Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.
Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**
Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.
Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**
Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**
"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."
Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:
*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30: Tarik-Menarik di Kamar Mandi
Pipa air panas di kamar mandi tamu bocor pada Jumat malam.
Air mengalir dari bawah pintu ketika Lia lewat membawa seprai bersih. Ia segera menaruh tumpukan kain di kursi dan mengetuk.
“Ada orang di dalam?”
Tak ada jawaban.
Lia membuka pintu. Uap memenuhi ruangan karena keran pancuran macet dalam posisi menyala. Ia mencoba memutarnya dengan kain, tetapi logam licin tidak bergerak.
“Jangan pakai tangan kosong.”
Suara Sebastian muncul dari belakang.
Lia menoleh. “Sebas? Kenapa di sini?”
“Saya lihat air di lorong.”
“Kalau orang dengar saya memanggil begitu...”
“Tidak ada orang dekat sini.”
Sebastian masuk membawa tang kecil dari lemari alat. Pintu dibiarkan terbuka, tetapi uap membuat pandangan ke lorong buram.
Ia berjongkok di dekat keran utama. “Pegang senter.”
Lia menyalakan senter ponsel. Lantai licin membuatnya harus berdiri dekat bahu Sebastian. Ketika tang mencengkeram katup, semburan air mendadak berubah arah dan mengenai dada mereka.
Lia menjerit kecil.
Sebastian berhasil menutup aliran, tetapi keduanya sudah basah. Blus Lia menempel pada kulit. Ia langsung menutup dada dengan kedua tangan.
Sebastian membuang pandangan dan mengambil handuk besar dari rak.
“Pakai.”
Lia melilitkannya di bahu. “Kemeja Sebas juga basah.”
“Tidak apa-apa.”
Kemeja putih itu menempel pada dada dan bahu Sebastian. Lia yang tadinya malu kini justru tidak tahu harus melihat ke mana.
“Kita panggil petugas pemeliharaan,” katanya.
“Sudah saya kirim pesan.”
Mereka seharusnya keluar. Namun, suara langkah dan obrolan dua pekerja terdengar dari lorong. Jika Lia keluar dalam keadaan basah bersama Sebastian, rahasia mereka bisa berubah menjadi bencana.
“Saya keluar dulu,” bisik Lia.
“Blusmu menempel. Mereka akan bertanya.”
“Kalau kita tetap di sini, pertanyaannya lebih buruk.”
Sebastian mengambil jubah mandi bersih yang tergantung untuk tamu dan menyodorkannya tanpa melihat tubuh Lia. “Pakai di atas handuk. Setelah mereka lewat, kamu keluar dulu. Saya tunggu lima menit.”
Rencana itu masuk akal. Lia memasukkan tangan ke lengan jubah sambil tetap membelakangi Sebastian. Ia mengikat sabuk kuat-kuat. Ketika berbalik, Sebastian sedang menatap langit-langit dengan kesungguhan yang hampir lucu.
“Sudah.”
Ia menurunkan pandangan perlahan. “Yakin?”
“Sudah tertutup.”
Barulah ia menutup pintu lebih jauh, tetap menyisakan celah.
Sebastian menutup pintu hingga menyisakan celah udara.
“Tunggu mereka lewat.”
Lia berdiri dekat wastafel, dibungkus handuk. Uap hangat membuat suhu tubuhnya naik. Ia baru makan satu mangkuk soto untuk malam, sehingga aroma manis mulai keluar semakin pekat.
Sebastian bersandar di pintu, rahangnya menegang.
“Jangan lihat saya begitu,” kata Lia.
“Saya sedang berusaha tidak melihat.”
“Tapi Sebas melihat.”
“Karena kamu bicara.”
Lia hampir tertawa, tetapi tatapan lelaki itu terlalu panas.
Satu tetes air turun dari rambut Lia ke leher, lalu hilang di balik handuk. Mata Sebastian mengikuti sebelum ia memalingkan wajah.
“Sebas bisa keluar dulu,” kata Lia.
“Dan membiarkan kamu sendirian kalau keran pecah lagi?”
“Airnya sudah mati.”
“Lantainya licin.”
“Sebas cuma cari alasan.”
“Mungkin.”
Kejujuran itu membuat jantung Lia berdetak lebih keras. Ia meraih handuk kecil dan mengusap air dari rambut. Sebastian mengambilnya dengan gerakan pelan.
“Boleh?”
Lia mengangguk.
Ia mengeringkan ujung rambut Lia tanpa mengacak sanggul. Sentuhan tangan melalui kain terasa sopan, tetapi jarak tubuh mereka tidak. Setiap kali Sebastian mengangkat handuk, buku jarinya hampir menyentuh tengkuk Lia. Aroma manis semakin tebal, dan napas lelaki itu berubah lebih berat.
“Sebas.”
