Hutang budi membuat Pria setengah baya itu lupa pada gadis belia yang dulu menolongnya saat pingsan dalam melaksanakan tugas. Bertahun-tahun ia mencari, hingga akhirnya ia menemukan gadis itu dan menjodohkannya dengan 'putranya', Letnan Julang Wengkar (Elang), perwira muda yang gagah, berani, dan namanya di kenal kemiliteran.
Namun takdir punya jalan yang tak terduga. Di balik kesediaan gadis itu menerima perjodohan, tersimpan rahasia yang selama ini ia pendam dalam diam.. Hatinya bukan untuk Elang. Ia justru mencintai Letnan Dante, sahabat Elang sendiri.. Juga 'putra' dari mendiang sahabat Pak Riegan semasa muda dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Simpang siur perasaan.
Bang Dante menepak sisi meja di hadapannya, matanya menatap kedua orang tuanya bergantian, telinganya berdengung kesal, rasa sakit di tubuhnya seketika terasa tak ada apa-apanya dibanding rasa sesak yang mendadak menghantam dadanya.
"Jadi... kalian lebih percaya pada gadis kecil itu?? orang yang sedang demam tinggi daripada ucapan anakmu sendiri?" suaranya menekan, dalam dadanya bergemuruh emosi, matanya menatap tajam, bukan marah, tapi benar-benar terluka. "Setelah semalam... setelah saya menjaganya, menolongnya, membiarkan diri saya ikut terluka demi dia... Ayah dan Mama malah menuduh saya menc***li dia, tanpa mau mendengar penjelasan saya?"
Pak Riegan menghela napas berat, wajahnya tegas namun matanya menyimpan kekhawatiran yang mendalam. "Bukan begitu, Dante. Kami bukan tidak percaya padamu. Tapi Bian... dia terus mengigau namamu, berulang-ulang. Dan apa yang dia ucapkan... Arahnya seperti mau bilang, kau apa-apakan dia. Orang tua mana yang nggak cemas?? Kami takut kau melakukan sesuatu yang nanti akan kau sesali, sama seperti dulu."
"Begitu??? Jadi itu yang Ayah dan Mama pikir??? Saya sebejat itu???" Bang Dante menegakkan tubuh meski masih kesakitan. "Dulu dan sekarang semua berbeda, tapi ayah tau.. Jika saja takdir tidak mempermainkan saya dan Sea, dia masih dan akan selalu menjadi istri saya. Seberapa pun ingin nya saya memendam rindu, saya tidak akan melanggar batas. Saya tau harga diri perempuan sangat suci untuk di lindungi. Saya menjaganya lebih dari menjaga diri saya sendiri. Kalau Ayah dan Mama tetap tidak percaya... mau saya bilang apa lagi?"
Mama Phia mendekat, suaranya melembut, penuh keibuan namun tetap mencemaskan putranya. "Dante... Mama tau kau bisa menjaga kehormatan diri, Mama juga sangat mengenalmu. Tapi Bian terus bilang 'Bang Wira', 'Jangan di buka', bagaimana Mama dan Ayah tidak khawatir? Itu terdengar terus menerus."
"Bian ketakutan karena hampir mati, Ma!" potong Bang Dante, suaranya meninggi namun tetap penuh perasaan. "Bian terperosok, terluka, ketakutan di dalam hutan yang gelap dan berbahaya. Saya memeluknya agar dia tetap hangat, dia nyaris hipotermia. Saya menyentuhnya hanya untuk membersihkan lukanya dan membalutnya dengan kain seadanya, saya pakaikan pakaian saya. Saya menjaganya sepanjang malam agar dia tidak sendirian saat ketakutan. Itu semua karena saya menolongnya, bukan karena hal lain atau karena saya ingin memanfaatkan perempuan yang tidak punya tenaga."
Bang Dante menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya sudah lelah namun banyaknya pikiran membuatnya lebih dari sekedar lelah.
"Kenapa Ayah dan Mama selalu melihat sisi terburuk dari saya? Padahal saya berusaha sebaik mungkin. Saya tidak seperti yang kalian pikirkan. Saya tidak akan pernah menyakiti gadis itu. Sebejatnya saya sebagai laki-laki, saya juga punya rasa tidak tega, saya masih waras."
Pak Ringan memeluknya sejenak sebagai seorang ayah pada putranya. "Lantas kenapa Bian selalu menyebut namamu??"
