Adara hidup dalam dendam di dalam keluarga tirinya. Ingatan masa lalu kelam terbayang di pikirannya ketika membayangkan ayahnya meninggalkan ibunya demi seorang wanita yang berprofesi sebagai model. Sayangnya kedua kakak laki-lakinya lebih memilih bersama ayah tiri dan ibu tirinya sedangkan dirinya mau tidak mau harus ikut karena ibunya mengalami gangguan kejiwaan. Melihat itu dia berniat membalaskan dendamnya dengan merebut suami kakak tirinya yang selalu dibanggakan oleh keluarga tirinya dan kedua kakak lelakinya yang lebih menyayangi kakak tirinya. Banyak sekali dendam yang dia simpan dan akan segera dia balas dengan menjalin hubungan dengan suami kakak tirinya. Tetapi di dalam perjalanan pembalasan dendamnya ternyata ada sosok misterius yang diam-diam mengamati dan ternyata berpihak kepadanya. Bagaimanakah perjalanan pembalasan dendamnya dan akhir dari hubungannya dengan suami kakak tirinya dan sosok misterius itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari sipayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN DI JALAN SEPI
Adara menyetir mobilnya di tengah kegelapan malam, membelah jalanan yang mulai sepi. Lampu-lampu jalan berpendar redup, hanya sesekali cahaya dari kendaraan lain melintas, menambah kesan sunyi yang menyelimutinya. Matanya terasa berat, lebih lelah dari biasanya, dan tubuhnya pun terasa remuk setelah hari-hari panjang yang menguras tenaga. Hanya dalam hitungan hari, kelulusannya akan tiba, tetapi alih-alih menikmati momen itu, dia justru didera kesibukan yang tidak ada habisnya.
Di tengah keheningan itu, tiba-tiba suara decitan tajam rem menggema di sepanjang aspal ketika Adara spontan menghentikan mobilnya dengan mendadak. Napasnya memburu, jantungnya seakan melonjak ke tenggorokan saat melihat sebuah mobil mewah muncul entah dari mana, menghadang tepat di hadapannya.
Matanya membulat, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Sorot lampunya menerangi bodi mobil itu, tetapi tidak membantunya mengingat apakah dia pernah melihatnya sebelumnya. Mobil ini terasa asing, bukan kendaraan yang biasa melintas di sekitar sini. Pandangannya tetap terarah ke mobil tersebut, sementara pikirannya berputar cepat, bertanya-tanya siapa pemiliknya dan apa tujuannya menghadang jalannya di malam yang begitu sepi ini.
Lalu, di saat-saat seperti itu, pintu mobil mewah di hadapan Adara terbuka perlahan. Dari kursi pengemudi, seseorang turun dengan gerakan yang tampak santai, namun langkah kakinya terdengar penuh perhitungan, seolah setiap gerakannya telah dirancang dengan matang.
Adara terus mengikuti sosok pria itu dari balik kaca mobilnya. Dia mencoba memahami situasi yang terjadi, mencari petunjuk tentang siapa orang ini dan apa yang diinginkannya dengan menghadang mobilnya di tengah jalan yang sepi.
Pria itu berjalan dengan percaya diri, mendekati mobilnya tanpa sedikit pun keraguan. Begitu tiba tepat di depan kap mobilnya, dia berhenti, lalu bersandar santai dengan kedua tangannya terselip di saku celana. Sorot matanya tajam saat menatap ke arah Adara yang masih duduk di dalam mobil, seakan menunggunya melakukan sesuatu.
Adara merasakan ketegangan yang semakin terasa. Tempat pemberhentian mereka berada di tepi jalan yang jarang dilalui orang, membuat suasana semakin sunyi, nyaris tidak ada tanda-tanda kehidupan di sekitar mereka. Udara malam yang dingin tiba-tiba terasa lebih menusuk.
Merasa tidak bisa membiarkan dirinya terus berada dalam ketidakpastian, Adara menyipitkan matanya, mencoba melihat wajah pria itu lebih jelas dalam pencahayaan minim. Rasa penasaran bercampur waspada memenuhi benaknya, sementara pikirannya terus menebak-nebak siapa sebenarnya orang ini dan mengapa dia muncul di hadapannya pada malam yang begitu sepi dan mencekam.
Adara mengangguk kecil, perlahan mulai memahami situasi yang sedang terjadi. Seketika itu juga, ingatannya mulai bekerja, menyusun potongan-potongan memori yang berserakan di benaknya. Wajah pria di hadapannya tampak familiar, seperti seseorang yang pernah ia temui sebelumnya, meski samar-samar.
Dengan gerakan tenang, Adara membuka sabuk pengamannya, merasakan detak jantungnya sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia menarik napas dalam, lalu mendorong pintu mobil dan melangkah turun. Udara malam yang dingin langsung menyapa kulitnya, menambah ketegangan yang sejak tadi sudah terasa di udara.
