Ritual yang dilakukan untuk menjadi penari yang sukses justru membuat hidup Ratri terancam, bagaimana nasib Ratri selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jatuh ke dalam Jurang
Tubuh Ratri melayang tanpa kendali. Lantai kulit yang tadi ia injak telah hilang, digantikan pusaran merah darah yang berputar liar. Suara gong terakhir masih terngiang di kepalanya, bergema seperti mantra yang tak mau hilang.
"Aaaarrghhh!!" teriaknya, tapi suaranya tenggelam dalam raungan makhluk-makhluk di sekeliling jurang.
Makhluk pucat itu menatap dari tepi, beberapa tertawa, beberapa menangis sambil meraih ke arah Ratri seolah ingin ikut terhisap, namun kaki mereka terikat oleh akar-akar hitam yang mencengkeram kuat.
Saat tubuhnya melewati dinding jurang, Ratri sadar bahwa jurang itu bukan tanah—melainkan daging yang berdenyut, hangat, licin, dan basah. Bau anyir menusuk hidungnya. Denyutnya seirama dengan detak jantungnya sendiri, seolah ia sedang masuk ke dalam tubuh makhluk hidup raksasa.
"Berjuanglah, penari," terdengar suara di telinganya—suara perempuan, parau tapi memikat.
Ratri berputar, matanya mencari sumber suara, tapi yang ia lihat hanyalah bayangan perempuan dengan rambut panjang terurai, mengambang di pusaran darah. Wajahnya kabur, tapi matanya—dua titik putih menyala—menatap Ratri tajam.
"Siapa kau?!" teriak Ratri, suaranya bergetar di antara histeris dan takut.
"Aku… yang gagal sebelumnya," jawabnya lirih, tapi setiap kata terdengar jelas di dalam kepala Ratri.
Bayangan itu tersenyum miring. "Kau akan menggantikanku."
Ratri belum sempat bertanya lagi ketika pusaran darah itu menghempaskan tubuhnya ke bawah. Ia jatuh keras di tanah basah yang terbuat dari campuran tanah, lumpur, dan darah yang masih hangat.
Ia mendongak.
Langit di atasnya bukan langit, melainkan dinding merah bergelombang yang meneteskan cairan kental berbau besi. Cahaya yang ada di tempat ini berasal dari api hitam yang menyala di obor-obor tulang.
Di sekitarnya, ratusan makhluk berdiri mengelilinginya—tinggi, kurus, dengan kulit retak seperti tanah kering, mata kuning menyala, dan mulut penuh taring yang terus bergerak meski tak bicara.
Salah satu dari mereka maju, suaranya berat dan bergetar.
"Ratri… pewaris tarian… pengikat pintu…"
Ratri mundur satu langkah, kakinya terbenam di lumpur darah.
"Aku bukan bagian dari kalian! Aku hanya ingin pulang!"
Makhluk itu terkekeh rendah, suara tawa mereka bergema seperti tulang yang dipatahkan.
"Pulang? Setelah kau membangunkannya?"
Tiba-tiba, tanah bergetar hebat. Dari balik kabut merah, muncul sosok raksasa yang tadi ia lihat di atas—wajah singa, tubuh setinggi menara, darah terus mengucur dari dadanya.
Makhluk itu melangkah mendekat, setiap pijakan membuat tanah memuntahkan semburan darah.
Sosok bertopeng Singo Barong kini ada di sampingnya, entah muncul dari mana.
"Kau telah membukanya, Ratri. Kau sudah tidak bisa menolak."
"Apa maksudmu membukanya?!" Ratri menjerit.
Namun sosok bertopeng hanya menunduk, suaranya berubah menjadi bisikan dingin:
"Pintu… antara mereka dan kita."
Ratri merasakan dadanya sesak, udara tipis, dan tatapan ratusan mata lapar yang mengurungnya.
Suara raksasa itu menggelegar:
"Kau… akan memulai tarian kedua. Tarian… pengorbanan."
Ratri terdorong ke tengah lingkaran makhluk-makhluk itu. Lantai yang tadinya berupa lumpur darah kini perlahan berubah menjadi anyaman kulit manusia, kering, namun masih terasa hangat ketika telapak kakinya menyentuhnya.
Obor-obor tulang yang menyala dengan api hitam bergerak memutar di sekelilingnya, diiringi bunyi kendang yang seolah dipukul dari dalam tanah. Setiap dentuman membuat dinding merah di sekeliling berdenyut, menghembuskan bau amis yang menusuk ke tenggorokan.
