Monica baru saja lulus dari sekolah Menengah Atas. Perjodohannya dengan pria bernama Marsel sama sekali tidak ada keterpaksaan.
Meskipun memang ada tujuan dan alasan tersendiri untuk Monica menerima perjodohan itu.
Tapi tidak dengan Marsel, saat ia tengah koas di salah satu daerah ia bertemu dengan wanita yang seketika itu membuat hatinya berdebar-debar.
Namun ia telah terlanjur menikah dengan Monica dan sudah berjanji akan menikahi wanita pujaan hatinya.
lantas siapa wanita yang akan mendapatkan hati Marsel? setelah ketiganya menikah dan hidup bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon windowsyua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
II.d
Marsel kembali mencium bibir Monica dengan lembut, menuntun Monica untuk membangkitkan gairah sebelum kembali ia menggerakkan pinggulnya, memberikan kepuasan untuk Monica dan kepuasan untuk dirinya sendiri sampai menuju puncak klimaks.
***
Pengalaman yang Monica rasakan sungguh di luar dugaan, Marsel sungguh menyeramkan, tak cukup satu ronde, Marsel kembali menghujam Monica.
"Marsel, aku lelah". Ucap Monica saat ia menerima pelepasan yang sungguh luar biasa untuk kesekian kalinya.
"Hm, baiklah... terima kasih untuk malam ini". Ucap Marsel sungguh-sungguh dan mengecup puncak kepala Monica cukup lama dengan lembut.
Marsel berusaha menidurkan juniornya yang masih tegak berdiri, mau tak mau akhirnya Marsel berdiri keluar dari bathtub dan meraih handuk untuknya juga untuk Monica.
"Aww". Teriak Monica saat ia hendak ingin melangkah.
"Kenapa?". Tanya Marsel khawatir.
"Sakit, ngilu tau". Ucapnya sembari melihat kebawah.
Dan hal tak terduga terjadi, Iyah. Marsel mengangkat tubuh Monica yang berisi itu, terlihat ringan ala bridal style.
"Kamu mau ngapain?". Teriak Monica saat Marsel mengangkat tubuhnya yang tambun.
"Menurut kamu?". Ucap Marsel dengan senyum smirk seperti seseorang yang terlihat kelaparan.
"Marsel?!". Ucap Monica sembari memukul dada bidang Marsel dengan cukup keras.
Lagi-lagi Marsel seolah tak peduli, ia membaringkan tubuh Monica di atas ranjang dengan hati-hati.
Monica dengan sigap segera menjauh dari Marsel dan mengikat tubuhnya dengan handuk.
"Hem, kenapa menjauh? kemari?!". Perintah Marsel yang tak digubris oleh Monica.
"Tidak mau" Ucap Monica tegas namun dengan suara gemas.
"Haha, Iyah enggak". Tawa Marsel terdengar renyah.
"Janji?". tanya Monica sembari memberikan kelingking kanan nya.
"Janji !" Sembari meraih kelingking Monica, akan tetapi tidak hanya kelingking saja melainkan tubuh nya pun ikut menghampiri Monica, bahkan kini telah menindihnya.
"Marsel?!". Teriak Monica sembari tertawa di sela-sela teriakannya.
"Aku janji tidak akan masuk lagi, tapi bukan berarti tidak memeluk atau mencium". Ucapnya dan kini ia telah mengecup bibir Monica dengan rakus.
"Ah-mm". Lenguhan Monica tiba-tiba saja membangunkan kembali junior Marsel yang sebelumnya memang belum tertidur sepenuhnya.
"Apa?". Tanya Monica saat melihat tatapan Marsel seakan memohon.
"Enggak bisa kalau enggak di keluarin, kan sayang siapa tau benih yang ini lebih bagus". Ucap Marsel sembari membuka handuk yang melilit tubuhku dan tubuhnya.
Kini aku hanya bisa pasrah menerima semua gempuran yang di berikan Marsel dengan ritme yang sungguh menarik.
***
Marsel dan Monica saling asik berpadu kasih, sementara di lain tempat Adinda mengalami kecelakaan akibat terlalu cepat mengemudi beruntungnya itu hanya kecelakaan tunggal tidak memakan korban merugikan pengendara lain.
Dari pihak rumah sakit Adinda segera di lakukan tindakan medis. Pihak keluarga Adinda sudah di beri tahu, sementara Marsel dan Monica handphone mereka berada di nada silen sehingga tidak mendengar panggilan yang sudah berpuluh-puluh kali berdering.
kecelakaan nya cukup parah, sebelah tangan kanan Adinda harus di gips.
1 jam kemudian...
Marsel baru saja menyelesaikan kegiatan bercintanya, sementara Monica sudah tertidur lelap akibat kelelahan.
Di tatapnya tubuh Monica yang tidak terselamatkan dari terkaman singa jantan, tanda kemerahan ada di mana-mana menghiasi tubuh Monica yang masih polos akibat ulahnya.
"Maafkan aku dan terima kasih". Ucap Marsel di telinga Monica kemudian ia pergi ke toilet.
Tidak lain dan tidak bukan, untuk mandi membersihkan dirinya, untuk kali pertamanya ia mandi dengan begitu khusus.
Selesai mandi ia memakai pakaian santai yang ada, kemudian merasa penasaran ia melihat handphone yang tergeletak di meja rias Monica.