Bang Dante menghela nafas panjang. "Yah, biar apa yang terjadi semalam.. Hanya kami saja dan Tuhan yang tau."
Mendengar hal itu, Mama Phia dan Pak Riegan saling lirik tapi keduanya langsung memahami ada sesuatu yang tidak biasa. Mereka menyerahkan semua keputusan terbaik di tangan putranya.
Bang Dante sedikit beralih dari posisi duduknya. Pandangannya menengadah menatap langit-langit kamar.
'Bian... Saya bukannya tidak merasa bersalah padamu. Malah semuanya begitu saya sesali. Sungguh saya minta maaf, hati saya masih tidak sanggup untuk mengenal wanita manapun. Luka yang saya rasakan sungguh membuat saya takut untuk kembali mengenal wanita. Tapi.. Seandainya Tuhan menuntunmu memberi rasa yang sama seperti yang saya rasakan dalam diam... Saya sendiri yang akan datang padamu dengan cara yang paling terhormat. Bukan di tengah hutan, bukan di saat kau terluka. Melainkan di saat kita berdua sudah siap, dan di hadapan orang tuamu dan Tuhan kita.'
...
Di kamar rawatnya, Bian sudah tersadar. Ia melihat sekeliling ruang rawat yang begitu indah. Kamar yang indahnya melebihi kamar kost nya selama ini.
Namun di sudut lain, ia melihat sosok seorang pria sedang tidur di sofabed. Letnan Wira menemaninya, agaknya pria itu juga terluka, terlihat dari perban dan menutup beberapa titik di tubuhnya.
'Hai, Pak Letnan. Aku tidak tau apa yang kurasakan. Sentuhan darimu semalam membuat pikiranku tentang pria mendadak berubah. Ternyata masih ada pria baik sepertimu di dunia ini. Kamu sangat menjaga kehormatan diriku, kamu juga tidak mempermainkan diriku saat aku paling tak berdaya. Tapi.. Aku takut mengenal laki-laki lain, takut aku hanya bahan kesenangan sesaat, meskipun jujur.... kamu memenangkan hatiku.'
...
Malam hari, penjagaan di kamar rawat begitu ketat. Bian sudah bangun, lima orang perawat di minta ikut melayani saat Bian mau ke toilet.
"Nggak usah bagaimana?? Kamu turun dari ranjang saja tidak bisa." Omel Bang Dante saat Bian menolak para perawat yang akan membantunya.
"Aku malu, Om."
"Sejak kapan saya jadi Om kamu????" Nada Bang Dante sampai meninggi mendengar kata sapaan itu. "Lagipula saya minta tolong sama perawat perempuan, nggak ada laki-laki disini."
"Tapi Om, laki-laki." Kata Bian dengan wajah polosnya.
"Iyaaa.. Tapi saya di luar, jaga kamu dari sini saja." Jawab Bang Dante sudah cemas karena memang Bian sulit untuk menggerakkan tubuhnya.
Tak lama Bian meringis memegangi perutnya. Bang Dante sigap menghampiri Bian, tanpa bertanya ia memasukan botol infus itu ke saku celananya lalu membawa Bian ke toilet. "Kalian bisa keluar, biar saya yang urus." Perintah Bang Dante pada lima orang perawat disana.
"Nggak mau, Om. Om Wira keluar saja." Pinta Bian.
"Kau diam..!! Malu, kan?? Ya sudah sama saya saja sekalian." Ujarnya sambil menggantung botol infus pada tempatnya di toilet.
"Om keluar, jangan ikut disini..!!" Bian tak banyak bicara, tapi jantungnya serasa berteriak.
Bang Dante paham batasannya, ia keluar dari toilet tapi tidak benar-benar menutupnya rapat. "Kalau sudah selesai, bilang. Tak ada pilihan, hanya ada Abang disini."
Bian menunduk, ia memang tidak bisa berbuat apapun saat ini. "Iyaa.. Bb_ang."
.
.
.
.
lanjut mba nara👍
mba Nara, ngasih bawangnya banyak bgt🥹🥹
huaaa...ga rela klo pada pisah😭
lanjut mba Nara🥰
itu lg si vivian...melu² ngobong blarak....adeeehhh koq yo ora kapok... njaluk dijak gelud ae iki
lanjut mba nara
ternyata udah adu tenaga dlm🤭🤭
ini si vivian...apa ga kapok yaaa...blm tau aja klo bang dante bertindak...ditumbuk jd bubuk😂