Orang tua ku bercerai karena papa selingkuh, mama di rawat dan aku harus membayar biaya rumah sakit yang banyak. Papa akan membantu dengan syarat aku mau menggantikan kakak tiriku menikah dengan lelaki keluarga Dumai, yaitu Rian Dumai.
Lelaki yang disebut sebagai anak haram di keluarganya, anak yang di usir dan di buang keluarga besarnya bahkan kini sedang mendekam di penjara. Tapi demi mama aku bersedia.
Seperti apa tampang lelaki itu?
apakah dia lelaki baik atau ternyata memang lelaki dengan pribadi buruk. Akan kah suatu saat tumbuh cinta di pernikahan kami?
****
Setelah sekian purnama vakum cleaner, aku mencoba nulis lagi guysss. Yah semoga aja ada yang baca. terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Murniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30 - Di rumah Kakek
Selamat Berpuasa 🙏
****____****
Sebenarnya kakek sudah lama curiga kepada Rudi dan istrinya tapi kakek berfikir dia sudah tua jika tidak kepada Rudi lalu kepada siapa akan dikelola semua bisnis dan hartanya sementara anak pertama nya Ridwan tak pernah muncul dan kembali bahkan sudah dinyatakan almarhum karena pernah terdengar kabar kapal tenggelam dan salah satu korban memiliki kemiripan dengan Ridwan, itu pun jawaban dari Rudi karena dia yang datang mengecek.
Itulah sebabnya ketika asisten kakek memberitahu ada sebuah email asing yang menceritakan siapa dirinya dan keluarganya segera diberitahukan kepada kakek. Kakek yang bahagia mendapatkan kabar dari cucu nya segera menyuruh Rian datang. Agar tidak terlalu kentara kakek mengharapkan Rian kakek membuat perjodohan itu.
Belakangan ini sebelum kedatangan Rian, kakek selalu merasa bersalah pada menantunya karena bagaimanapun Yulia belum pernah di talak oleh Ridwan yang pergi begitu saja. Pun kakek percaya jika sebenarnya Ridwan itu masih hidup, tapi entahlah.
"Kakek kenapa melamun?"
"Ah, gak pa pa kakek hanya merasa bersalah pada mama mu. Padahal kakek begitu bahagia saat mama mu hamil. Tapi semua kebahagiaan itu hilang gitu aja. Maaf kan kakek Rian," ucap nya lirih.
"Sudahlah kek, toh sekarang aku ada disini. Mama pun berpesan sebelum beliau berpulang bahwa aku jangan pernah membenci kakek. Karena kakek menyayangi mama."
"Yah, kami pergi dulu ya ada janjian dengan teman. Rian om pergi ya." ucap om Rudi yang enggan mendengarkan curahan hati antara kakek dan cucu nya.
"Iya,"
"Apa kakek yakin bahwa papa sudah meninggal?'
"Kakek juga bingung, semua anak buah kakek sudah kakek minta mencari tapi tak ada hasil sekalinya ada kabar ya itu berita meninggalnya papa mu. Yang langsung di cek Rudi dan di benarkan bahwa itu Ridwan."
Rian diam.
"Oiya selama ini kamu tinggal dimana? Kakek bukan tidak pernah mencari kalian tapi kakek tak mendapatkan hasil yang bagus. Semua seperti sengaja dibuat sulit mencari keberadaan kalian kamu dan mama mu."
"Sudahlah kek, gak masalah itu hanya masa lalu. Yang penting sekarang jika aku terbukti benar cucu kakek jangan tahan aku untuk membawa om dan istrinya ke penjara." ucap Rian datar.
"Kamu tega Rian?"
"Kakek tidak setuju? Lalu untuk apa kakek ngotot melakukan tes DNA dengan ku? Kakek sadar kan mama susah karena fitnah om Rudi dan istrinya."
"Ya kakek terlambat mengetahui nya, sekarang ini kakek tak ingin lagi masalah berkelanjutan terus menerus bagi kakek sudah cukup dengan kembalinya kamu, kakek bisa tenang membagi harta yang sudah menjadi hak papa mu kepada mu. Biarlah urusan Rudi dan istrinya menjadi tanggung jawab Tuhan. Biarlah tangan Tuhan yang bekerja."
"Kakek tetap harus tegas juga dong, kalau kakek gak tegas seperti ini jangan harap Rian mau datang lagi ke rumah ini."
"Kamu tenang saja, kakek sudah menyiapkan beberapa hal untuk om kamu dan juga istrinya. Mereka akan kakek berikan bagian dari harta kakek yang mana itu menjadi tanggung jawabnya untuk dia kelola agar dia dan istrinya bisa bertahan hidup. Tapi jika mereka tak bisa mengolahnya bahkan sampai bangkrut kakek akan lepas tangan."
