Selir Jing Mee bersekutu dengan kerajaan iblis untuk menguasai Kerajaan Bumi yang dipimpin oleh Kaisar Li Zhang Junda.
Ia berhasil memasukkan Kaisar dan Permaisuri kedalam tahanan Kerajaan, namun usahanya untuk membunuh kedua Putri Kerajaan harus gagal karena Putri Li Wei dan adiknya Li Wen berhasil melarikan diri dibantu oleh Jendral Haocun yang setia, saat Kerajaan dilumpuhkan oleh pasukan Iblis dan beberapa prajurit pengkhianat pengikut Selir Jing Mee.
Akankah Li Wei berhasil membebaskan kedua orang tuanya yaitu Kaisar Li Zhang Junda dan Permaisuri Hua Mei?
Dan bagaimanakah mereka menghimpun kekuatan untuk merebut kerajaannya kembali?
Kisah ini dibumbui oleh intrik asmara dan konflik yang menyebabkan pertarungan sengit.
~~~
Cerita ini hanya murni terlahir dari imaginasi author, jika ada kesalahan atau alur cerita yang sedikit ngawur harap dimaklum, karena Author baru belajar menulis cerita.
Happy reading guys....😍😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Srie Moelyanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menebus Kerinduan
"Ayah....!"
Li-Wen berlari memeluk raja Li Zhang Junda yang baru muncul dari balik pintu.
"Ayah, dimana ibunda?" Li-Wen mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Dia memfokuskan pandangannya ke arah pintu masuk dimana raja Li Zhang Junda muncul tadi.
Raja Li Zhang Junda kembali memeluk Li-Wen dan meneteskan air mata. Li-Wei hanya menatap keduanya dengan perasaan yang hancur. Begitu pula dengan Li-Mou, yang hanya tertunduk lemah seakan tidak berdaya ketika mengingat kekejaman selir Jing Mee yang telah menghabisi permaisuri Mei Hua.
"Wen'er, Ibumu sudah pergi ke nirwana." Raja Li Zhang Junda memeluk dan mengusap rambut Li-Wen dengan lembut. Mencoba mengalirkan energi kekuatan untuk membuat Li-Wen lebih tegar.
Tubuh Li-Wen semakin lemah setelah mendengar perkataan raja Li Zhang Junda, dan mulai merosot dari pelukan raja Li Zhang Junda.
"Wen'er.... "
Raja Li Zhang Junda menopang tubuh Li-Wen yang hampir saja ambruk. Raja Li Zhang Junda segera menggendong Li-Wen, dan raja Yuan Xing gegas mengarahkan tabib kerajaan untuk membantu raja Li Zhang Junda dan membawa Li-Wen ke paviliunnya.
Raja Li Zhang Junda membaringkan Li-Wen di atas peraduannya.
"Tuan raja Li, tidak perlu hawatir, putri Li-Wen hanya sedikit terkejut mendengar kabar tentang permaisuri." tabib kerajaan Xing berjalan mundur memberi tempat kepada raja Li Zhang Junda untuk duduk dekat peraduan Li-Wen.
"Li-Wei, kemarilah!"
Li-Wei segera menghampiri raja Li Zhang Junda.
"Duduklah!" raja Li Zhang Junda menepuk tempat di sebelahnya. Li-Wei segera duduk di samping raja Li Zhang Junda.
"Ayah sudah tua ... kelak kalau ayah sudah tidak ada, tolong jaga adikmu dengan baik. dan ambil kembali kerajaan bumi dari tangan selir Jing Mee dan raja iblis. Jangan biarkan rakyat bumi sengsara karena ketidakadilan." tangan kanan raja Li Zhang Junda mengusap rambut Li-Wei dengan lembut, dan tangan kirinya menggenggam tangan Li-Wen yang masih lemah.
"Ayah, jangan bicara seperti itu. Apa Ayah tidak mau melihat Li-Wen menikah dan memiliki cucu darinya?" Li-Wei yang biasanya tegar, kini harus bersandar di bahu raja Li Zhang Junda.
Raja Li Zhang Junda tersenyum.
"Siapapun akan mengalami akhir dari kehidupan, kecuali yang bisa mendapat kehidupan abadi menjadi seorang dewa dan dewi."
"Ayah, apa Ayah sudah tidak sayang lagi kepadaku? Ayah jangan pernah pergi lagi. Cukup ibunda permaisuri saja yang meninggalkan aku, hiks, hiks." ternyata Li-Wen sudah sadar dan mendengar ucapan raja Li Zhang Junda.
"Ternyata putri kecilku sudah bangun, heh!" raja Li Zhang Junda berganti menoleh ke arah Li-Wen yang masih terbaring.
Li-Wen langsung duduk dan memeluk raja Li Zhang Junda. Kedua tangan raja Li Zhang Junda meregang dan memeluk kedua putri kesayangannya.
"Dua putri kesayangan ayah. Kalian harus bisa menjaga diri dan kembali merebut kerajaan bumi demi kesejahteraan rakyat bumi. Ayah tidak tega melihat rakyat kita diperlakukan semena-mena oleh pihak kerajaan. Dan balaskan dendam ibumu yang telah mereka siksa dengan begitu kejam. Setelah itu, ciptakanlah perdamaian di muka bumi ini." tak henti tangan raja Li Zhang Junda mengusap rambut panjang kedua putrinya dengan lembut.
