'Salah kamar bukan salah jodoh'
Kisah 2 insan yang memiliki kisah tersendiri. Di mana Kinan yang sangat menjunjung tinggi kriteria untuk pasangannya dan Bram yang bergelut dengan lukanya di masa lalu. Siapa sangka? Keduanya dipertemukan dalam keadaan tak terduga yang justru membuat mereka harus terpaksa menikah.
Up : Jum'at & Minggu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salwaa RJ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29 Ancaman Lia
Bram memijat kepalanya yang terasa berdenyut. Saham perusahaannya perlahan merosot. Beberapa investor juga mulai memutuskan untuk tak lagi bekerja sama dengan AP Holding's. Bram merasa ini mungkin jadi akhir dari perusahaan yang sudah susah payah dia bangun. Andai bukan karena Lia, semua ini takkan terjadi.
Suara notifikasi membuat Bram melirik ponselnya yang terletak tak jauh darinya. Bak sebuah pil penenang, pesan singkat yang baru dia terima. Ini sudah hampir tengah malam dan dia masih ada di kantor untuk memikirkan strategi apa yang perlu dia pilih agar perusahaannya tak gulung tikar.
Sementara itu, Kinan tengah merebahkan diri di atas ranjang. Meski kantuk sudah berkali-kali hinggap, dia malah memilih untuk tetap membuka mata. Dia masih menunggu kapan Bram akan pulang. Dia sedikit merasa bersalah karena mendiamkan suaminya seharian. Padahal wajar jika Bram khawatir padanya.
Kinan memilih untuk membuka galerinya. Dia tersenyum saat melihat foto-foto pernikahan mereka. Bahkan, sesekali Kinan tertawa melihat foto yang menunjukan seakan dirinya ingin membunuh Bram saat itu juga.
Jika diingat lagi, hubungan mereka terasa lucu. Hanya karena kesalah pahaman, mereka berujung menanda tangani kontrak yang pada akhirnya tetap dihancurkan. Dia hanya bisa berharap pernikahan ini punya akhir yang indah. Bukan akhir tragis seperti yang biasa Kinan lihat di novel-novel fiksi tentang pernikahan kontrak. Namun, tak sedikit pula yang berakhir bahagia.
...***...
Kinan mengerutkan dahi saat merasa seseorang memeluknya. Dia kemudian membuka mata, mendapati Bram tidur dengan tenang sembari memeluknya. Kinan baru sadar dirinya ketiduran setelah melihat-lihat foto pernikahan mereka. Segera dia melirik jam dinding yang ada di sana, membulatkan mata saat mendapati jam sudah menunjukan pukul 4 pagi.
Perlahan Kinan melepas pelukan Bram. Dia mengganti kekosongan itu dengan sebuah bantal agar Bram tak terbangun. Dia yakin suaminya itu baru memejamkan mata. Jadi, dia merasa tak enak jika harus membangunkannya.
Sebelum melangkah ke kamar mandi, Kinan lebih dulu mematikan alarm ponselnya yang sebentar lagi akan berbunyi. Hari ini memang takkan terlalu melelahkan karena hanya prosesi inti pernikahan tanpa beberapa adat yang biasanya digunakan orang lain. Pernikahan ini akan dilaksanakan dengan privat dan sangat cepat. Tujuannya agar tak ada wartawan yang meliput. Demi keberlangsungan perusahaan milik keluarga Pratama itu, semua ini harus benar-benar dilakukan.
Kinan memilih pakaian setelah selesai mandi. Dia takkan mengenakan kebaya seragam. Dia di sana bukan sebagai keluarga, melainkan sebagai perencana pernikahan. Jadi, dia memilih kemeja serta celana panjang dengan warna senada. Dia memoles tipis wajahnya dengan make up seperti biasa kemudian berjalan hati-hati agar Bram tak terbangun.
"Bram belum bangun?" tanya Rosa saat Kinan menginjak anak tangga terakhir.
Kinan tersenyum kemudian duduk di meja makan. "Mas Bram baru tidur kayaknya, oma. Jadi Kinan gak bangunin."
"Tuan memang baru pulang jam 2," ujar asisten rumah tangga yang bekerja di rumah mereka sembari menyajikan sarapan.
"Gapapa, Bram gak perlu dateng. Dia lagi stres sama saham yang sekarang anjlok. Oma temenin ya."
Kinan tersenyum kemudian mengangguk. "Siap, oma."
Kinan beruntung, semalam Aldo berhasil mendapatkan venue pengganti. Sehingga, pagi ini mereka bisa segera menghias venue itu meski dengan sederhana.
