.

"Nona Alessia? Bima? Buka pintunya, Nak. Nenek kalian sudah memberitahu semuanya, kan?"

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
siapa tuh penasaran banget deh.. kenapa jadi misterius ya.. 🤔🤔🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu judes sekali sih mbak.. 🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: waahh kayak siapa ya.. 🤔😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lah terus yang katanya sudah meninggal terus dimandikan itu jenazah siapa dong? 🤔🤔🤔 wah ini yang aku suka dari novel kak Andri.. selalu tidak tertebak... kadang aku suka salah tebak..😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: bisa aja kak... 😂😂😂 apanya uang mau digadaikan 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
tegang cuy... 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
ya ampun bu.. kenapa juga mesti ditampar sih.. 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu suka ngeyel klau dibilangin tuh Bima ih... kalau kamu bisa bela diri, minimal kamu bisa menolong orang tanpa menyusahkan orang lain.. sedangkan ini, kamu sendiri saja hampir mati tadi kan...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apa bedanya sama orang yang sudah tahu api memilih diam...apakah itu masih sama 🤔🤔🤔
tania Weh
Kakkkkk 😭❤️ bikin deg-degan aja! Aku bingung mau nyelametin Axel atau meluk Kenzo duluan 😩🔥 Tapi kalau Kak Author yang nyulik hati aku, aku nggak mau diselamatkan deh, maunya langsung dibawa ke pelaminan! 🤭💋🤣❤️
Silva Ggggjg
luar biasa... cerita terbaik
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
itu juga kan berdiri.. seperempat berdiri 😅😅 kalau bungkuk kan setengah berdiri... 😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
nah itu berarti kapal nya ayahnya...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
gila tegangan tinggi cuy.. 😱😱😱
tuti raniati
oalah nenek plenger rupanya Thor 🤭
EVandri Beloved❤❤: iya 🤣
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
Mungin maksudnya tikus negara kali ya...😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
terus nama yang cocok buatnya siapa kira² menurut kamu Bima... apakah Surti.. Siti... satu.. 😂😂
EVandri Beloved❤❤: atau siapa???
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
itu sepertinya yang disimpan di belakang pinggangnya pasti cuman pistol yang keluar gelembung kan.. 😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan siapa dia 😂😂😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
mau kaget tapi malah jadi pengen ketawa... kamu jawabnya watados sekali mbak... 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: bukan.. yang sama mah mangtados.. baru adik kaka mereka 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
duh pasti malu banget deh 😅😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
baru tahu. ternyata mobil bisa terpeleset.. aku kir hanya manusia saja.... kak authornya bisa ae.. 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan hanya kak author yang bisa seperti itu 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
jawaban yang pintar😂😂 ditanya pucat karna hanya tersorot lampu jalan...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: siapa tuh...
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!