Kisah tentang kehidupan rumah tangga dengan dua orang istri di dalamnya, Tidak disangka cerita hidup yang tergores kan di luar ekspetasi. Mampukan mereka menjalani hingga akhir dan terus bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terungkap ada yang lain
Kembalinya Nala setelah obrolan empat mata dengan Arya, kini wanita itu sudah berada di samping Tari duduk dengan sangat manis. Ia menatap teduh wanita yang belakangan ini telah menjadi sumber rasa perih yang telah menyerang.
Siapa pun tidak bisa dengan mentah menyalahkan. Dan konteks masalah seperti ini sesungguhnya tidak bisa mencari siapa yang salah. Hanya keadaan dan takdir yang membawanya hingga ke jurang nestapa.
Semua orang tidak bisa memilih takdirnya akan seperti apa, namun seseorang dapat memilih menjalani hidupnya dengan apa. Apakah dengan kesabaran? Dengan dendam? Atau dengan kasih sayang? Bisa juga yang paling sulit adalah dengan memaafkan.
Dengan berbekal senyum yang lebar serta pancaran mata yang jernih, Nala memberanikan diri untuk bertanya kepada Tari tentang hal yang mungkin sangat sensitif bagi sebagian orang.
"Mbak"
"Iya Non, apa yang mau Non Nala bicarakan pada saya?" Tari menggenggam tangan Nala yang halus. Tidak heran, karena Nala sama sekali tidak diperbolehkan melakukan hal berat. Tangan itu diperbolehkan Arya hanya untuk mengusap wajah tampannya.
"Mbak sudah cin-ta sama Mas Arya?" Ucap Nala terbata dan sepelan mungkin.
Dengan perasaan yang deg-degan nyaris meledak, Nala mencoba mengatur nafas. Mempersiapkan kondisi jantung dan paru-paru jika sewaktu-waktu mengalami komplikasi ketika mendengar jawaban iya.
Yang sesak dan berdetak kencang akan menjadi satu. Membentuk gundukkan butiran kegalauan yang siap mengelu-elukan Nala. Gara-gara dia yang terlalu kasihan sama orang lain, mengabaikan rasa kasihan pada organnya sendiri. Terutama hati.
Tari yang sejak awal menyambut hangat Nala untuk berbicara, mendadak bungkam. Ada jeda sepersekian detik antara pertanyaan dengan jawaban.
"Cinta antara Non Nala dan Pak Juragan suami sangatlah kuat. Kalian begitu harmonis. Mana bisa di katakan ada remahan cinta lain di antara kita."
Iya, memang yang dikatakan Tari benar. Tapi masalahnya, pertanyaannya adalah dia cinta atau tidak dengan Arya.
Dengan jawaban Tari yang berbelit dan memutar, jika dilihat menurut filosofi bertajuk cinta, maka jawabannya adalah iya, dia mencintai Arya.
Nala tidak meneruskan pertanyaannya. Ia malah menggantinya dengan petuah. Memang sejak awal Nala memutuskan untuk bertanya seperti itu merupakan hal yang akan memperparah luka.
"Mbak, jika memang mau memanggil Mas Arya dengan sebutan Mas, lakukanlah dengan tidak menutupi dari siapapun. Aku gak apa-apa kok Mbak" Nala tersenyum secerah mentari.
"Kita sama-sama istrinya." Tambahnya lagi sembari menarik tangannya dari genggaman Tari. Nala tidak mau sampai madunya tahu kalau dirinya sedang gugup.
"Non Nala, saya hanya tidak mau menyamai kemesraan Non di khalayak umum. Entah kenapa jika itu saya lakukan, maka akan menyakiti perasaan Non." Ujar Tari.
Penuturan Tari terdengar begitu peduli di telinga Nala. Sehingga membuat istri kesayangan Arya semakin merasa tidak enak hati.
Dia yang memulai semuanya. Saat awal membawa rumah tangganya ke jalan yang rumit, Nala hanya berfikir Arya akan segera memiliki keturunan. Sesingkat itu dia berfikir.
Namun, seiring berjalannya waktu, dia baru sadar bahwa diantara sepasang suami dan istri pasti ada cinta. Entah dari keduanya atau bertepuk sendiri. Nala tidak sampai berfikir kesana.
Sementara Tari sibuk berbincang dengan Nala, kesempatan ini tidak di sia-siakan begitu saja oleh Arya. Dengan bantuan Yudis mengawasi kedua istri sang Juragan, Arya dapat menyisir bagian luar kamar Tari.
Mata elang Arya menyapu setiap benda yang mungkin tidak masuk dalam kategori barang dicurigai. Pohon, batu, dedaunan, daun kering berserak serta hembusan angin patut di waspadai.
Beberapa kali penjagaan pengawal Arya terterobos oleh manusia itu, manusia hilir mudik yang telah berinteraksi dengan Tari. Padahal penjagaan sudah ketat sedemikian rupa dengan jumlah pengawal yang tidak sedikit.
Akankah manusia yang dicurigai Arya sebenarnya bukanlah manusia, melainkan lelembut. Atau bisa jadi dia memang manusia tapi memiliki ilmu seperti Arya.
Sampai pada akhirnya, Arya menghentikan pencarian dengan kening yang berkerut melihat sebuah batu. Kemudian lelaki itu mengangkatnya dan di baliknya ada daun kenikir sebanyak satu tangkai.
Ini pasti sebuah kode untuk wanita itu.
Di lingkungan Arya, tidak ada tanaman ini tumbuh dengan jarak yang dekat. Jadi tidak akan mungkin ada daun ini terhempas oleh angin dan angin pula yang menaruhnya di balik batu.
Saat hendak mengambil tanda itu, ada sebuah tangan menepuk pundak Arya.
"Mas Arya"
Arya menoleh, Lelaki itu tak habis pikir kenapa Tari bisa kesini. Seharusnya Tari sedang bercengkrama dengan Nala di bawah pengawasan Yudis
Eh tunggu, itu Tari tapi bukan. Kasat mata memang itu adalah Tari, namun mata batin Arya menangkapnya bukan. Belum sempat merekamnya dalam memori sosok itu menghilang.
Arya kembali mencurahkan atensinya pada kode yang di temukan. Nahas, kode itu juga hilang bersamaan dengan sosok berupa Tari.
Arya tanpa membuang waktu untuk berjalan langsung melesat demi memastikan keadaan.
Wuuussshh..
"Yudis" Panggil Arya, Yudis yang telah terbiasa dengan kedatangan juragannya tiba-tiba, langsung menundukan kepala.
"Ada yang bisa saya bantu Juragan?"
"Apa wanita itu pergi ke tempat lain di bawah pengawasanmu?"
"Tidak Juragan, sejak tadi Mbak Tari terus bercengkerama dengan Non Nala. Dia tidak pergi kemanapun."
.
.
.
Bersambung...
terimakasih untuk cerita keren ini, di tunggu karya2 Kaka selanjutnya 🙏
🌹🌹🌹
3 iklan buat Arya Sena.