"Baiklah aku setuju, meskipun itu masih terlalu baik menurut ku. Kakek paham kan bagaimana papa di usir dari sini tanpa membawa uang banyak, apa lagi mama dengan bayi yang masih kecil harus bertahan hidup dijalan."
"Kakek minta maaf Rian, kakek sudah tua sekarang kakek hanya ingin hidup tenang damai dimasa tua hingga akhir hayat kakek dengan memberikan hak kalian, sehingga beban kakek bisa lepas."
"Sayang udah malem banget nih, kita gak pulang?" tanya Maudy yang dari tadi melihat jam tangannya.
"Kalian menginap lah disini, besok kita bisa sama-sama ke rumah sakit." jawab kakek.
"Gimana sayang?"
"Aku sih terserah kamu aja."
"Iya kek, kami nginap disini."
"Ya sudah ajak istrimu istirahat kasian dia sepertinya sudah mengantuk. Bu Aniiii...!!!" seru kakek memanggil kepala pelayan.
"Iya kek ada yang perlu saya kerjakan?" tanya Bu Ani
"Tolong antarkan Rian dan istrinya ke kamar Ridwan dan Yulia dulu ya."
"Baik kek, Mari den Rian, saya antar ke kamar."
"Kami permisi ya kek, kakek juga segera istirahat jangan terlalu sering melamun." ucap Rian yang dijawab dengan anggukan kakek.
Mereka bertiga menaiki tangga lalu berhenti di depan sebuah kamar.
"Silahkan den, ini kamar orang tua aden, selamat beristirahat. Ibu permisi mau tidur juga hehehe."
"Iya Bu, makasih ya."
Ceklek, pintu dibuka didorong kedalam. Kamar yang lumayan besar dengan ranjang king size dan beberapa perabot lengkap masih tertata rapi. Rian memang baru kali ini memasuki kamar orang tuanya itu.
"Sayang kamu istirahat lah."
Rian duduk di sofa lalu mengetik sebuah pesan dari hp nya. "Sayang sini temani aku tidur, rasanya sepi tidur di ranjang sebesar ini sendirian." seru Maudy yang ternyata belum tidur.
"Iya sayang," Rian meletakkan hp nya diatas nakas dan segera merebahkan badan disebelah Maudy dan memeluknya.
"Sepertinya kamu lagi mikir sesuatu ya? Aku boleh tau gak?" Maudy menatap wajah suaminya yang sedang melamun.
"Aku baru aja nyuruh Andre untuk mencari keberadaan papa. Aku sih yakin papa masih hidup. Tapi aku heran kenapa papa tidak berniat kembali."
"Bukannya papa mu sudah meninggal kecelakaan,?"
"Infonya memang begitu, tapi siapa yang tau itu benar atau tidak. Sudah kamu gak usah ikut mikir kasian dede bayi nanti ikutan mikir juga."
"Sayang, kamu gak mau cerita kisah kamu dan mama mu hidup? Aku pengen denger." ucap Maudy sembari menguap.
"Mama ku seperti yang kamu tau setelah difitnah dan di usir beliau hidup di jalan. Allah menolong mama dan aku melalui tangan seorang lelaki yang begitu aku kagumi yang dengan ikhlas memberikan aku dan mama kehidupan layak, pria yang mencintai mama dan menyayangiku dengan tulus itu harus..." belum selesai Rian cerita suara dengkuran halus Maudy terdengar, menatap wajah manis istrinya yang telah tertidur.
"Ternyata kamu butuh dongeng ya sayang supaya cepat tidur. Tidurlah yang nyenyak cintaku, aku akan melindungi kalian dari bahaya apapun. Tak akan ku biarkan siapapun mengusik keluarga ku." Rian mengecup kening Maudy dan dia pun mulai memejamkan mata.
***
"Mas gimana nih, apa perlu kita sogok lagi dokter seperti waktu itu?" Yuni merasa gelisah jika semua kenyataan terbukti.
"Ini aku juga lagi mikir, kapan sih kakek ke rumah sakit? Masalahnya kita gak tau rumah sakit mana dan kapan mereka akan melakukan tes itu?"
"Apakah kita akan di usir juga mas, terus kita gak dapat warisan dong?"
"Gak akan, kita lihat aja nanti."
****____****
Apakah akan ada kabar baik dari Andre mengenai papa Rian? kita tunggu aja.
Makin seruuuuu, di lanjut kak author 😍
kalau ada suami yg seperti itu suruh banyak2 ikut kajian agama banyak2 dengerin tausiyah....
kalau masih ngak sadar juga undang ustadz buat merukiyah itu suami modelan yg seperti itu