Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.
Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".
Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah
"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Siaran Langsung Pertama Ujian Joran Bambu dan Komentar
Matahari pagi baru saja mengintip di balik rumpun bambu di tepi sungai desa Sidoarjo, memantulkan bias cahaya keemasan di atas permukaan air yang mengalir tenang. Udara desa yang segar bercampur aroma tanah basah dan sisa embun meresap ke dalam pori-pori. Namun, suasana di halaman belakang rumah panggung Bapak Joko Pratama pagi itu jauh dari kata tenang.
Dika Pratama terlihat sibuk memasang tripod kayu rakitan buatannya sendiri di depan emperan rumah. Di atas tripod itu, sebuah ponsel pintar murah terpasang dengan lensa menghadap tepat ke arah teras. Di sampingnya, Dinda Ayu Lestari sibuk mengatur pencahayaan menggunakan kardus bekas yang dilapisi kertas aluminium foil agar wajah mereka kelihatan lebih terang di kamera.
"Aduh, Dek, posisinya jangan terlalu miring. Nanti muka gantengku sebelah kelihatan kaya kentang penyet," protes Dika sambil merapikan sarung tenunnya yang bermotif kotak-kotak klasik serta jaket hitam kesayangannya.
"Udah, diam dulu, Mas! Ini penonton langsung YouTube-mu udah mulai masuk lima orang lho," sahut Dinda antusias sambil melirik layar ponsel. "Tuh, ada akun 'Mancing Mania Sidoarjo' yang gabung duluan."
Sementara itu, di ambang pintu dapur, Vanesha berdiri memperhatikan kesibukan dua kakak beradik itu dengan kening berkerut penasaran. Hari ini, wanita yang dulunya disegani sebagai CEO Vanesha Group itu tampak sederhana mengenakan kaos polos lengan panjang berwarna putih dan celana training hitam, rambutnya diikat ekor kuda rapi. Tidak ada lagi parfum seharga jutaan rupiah atau blazer desainer ternama; yang melekat pada dirinya kini adalah aroma khas dapur pedesaan dan tekad baja untuk memulai hidup baru dari nol.
"Kamu beneran mau siaran langsung di internet pakai cara begini, Dika?" tanya Vanesha melangkah mendekat, kedua tangannya terlipat di dada. "Di kantor dulu, presentasi di depan dewan direksi saja persiapannya berminggu-minggu. Ini kamu cuma pakai tripod kayu sama ponsel yang layarnya retak, langsung berani siaran?"
Dika menoleh, lalu nyengir lebar. "Ah, dunia korporat sama dunia pancing itu beda, Mbak Vanesha. Kalau di kantor direksi pada jaim, kalau di YouTube ini penontonnya lebih jujur. Kalau ikannya nggak dapet, kita yang dikata-katain," jawab Dika enteng.
"Makanya, Mbak Vanesha ikut duduk sini dong!" ajak Dinda sambil menepuk tempat kosong di sebelah kakaknya. "Nanti Mbak jadi bintang tamu spesial. Biar netizen tahu kalau mantan CEO galak sekarang alih profesi jadi pawang cacing sawah."
Vanesha mendengus pelan, memutar bola matanya malas. Namun, bibirnya justru tertarik membentuk senyuman tipis yang sulit ia sembunyikan. Tanpa banyak protes, ia melangkah maju dan duduk bersila tepat di samping Dika di atas tikar pandan usang.
"Baiklah. Kalau sampai penontonmu menertawakan cara memancingku, awas ya," ancam Vanesha setengah bergurau, memberikan lirikan tajam yang langsung membuat Dika menelan ludah pura-pura takut.
"Siap, Bos... eh, Mbak Vanesha!" ralat Dika cepat. Ia lalu melirik layar ponsel dan menekan tombol mulai siaran langsung. "Halo semeton mancing mania seluruh Nusantara! Selamat pagi dari pinggir kali Sidoarjo!"
Dalam hitungan detik, jumlah penonton siaran langsung melonjak drastis dari lima orang menjadi puluhan, lalu menembus angka ratusan penonton. Kolom komentar di layar ponsel langsung bergeser begitu cepat, dipenuhi oleh sapaan para pengikut setia kanal YouTube Dika Pratama — sang "Prajurit Sengklek".
"Wih, mantap Mbah Dika siaran pagi-pagi!" tulis salah satu penonton.
"Itu cewek di samping siapa, Mas? Manis banget, anak lurah mana tuh?" timpal yang lain.
"Kok mukanya nggak asing ya? Kayak pernah lihat di majalah bisnis lantai sepuluh," komentar penonton lainnya.
Dika membaca beberapa komentar yang melintas sambil tertawa kecil. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke arah kamera, merangkul bahu Vanesha dengan santai — sebuah gerakan spontan yang membuat jantung wanita di sampingnya itu berdegup kencang luar biasa.
"Nah, kenalin nih, kawan-kawan!" ucap Dika di depan kamera. "Ini asisten baru saya yang kemarin sukses diusir dari istana mewah Surabaya. Namanya Mbak Vanesha, spesialis pemasang umpan cacing sawah paling galak se-Jawa Timur!"
