Karena rencana perjodohan keluarga. Brielle akan menikah dengan anak pemilik perusahaan rekan bisnis kakeknya. Di hari pernikahan, Brielle melarikan diri hingga membuat malu keluarga pengantin pria. 4 Tahun kemudian Brielle tidak sengaja dipertemukan dengan asisten kakeknya sehingga dia dibawa kembali kerumah.
Satu hal! Brielle dan calon suami belum pernah saling mengetahui penampilan satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zelmira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiss n kiss
Jadi empat tahun di luar negeri hidup mu bahagia?
Mario membuka suara begitu mobil berhasil keluar dari restoran. Mana pertanyaannya tiba-tiba tidak ada aba-aba start.
Brielle menoleh menatap seseorang dibalik kemudi, pria itu tampak serius dengan kedua matanya menatap lurus kearah depan, tampan sekali. Jadi tidak sadar masih sempat-sempatnya dia memuji didalam hati.
"Apa aku harus bersedih" Dari sekian banyak kata yang bisa dirangkai indah untuk menjawab pertanyaan Mario justru kalimat itu yang berhasil lolos. Anehnya justru terdengar sinis.
Diam beberapa saat, Brielle menurunkan pandangannya dan menunduk menatap kedua tangannya yang berpangku pada kedua lutut
"Maaf!" Ucap Brielle kemudian.
"Maaf karena aku kabur empat tahun lalu, aku juga berpikir saat itu pasti kau merasakan hal yang sama denganku, mana mungkin mau menerima pernikahan dengan orang yang tidak pernah ditemui sebelumnya. Dan meskipun begitu aku tetap salah karena pergi begitu saja meninggalkan kedua keluarga dengan masalah, keluarga kita bukan keluarga biasa, sekalipun orang tidak berani mencaci secara langsung tapi dampak besar tidak terelakkan bisa mempengaruhi bisnis bukan?"
"Maaf, karena melukai perasaan mu dan keluargamu, maaf atas semua yang terjadi karena kesalahan ku" Setelah mengungkapkan maaf secara panjang lebar dia mengalihkan pandangan ke arah jendela, menatap kendaraan yang lalu lalang.
Mario meminggirkan mobilnya dan mematikan mesin. Membuat Brielle kembali menoleh padanya karena heran, tapi saat menoleh dia belum sempat menghapus air matanya yang sudah berhasil lolos tadi.
Mario yang tadi masih menatap lurus kedepan kini sudah beralih menatap kedua mata Brielle, dengan gerakan cepat dia melepas seat belt dan memajukan tubuhnya untuk menangkup wajah Brielle dengan tangan kiri sementara tangan kanan digunakan untuk mengusap air mata gadis itu.
Kedua pasang mata saling bertatapan dengan jarak dekat, Brielle bisa melihat bayangan wajahnya di kedua mata Mario. Semoga saja Mario tidak mendengar suara detakan jantungnya yang berdetak begitu cepat.
"It's okay, mungkin itu juga setimpal, aku tidak yakin kau sepenuhnya berbahagia diluar sana, bagaimana bisa orang bahagia disaat tidak ada keluarga disisinya. Orang yang pada dasarnya tidak punya keluarga pun kerap kesepian" Kedua tangan yang masih menangkup kedua pipi Brielle itu kini beralih mengelus kedua sisi pipinya yang lembut.
"Boleh aku mencium mu?" Hell !! Brielle sontak membulatkan matanya, kaget dengan permintaan aneh dan mendadak itu. Memangnya sebuah ciuman bisa mengurai kesedihan atau membuat air mata bisa masuk dengan sendirinya, hei Brielle bahkan tidak sedang menangis tersedu-sedu, dan hanya berhasil lolos dua tetesan saja tadi.
Brielle melepas kedua tangan Mario dari wajahnya. "Apa kau gila? Aku ini bukan wanita sembarangan yang asal mau saja dicium oleh seorang pria apalagi yang sudah memiliki kekasih". Tidak habis pikir apa yang ada di kepala pria ini. Heran.
"Aku tidak punya kekasih"
Bohong. Lalu siapa yang Brielle lihat waktu itu di apartemennya.
"Aku pernah ketemu ya di apartemen mu" Enak saja Brielle yang tidak ada tampang lugunya ini mau di bohongi.
"Yang itu kami sudah putus sehari berikutnya, dan tidak lama aku menjalin hubungan dengan yang lain, tapi baru saja putus semalam" Brielle membuka mulutnya lebar karena shock mendengar penuturan itu, mana ada orang berganti kekasih seperti membeli Yakult di Indomaret, buka kulkas, bayar dan sudah jadi miliknya. Heoll daebakkk!!
"Kau ini ...ternyata bukan pria dingin, tapi psikopat gila ...." Brielle mengibaskan wajahnya yang terasa panas karena emosi.
