Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.
Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Jam dinding kamar utama berdentang dua belas kali. Nadia masih belum bisa memejamkan mata, duduk bersandar di tepi ranjang sambil menatap pintu kamar yang tertutup rapat.
Jauh dari ketenangan rumahnya, Arvin berada di kasino eksklusif tempat berkumpulnya para petinggi. Ruangan privat itu remang, dipenuhi aroma cerutu dan deru tawa halus orang-orang berkantong tebal.
Arvin duduk di meja high stakes dengan kemeja putih tergulung hingga siku dan dasi longgar. Di samping tumpukan chip-nya, seorang gadis bergaun merah seksi sibuk menuangkan whisky ke gelas kristalnya.
"Minum dulu, Pak Arvin... biar lebih tenang," bisik gadis itu manja seraya menyodorkan gelas.
Tanpa menatap sang gadis, Arvin merampas gelas itu dan menenggak isinya hingga tandas. Rasa panas membakar tenggorokannya, namun tak mampu mengikis bayangan ucapan Nadia di ruang kerja siang tadi.
“Kita bahkan belum saling mencintai... Aku cuma ingin punya anak dari orang yang benar-benar mencintaiku dan kucintai.”
Kata-kata itu terus bergema, meremukkan egonya.
"Buka kartunya, Tuan-tuan," ujar dealer tenang.
Lawan main Arvin menyunggingkan senyum miring seraya membuka kartunya. "Full House."
"Sialan!" umpat Arvin berat sambil melemparkan sisa kartunya ke meja.
"Tenang, Pak Arvin. Masih ada putaran berikutnya," hibur gadis di sampingnya sambil mengelus bahu Arvin.
"Diam kamu!" bentak Arvin dingin, membuat gadis itu seketika menarik tangannya.
Arvin menoleh pada pelayan kasino. "Tambah dua ratus juta lagi. Ganti chip saya sekarang!"
"Tapi, Pak... malam ini Anda sudah kalah hampir satu miliar," bisik rekan bisnis di meja sebelah. "Mungkin sebaiknya berhenti dulu..."
"Kamu pikir saya tidak punya uang untuk bayar, hah?!" potong Arvin tajam dengan mata memerah akibat emosi dan alkohol.
"Urus saja mejamu!"
Pelayan menyodorkan lembar penarikan koin, dan Arvin langsung membubuhkan tanda tangan tanpa ragu. Tumpukan chip baru kembali digeser ke hadapannya.
"Kocok kartunya lagi," tekan Arvin pada dealer.
Namun, nasib baik sama sekali tak memihaknya. Pada putaran berikutnya, Arvin kembali kalah. Semakin banyak gelas whisky yang ia teguk, semakin kabur fokusnya. Kekalahan demi kekalahan terus menguras tumpukan chip nya, membuat emosinya kian memuncak.
Dini hari makin larut saat Arvin melangkah keluar dari kasino dengan jalan sempoyongan dan bau alkohol yang menusuk. Dengan raut gusar, ia membanting pintu mobil mewahnya lalu memacu kendaraan itu dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang lengang.
Di dalam mobil, amarah Arvin meledak. Ia menghantam lingkar kemudi berkali-kali hingga klakson menderu nyaring.
"Sialan! Bangsat!" umpat Arvin dengan napas memburu. "Dia pikir dia siapa?! Berani-beraninya dia bicara seperti itu sama saya!"
Lampu jalanan terpantul remang di kaca depan, namun pikiran Arvin sepenuhnya tertuju pada Nadia.
"Saya ini suami kamu, Nadia! Kurang apa saya selama ini?!" bentaknya pada ruang kosong di dalam mobil.
"Kamu pikir kamu punya hak untuk menolak saya, hah?!"
Dalam emosi yang meluap dan pandangan membayang akibat pengaruh whisky, Arvin tak menyadari tikungan tajam di dekat area perkebunan sepi. Ban mobil menderit keras menghantam aspal basah saat ia terlambat menginjak rem.