Vanesha langsung mencubit pinggang Dika di luar jangkauan kamera, membuat Dika mengaduh pelan sambil meringis kesakitan, sementara penonton di kolom komentar langsung membanjiri layar dengan tawa dan tanda tanya.
"Udah, jangan kebanyakan ngobrol sama ponsel terus," potong Vanesha dengan nada tegas namun diselingi senyuman manis di depan kamera, mencoba mengambil alih perhatian. "Hari ini target kita bukan cuma dapet ikan betik batok atau nila, tapi kita mau buktikan kalau prajurit sengklek dan mantan CEO ini bisa bertahan hidup pakai hasil tangkapan sungai sendiri."
Suara lembut dan tegas Vanesha yang mendadak muncul di siaran langsung itu langsung memikat para penonton. Suasana siaran langsung mendadak berubah menjadi sangat hangat dan seru. Dika tertegun sejenak menatap Vanesha. Di balik kesederhanaan pakaian dan tempat duduk mereka saat itu, aura kepemimpinan alami Vanesha tidak pernah luntur; ia justru memancarkan pesona luar biasa yang membuat Dika semakin jatuh hati.
"Nah, dengar sendiri kan kata pawangnya?" ucap Dika menutup pembicaraan. "Sekarang, mari kita berangkat ke sungai di belakang rumah!"
Perjalanan singkat menuju sungai diwarnai dengan tawa dan canda. Emak Sarni Sari yang melihat dari beranda rumah hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum lebar, bersyukur melihat anak bujangnya kini menemukan seseorang yang benar-benar tulus mendampingi di masa-masa sulit. Sementara itu, Bapak Joko Pratama yang sedang melinting tembakau di amben hanya melirik sekilas, lalu mengepulkan asap kreteknya dengan senyuman penuh arti.
Sesampainya di tepi sungai kecil yang dinaungi rimbunnya pohon bambu, Dika segera memberikan joran bambu kepada Vanesha. Kali ini, Vanesha tidak lagi menjerit jijik saat harus mengambil cacing sawah dari dalam wadah plastik. Dengan gerakan yang jauh lebih percaya diri dibanding kemarin, ia sukses memasang umpan ke mata kail tanpa ragu.
"Hebat juga tangan lentik mantan CEO sekarang udah terbiasa sama lumpur sawah," puji Dika sambil menyiapkan jorannya sendiri.
"Jangan sombong, Dika. Lihat aja nanti, siapa yang dapat ikan paling besar duluan," tantang Vanesha dengan dagu terangkat, matanya fokus menatap pelampung gabus merah putih yang mengapung di atas air.
Mereka berdua duduk berdampingan di atas akar pohon besar yang menjorok ke sungai, sementara Dinda berdiri agak jauh memegang ponsel untuk terus menyorot kegiatan mereka.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang menyenangkan. Tiba-tiba, pelampung di ujung joran bambu Vanesha bergetar hebat, lalu melesap ke dalam air dalam sekejap!
"Eh! Eh! Dika! Ini pelampungnya tenggelam!" seru Vanesha kaget, menarik jorannya ke atas dengan tenaga penuh.
Krrrk!
Karena terlalu bersemangat dan menariknya terlalu kuat, tali pancing melesat ke udara, membawa seekor ikan nila berukuran sedang yang langsung melayang terbang dan... pluk! mendarat tepat di wajah Dika yang duduk di sampingnya.
Dika terperanjat kaget dengan mata melotot lebar, sementara ikan nila berwarna keperakan itu menggelepar di atas pangkuan sarungnya. Suasana di tepi sungai langsung pecah oleh tawa terbahak-bahak dari Dinda dan Vanesha sendiri.
"Hahahaha! Makanya, kalau narik ikan jangan pakai tenaga sekuat tenaga, Mbak!" protes Dika sambil buru-buru menangkap ikan nila yang melompat-lompat di atas sarungnya, sementara kamera ponsel Dinda merekam seluruh kejadian konyol itu dengan jelas.
Penonton di siaran langsung YouTube langsung membanjiri layar dengan komentar penuh tawa.
Vanesha tertawa lepas — tawa renyah yang sangat jarang ia keluarkan semasa hidup di puncak gedung pencakar langit Surabaya. Ia merasa begitu bebas, tanpa beban, dan yang terpenting: ia merasa benar-benar hidup.
Dika membersihkan wajahnya dari cipratan air sungai, lalu tersenyum hangat menatap wanita di hadapannya. Ia mengangkat ikan nila tangkapan pertama hari itu ke hadapan Vanesha.
"Piala kemenangan pertama buat mantan CEO paling tangguh di Sidoarjo," ucap Dika lembut.
Vanesha menerima ikan tersebut dengan senyuman terkembang di bibirnya. Ia menatap Dika lekat-lekat, lalu berucap pelan, "Terima kasih sudah membawaku pulang ke dunia yang nyata, Dika."
Di bawah rindangnya pohon bambu Sidoarjo, di tengah kesederhanaan hidup yang baru dimulai, mereka tahu bahwa badai sebesar apa pun dari masa lalu tidak akan pernah mampu meruntuhkan cinta yang dibangun atas dasar ketulusan dan pengorbanan sejati.