Satu malam gila di Los Angeles mengubah takdir dua jiwa yang terluka. Terpukul oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Jameson Baxter Ashford—dosen muda jenius sekaligus pahlawan kota yang disegani—meluapkan amarahnya pada Hazel Rosemary Brooks, wanita asing bertato kupu-kupu yang berani meremehkan kesombongannya.
Namun saat fajar menyingsing, Hazel menghilang tanpa jejak—hanya meninggalkan segepok uang tunai dan sepucuk surat "ganti rugi" yang menghantam telak harga diri Jameson.
Diperlakukan bagai pria bayaran, amarah sang pewaris klan Ashford meledak. Dengan kekuasaan dan obsesi yang membara, Jameson bersumpah memburu wanita misterius itu ke seluruh sudut kota.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Hazel menyadari bahwa melarikan diri dari Jameson adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
•
•
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Deru mesin sports car berkapasitas mesin besar itu menderu tajam di sepanjang jalanan Los Angeles yang basah oleh sisa gerimis.
Di balik kemudi, Jameson Baxter Ashford mencengkeram erat lingkar kemudi berlapis kulit, matanya menatap lurus menembus kegelapan malam.
Otaknya masih bising oleh deretan kalimat peringatan keras yang dilontarkan sang ayah di mansion keluarga beberapa saat lalu.
Namun, alih-alih meredupkan nyalinya, tekanan itu justru memicu dorongan yang jauh lebih liar di dalam dadanya untuk segera sampai ke apartemen.
Mobil meluncur mulus memasuki area parkir VIP bawah tanah.
Jameson keluar dari kendaraan, membiarkan pintu terhempas menutup secara otomatis.
Derap langkah kakinya yang cepat dan mantap bergema kaku di atas lantai beton bertulang yang sunyi.
Setiap pijakan sol sepatu kulitnya memantulkan nada ketegangan yang pekat, menuntunnya melangkah tergesa-gesa menuju akses lift pribadi.
Ting.
Pintu lift berdinding kaca es terbuka di lantai teratas. Jameson melangkah keluar, lalu menempelkan telapak tangannya pada pemindai biometrik penthouse.
Klek.
Begitu selot pintu baja utama terbuka dan terdorong pelan, langkah Jameson mendadak terhenti kaku di ambang foyer.
Ruang tengah penthouse itu remang, hanya diterangi pendar redup lampu kota dari luar jendela kaca raksasa.
Dan tepat di sana, di dekat sofa utama, berdiri sosok Hazel Rosemary Brooks. Gadis itu mengenakan gaun sutra hitam sederhana, berdiri membisu sembari menatap ke luar jendela.
Jameson mengedipkan matanya, sedikit terperanjat. Ia tidak menyangka akan menemukan Hazel sudah berada di dalam apartemennya tanpa pemberitahuan lebih dulu.
"Hazel...?" bisik Jameson dengan suara serak, menghentikan derap langkahnya beberapa inci dari karpet tebal foyer.
"Bagaimana bisa kau—"
"Aku memiliki akses kunci daruratnya Sejak Semalam, Mr. Ashford," potong Hazel pelan, memutar tubuhnya anggun hingga sepasang mata porselennya menatap lurus ke arah sang dosen.
Suaranya terdengar begitu tenang, namun sarat akan nada penegasan yang dingin. "Aku di sini untuk mengakhiri permainan ini."
Dahi Jameson berkerut dalam. Ia melepaskan jas mewahnya, membiarkan kain mahal itu terlempar kaku ke atas sandaran sofa.
"Mengakhiri? Apa maksudmu?"
"Tiga malam," sahut Hazel pendek.
"Ini malam ketiga. Setelah malam ini selesai, kesepakatan rahasia di antara kita resmi berakhir, Jameson. Kau kembali menjadi dosenku, dan aku kembali menjadi mahasiswamu."
Jameson menatap Hazel dengan pandangan campur aduk.
Namun, di tengah ketegangan dan kebingungannya akan niat tegas Hazel untuk mengakhiri hubungan mereka, fokus otaknya mendadak terdistraksi oleh hal lain.
Pria Ashford itu memiringkan kepalanya sedikit, menatap Hazel dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan raut wajah yang polos dan membingungkan.
"Tunggu dulu..." kata Jameson, melangkah mendekat dengan kerutan dahi yang makin dalam.
"Soal siklus bulananmu... bukankah semalam kau terkulai lemas karena nyeri perut yang hebat? Bagaimana bisa kau berdiri setegap ini sekarang? Bisakah... bisakah siklus menstruasi wanita berhenti hanya dalam kurun waktu satu hari?!"
Hazel menatap pria di hadapannya selama beberapa detik, lalu sebuah hembusan napas meremehkan lolos dari hidungnya.
"Aku membohongimu semalam, Jameson," jawab Hazel jujur dan tanpa raut bersalah sedikit pun.
"Puas?"
Jameson membeku di tempatnya.
"Kau... apa?"
"Aku membohongimu," ulang Hazel penuh penegasan. "Darah di atas sprei putihmu itu hanya sampel cairan darah sintetis dan bahan kimia dari studioku. Rasa sakit perut dan hampir pingsan itu hanyalah sandiwara agar aku tidak perlu menyerahkan fisiku padamu di malam kedua."
Deg.
Jameson melongo kaku.
Selama lima detik penuh, dosen genius yang dikenal dingin dan ditakuti di mimbar akademik itu hanya bisa berdiri membisu dengan mulut sedikit terbuka. Otak mewahnya yang biasa mengkalkulasi strategi bisnis miliaran dolar mendadak mogok total.