CIIIITTT... BRAAKK!
Benturan keras meremukkan bagian depan mobil saat menghantam pohon besar. Airbag seketika mengembang, menahan tubuh Arvin.
Suasana mendadak hening, hanya terdengar suara decitan mesin yang mati dan kepulan asap dari kap mobil.
Arvin meringis, menyapu keningnya yang berdenyut. Beruntung, sabuk pengaman dan airbag menyelamatkannya dari luka serius.
"Bangsat! Sialan!" umpat Arvin meluapkan frustrasinya. Ia memukul airbag yang mengempis, lalu mendorong pintu mobil hingga terbuka lebar.
Ia keluar dari mobil dengan langkah goyah. Angin malam yang dingin menusuk kulit, namun tak cukup mendinginkan kepalanya.
Arvin meraba saku jasnya, mengambil ponsel, lalu mencari nama Bagas dengan jemari gemetar. Ia langsung memencet tombol panggil.
Panggilan pertama tak diangkat.
"Angkat, anj*ng!" umpat Arvin ketus sambil menekan tombol panggil kedua kalinya. Masih tidak diangkat.
Pada panggilan ketiga, barulah sambungan terhubung.
"Halo, Vin? Ada apa sih malam-malam begini telepon terus?!" suara Bagas terdengar serak dan terengah-engah.
"Gas... jemput saya sekarang!" perintah Arvin dengan nada tinggi. "Mobil saya nabrak pohon di jalan sepi arah perkebunan!"
Di seberang telepon, terdengar desahan napas berat Bagas yang tertahan, diselingi bisikan dan rintihan halus seorang wanita.
"Hah? Nabrak pohon?" Bagas terengah pelan. "Aduh, Vin... ah... aku gak bisa jemput kamu sekarang!"
"Kenapa gak bisa?! Cepat ke sini, mobil saya ringsek!" bentak Arvin tak mau tahu.
"Aku lagi main ini sama istriku, Arvin!" potong Bagas lugas dengan desahan napas yang makin berat.
"Kamu panggil derek atau taksi aja... jangan ganggu malamku!"
TUT... TUT... TUT...
Panggilan diputus sepihak. Arvin mematung dengan ponsel masih menempel di telinganya, tak percaya sahabatnya menelantarkannya demi urusan ranjang.
"Bagas sialan!" teriak Arvin.
BUUKK!
Arvin menendang ban depan mobilnya yang penyok hingga tubuhnya sendiri terhuyung ke belakang.
Kepalanya makin berputar hebat akibat campuran alkohol, benturan, dan amarah. Sambil memegangi pelipisnya yang pening, Arvin mencari satu nama lain di ponselnya.
Pak Adam.
Ia menekan tombol panggil. Dalam dua kali nada dering, sambungan langsung diangkat.
"Halo, Assalamu'alaikum, Pak Arvin?" suara Pak Adam, sopir pribadinya, terdengar panik.
" jemput saya sekarang," tutur Arvin dengan suara serak dan tak stabil.
"Bapak di mana?! Bapak baik-baik saja?!" cecar Pak Adam khawatir.
Tak berapa lama, sepasang sorot lampu membelah kegelapan. Pak Adam bergegas turun dari mobil dengan raut cemas, menghampiri Arvin yang bersandar kaku di kap mobil mewahnya.
"Bapak di mana yang sakit? Mari saya bantu," ucap Pak Adam sigap, merangkul lengan majikannya.
Setelah memastikan Arvin tak mengalami luka serius, Pak Adam membopongnya ke kursi belakang. "Besok pagi mobil derek langsung saya urus, Pak."
Arvin hanya bergumam dengan mata terpejam. Sekitar pukul dua dini hari, sedan hitam itu memasuki pelataran Grand Residence.