Dan betapa terkejutnya ia saat melihat panggilan telepon dari beberapa orang dengan intensitas yang sering hingga mencapai 1000 panggilan dengan messenger.
Diantaranya adalah kedua orang tua Adinda, Adinda sendiri dan tiga nomor telepon tidak di kenal, yang pertama kali ia lihat adalah pesan dari ibu mertuanya karena itu terasa aneh tidak biasanya.
ia membaca pesan singkat yang berisikan Adinda kini tengah di rawat di rumah sakit akibat kecelakaan, lengkap dengan alamat rumah sakit. tanpa pikir panjang Marsel segera berlari menuju arah pintu, saking paniknya ia lupa tidak mengunci pintu rumah nya melupakan istrinya yang tengah kelelahan akibat perbuatannya.
Panik sudah pasti, pasalnya saat ia mengantarkan Adinda ke rumah orang tuanya mereka tidak saling bicara, Marsel pun tak berniat membujuk Adinda, ia membiarkan Adinda pulang dengan kemarahan yang membara.
***
Sesampainya Marsel di rumah sakit, Ibu dan Ayah serta satu wanita yang seusia Bundanya, tapi ia terlihat merawat penampilan sedang duduk di ruang tunggu.
"Bu, apa yang terjadi dengan Adinda?".
"Kamu kemana aja? kamu suaminya harusnya kamu yang lebih tahu kenapa dengan Adinda?".
"Aku...". Marsel bingung harus menjawab apa, tidak mungkin bukan jika ia berkata jujur tengah berpadu kasih dengan istri pertamanya.
"Sudahlah Bu, Marsel kamu masuk Adinda sudah menunggumu?!". Ucap Ayah Adinda dengan bijak.
"Iyah". Marsel segera masuk ke ruangan perawatan Adinda, alat infus terpasang serta tangannya terlihat terluka cukup parah.
"Aku minta maaf". Ucap Marsel sungguh-sungguh merasa bersalah di saat istrinya sedang berada di masa sulitnya ia tidak ada menemani malah saling sedang asik berbagi keringat dengan Monica.
"Dari mana saja kamu?". Ucap Adinda sembari terisak.
"Maaf". Hanya kalimat itu yang bisa Marsel ucapkan.
Adinda terdiam, bahkan ia enggan melihat wajah Marsel yang terlihat bugar dengan rambut basah, sementara dirinya harus terkapar di ranjang rumah sakit akibat kebodohannya yang melanggar lalulintas demi menemui Marsel.
***
Alarm handphone Monica berbunyi tepat di pukul lima pagi, rasanya luar biasa, sakit dan perih sudah jangan di tanya, tubuhnya penuh dengan tanda kepemilikan dari Marsel. Namun entah mengapa ada rasa puas dan juga bahagia bersamaan dengan rasa bingung, apa kini Marsel telah mencintainya?
Akan tetapi kenyataan ia tak menemukan Marsel berada di sampingnya, menjawab akan kebingungannya.
~"Tidak, dia tidak mencintaiku, mungkin itu hanya gairah saja tanpa rasa cinta". Ucap Monica berbicara sindiran.
Monica bangkit dari tempat tidur berusaha dengan susah payah berjalan sedikit demi sedikit menuju toilet.
Selesai mandi ia menunaikan dua rakaat subuh, kedua tangannya hendak menengadah dan mengucapkan doa yang ia minta, setelah itu ia tak sengaja melihat layar handphone yang terus menerus menyala bertuliskan nama Marsel yang beberapa saat lalu ia ucapkan dalam doa.
Tanpa banyak berpikir ia segera mengangkat panggilan itu.
"Kamu sudah bangun?" Ucap Marsel dengan khawatir.
Monica hanya mengangguk sebagai jawaban Iyah, beberapa saat kemudian ia baru menyadari bahwa ini hanya panggilan telepon Marsel mungkin masih menunggu jawaban darinya.
"Sudah". Ucap Monica singkat.
"Hm, aku lupa mengunci pintu, tapi setahuku lingkungan rumah kita aman". Ucapnya lagi.
"Oh, Iyah". Ucap Monica dengan enggan namun masih ia turuti dengan berjalan hendak menuju pintu utama, kakinya dengan pelan menuruni anak tangga.
"Monica? kamu baik-baik saja?". Kini Marsel bertanya terdengar frustasi.
"Tentu, aku baik-baik saja". Ucap Monica berusaha tegar, agak suaranya tak bergetar. Padahal jika boleh jujur Monica sangat kecewa, karena saat ia bangun tak mendapati Marsel berada bersamanya, Iyah Monica merasa ia telah melakukan pekerjaan bukan kewajiban.
"Monica, Adinda kecelakaan kini aku sedang ada di rumah sakit". Ucap Marsel memecahkan prasangka buruk yang ada di dalam pikiran Monica.
"Benarkah?".
Bersambung...
hadeh monica klu msh mau bodohhhhhhh
seperti main 2 tdk terarah
coba klu iistri cuma satu, jelas pulang kemana si marcel beribadah bareng.merancang rumah tangga mau seperti apa, ini engga jelaaaa banget.
utu baru perempuan MAHALLL
pantes ditinggal nikah lagi.
mebding dimutilasi si monica terus kasih buaya.