Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Bos Dingin

Istri Rahasia Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / Perjodohan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ristika Rachma

Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.

Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Sumpah di Bawah Fondasi

Angin sore menderu kencang seolah menyahuti kepanikan yang mendesak di dadaku. Pemandangan taman yang tadi penuh ancaman kini kembali sunyi senyap—Erlan, Sari, dan sosok bayangan itu lenyap tanpa jejak, seolah tak pernah ada di sana sedetik pun. Namun benteng tak kasat mata yang memisahkan kami tadi masih terasa membekas di kulitku, dingin dan hampa, seolah menyisakan luka yang tak terlihat namun terasa nyeri hingga ke tulang. Pesan misterius di layar ponselku masih menyala samar, setiap barisnya seolah menuntut jawaban segera: "Di bawah fondasi rumah tua di puncak bukit, tersimpan jawaban yang kau cari. Tapi berhati-hatilah... di sana bukan hanya rahasia masa lalu yang menanti. Melainkan juga sumpah yang tak boleh dilanggar oleh siapa pun yang masih bernapas."

Jantungku berdegup kencang tak karuan. Setiap kejadian belakangan ini kini saling tersambung menjadi rantai sebab-akibat yang tak terelakkan: pengorbanan Dimas yang menyisakan pesan samar, foto pengawasan yang mengungkap musuh sudah ada di dekat kami sejak awal, munculnya kembali Sari yang seharusnya dipenjara, hingga pengungkapan mengerikan bahwa musuh terbesar kami adalah bagian dari asal-usul Erlan yang terpisah ribuan tahun silam. Semua peristiwa itu bukan kebetulan, melainkan bagian dari rencana rapi yang disusun sejak lama—menggunakan kasih sayang kami sebagai jembatan, rasa percaya kami sebagai sasaran, dan kesunyian kami sebagai kesempatan untuk bertindak. Jika aku tidak bergerak sekarang, Erlan akan benar-benar hilang, digantikan oleh sosok yang hanya menginginkan kekuatan murni tanpa rasa kasih dan sayang sedikit pun. Dan jika aku salah melangkah, bukan hanya nyawaku yang terancam, melainkan seluruh keseimbangan yang dijaga leluhur kami sejak dulu akan runtuh seketika.

Tanpa membuang waktu lagi, aku segera merapikan barang-barang penting: benda pusaka yang kini terlihat biasa namun masih menyimpan getaran halus, senter, dan catatan terakhir milik Dimas yang berisi petunjuk samar tentang tugas penjaga yang diturunkan turun-temurun. Sepanjang perjalanan menuju puncak bukit, pikiranku terus merangkai potongan-potongan kejadian yang masih belum utuh. Mengapa sosok bayangan itu terpisah dari Erlan ribuan tahun lalu? Apa kesalahan yang terjadi saat itu? Dan mengapa sumpah yang dibuat leluhur kami kini justru menjadi jebakan yang mengancam nyawa kami sendiri? Hubungan sebab-akibat itu masih terasa samar, namun satu hal yang pasti: setiap langkah yang kami ambil sejak aku kembali dari kematian telah dipantau, diprediksi, dan diarahkan menuju titik pertemuan ini—di tempat semuanya bermula, di tempat semuanya akan ditentukan.

Sesampainya di puncak bukit, suasana terasa jauh lebih mencekam dari sebelumnya. Rumah tua itu berdiri sunyi di tengah pepohonan yang merangkulnya erat, seolah menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Angin berhembus pelan namun membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang kuno, seolah waktu berhenti berputar di sini. Sesuai petunjuk pesan itu, aku tidak masuk lewat pintu depan, melainkan mencari celah di bagian belakang fondasi yang tertutup semak belukar. Dengan susah payah membersihkan ranting dan tanah yang menumpuk, aku menemukan sebuah pintu batu kecil yang tersembunyi, tertutup lumut tebal namun masih terlihat garis ukiran yang persis sama dengan pola pada tanda di pergelangan tangan Erlan.

Saat aku menyentuh permukaan batu itu dengan ujung jari, pintu itu terbuka perlahan sendiri tanpa suara, menampakkan tangga batu yang menurun ke dalam kegelapan yang tak berdasar. Cahaya senterku menembus kegelapan itu, memperlihatkan lorong sempit yang dindingnya penuh dengan tulisan kuno dan gambar ukiran yang menceritakan peristiwa ribuan tahun silam. Aku berjalan perlahan turun, setiap langkahku terasa berat seolah ada beban masa lalu yang menindih bahuku. Semakin dalam aku melangkah, semakin jelas kisah yang tergambar di dinding: dua sosok yang bersaudara sekaligus satu kesatuan, yang hidup menjaga keseimbangan dunia. Namun perselisihan muncul saat salah satu dari mereka ingin mengambil kekuatan sepenuhnya demi mengubah takdir yang dianggapnya tidak adil. Perselisihan itu memuncak hingga terpaksa terjadi perpisahan yang menyakitkan—satu bagian tetap menjaga keseimbangan dengan hati yang penuh kasih, sementara bagian lain dikurung di antara waktu karena keserakahannya. Namun sebelum perpisahan itu terjadi, mereka berdua membuat sumpah suci yang tertulis jelas di dinding paling dalam:

"Kami berjanji untuk tetap bersatu meski terpisah waktu. Jika salah satu dari kami kembali, maka yang lain harus melepas apa yang membuatnya berbeda—termasuk rasa cinta yang tumbuh di luar hukum alam. Siapa pun yang melanggar sumpah ini, bukan hanya dirinya yang akan hancur, melainkan seluruh dunia yang dijaganya akan ikut runtuh bersamanya."