"Kalau tidak mau dicium tidak usah mengatai orang gila" Lah siapa yang harusnya marah disini, kenapa justru Mario lebih judes dari Brielle. Pria itu bahkan segera melajukan mobilnya yang untungnya dengan kecepatan sedang bukan yang membuat jantung hampir melompat keluar.
•
°
"Kamu??"
"Halo kakek apa kabar, apa kakek baik-baik saja?" Bian mengulurkan tangan kepada Henry kakek Brielle. Untungnya dibalas, karena sepanjang perjalanan tadi dia sudah mepersiapkan mental dengan baik kalau saja tidak disambut dengan ramah.
"Ya baik, syukurlah. Bagaimana denganmu? Ayo duduk dulu" Henry mempersilakan Bian untuk duduk di ruang tamu rumahnya.
Saat sedang asik duduk membaca buku diruang keluarga, dia diberitahu oleh Maid bahwa ada seorang pria bertamu dan mencari Brielle. Setelah mendapat informasi dari maid bahwa rupanya Brielle sedang keluar untuk olahraga dan belum kembali, akhirnya Henry yang pergi untuk menemui.
Ternyata pria itu adalah Bian mantan kekasih cucunya.
"Baik kakek, apa saya boleh bertemu dengan Brielle kakek? Saya ingin mengajaknya pergi kesuatu tempat"
"Brielle sedang keluar dan belum kembali, saya juga belum bertemu degannya sejak kembali dari kantor.''
Bian tahu betul kalau kakek Brielle tidak pernah suka dengan dirinya, memang Henry selalu ramah saat berbicara dengannya dan tidak pernah meminta cucunya untuk meninggalkan Bian tapi tetap saja dia bisa melihat kalau Bian tidak akan pernah mendapat restu dari Henry.
"Baiklah kakek, bolehkah saya menunggu disini?"
"Tentu, mungkin tidak lama lagi dia pulang, dia hanya pergi berolahraga. Tapi bagaimana kau tahu kalau Brielle sudah kembali, apa dia menghubungi kamu?"
"Kami tidak sengaja bertemu diluar kakek, jujur waktu itu saya kaget, tapi karena Brielle sedang bersama teman juga waktu itu jadi kami tidak bisa lebih lama berbincang, makanya saya datang untuk mengajaknya keluar"
"Hm' ya ya ya, sudah empat tahun kalian tidak bertemu. Sebagai seorang teman satu almamater wajar kalau ingin mengobrol dan berbagi cerita hidup selama tidak bertemu. Brielle tentu senang bertemu kawan lama, dia pasti penasaran mendengar kabar mu dan kabar kawan-kawan lamanya"
Ucapan Henry barusan dianggap Bian sebagai sindiran dan peringatan bahwa mereka sudah lama berpisah dan sebaiknya cukup menjadi teman saja tidak lebih dari itu.
Bian jadi was-was, kali ini dia berniat ingin serius dengan Brielle yang selalu dia tunggu tapi sudah pasti tidak akan mudah, kakeknya sudah kembali mengibarkan bendera merah dengan logo tengkorak. Dangerous ☠️.
Sementara diluar pintu Mansion mobil Mario sudah sampai dan terparkir cantik.
"Brie apa aku boleh menumpang ke toilet"
"Tidak boleh, psikopat gila tidak boleh masuk kerumah ku" Brielle menatap Mario dengan sinis. Sementara yang ditatap tidak mau kalah bahkan sudah mengangkat kedua tangan untuk bersidekap di dada. Tidak lupa mengangkat dagu sedikit tinggi.
"Baiklah tentu boleh, aku hanya bercanda. Ayo cepat" Brielle keluar deluan dari mobil dan masuk kedalam rumah diikuti Mario dibelakang.
Toilet saja kan? buat apa dibuat pelit, Brielle kan bermurah hati kepada siapa saja, selama tidak meminta sertifikat mansion. Apalagi Mario sudah berbaik hati mengantarkan pulang walaupun sedikit dibuat kesal tadi, dan hampir saja dicium mendadak. Enak saja di sogok eskrim untuk bisa dicium.
Suara pria sedang berbincang terdengar saat mereka melewati foyer. Damn! Itu Bian sedang duduk berhadapan dengan kakeknya diruang tamu.
"Brielle, kau sudah pulang?" Henry berdiri menghampiri Brielle yang juga ikut melangkah mendekat
"Iya kakek" Dia berhenti ketika sudah dekat dan menatap Bian.
"Brie.....dimana toiletnya?" Panggilan Mario membuat Brielle dan semua orang di ruangan itu menoleh ke asal suara. Mario kemudian terhenti dan memperhatikan situasi disekitar.