Mereka meluapkan rasa rindu yang begitu dalam setelah beberapa tahun tak bertemu. Kebahagiaan dan kesedihan bercampur menjadi satu.
Namun, Li-Wei sudah menyusun rencana untuk mengumpulkan kekuatan menyerang kerajaan bumi yang kini dikuasai oleh raja iblis dan selir Jing Mee.
"Kakak, dimana jendral Haocun?" tiba-tiba Li-Wen bertanya perihal jendral Haocun, membuat raja Li Zhang Junda mengerutkan keningnya.
"Jendral Haocun?" suara lelaki yang sudah tua itu merasa heran, Raja Li Zhang Junda menoleh dan menatap Li-Wen penuh tanya.
Li-Wen langsung menutup mulut dengan kedua tangannya. Wajahnya merah bagai kepiting rebus. Rasa rindu yang sangat dalam membuat Li-Wen hilang kendali untuk tidak menahan nama jendral Haocun di depan ayahnya. Li-Wei hanya tersenyum.
"Ayah, jenderal Haocun dan Li-Wen ... aw!"
Li-Wen mencubit tangan Li-Wei dari belakang punggung raja Li Zhang Junda. Raja Li Zhang Junda menoleh kepada Li-Wei yang terkejut dan kesakitan mendapat cubitan keras dari Li-Wen.
"Tidak Ayah, tidak apa-apa, hm...." Li-Wen tersenyum kikuk.
"Menurut ayah, jendral Haocun orang yang kuat dan berhati putih. Kesetiaannya kepada kerajaan tidak diragukan lagi. Apalagi kedua orang tuanya telah banyak berjasa kepada kerajaan. Ayah akan merestui kalian, Nak." raja Li Zhang Junda mengusap pipi Li-Wen dengan jari jemarinya.
"Ayah...." Li-Wen merasa tersentuh dan tak terasa mengalirkan butiran bening dari kedua bola matanya. Li-Wei tersenyum bahagia untuk adiknya.
Li-Wen memeluk raja Li Zhang Junda.
"Wen'er, selamat!" Li-Wei ikut memeluk raja Li Zhang Junda.
"Baiklah, kapan putri kesayangan ayah akan melangsungkan pernikahan?" raja Li Zhang Junda tertawa melihat wajah cantik Li-Wen yang merah merona tersipu malu.
"Ayah, mohon maaf, aku harus pergi ke suatu tempat sebentar." perkataan Li-Wei membuat suasana hening.
"Kau mau kemana, Wei'er?" raja Li Zhang Junda menatap heran kepada Li-Wei.
"Ayah tidak perlu hawatir, aku hanya sedang ada sedikit urusan." Li-Wei mencoba untuk tidak membuat Li-Wen dan ayahnya hawatir.
"Kakak, kau mau kemana? apa kau tidak mau mendengar rencana pernikahanku dengan jendral Haocun?" rengekan Li-Wen membuat raja Li Zhang Junda dan Li-Wei tersenyum. Sifat manja Li-Wen masih belum berubah.
"Wen'er, kakak hanya ada urusan sebentar. Kau rencanakanlah pernikahanmu bersama jendral Haocun dengan ayah. Aku akan selalu mendukungmu." Li-Wei mengusap pucuk kening Li-Wen.
"Ayah, aku pamit."
Raja Li Zhang Junda menganggukkan kepala. Li-Wei segera melangkah keluar paviliun.
Baru beberapa langkah keluar dari paviliunnya, ternyata raja Yuan Xing sedang berjalan ke arah Li-Wei.
"Lili, kau mau kemana?" raja Yuan Xing menghentikan langkahnya setelah berada tepat di hadapan Li-Wei.
"Aku ada keperluan sebentar." Li-Wei meneruskan langkahnya diikuti oleh raja Yuan Xing. Mereka berjalan berdampingan.
"Boleh aku temani?"
"Terima kasih, Yuan. Sepertinya aku harus pergi sendiri."
"Apa kau sudah tidak memercayai teman kecilmu ini untuk mengatakan tujuanmu?"
"Yuan," Li-Wei menghentikan langkahnya, "bukan seperti itu maksudku. Saat ini ada beberapa hal yang belum bisa aku katakan padamu. Suatu saat, aku akan menceritakannya kepadamu." sambung Li-Wei.
"Kau bersedia berjanji?" raja Yuan Xing mengulurkan jari kelingking untuk melakukan perjanjian seperti di masa kecil mereka.
"Kau ini! sudah menjadi raja muda saja kelakuannya masih seperti anak kecil. Kapan kau akan bersikap dewasa?"
"Dewasa tidak harus merubah semua kelakuan semasa kecil kita. Dewasa hanya perlu menambah pemikiran yang luas mengenai dunia. Apa kau tahu, masa kecilku adalah masa paling bahagia dalam hidupku. Dimana aku selalu bersamamu meskipun kau selalu menindasku!"
"Sudahlah, Yuan. Kini semuanya sudah berubah. Kau menjalani takdirmu sendiri. Begitu juga dengan aku. Terima saja putri Tian Kong untuk menjadi permaisurimu. Agar kau tidak selalu merasa kesepian."
Li-Wei meninggalkan raja Yuan Xing yang kini hanya berdiri mematung setelah mendengar perkataan Li-Wei.
mampir juga yea ke I was caught in my trap semoga suka...... 🙏🙏🙏🙏🙏