Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.
Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Xavier menatap tiga peti besar di depannya lalu melihat sekeliling. Hembusan angin dingin meniup wajahnya dan membuatnya sadar apa yang baru saja ia setujui.
“Aku… sendiri?” tanyanya kepada dirinya sendiri.
Xavier menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya. Ia membuka peti pertama dan mengambil satu persatu buku di dalamnya kemudian menumpuknya. Setelah cukup tinggi, ia mengangkatnya dan dibawa ke perpustakan. Karena tidak mampu mengangkat peti itu sendirian, jadi terpaksa harus bolak-balik untuk memindahkan bukunya. Setelah dibawa ke perpustakaan semua, barulah ia mengumpulkannya sesuai kategori buku kemudian disusun ke dalam rak berdasarkan judul.
“Ini di sini… “ gumamnya sambil meletakkan satu persatu buku ke rak buku.
“Oh dia punya buku ini juga,” Ucapnya dengan mata yang berbinar.
Xavier hendak membuka buku yang kini sedang dipegangnya, tapi kemudian menggelengkan kepalanya.
Buku yang dulu dia cari cari di pasar ibu kota namun tidak juga ditemukannya. Tapi sekarang ia melihatnya ada di koleksi pribadi milik pemimpin tim elit pasukan ibu kota. Memang pantas disebut pemimpin pasukan elit, buku langka saja ia memilikinya. Tapi sayangnya ia menemukan buku itu di waktu yang sangat tidak tepat.
“Aku di sini bukan untuk membaca buku ini,” Ucapnya dan meletakkan buku itu di rak.
Sementara itu, Gavin masuk ke dalam perpustakaan dan melewati Xavier. Ia meliriknya sambil lewat dan berjalan terus menuju ke ruang baca di sebelah.
“Apa yang sedang dia lakukan?” Tanya Lysander kepada Gavin tanpa menoleh sedikitpun. Ia membaca sebuah buku yang diambilnya sembarang dari rak buku.
“Tuan Xavier sedang menyusun buku seperti yang Anda perintahkan Tuan Muda,”
Lysander mengangguk pelan lalu menutup bukunya. Ia berdiri dari duduknya dan bersiap untuk kembali ke tendanya karena malam sudah semakin larut.
“Lanjutkan besok saja,” Ucapnya.
Gavin menunduk hormat lalu ia kembali ke ruang perpustakaan. Menghampiri pemuda tinggi yang terlihat sedang bergulat dengan pikirannya sendiri.
“Tuan Xavier,” Panggil Gavin namun tidak ada sahutan.
“Tuan?” Panggilnya lagi.
Akhirnya Gavin menepuk pelan bahu kiri Xavier dari belakang. Dan secara reflek tubuh Xavier berbalik karena terkejut. Tangannya otomatis terangkat dan punggung tangannya menampar wajah Gavin dengan cukup keras.
“Tuan Gavin! Anda tidak apa-apa?”
Xavier panik sekaligus takut karena baru saja memukul salah satu anggota pasukan istana. Apalagi bekas kemerahan terlihat jelas di pipi Gavin. Tiba-tiba saja keringat dingin membasahi punggungnya saat sadar kalau tamparannya barusan cukup keras.
“Maaf, saya tidak sengaja. Salah anda karena membuat saya terkejut!”
Gavin memegang pipinya dan memutar bolanya. Baru kali ini ia bertemu orang yang terang-terangan menyalahkan korban. Wajahnya merasa sangat bersalah dan ketakutan tapi mulutnya malah menyalahkan korban.
“Tidak apa-apa, saya hanya mau menyampaikan pesan dari Tuan Lysander.”
“Pesan apa?”
“Malam ini cukup sampai di sini, anda kembalilah ke tenda dan beristirahat.”
“Tapi…”
Xavier melirik ke tumpukan buku di dekat kakinya yang sejak tadi sudah ia pisahkan. Buku itu berisi tentang penyihir dan ilmu sihir. Bahkan banyak buku langka diantara tumpukan itu.
“Masih banyak waktu untuk anda membacanya, tidak ada kata terlambat untuk mendapat sebuah pengetahuan.”
“Iya sih, ya sudah deh.”
Xavier mengangkat setumpuk buku dan diserahkan langsung ke Gavin. Kemudian ia juga mengangkat setumpuk lagi.
“Kenapa anda memberikan ini ke saya?” Tanyanya dengan penuh kebingungan.
“Tolong bawa ke sebelah,” Jawab Xavier sambil menunjuk ruang baca dengan dagunya.
Setelah itu, mereka berdua berjalan keluar bersamaan. Sedangkan Lysander sudah kembali ke tendanya sejak tadi tanpa menunggu Gavin.