"Kau... membuatku panik setengah mati, menyuruh pengawalku memborong satu rak supermarket, dan membiarkanku mencari tahu gejala haid di internet... hanya untuk sebuah skenario palsu?!" seru Jameson dengan nada kaget yang sangat polos dan konyol.
Hazel tidak menahan tawa tipis yang memancar di sudut bibirnya melihat kepolosan pria Ashford itu.
"Ya. Dan kau membuktikannya dengan membawa setermos sup ikan ke dalam ruang kuliah pagi tadi."
Jameson menghembuskan napas panjang lewat hidungnya, menyisir rambut hitamnya kasar sembari terkekeh miris atas dirinya sendiri.
Namun, keputusasaan dan kelucuan konyol itu perlahan memudar, berganti menjadi hembusan napas berat yang sarat akan kecemasan nyata.
Jameson mengikis sisa jarak di antara mereka. Derap langkah kakinya kini terdengar begitu pelan dan ragu.
Pria tegap itu meraih kedua telapak tangan Hazel, menggenggamnya erat di dalam kehangatan telapak tangannya yang sedikit bergetar.
"Hazel..." bisik Jameson dengan suara serak yang begitu dalam, menatap lurus ke dalam pupil mata gadis itu dengan kejujuran yang amat telanjang.
"Ayahku baru saja memperingatkan ku. Polisi dan Detektif makin gencar mengawasi kampus. Ini bukan lagi soal permainan tiga malam atau perjanjian kita..."
Hazel bergeming, merasakan hangat jemari Jameson yang mendekapnya.
"Aku takut, Hazel," akui Jameson tulus, sebuah pengakuan yang tak pernah diucapkannya pada wanita mana pun seumur hidupnya.
"Aku mencintaimu... aku begitu terobsesi padamu hingga rasanya gila. Aku tidak peduli seberapa gelap masa lalumu, tapi bisakah... bisakah kau menghentikan semua aksi pembunuhan gila ini? Berhentilah sebelum polisi benar-benar menemukan jejakmu dan membawamu pergi dariku."
Rasa cemas dan curahan perasaan jujur yang keluar dari mulut Jameson menggantung kaku di udara penthouse yang sepi.
Hazel tidak memberikan jawaban verbal atas permintaan itu. Ia tidak berjanji, tidak mengangguk, dan tidak melontarkan umpatan pedas seperti biasanya.
Sebaliknya, Hazel menaikkan pandangannya, menatap bibir tegas Jameson, lalu jinjit secara perlahan.
Cup.
Hazel melayangkan sebuah ciuman panas dan menuntut di atas bibir Jameson, membungkam habis seluruh kekhawatiran dan kalimat kecemasan sang dosen.
Jameson tersentak sejenak, namun gairah yang telah tertahan begitu lama seketika meledak.
Tangan kekarnya melingkar kencang di pinggang ramping Hazel, menarik tubuh gadis itu rapat tanpa jarak sembari membalas ciumannya dengan dominasi yang membakar.
Dalam hitungan detik, keheningan ruangan itu berganti menjadi desahan napas yang memburu dan gesekan kain yang terlepas kaku.
Jameson mengangkat tubuh Hazel ke dalam dekapannya, melangkah lebar menuju kamar tidur utama dan merebahkan gadis itu di atas kasur king size.
Namun, di tengah atmosfer panas yang sarat akan gelombang gairah dan sentuhan intim... sebuah momen canggung mendadak merusak ketegangan erotis di antara mereka.
Jameson yang sedang berada di atas tubuh Hazel secara tergesa-gesa mengeluarkan sebuah bungkus pengaman kecil.
Pria tegap yang biasanya selalu tampil sempurna dan sigap dalam segala hal itu... kini mendadak menunjukkan jemari yang gemetar hebat karena rasa gugup yang luar biasa.
Tap!
Bungkus plastik pengaman itu terlepas dari genggamannya dan terjatuh konyol ke atas karpet di samping ranjang.
"Sialan..." umpat Jameson serak dengan wajah yang mendadak memerah padam. Pria itu membungkuk cepat meraihnya kembali, lalu mencoba membuka kemasan tersebut dengan jemarinya yang mendadak kaku dan canggung. Ia kesulitan merobek plastiknya, bahkan hampir menyenggol lampu tidur di meja nakas.
Melihat kepanikan konyol dari seorang Jameson Baxter Ashford yang biasanya dipuja-puja karena ketenangannya, Hazel yang terbaring di bawahnya tidak sanggup lagi menahan diri.
"Pfft... hahahaha!"
Tawa lepas dan renyah mendadak meledak dari mulut Hazel.
Gadis dingin yang biasanya selalu tampil tanpa emosi itu kini tertawa terbahak-bahak, memegangi perutnya sembari menatap wajah sang dosen yang makin merona malu.
"Kau... seorang penguasa, Dan kesulitan membuka benda sekecil itu?!" tawa Hazel pecah di tengah remang kamar.
Jameson menghentikan pergerakannya, menatap wajah Hazel yang sedang tertawa lebar. Pendar mata hazel-nya mendadak melembut total, terpesona oleh pemandangan langka di hadapannya.
"Kau cantik sekali saat tertawa seperti itu, Hazel," bisik Jameson lembut, menghentikan tawanya seketika.
Hazel tertegun, tawa renyahnya perlahan surut menjadi senyuman tipis yang hangat.
Jameson merobek kemasan itu dengan giginya, lalu menundukkan kepalanya kembali, menyatukan bibir mereka dalam penyatuan panas yang sesungguhnya di dalam kegelapan malam ketiga.