Di lantai atas, Nadia baru saja menyelesaikan mukenanya usai shalat malam. Suara deru mesin mobil membuat langkahnya terhenti. Ia menyibak tirai jendela kamar utama, melihat Arvin melangkah keluar dari mobil dengan jalan terhuyung.
Nadia membuang napas panjang. Merasa berkewajiban sebagai istri, ia bergeming di dalam kamar, menunggu suaminya masuk.
Tak lama, pintu kamar terdorong kasar. Arvin melangkah masuk dengan tubuh limbung. Rambutnya berantakan, jasnya menghilang, dan dua kancing kemejanya terbuka asal.
Nadia mendekat perlahan dengan raut khawatir. "Mas... dari mana? Apa Mas baik-baik saja?"
Langkah Nadia terhenti mendadak saat ia mendekati Arvin. Penciumannya menangkap aroma tajam alkohol pekat dan cerutu yang menguar dari tubuh suaminya. Sontak, Nadia mundur dua langkah, menutup hidung dan mulutnya dengan mata membelalak tak percaya.
Melihat respons istrinya yang menjauh di dalam kamar itu, Arvin tersenyum miring.
"Kenapa menjauh, Nadia?" bisik Arvin parau.
"Jijik sama suami kamu sendiri?"
Nadia kembali mundur hingga merapat ke tepi ranjang, rasa takut merayap. "Mas... Mas mabuk? Mas Dari mana sebenarnya?"
"Saya dari mana?" Arvin terkekeh dingin. Ia terus memojokkan Nadia ke sudut tempat tidur. "Saya habis buang ratusan juta di meja judi! Melampiaskan semua rasa sesak yang kamu berikan siang tadi!"
Nadia menahan napas, dadanya berdebar kencang menatap mata Arvin yang merah dan liar.
"Kamu bilang kita tidak saling mencintai, kan?" lanjut Arvin menuntut sambil mencengkeram kedua bahu istrinya erat-erat. "Tidak mau punya anak sebelum ada rasa cinta? Dengar, Nadia... saya suami kamu! Hak saya untuk mendapatkan kamu!"
Arvin mencengkeram bahu Nadia lebih kuat dan mendesaknya ke ranjang, lalu mendekatkan wajahnya ke leher dan bibir Nadia, berniat menciumnya secara paksa. Nadia memejamkan mata rapat-rapat, tubuhnya gemetar hebat.
Namun, tepat saat bibir Arvin hampir menyentuh kulitnya..
Ugh...
Arvin mendadak memegangi perutnya. Wajahnya pucat pasi. Dalam hitungan detik, Arvin mual hebat lalu muntah di lantai kamar tepat di depan kaki Nadia, membasahi karpet dan lantai dengan cairan berbau alkohol tajam.
Nadia tersentak kaget dan refleks melompat mundur dari ranjang. Ia menatap pria di hadapannya yang kini berlutut payah di lantai kamar sambil terbatuk-batuk lemas.
Laki-laki seperti apa sebenarnya yang kunikahi ini? Pemarah, penjudi, dan kini pulang dalam keadaan mabuk berat... batin Nadia dengan mata berkaca-kaca.
Namun, nuraninya tak membiarkan Nadia tinggal diam. Ia menyingkirkan rasa jijik dan amarahnya sejenak. Nadia mendekat, bersusah payah merangkul dan membopong tubuh Arvin yang terkulai lemas di lantai kamar.
"Ayo bangun, Mas... Bangun..." bisik Nadia ketus namun iba.
Dengan sisa tenaga, Nadia menyeret Arvin dari kamar menuju kamar mandi utama. Ia memposisikan Arvin duduk di lantai shower, lalu menyalakan air dengan tekanan kencang.
Air dingin seketika mengguyur seluruh tubuh Arvin, membasahi kemejanya dan menyapu sisa kotoran. Arvin mengerang tersentak, perlahan tersadar dari mabuknya.
"Mandi, Mas! Bersihkan badan Mas sendiri!" perintah Nadia.