Di tenda Lysander.
“Tuan muda, kenapa anda begitu peduli dengan Tuan Xavier sampai memperhatikan jam malamnya?”
“Aku hanya menjalankan permintaan Komandan Kaelen untuk tidak membiarkannya berada di ruang baca sendirian.”
“Kenapa?”
Lysander balik menatap Gavin, “menurutmu kenapa?”
Gavin terlihat berpikir dengan serius.
“Karena takut dia akan membuat berantakan ruang bacanya?”
Lysander menghembuskan nafasnya dan berjalan ke tempat tidur, bersiap untuk tidur.
“Besok membacalah lebih banyak buku bersama Xavier,” Ucap Lysander saat ia sudah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
“Buku apa?”
“Yang bisa membuang kebodohan,” Jawabnya sambil menutup mata.
“Memangnya siapa yang bodoh,” Gumamnya lalu ia berjalan ke tempat tidur satunya dan ikut memejamkan mata.
Baru saja matanya terpejam, suara Lysander kembali menginterupsi.
“Gavin, carikan orang untuk membuat desain baju.”
“Anda mau membuat baju baru Tuan?” Gavin memiringkan tubuhnya ke arah Lysander untuk menatap tuan mudanya secara langsung.
“Bukan buatku, buatkan yang ringan, sederhana, nyaman untuk berbagai kegiatan termasuk bela diri, tapi ada tudung kepalanya.”
Gavin terdiam sesaat karena dari yang dijelaskan itu memang bukanlah selera Lysander dan juga dirinya. Meskipun begitu, ia tetap mengangguk dan melaksanakan perintah dari Lysander.
Keesokan harinya, setelah selesai berlatih Xavier langsung pergi ke ruang baca Kaelen melewatkan makan malam. Namun ternyata ia tidak bisa langsung masuk dan dihadang oleh seorang penjaga.
“Maaf, hanya komandan dan petinggi lain yang bisa masuk, Tuan Xavier,” ucap petugas tersebut.
“Tapi kemarin aku boleh masuk.”
“Kemarin ada tuan Lysander yang mendampingi anda.”
“Terus gimana dong?”
“Saya mendapat pesan dari Tuan Lysander anda bisa kembali ke perpustakaan untuk melanjutkan menata buku di rak. Kalau sudah selesai, beliau akan datang dan menemani anda di ruang baca.”
Xavier tidak pernah lupa dengan buku yang masih menumpuk di bawah. Ia hanya ingin segera membaca dan ketika Lysander datang, ia bisa melanjutkan menata bukunya ke rak.
“Kenapa tidak membaca di perpustakaan saja?” tanya seorang prajurit.
“Tadi malam bukunya sudah aku pindah ke ruang baca,” jawabnya dengan lesu.
Akhirnya ia pun masuk ke perpustakaan dan mulai merapikan buku milik Lysander. Satu persatu ia susun dengan rapi. Hingga akhirnya perlahan buku tersebut sudah berpindah ke rak buku semua. Xavier menghela nafasnya lalu ia menoleh ke kanan dan kiri.
Kosong…
Di dalam perpustakaan ini hanya ada dirinya sendiri. Kemudian ia melirik ke arah tirai penghubung ke ruang baca Kaelen. Xavier menelan ludahnya lalu menggelengkan kepala. Memaksa kakinya untuk melangkah keluar dari perpustakaan dan mencari Lysander untuk melaporkan tugasnya sudah selesai.
Saat ia sedang berjalan menuju ke tenda Lysander, ia melihat Lysander dan Gavin dari kejauhan sedang berjalan ke arahnya. Jika dilihat dari jauh seperti ini, Gavin benar-benar terlihat seperti pengawal pribadi.
“Tuan Lysander!” Seru Xavier sambil berlari kecil menghampiri Lysander dan Gavin.
“Tuan, saya sudah menyelesaikannya, bukunya sudah tertata rapi di rak.”
“Hm.”
Lysander terus berjalan dan tidak berhenti sedikitpun. Xavier pun mengikutinya dan berjalan di sebelahnya. Setelah sampai di perpustakaan, Lysander melihat sebentar hasil pekerjaan Xavier lalu ia berjalan menuju ke ruang baca. Ia duduk di kursi kayu dan membiarkan Xavier yang duduk di kursi utama.
“Gavin, ambilkan camilan dan teh.”
“Baik Tuan Muda.”
Tidak lama kemudian, Gavin kembali membawa sepiring roti manis dan satu teko teh dengan dua cangkir.
“Makan ini,” Lysander mendorong piring ke sisi Xavier.