“Jangan panggil saya kalau tidak perlu.”
“Kenapa?”
“Kamu tahu kenapa.”
Lia mengambil satu langkah mendekat. Setelah berbulan-bulan selalu menjadi pihak yang mundur, malam itu ia ingin tahu seperti apa rasanya memilih mendekat.
“Kalau saya memang perlu?”
Sebastian menatapnya. “Untuk apa?”
“Untuk memastikan pacar saya tidak pingsan hanya karena saya basah kena pipa.”
“Saya tidak akan pingsan.”
“Tangannya mengepal.”
Sebastian membuka telapak tangan, lalu Lia melihat bekas samar gigitannya. Ia menyentuh bagian itu dengan ujung jari.
“Masih sakit?”
“Tidak.”
“Masih ingat?”
“Sangat.”
Sebastian menangkap jemarinya, tetapi tidak menarik. “Lia, kalau kamu terus menggoda, saya akan mencium kamu.”
“Kita pacaran.”
“Itu bukan jawaban.”
Lia menatap bibirnya. “Boleh.”
Jarak di antara mereka hilang.
Sebastian mencium Lia sambil tetap memegang satu tangannya. Ciuman pertama lembut, seolah masih memberi kesempatan untuk berubah pikiran. Ketika Lia mengangkat tangan satunya ke tengkuknya, kendali lelaki itu retak.
Ia memutar posisi mereka agar punggung Lia bersandar pada dinding kering, bukan wastafel. Satu tangan berada di sisi kepala, tangan lain menahan pinggang di atas handuk.
Uap, kain basah, dan aroma manis membuat udara terasa terlalu tebal.
Lia membalas tanpa ragu. Dada Sebastian yang basah menyentuh lapisan handuk di depan tubuhnya. Panas menjalar sampai lutut.
“Sebas,” bisiknya.
Sebastian mencium sudut bibir dan rahangnya, berhenti sebelum mencapai leher. Napasnya berat di kulit Lia.
Jari Lia menyentuh kancing kemejanya tanpa sadar.
Sebastian langsung menangkap tangan itu.
“Jangan.”
Lia membeku. “Saya salah?”
“Tidak.” Ia menempelkan dahi ke dahi Lia, berusaha mengatur napas. “Justru saya yang hampir lupa batas.”
“Kita cuma berciuman.”
“Sekarang.”
“Lalu?”
Tatapan Sebastian turun ke bibirnya. “Kalau diteruskan, saya akan menginginkan lebih.”
Lia merasakan panas baru, tetapi juga ketenangan karena Sebastian mengatakannya tanpa menekan.
“Saya belum siap,” katanya.
“Saya tahu.”
“Sebas marah?”
“Kepada diri sendiri karena membawa kita ke kamar mandi?”
“Pipanya yang membawa.”
Sebastian tertawa pendek. “Tangga, angin, sekarang pipa.”
Ia merapikan handuk Lia dan mundur satu langkah.
“Saya mau menunggu sampai kita menikah,” katanya. “Bukan karena tubuhmu membuat saya takut. Justru karena saya menginginkanmu terlalu banyak untuk memperlakukan momen itu seperti kecelakaan di balik pintu.”
Lia menatapnya, dada penuh rasa malu dan hangat.
“Saya juga mau menunggu.”
“Bagus.”
“Bukan karena keluarga atau omongan,” lanjut Lia. “Karena saya ingin saat itu terjadi, saya tidak sedang takut seseorang membuka pintu.”
“Dan bukan saat kamu masih bergantung pada rumah saya.”
Lia memahami maksudnya. “Setelah saya berdiri dengan kaki sendiri?”
“Setelah kita sama-sama memilih waktu tanpa tekanan. Pernikahan bukan bayaran karena saya membantu, dan tubuhmu bukan bukti bahwa kamu mencintai saya.”
Kata-kata itu membersihkan sisa rasa takut yang masih menempel sejak hidup Lia pernah diperdagangkan.
“Kalau begitu, Sebas harus sabar.”
“Saya sedang berusaha.”
Lia melirik kemeja basahnya. “Kelihatannya sulit.”
“Sangat. Jadi jangan tersenyum begitu.”
“Seperti apa?”
“Seperti kamu sengaja menguji.”
Lia tertawa pelan. Untuk sekali ini, kekuasaan kecil berada di tangannya, dan Sebastian membiarkan tanpa membuatnya merasa bersalah.
Sebastian mencium keningnya sebagai penutup, lalu mengambil handuk lain untuk menutupi kemejanya.
Suara Cornelia terdengar dari lorong bersama petugas pemeliharaan.
“Air bocornya dari kamar mandi ini?”
Lia dan Sebastian saling pandang.
Pintu masih menyisakan celah, pakaian mereka basah, dan aroma manis belum hilang.
Gagang pintu mulai bergerak.