Darahku terasa membeku seketika. Inilah jawaban yang selama ini kami cari. Inilah sebabnya musuh terus menekan kami untuk merusak ikatan kasih sayang kami. Sumpah kuno itu menyatakan bahwa jika bagian yang terpisah kembali menyatu, maka segala hal yang membuat Erlan berbeda—termasuk cinta yang ia miliki padaku—harus dihapuskan sepenuhnya. Dan jika kami berusaha melawan sumpah itu, bencana besar akan menimpa semua orang. Selama ini kami mengira sumpah itu adalah perlindungan, padahal sumpah itulah yang menjadi senjata paling tajam untuk menghancurkan kami. Sosok bayangan itu tidak memaksa kehendaknya semata—ia hanya meminta pelaksanaan sumpah yang sudah disepakati ribuan tahun silam. Dan di sinilah letak jebakan yang paling mengerikan: kami tidak bisa memilih antara cinta dan keselamatan dunia, karena memilih salah satunya berarti menghancurkan yang lain.

Di ujung lorong itu, aku menemukan sebuah ruangan luas yang di tengahnya berdiri meja batu persis seperti yang ada di ruangan atas. Di atas meja itu terbentang sebuah gulungan kuno yang berisi catatan kelanjutan sumpah itu—yang tak sempat diselesaikan saat perpisahan terjadi. Tertulis di bagian paling bawah dengan tinta yang perlahan memudar: "Namun sumpah ini memiliki celah yang tak diketahui siapa pun, bahkan oleh kami berdua. Jika cinta yang tumbuh itu mampu berdiri tegak melawan waktu dan kembali dari kematian... maka sumpah itu tidak lagi mengikat. Karena cinta yang melintasi batas kematian bukanlah pelanggaran, melainkan tanda bahwa takdir telah mengubah jalannya sendiri."

Belum sempat aku mencerna makna kalimat itu sepenuhnya, lantai di bawah kakiku bergetar hebat. Cahaya merah menyala dari arah pintu batu yang baru saja kulewati, dan sosok bayangan itu muncul berdiri di sana, diikuti oleh Sari yang tersenyum penuh kemenangan. Di samping mereka berdiri Erlan, namun tatapan matanya kosong, tak ada lagi cahaya kasih sayang yang biasanya menyambutku. Tanda merah di pergelangan tangannya kini bersinar terang benderang, menguasai seluruh kesadarannya.

"Kau menemukan rahasia yang seharusnya tetap terkubur," suara sosok itu bergema memenuhi ruangan, membuat dinding batu bergetar pelan. "Namun terlambat. Sumpah itu telah berlaku. Dan sekarang, saat aku menyatukan kembali diriku dengan bagian yang hilang... kau akan menjadi kenangan terakhir yang ia tinggalkan sebelum kembali menjadi makhluk yang seharusnya ia jadikan."

Erlan melangkah mendekat perlahan, tangannya terulur ke arahku namun tanpa kesadaran apa pun. Di matanya yang kosong, sesekali terlihat kilatan perjuangan yang samar—seolah ia masih berusaha melawan kendali itu, namun kekuatannya tak sebanding dengan ikatan sumpah yang mengikatnya.

"Jangan..." bisikku, air mata mulai menetes membasahi pipi. "Kau tahu di dalam hatimu bahwa sumpah itu bisa berubah. Kau tahu bahwa cinta kita bukanlah kesalahan."

Namun sebelum Erlan sempat merespons, Sari tiba-tiba melangkah maju dan melemparkan sebutir serbuk hitam ke arah gulungan kuno yang sedang kupegang. Gulungan itu langsung terbakar hebat dalam sekejap mata, menghanguskan bukti satu-satunya yang bisa menyelamatkan kami.

"Tak ada celah yang bisa kau gunakan," ucap Sari dingin. "Semua jalan sudah tertutup. Dan sekarang... kau tidak punya pilihan lain selain menyerah pada takdir yang sudah ditetapkan sejak awal."

Api itu melahap sisa tulisan terakhir, menyisakan abu yang beterbangan tertiup angin dari celah atap. Namun di tengah keputusasaan yang melanda, aku melihat sesuatu yang tak sempat terbakar—sepotong serpihan kecil yang terlepas dari gulungan itu, bertuliskan satu kalimat yang samar namun jelas terbaca: "Satu-satunya cara membatalkan sumpah... adalah dengan memilih pengorbanan yang bukan atas nama kewajiban, melainkan atas nama cinta yang tulus."

Apakah kalimat itu bermakna apa yang kupikirkan? Apakah aku harus menyerahkan nyawaku sendiri? Atau ada pengorbanan lain yang jauh lebih berat yang harus kuambil? Dan saat Erlan akhirnya berdiri tepat di hadapanku dengan tangan yang siap merenggut benda pusaka itu dariku, aku tahu satu hal pasti: pertarungan sesungguhnya bukan lagi tentang kekuatan atau bukti, melainkan tentang seberapa besar cinta yang sanggup kami korbankan untuk tetap berdiri berdampingan—bahkan jika itu berarti melawan hukum alam yang sudah ada sejak ribuan tahun silam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!