Sosok bertopeng Singo Barong mendekat, matanya di balik topeng memantulkan cahaya api.
“Kau tahu tarian ini, Ratri. Darahmu mengingatnya, meski kepalamu menolak,” katanya pelan namun penuh tekanan.
“Aku tidak tahu apa-apa!” Ratri membalas, napasnya terengah. “Aku hanya penari… hanya manusia biasa!”
Tawa serentak meledak dari para makhluk di sekelilingnya—tawa yang nyaring namun hampa, seperti suara kayu terbakar.
“Manusia? Tidak lagi…” bisik salah satu dari mereka, matanya yang kuning menyala menatapnya tanpa berkedip.
Raksasa berwajah singa itu mengangkat tangannya yang penuh luka dan darah. Dari telapak tangannya, meneteslah cairan hitam pekat yang jatuh ke tanah, menyebar membentuk pola melingkar di sekitar Ratri.
Pola itu bergerak sendiri, garis-garisnya meliuk seperti ular, lalu menyala merah menyilaukan.
“Mulailah…” perintah raksasa itu, suaranya mengguncang udara.
Tiba-tiba kaki Ratri bergerak sendiri. Otot-ototnya menegang, persendiannya berderit, dan tubuhnya mulai menari—gerakan yang asing tapi terasa seperti pernah ia lakukan. Setiap langkah membuat pola di tanah menyala lebih terang, dan dari pola itu muncullah bayangan-bayangan manusia yang meronta, menangis, dan menjerit.
“Berhenti! Aku tidak mau ini!” Ratri mencoba melawan, tapi kakinya tak mau berhenti. Tangannya terangkat, jemarinya bergerak seperti meraih sesuatu di udara—dan setiap kali ia menggerakkan jemari, satu jiwa manusia di dunia atas tersedot masuk ke pusaran merah di tengah lingkaran.
Di antara jeritan itu, Ratri mendengar suara yang sangat dikenalnya.
“Ratri! Tolong! Jangan!”
Matanya melebar. Dari pusaran itu, ia melihat wajah Pak Darma, gurunya di sanggar reog, tubuhnya ditarik oleh tangan-tangan hitam.
Tidak hanya dia—ada juga wajah-wajah lain: anak-anak desa, para penari, bahkan ibunya yang memeluk gendang kesayangan Ratri. Semua menjerit memanggil namanya.
Air mata Ratri mengalir, namun tubuhnya terus bergerak.
“Aku tidak mau! Lepaskan aku!” teriaknya, kini suaranya serak.
Sosok bertopeng Singo Barong mendekat, menempelkan dahinya ke dahi Ratri. Dari balik topeng, ia berbisik,
“Semakin kau menolak, semakin banyak yang akan mati. Jadi… nikmati saja.”
Ratri memandang mata di balik topeng itu—mata manusia, tapi dingin, tanpa belas kasih.
Lantai di bawahnya retak, dan dari celah-celahnya, tangan-tangan kurus bercakar keluar, meraih kakinya dan menempelkan mulut mereka di kulitnya. Ia merasakan darahnya tersedot, tapi anehnya, setiap tetes yang hilang membuat tarian itu semakin cepat.
Dentuman kendang makin keras.
Suara gong bergema panjang.
Dan di tengah semua itu, Ratri sadar… tarian kedua ini bukan hanya pengorbanan. Ini adalah pembuka tahap akhir—ketika dunia bawah akan membanjiri dunia manusia.
Tanah berguncang hebat, seperti perut bumi marah dan ingin memuntahkan segala isinya. Retakan cahaya di tengah pusaran semakin terbuka, menyilaukan mata. Dari sela cahaya itu terdengar bunyi denting gamelan yang berbeda—bukan lagi irama Singo Barong, melainkan irama lama, sakral, yang menggetarkan hati.
Ratri meraih tangan Pak Darma lebih erat. Tubuhnya nyaris tertarik kembali ke kegelapan ketika tangan-tangan lain—beberapa dingin seperti batu kuburan, beberapa panas seperti bara—meraih lengannya.
“Ayo! Ikuti cahaya!” teriaknya, suaranya tenggelam di antara raungan dan jeritan.
Singo Barong mengamuk. Bulunya kini memanjang seperti ribuan cambuk, menyambar dan melilit tubuh korban satu per satu. Setiap kali berhasil, ia menarik mereka kembali, tubuh mereka melesap ke dalam kabut hitam di bawahnya.
“Tidak ada yang keluar dari sini!” suaranya bergemuruh, membuat telinga terasa berdarah.
ratri ky g ada perlawanan, bangun ratri!!!