Tanpa ragu, Adara berjalan mendekati depan mobilnya, langkahnya tegap namun tetap waspada. Sesampainya di sana, ia memilih melakukan hal yang sama seperti pria itu—bersandar di mobilnya, berdiri sejajar dengannya. Kini, hanya ada mereka berdua dalam keheningan malam, berdiri di bawah lampu jalan yang temaram, saling berhadapan dan saling menatap tanpa suara.
Tatapan Adara tetap datar, tanpa ekspresi yang bisa dibaca. Sementara itu, pria di hadapannya menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan, seakan menilai atau bahkan merendahkannya. Namun, Adara tidak terpengaruh.
Dengan sikap dingin, ia melipat kedua tangannya di depan dada, menciptakan jarak emosional di antara mereka. Tidak ada kata-kata yang terucap, hanya ketegangan yang semakin menebal di antara mereka, seperti badai yang siap pecah kapan saja.
Pria itu menyunggingkan senyum miring, matanya memperhatikan setiap gerakan Adara dengan penuh ketertarikan. Ada sesuatu dalam cara gadis itu berdiri—tenang, tidak tergesa-gesa, dan memancarkan aura yang tidak biasa. Sesuatu yang berbeda dari kebanyakan orang yang pernah ia temui.
Baru kali ini ia melihat Adara secara langsung. Sosoknya memang tidak asing, tetapi ini adalah pertama kalinya mereka benar-benar berhadapan seperti ini. Sementara itu, Adara sudah pernah melihat pria itu sebelumnya—sekali, di malam itu, bersama Clarissa. Kenangan tentang pertemuan singkat itu kembali terlintas di pikirannya, tetapi ia memilih untuk tidak menunjukkan reaksi apa pun.
"Auramu sangat menakutkan, Nona," ujar pria itu, akhirnya memecah kesunyian yang membentang di antara mereka. Suaranya terdengar santai, namun ada nada menggoda yang terselip di dalamnya.
Adara tetap diam sejenak, menatapnya dengan ekspresi datar, seolah tidak terpengaruh oleh ucapannya. Lalu, dengan nada malas namun tetap tajam, ia menyahut, "Hm, kau baru mengetahuinya?" Kalimatnya terdengar seperti ejekan halus, sengaja dilontarkan untuk menguji lawan bicaranya.
Mendengar respons itu, pria itu hanya tertawa kecil, nada tawanya ringan tetapi penuh arti. Ia menatap Adara dengan sorot mata yang semakin dalam, seolah menemukan sesuatu yang menarik dari gadis di hadapannya. Entah karena keberanian Adara atau karena sikapnya yang begitu angkuh, tapi satu hal yang pasti—pertemuan ini menjadi semakin menarik baginya.
"Ternyata kau cukup angkuh, Nona!" ujar pria itu lagi, suaranya terdengar ringan, tetapi ada nada mengejek yang terselip di dalamnya.
Adara tidak langsung menjawab. Ia hanya diam, tetapi senyum tipis terukir di sudut bibirnya, samar dan nyaris tak terlihat. Senyum yang sulit diartikan—bisa jadi ejekan, bisa juga sekadar ekspresi acuh tak acuh.
"Tidak ada tempat lain sampai kau harus menghadangku di sini, Tuan?" tanyanya akhirnya, nada suaranya terdengar datar, tetapi ada ketajaman yang tersembunyi di baliknya. Tatapannya menembus langsung ke arah pria itu, seolah ingin menantang atau sekadar menguji keberaniannya.
Pria itu kembali menyunggingkan senyum miring, seperti menikmati permainan kecil di antara mereka. Sepertinya, ia tidak keberatan dengan sikap tajam Adara, justru semakin tertarik karenanya.
"Aku tahu kau sulit ditemui, Nona," jawabnya santai, seolah pertemuan ini bukan kebetulan, melainkan sesuatu yang telah direncanakan sejak awal.
"Demi Clarissa, kau rela membuang waktuku hanya untuk menghadangku di jalanan sepi seperti ini?" suara Adara terdengar pelan, namun tajam, menusuk tepat ke telinga pria itu. Tidak perlu nada tinggi atau emosi berlebihan, kalimatnya sudah cukup untuk membuat lawan bicaranya memahami bahwa ia tidak mudah digiring dalam permainan ini.
Senyum miring pria itu perlahan memudar. Matanya sedikit menyipit, meneliti ekspresi Adara dengan penuh ketertarikan yang bercampur dengan keterkejutan. Ia tidak menyangka gadis ini langsung menebak alasan di balik tindakannya tanpa perlu basa-basi.
"Kau sudah tahu rupanya," gumam pria itu, nadanya lebih rendah dibanding sebelumnya. Sekilas, ada sedikit keterkejutan yang terpancar dari wajahnya, meskipun ia berusaha menutupinya dengan cepat.
Baginya, ini adalah pertemuan pertama. Namun, mengapa gadis di hadapannya ini seolah sudah lebih dulu mengenalnya? Ada sesuatu di balik tatapan Adara yang membuatnya bertanya-tanya, sesuatu yang membuatnya ingin mengetahui lebih dalam siapa sebenarnya sosok yang kini berdiri di hadapannya.