Indonesia
NovelToon NovelToon
Summer Dreams

Summer Dreams

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Penyeberangan Dunia Lain / Chicklit
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kuroi Hakucho

Nakamura Rika, gadis remaja yang memiliki acuh tak acuh suatu hari mengalami kejadian besar. Dalam hidupnya hanya ada penyesalan jika belum menyelamatkan Ishikawa Naomi dari keegoisannya sehingga menjadi korban dari sebuah sekte.

Dia yang dulunya tidak disukai kini banyak yang membenci, bahkan mengubah sebagian besar temperamen dan tingkah lakunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuroi Hakucho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali

Mayu menoleh, melihat dua orang yang selama ini ia rindukan. Bibirnya bergetar, airmata pun menumpuk di pelupuk mata. "Okaasan," panggilnya tertahan, tersedak emosi.

"Mayu-chan, benarkah itu kamu?" Ibu Mayu, Hachiko-san menatap tak percaya. Kakak kembar dari Sachiko-san itu menutup mulut, berjalan perlahan mendekati sosok gadis yang memiliki perawakan seperti sang putri.

"Okaasan." Mayu kembali bersuara. Mengklarifikasi pertanyaan sang ibu, dia tidak sakit hati sekalipun karena keraguan mereka. Ia justru lebih merasa haru.

Haruto-san dan Hachiko-san kini sudah berdiri tepat di depan matanya, wajah mereka terlihat cepat menua dalam waktu singkat, hal itu membuat hati Mayu pedih. Ini semua karena dirinya.

"Mayu-chan, apa yang terjadi?" Haruto-san sang ayah bertanya mengenai kondisinya yang tampak tidak baik-baik saja.

Hachiko-san baru menyadari kondisi putrinya, wajah lebam dan memiliki sobekan di sudut bibir kanan. Lengan penuh sayatan dalam terus mengeluarkan darah. Turun ke bawah, Hachiko-san mendapati salah satu kaki anak gadisnya bengkak serta memar. "Mayu-chan, daijoubu desuka?"

"Mayu-chan, di mana Naomi? Tolong beritahu, Obasan!" Sachiko-san menyela.

"Mayu-chan, Naomi tidak datang bersamamu? Di mana dia?" Haruto-san menatap Mayu dan dia merasakan firasat buruk.

Tak lama setelah pertanyaan itu dilontarkan, tiba-tiba tubuh Mayu ambruk ke tanah. Hachiko-san dan Haruto-san yang paling terkejut buru-buru bergerak hendak menangkap tubuh sang putri, akan tetapi mereka berdua terlambat satu langkah. Tubuh Mayu yang penuh luka lebih dahulu menyentuh dinginnya aspal.

Di rumah tangga lain. Rika yang telah sampai di depan rumahnya justru diam tak bergerak. Ia gamang, memilih antara masuk atau bagaimana. Gadis pendiam itu tak tahu harus bicara apa bersikap bagaimana di depan ibunya. Menatap pintu rumah yang tertutup rapat dengan lampu menyala terang, Rika pun bertekad untuk masuk, menerima segala konsekuensi.

Mendorong pintu pagar yang tak terkunci, Rika berjalan perlahan tanpa menimbulkan suara. Langkahnya ringan dan penuh kehati-hatian. Memegang handle pintu, ia begitu terkejut saat mengetahui pintu langsung terbuka.

Mendorong pintu perlahan sambil berkata, "tadaima!"

Seruan itu mengejutkan penghuni rumah. Dari ruang keluarga, Miyako-san buru-buru berlari keluar. Di belakang muncul sosok pria dewasa berbalut kemeja rapi, dasi masih menggantung serta kacamata yang belum sempat dilepas.

"Rika-chan —." Miyako-san terkejut melihat kepulangan Rika. Selain wajah kusam, dan rambut yang kusut masai, serta garis luka lebar di pipi kanannya, semua terlihat baik-baik saja. Hal itu membuatnya merasa lega.

Rika sendiri diam tak bersuara, sejujurnya dia tidak tahu harus bersikap apa mengenai reaksi keterkejutan sang ibu. Pancaran haru serta bahagia dari mata sayu tersebut membuat Rika kewalahan sekaligus asing. Gadis tujuh belas tahun tersebut tidak ingat kapan tatapan lembut penuh kasih sayang itu diperlihatkan pada dirinya. Namun semakin Rika memikirkannya, semakin kesal pula dia.

"Okaeri, Rika-chan."

Rika menoleh. Melihat pria di balik sang ibu yang tengah tersenyum ke arahnya. Dia tak menyangka, setelah sekian lama tak jumpa ternyata fitur wajah orang itu tidak banyak perubahan. Selain kantung hitam di bawah mata serta munculnya bakal jambang. Rika dulu sempat menahan kerinduan terhadap pria dewasa tersebut, rasa rindu yang bersatu dan dalam. Akan tetapi kini yang tersisa hanya kekesalan serta percikan api kemarahan.

Membuang napas, Rika menurunkan pandangannya dan mulai melangkah ke dalam. Ia berjalan sambil menunduk, mengabaikan sepenuhnya kedua orang dewasa yang tengah menatapnya cemas. Ketika hendak melewati mereka, lengan Rika ditahan oleh sang ibu. "Rika-chan, selama ini Rika-chan pergi ke mana?" Miyako-san bertanya tak dapat menahan rasa penasaran.

