IG. suliani_cucu
Warning 18+
Kekurangan harta membuat Aldo rela menjadi pemuja Nyai Ratu, siluman ular hutan terlarang.
Semua terjadi karena sebuah penolakan yang terjadi saat Aldo ingin meminang kekasih hatinya, pak Didi bukan hanya menolak lamaran dari Aldo. Namun, dia menghina dan mencaci maki Aldo yang memang hanya orang biasa.
Akankah dia mendapatkan kebahagiaan dengan cara sesat yang dia tempuh?
Yuk kepoin kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir Saja
Aldo terlihat duduk di ruang keluarga seraya menonton TV, matanya tertuju pada layar besar yang ada di hadapannya. Namun hati dan pikirannya tidak tahu entah bekelana kemana.
Sebenarnya hatinya merasa gundah, pikirannya kalut dan perasaannya terasa tidak enak. Apalagi kini di sebuah kamar khusus yang dia siapkan untuk Nyai Ratu, sedang terjadi sesuatu yang entah apa dia tidak tahu.
Sungguh hati dan pikirannya berkecamuk, dia tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan saat ini. Dia hanya berharap, semoga semua keinginannya cepat terkabul setelah dia menjadi pemuja Nyai Ratu.
Saat sedang merasa kalut, tiba-tiba saja Ado dikegetkan dengan bunyi bel yang terdengar sangat nyaring.
Dia menjadi bertanya-tanya, siapakah yang datang? Mungkinkah Arumi? Atau security komplek?
Aldo segera berjalan menuju pintu utama, dia ingin segera tahu siapa yang datang. Aldo terlihat kaget kala membuka pintunya.
Arumi terlihat sedang berdiri sambil tersenyum manis, dia yang begitu rindu merasa sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Aldo.
Walaupun dia tahu jika bapaknya akan marah, Arumi tetap saja mencari alasan agar bisa bertemu dengan Aldo, lelaki pujaan hatinya.
"Mas kok diem aja? Ngga kangen?" tanya Arumi dengan bibir yang mencebik, dia kesal karena Aldo hanya diam mematung saat melihat dirinya.
"Eh? Maaf, Sayang. Mas terlalu bahagia melihat kamu datang," jawab Aldo kikuk.
'Bagaimana ini? Di dalam sedang ada Nyai Ratu, aku tidak mungkin membawa Arumi masuk.' Bingung Aldo berucap dalam hatinya.
Arumi terlihat memperhatikan wajah Aldo, dahinya mengernyit karena Aldo terlihat seperti orang kebingungan.
"Sini duduk, Yang." Aldo menuntun Arumi untuk duduk di atas sofa yang ada di teras.
Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Aldo, Arumi semakin bingung dibuatnya. Kenapa juga Aldo mengajaknya untuk duduk di depan teras? Tidak seperti biasanya, padahal jika dirinya datang Aldo selalu terlihat bersemangat bahkan selalu langsung mengajak Arumi untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Mas, hari ini kamu sangat aneh. Sebenarnya ada apa sih? Kenapa kesannya aku tidak boleh masuk ke dalam rumah kamu?" tanya Arumi.
Aldo masih terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Arumi semakin curiga dibuatnya, lalu tak lama kemudian Arumi berkata.
"Apa Mas menyembunyikan wanita lain di dalam rumah, sehingga aku tidak boleh masuk ke dalam rumah?" tanya Arumi.
Alda semakin ketar-ketir dibuatnya, dia takut jika mengajak Arumi masuk, maka dia akan tahu jika di dalam kamar belakang ada Nyai Ratu yang sedang meminta tumbal.
"Mas! Jawab!" sentak Arumi.
"Tidak apa-apa, Sayang. Tidak ada perempuan lain di dalam," jawab Aldo cepat.
Arumi benar-benar tidak habis pikir dengan sikap Aldo hari ini, dia benar-benar merasa jika Aldo menyembunyikan sesuatu dari dirinya.
Bahkan Arumi sampai menggerutu dalam hatinya, karena jika mereka berduaan di luar rumah seperti ini, pasti pak Didi akan tahu jika Arumi kini berada di rumah Aldo.
Karena memang posisi rumah Aldo berada di barisan paling depan, dekat dari jalan raya. Sudah pasti jika pak Didi atau Reihan lewat, pasti mereka akan melihat Arumi yang sedang berduaan dengan Aldo.
"Aku mau masuk ke dalam, Mas. Aku mau membuktikan, apakah di dalam ada wanita lain atau tidak?" kata Arumi.
Arumi langsung bangun dari duduknya, kemudian dia masuk begitu saja ke dalam rumah Aldo.
Dia ingin membuktikan prasangkanya yang menyebutkan jika di dalam rumah Aldo ada wanita lain yang Aldo sembunyikan.
Tentu saja ruangan yang Arumi ingin masuki terlebih dahulu adalah kamar milik Aldo, Arumi berjalan masuk ke dalam kamar Aldo.
Lalu, dia terlihat mengedarkan pandangannya. Dia mencari sosok perempuan lain yang mungkin bisa dia temukan di dalam kamar Aldo. Sayangnya dia tidak melihat sosok wanita yang dia cari.