...***...
Langit cerah menemani acara yang akan digelar tertutup oleh keluarga Pratama itu. Mereka memilih untuk melakukannya di dekat kediaman keluarga Pratama. Sebuah gedung yang memang terasa sangat privat dan konon menjadi tempat pernikahan beberapa public figure yang lebih suka acaranya terasa intimate.
Dengan cat berwarna putih, tentu membuat Kinan merasa sangat bahagia. Dia bisa dengan mudah menghias venuenya dengan baik. Tak perlu kursi pelaminan karena acaranya juga takkan terlalu lama.
Kinan tersenyum saat tim dekorasi memasang hiasan terakhir di dinding. "Oke, good job!"
Namun, senyumnya segera hilang saat seseorang berbisik padanya soal gaun yang digunakan pengantin wanita. Dia baru ingat seharusnya dia tak memberikan gaun yang mungkin akan membuat Lia merasa tak nyaman.
Kinan melihat jam di tangannya. Tersisa sekitar setengah jam dan takkan mungkin dia meminta salah satu timnya untuk mengambil gaun lain. Apalagi, jarak kantor dan venue itu cukup jauh. Mungkin akan membutuhkan waktu sekitar 1 jam jika perjalanan lancar.
"Kayaknya ini bisa sedikit dirombak deh." Kinan mengikat rambutnya agar tak mengganggu. Kemudian dia meraih gunting. "Al, tolong cari benang."
Semua timnya kini sibuk mencari apa yang diperlukan, menyisakan Kinan dan Lia di ruangan itu.
"Gak perlu sih. Untuk apa?"
Kinan menghembuskan napas kemudian menatap Lia yang kini masih berbalut pakaian santai. "Saya cuma berusaha semaksimal mungkin."
"Lagian ini bukan pernikahan yang saya mau. Harusnya sama mas Bram."
Kinan merasa ucapan Lia terasa menusuk. Bukan apa-apa, dia hanya merasa jika saat ini dia tertuduh sebagai perebut suami orang. Padahal, sudah jelas Lia saat itu belum menikah dengan Bram dan Bram juga sudah memutuskan untuk tak menikahi wanita itu.
Lia mendekat kemudian berbisik, "Saya bakal ngelakuin apa pun buat dapet tempat itu lagi."
Kinan mengepalkan tangannya kemudian tersenyum. Tentu dia takkan mudah terintimidasi. Lagipula, sekuat apa pun Lia berusaha, dia yakin Bram takkan mau kembali dengannya. Jika dengan Lia, dia percaya diri bisa bersaing. Namun, dia masih tak yakin apa dia bisa bersaing dengan Rena?
"Kalo gitu, saya juga bakal lakuin apa pun demi mempertahankan tempat saya."
Lia berdecih. "Kamu masih bisa bangga?"
"Karena saya tau, mas Bram gak akan semudah itu balik ke kamu." Kinan kembali memperbaiki gaun itu agar Lia bisa mengenakannya. Dia melakukan ini bukan untuk Lia, tapi untuk oma Rosa. Dia tak mau mengecewakan kepercayaannya.
"Saya masih ada urusan lain. Tim saya yang lain yang bakal bantuin kamu, permisi." Kinan memilih melangkah pergi setelah tugasnya selesai. Lagipula dia tak mau membantu Lia mengenakan gaunnya meski wanita itu sedang hamil dan tak mungkin melakukannya sendiri. Namun, dia telanjur kesal karena ucapannya.
"Mas nyariin loh. Oma bilang kamu gak makan apa-apa pas sarapan."
Kinan tersenyum. Suasana hatinya yang buruk, sirna begitu saja. "Kinan sibuk."
"Makan dulu. Kalo kamu pingsan mas gak akan angkat, berat."
Kinan terkekeh. Sejak kapan Bram yang kaku bisa bercanda? "Nyebelin deh ngomongin berat badan."
"Cepet makan dulu. Nanti mas gantiin deh kalo ada yang perlu dikerjain." Bram mencari tempat duduk kemudian menarik Kinan untuk ikut dengannya. Makanan belum disajikan. Jadi, Bram mencari makanan yang bisa disantap oleh Kinan.
"Makasih."
Kinan mengerutkan dahi saat Bram memajukan bibirnya. Dia kemudian terkekeh salah tingkah kemudian memukul pelan lengan Bram. "Mas ih apaan."
"Cepet makan dulu."
Mas, janji ya jangan tinggalin Kinan? batin Kinan. Dia sungguh takut kehilangan Bram. Apalagi setelah ancaman Lia.