Nakamura Rika yang selalu merasa tidak puas dengan perlakuan sang ibu pun seketika kesal. Bahkan kekesalan itu kian terpupuk, menggunung dan tak tahu kapan akan runtuh. Meskipun dirinya sempat menghilang untuk waktu yang cukup lama.

"Apakah itu penting bagi Kaa-san?" Pertanyaan itu sangat menohok bagi Miyako-san dan cenderung membuat orang tersinggung. Namun Miyako-san justru terdiam tak mampu membalas. Ia seolah kebingungan mencari kata-kata yang mana membuat Rika salah paham.

Diamnya Miyako-san diasumsikan si bungsu sebagai bentuk pembenaran atas ketidakpedulian sang ibu pada dirinya. Rika tersenyum getir, merasa tidak penting.

Teguran dari pria bersetelan kantoran tersebut juga kian menambah ketidaksenangan Rika. "Rika-chan, apakah benar seperti itu berbicara pada kaa-san?"

Mencebik, tersenyum mengejek pada pria tersebut. "Naze?Tou-san tidak terima? Lagipula —," Rika menelan ludah pahit, "bukankah Kaa-san dan Tou-san tidak pernah peduli dengan Rika?"

Pria itu, Nakamura Hiyashi-san. Ayah biologis dari Nakamura Ryosuke dan Nakamura Rika. Figur ayah yang tak pernah Rika rasakan lagi sosoknya. Kehadirannya bagaikan hal termewah yang dapat ia rasakan, bahkan saat tahun baru sekalipun pria yang Rika panggil Tou-san ini seringkali absen dari acara kumpul keluarga.

Kesal, marah, dan timbul benih-benih kekecewaan mengetahui jika sang ayah pulang hanya karena dirinya sudah lama meninggalkan rumah. Itu sangat menyebalkan dan ingin membuatnya menangis.

"Rika-chan, apa Rika-chan marah dengan Tou-san?"

Pertanyaan itu hanya membuat Rika tergelitik. Apakah perasaannya dianggap sebagai lelucon? Ia tertawa kecil, kemudian berjalan mengabaikan mereka berdua.

"NAKAMURA RIKA!"

"Sudah hentikan, beri dia sedikit waktu," ujar Hiyashi-san menengahi.

"Tou-san, tapi Rika sudah tidak sopan. Gadis bertemperamen buruk seperti itu siapa yang menyukainya kelak? Kenapa tidak bisa sebagus kakaknya," omel Miyako-san tidak senang.

Selesai mengucapkan kalimat tersebut, suara bantingan pintu terdengar kuat dari lantai atas. Miyako-san dan Hiyashi-san saling menatap, pikiran mereka sama. Rika mendengar ucapan itu.

Rika sendiri merasa muak, dibandingkan lagi dengan Ryosuke. Meskipun kakaknya sendiri, dia tetap.tidak senang. Dia ingin orangtuanya bisa menerima dia apa adanya. Dia ya dia, kakak laki-lakinya ya kakak laki-lakinya. Tanpa harus menuntut yang satu untuk bisa menjadi seperti yang lain.

Membuang napas berat, Rika bergegas mengambil baju dari lemari dan pergi ke kamar mandi. Dia butuh membersihkan seluruh badannya, berenda air hangat mungkin dapat menenangkan saraf-saraf nya yang tegang.

Uap air mengepul dari dalam bak. Rika perlahan memasukkan kakinya, sensasi panas dan pedih menyentuh kulit dan mengenai saraf rasa sakit. Ia meringis, namun tetap masuk ke dalam bak mandi. Ketika seluruh tubuhnya terendah, rasa sakit yang menusuk terasa di sekujur tubuhnya. Penasaran apa yang terjadi, Rika mengangkat lengannya.

Alangkah terkejutnya gadis pendiam itu tatkala melihat kulitnya membiru. "Darimana semua datangnya memar ini?"

Tidak hanya lengan, Rika pun mengangkat kakinya. Dan hampir serupa, bahkan di seluruh tungkai kaki dipenuhi warna biru keunguan yang melebar besar. Mengerutkan dahi, Rika tidak ingat kapan ia mendapatkan semua ini. Tak ingin pusing karena memikirkannya, Rika pun meletakkannya di belakang kepala.

Melanjutkan membersihkan diri, Rika tersentak saat air membasahi kulit wajahnya. Terutama di bagian pipi kanan, rasa nyeri dan pedih mengejutkannya. Rasa penasaran kembali timbul, tak berlama-lama, Rika pun segera menyelesaikan dalam waktu singkat.

Usai siap memakai baju, Rika bergegas mendekati cermin. Dari pantulan cermin rias, terlihat luka goresan tunggal yang panjang melintang dari bawah mata sampai hampir mengenai telinga. Terlihat cukup dalam, terlihat dari luka terbuka berwarna merah.

"Darimana semua ini berasal?" Dengan ceroboh Rika justru menyentuh luka yang masih basah.

"Ittai!" Mengasuh sakit, Rika pun memilih mengabaikan saja. Pergi ke tempat tidur, gadis remaja tersebut langsung merebahkan diri di atas ranjang. Ia baru merasa lelah sekarang dan sangat mengantuk. Sehingga dalam hitungan detik kesadarannya pun menghilang.

...*★*★*★*★*...

1
Hajime Nagumo
Terpikat
Kuroi Hakucho: Terimakasih 🙂
total 1 replies
Suki
Peranmu sebagai author tidak boleh diremehkan thor, update sekarang!
Kuroi Hakucho: Terimakasih 🙂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!