Arumi melangkahkan kakinya, lalu dia masuk ke dalam kamar mandi yang tak luput dari perhatiannya.
Sayangnya di sana juga tidak ada perempuan, kamar mandinya pun terlihat kering. Seperti sudah tidak terpakai sejak beberapa jam yang lalu.
Arumi keluar dari kamar mandi, lalu dia membuka lemari pakaian milik Aldo. Tidak dia temukan wanita, hanya tumpukan dan baju yang menggantung di sana.
Tak putus asa, dia juga mencari di dalam kolong ranjang. Karena penasaran, sayangnya Arumi tidak menemukan seorang perempuan pun di sana.
Justru, Arumi malah merasa jika malam ini di rumah Aldo terasa mencekam. Bahkan bulu kuduknya terasa meremang, beberapa kali Arumi terlihat mengusap tengkuk lehernya.
Aldo yang merasa bingung langsung menghampiri Arumi, kemudian dia mengelus lembut lengannya.
"Arumi, Sayang. Kamu kenapa sih, Yang? Dari tadi curigaan terus bawaannya, udah gitu malam ini kamu bersikap aneh banget," kata Aldo.
"Yang aneh itu kamu, Mas. Bukan aku, terus ini kenapa suasana rumah kamu jadi berbeda kaya gini? Malam ini terasa sangat aneh, sangat--"
Arumi tidak meneruskan ucapannya, karena bulu kuduk Arumi kembali terasa berdiri.
"Enggak ah, biasa aja. Kamunya aja yang terlalu berprasangka buruk sama aku," jawab Aldo kikuk.
"Ngga ah, Mas. Hawa malam ini terasa sangat aneh, kenapa, ya, Mas?" tanya Arumi.
Sebenarnya Aldo juga merasakan hal yang sama seperti Arumi, dia terus saja merasa bulu kuduknya terasa berdiri.
Namun, Aldo tidak mungkin mengatakan kepada Arumi jika malam ini ada Nyai Ratu di dalam rumah tersebut.
Karena takut ketahuan oleh Arumi, Aldo langsung menggendong Arumi dan menghempaskan tubuh Arumi ke atas ranjang kesayangannya.
Dia menaiki tubuh Arumi dan memgungkung pergerakannya, dia tidak akan membiarkan Arumi mengetahui jika dirinya merupakan pemuja Nyai Ratu, siluman ular dari hutan terlarang.
"Kamu itu banyak omong, Yang. Dari pada mikirin yang enggak-enggak, mendingan ngelakuin yang pasti-pasti aja. Ngelakuin hal yang bikin enak, yang bikin ketagihan." Aldo langsung menunduk dan mulai menautkan bibirnya.
Arumi yang awalnya ingin protes, tidak bisa berkata-kata saat Aldo dengan lihainya bermain di bibir Arumi.
Bahkan, tangan kiri Aldo terlihat meremat dada Arumi. Sedangkan tangan kanannya dia gunakan untuk menahan bobot tubuhnya.
"Emph, Mas. Lakukan! Aku mau, aku menginginkan kamu." Tangan Arumi menarik tangan Aldo dan menuntunnya untuk menyentuh miliknya.
Aldo menurut, dia membuka kancing pengait celana milik Arumi dan menurunkannya. Dia menyusupkan tangannya ke dalam kain pengaman milik Arumi dan mulai memasukkan dua jarinya ke dalam milik Arumi.
Arumi terlihat memejamkan matanya, dia menggeliat dan menggelinjang. Rasa nikmat dan geli dia rasakan saat ini, Arumi benar-benar seperti wanita yang kehilangan harga dirinya.
Malam ini dia mengemis untuk disentuh oleh Aldo, namun perasaan takut dan kalutnya masih mendominasi.
Hal itu membuat Aldo tidak ingin menyatukan tubuhnya dengan Arumi, dia hanya berusaha memuaskan Arumi dengan jarinya.
"Mas! Aku mau milik kamu," rengek Arumi.
Aldo menggelengkan kepalanya, dia memang menurunkan kain penutup bawah milik Arumi. Namun, Aldo tidak berniat untuk memasuki milik Arumi.
Aldo malah memainkan lidahnya pada milik Arumi dengan dua jari tangannya dia masukan dan mengiyak milik Arumi, dia sengaja memberikan kepuasan pada Arumi bukan dengan miliknya.
Karena jujur saja, walaupun Arumi terlihat begitu menginginkan dirinya, milik Aldo tidak bisa berdiri dengan tegak.
Hal itu terjadi karena Aldo terlalu cemas, dia takut ketahuan jika di sana ada Nyai Ratu yang sedang meminta tumbal.
"Aduh, Mas. Udah mau sampe," keluh Arumi seraya menekan kepala Aldo.
Aldo tersenyum, dia semakin bersemangat memainkan milik Arumi.
*
*
Masih Berlanjut.
Selamat pagi kesayangan, selamat beraktivitas. Selamat melakukan shalat subuh untuk yang menjalankan.