“Wahh kebetulan aku belum makan malam, terimakasih!”
Setelah melihat Xavier memakan camilannya dengan lahap, Lysander melirik ke arah Gavin lalu memberi isyarat dari tatapan matanya agar ia keluar dan berjaga di luar.
Gavin pun langsung menunduk hormat lalu keluar dari ruang baca dan berdiri di luar bersama dengan dua prajurit yang memang bertugas menjaga tenda ini.
Tumpukan buku yang tadinya berada di bawah, kini sudah berpindah ke atas meja. Bahkan teh Lysander tersingkir hingga ke sudut meja. Piring roti yang sudah kosong pun dipindah ke bawah meja. Xavier meregangkan tangannya lalu mengambil sebuah buku. Ia membukanya dan mulai tenggelam dalam bacaan buku tersebut.
Tidak terasa, malam semakin larut.
Suara lolongan serigala dari tengah hutan membuat bulu kuduk berdiri ditambah suhu yang semakin dingin. Di dalam ruang baca, Xavier membungkus tubuhnya dengan mantel. Matanya tetap fokus dengan barisan tulisan di depannya. Lembar demi lembar buku ia balik dengan begitu cepat menimbulkan bunyi yang memenuhi seluruh ruangan.
Lysander di depannya juga terlihat sedang membaca buku dengan tenang. Gavin beberapa kali masuk untuk mengganti tehnya karena sudah dingin.
“Argghhhh…” Xavier tiba-tiba berteriak mengacak-acak rambutnya karena sudah ada sepuluh buku yang dibacanya dan semuanya hanya pengetahuan dasar.
Lysander meliriknya lalu menutup buku di tangannya. Ia berdiri dan mencari sesuatu di antara tumpukan buku di meja. Mengambilnya satu dan menyerahkannya ke Xavier.
“Coba baca buku ini dulu.”
Xavier mendongak lalu membaca judul bukunya.
“Bukankah ini buku dongeng?” Tanya Xavier setelah membaca sekilas judul bukunya.
“Buka dulu saja.”
Xavier menurut dan ia membuka halaman pertama. Matanya langsung terpaku pada sudut halaman.
“Karya Cyrus?”
Xavier mendongak dan Lysander pun mengangguk.
“Aku tidak tahu beliau juga menulis buku tentang sihir!”
Mata Xavier berbinar hingga bisa menerangi seluruh ruangan. Ia dengan semangat membuka halaman demi halaman dan membaca baris demi barisnya. Sedangkan Lysander kembali duduk dan membaca bukunya.
Selama membaca buku itu, Lysander juga mengambil buku lain untuk mencari tahu istilah-istilah yang tidak dipahaminya. Bahkan buku dasar sihir yang tadi ia keluhkan pun kini ikut berguna.
“Tuan Lysander, menurut anda Zephyr termasuk penyihir apa?”
“Hm?” Lysander menolehkan kepalanya ke arah Xavier.
“Penyihir kan ada dua jenis, tubuh alami dan pengguna mantra. Kalau tubuh alami, secara alami tubuhnya akan menarik energi alam disekitarnya ke dalam tubuh. Kalau pengguna mantra, dia akan menggunakan mantra atau simbol tertentu untuk mengumpulkan energi dan melepaskannya.”
“Kalau menurutmu?”
“Menurutku, dia pemilik tubuh alami.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak pernah melihatnya membaca mantra.”
Lysander tertawa pelan mendengar jawaban pemuda itu. Ia tidak mengira dengan buku sebanyak itu, jawabannya masih terasa sangat polos seperti anak anak.
“Anda kenapa malah menertawaiku?”
“Tidak apa-apa, jawabanmu benar tapi ada ciri - ciri lainnya juga.”
“Apa?”
“Seperti yang kamu katakan, dia tidak membaca mantra atau menggunakan simbol di tubuhnya. Setiap kali selesai menggunakan kekuatannya dia akan tertidur pulas, keterangan ini ada di dalam buku ini,” Lysander menunjuk ke sebuah buku yang sudah terbuka di hadapan Xavier.
“Kemudian, dia juga sering berdiam di tempat terbuka kan? kamu coba baca buku ini,” Lysander mengambil sebuah buku dari tumpukan buku yang belum disentuh dan menyerahkannya ke Xavier.
Xavier pun kembali tenggelam ke dalam tumpukan buku. Lysander masih mencari-cari sebuah buku yang sejak tadi belum ditemukannya. Kemudian matanya berkedut saat melihatnya berada di tumpukan paling bawah. Bersusah payah menariknya lalu memberikannya kepada Xavier.
“Baca ini juga,” ucapnya kepada Xavier.