"Eh ada Mario, kalian habis berolahraga bersama kah?" Henry bertanya dengan ekspresi terlihat gembira
"Kami tidak sengaja bertemu di gym tadi kakek." Brielle menjelaskan dan mendorong bahu Mario ke arah jalanan menuju toilet, mendorong sekilas saja tidak benar-benar mengantarkan kedalam. "Jalan terus saja, nanti belok kanan, terus belok kiri, toiletnya ada di ujung"
Mungkin sedang kebelet jadi Mario menurut saja melangkah kedepan mengikuti arahan Brielle dan sebelumnya sempat mengucap kata permisi kepada Henry.
"Ekhem! Brie ini Bian datang mencari mu dia sudah menunggu dari tadi, silahkan kalian berbicara, kakek mau kembali ke kamar beristirahat"
"Terima kasih kakek" Bian ikut berdiri dan Henry tersenyum sekilas untuk merespon, sebelum benar-benar pergi meninggalkan mereka berdua.
Brielle melangkah maju duduk di sofa.
"Hai brie, bagaimana kabarmu berapa hari ini sejak pertemuan kita terakhir?"
"Maaf waktu itu aku sedikit memaksamu, aku harap kau mau memaafkan aku"
"Kabarku Baik" Jawab Btielle singkat.
"Syukurlah, and.....are we good now? Apa boleh berbincang serius?"
Brielle mengangguk.
Bian maju dan berlutut dihadapan Brielle sambil memegang tangannya.
"Brie aku sangat terkejut begitu mengetahui kau akan dijodohkan, aku terpukul dan sampai hampir membatalkan studi ku keluar negeri. Tapi begitu kudengar kau memilih kabur aku sedikit senang hingga seminggu kemudian kau masih belum ada kabar aku khawatir. Akhirnya kuputuskan untuk pergi tapi tetap selalu mencari tahu tentang dirimu"
"Sebulan, dua, tiga hinga setahun kemudian kau tidak ada kabar. Ini sulit brie, aku sangat merindukan mu dan juga khawatir bagaimana kau diluar sana, andai aku tahu dimana dirimu aku akan meninggalkan semua dan menyusul"
"Hingga dua tahun kemudian, kau masih tidak ada kabar, aku sempat hampir menyerah, aku sudah mencoba menjalin hubungan dengan banyak wanita tapi tetap tidak bisa melupakan mu. Tapi aku tetap mencari tahu dan menunggu kabarmu, Sampai aku kembali ke Indonesia pun dan selama dua tahun terakhir, aku selalu menunggu Brie, aku yakin kau akan kembali"
"Mama dan papa selalu menjodohkan ku dengan banyak wanita dari kenalan mereka. Aku tidak suka itu, sehingga aku sengaja selalu menjalin hubungan dengan banyak wanita agar mereka tidak menggangguku. Dan terima kasih karena kau sudah kembali"
"Maaf Brie aku sudah mengecewakan mu, aku salah. Dan aku tidak akan memaksa"
"Aku ingin memulai kembali denganmu Brie, perlahan, tolong. Apa aku boleh mendapat kesempatan?"
Brielle terdiam sesaat, dia melihat tidak ada kebohongan Dimata Bian saat ini, dia cukup mengenalnya dengan baik, tahu betul bagaimana karakter Bian, pria dihadapannya ini bukan pria yang suka merendahkan wanita dengan mengencani mereka yang begitu sudah bosan kemudian dicampakkan begitu saja. Brielle bisa melihat ketulusan di mata Bian.
Dan bohong kalau Brielle tidak tergerak hatinya, apalagi perasaannya belum berubah sedikit pun.
Brielle ikut duduk dibawah dan memeluk Bian "Aku juga merindukan mu "
Mereka saling berpelukan erat, cukup lama hingga Kemudian Bian lebih dulu melepas pelukan mereka, dan meraih tangan Brielle, dia membantu Brielle berdiri.
"Jangan pergi lagi Brie" Pinta Bian kepada Brielle yang dibalas dengan anggukan.
Bian meraih tengkuk Brielle dan menciumnya.
mereka saling melepas rindu. Brielle mengalungkan tangannya pada leher Bian, ciuman mereka cukup dalam dan baru dilepas saat keduanya sudah kesulitan bernapas.
Keduanya menautkan kedua kening dan tertawa.
"Ekhem.....Brie..." Brielle menoleh dia jadi lupa dengan Mario.
"Terima kasih toiletnya, aku akan pulang sekarang, tolong sampaikan kepada tuan Henry nanti kalau aku sudah kembali dan maaf tidak sempat pamit"
"Iya Mario, terima kasih juga sudah mengantar ku. Nanti akan aku sampaikan kepada kakek, jangan khawatir, ayo aku antar kedepan"
"Tidak usah, kau memiliki tamu, kalau begitu permisi" Mario segera berjalan keluar pintu.